Membangun Peradaban Di Planet Primitif

Membangun Peradaban Di Planet Primitif
42. Pertempuran


__ADS_3

Memimpin sektor 3 ke laut timur, Jayadi semula hendak berangkat menyerang pasukan Alamut dengan 8 kapal saja, namun Torshavn yang kembali ke Alamut membawa 2 pangeran, akhirnya dilibatkan pertempuran dan menambah armadanya menjadi 9 armada. Dalam waktu sempit Jayadi membagi pasukan untuk menjadi awak Torshavn beserta stok panah api sebagai senjata utama mereka.


Pertahanan laut mendapat 4 buah meriam 120 cm dan akhirnya diperkuat 8 cetbang dilengkapi dengan 4 tungku api untuk membuat peluru api hanya diperkuat senjata panah. Hal ini karena mendadaknya persiapan menghadapi perang. Sekian banyak senjata yang baru diproduksi diserahkan untuk tim pertahanan darat.


Strategi ini dipilih karena Alamut belum terlalu percaya diri dengan kondisi armada yang dimiliki untuk mendapat senjata baru. Karena dengan waktu terbatas akan sia sia jika senjata tenggelam ke laut bersama kapal apabila tidak mampu bertahan.


Pertahanan darat mendapat tugas menyambut serangan laut dan mematahkannya di pantai jika pasukan di laut gagal bertahan.


Jayadi dalam pertempuran ini berada di atas Smyrna milik tuan Jumanji yang tidak diperkuat meriam karena fisik kapalnya bongsor dan dianggap Zayn dan Udin bakal sulit bermanuver. Namun ada 1 buah cetbang yang bisa digunakan untuk menghadapi serangan jarak pendek.


Sebelumnya Zayn juga memutuskan cetbang (meriam tangan) akan digunakan pertahanan darat. Namun menjelang pemberangkatan semua sektor di posisinya Zayn memerintahkan 8 pembawa cetbang dan 8 pendampingnya untuk bergabung dengan sektor 2 dan 3 di lautan.


Selain Smyrna armada Jayadi juga diperkuat Freyja (kapal perang tipe A) yang juga mendapat perkuatan 1 buah cetbang, selain itu armada ini diperkuat 3 kapal perang tipe B (Ivar, Aslaug dan Floki) serta 2 kapal niaga tipe A yang menjadi tumpuan utama Reykjavic dan Dublin.


2 kapal niaga itu mendapat tugas utama membawa 2 buah meriam dan 2 buah tungku api karena strukturnya mampu menahan berat dan hentakan meriam. Selain itu 3 buah kapal niaga tipe B Nuuk, Belfast dan terakhir Thorsavn yang bergabung di detik akhir. Ivar dan Aslaug juga turut diperkuat cetbang.


Jayadi mengarahkan seluruh kapal untuk melaju dengan kecepatan penuh yang bisa didapatkan ke arah barat untuk menyerang musuh sebelum mereka diserang. Bertempur di malam hari adalah hal yang pastinya sulit dilakukan. Jika di siang hari antar kapal bisa memberi kode komunikasi dengan bendera, di malam hari hanya bisa dilakukan dengan kode siulan.


“Cuit…” siulan terdengar dari petugas pantau Freyja yang mendeteksi musuh nampak pada jarak 3 km di kegelapan malam.


Melalui serangkaian kode, kemudian Jayadi memerintahkan Reykjavic dan Dublin segera menyiapkan amunisi peluru api, Smyrna dan Freyja, Ivar dan Aslaug akan melindungi mereka di barisan ke dua dari serangan jarak pendek dengan cetbang, sisanya diminta mengamankan sayap kiri dan kanan dengan posisi armada dilayarkan mengepung pasukan Suleka dari timur hingga barat.


Setelah diperkirakan formasi sudah mencapai jarak tembak meriam. Seluruh pasukan yang tidak menggunakan meriam diminta segera menembakkan panah api pertama untuk mengukur perkiraan jarak.


“Swoossh,” panah api menghiasi angkasa menyadarkan sebagian besar prajurit Suleka yang segera mengambil posisi bersiap. Tidak ada satupun panah yang mengenai armada Suleka sehingga mereka tertawa menganggap para pemberontak adalah orang bodoh yang hanya memanah lautan.


“Bodoh dan amatiran. Jumlah kapal dan orang sedikit tapi menghambur-hambur panah,” dengus Pangeran James melihat serangan pertama Suleka disambut tertawaan para prajuritnya. Tanpa disadari serangan panah pertama bukan hal serius dan hanya ditujukan untuk memperkirakan jarak. Pasukan meriam melihat jarak panah api yang jatuh ke laut berada hampir setengah antara jarak mereka dan prajurit Suleka tersenyum puas mengetahui kapal-kapal yang mereka kepung dalam jangkauan tembak. Para pemegang pemantik api segera melakukan tugasnya ketika perintah tembak masing-masing komandan pucuk meriam (dancuk) diteriakkan, “tembaaakk”.


“Duaaar” 2 peluru api dimuntahkan meriam Reykjavic dan Dublin. Beberapa detik kemudian nampak serangan itu melubangi dan membakar 2 kapal perang tipe A musuh.


“Pangeran kapal kita terbakar,” ujar prajurit kepada James, “segera padamkan dan mari dekatkan kapal kita ke mereka, segera serang balik setelah mencapai jangkauan panah,” ujar James yang kemudian diteruskan dalam serangkaian kode siulan ke seluruh Armada.


“Prajurit arahkan kapal ke kapal sebelah, mari selamatkan awak mereka lebih dulu,” teriak James kepada prajurit di kapalnya melihat kapal besar di sebelahnya tidak hanya terbakar namun mulai miring ke arah selatan karena tembakan meriam juga merobek lambung kapal agak di bawah sehingga air mulai masuk.


Di sisi lain Jayadi kemudian memberi perintah, prajurit Smyrna dan Freyja siaga dengan cetbangnya dan memerintahkan Dublin dan Reykjavic terus menembakkan meriamnya.


Dublin dan Reykjavic menembakkan peluru api 30 detik sekali. Dalam 5 menit serangan peluru api seluruh tembakan mengenai target dan 4 dari 18 kapal musuh sudah dipastikan bakal tenggelam dan 3 kapal yang lain terbakar hebat. Ada 1 kapal Suleka yang terkena lebih dari 1 tembakan meriam.


Serangan ini membuat formasi kapal Suleka berantakan dan membuat mereka kehilangan moril tempur dan kalut penuh kebingungan. Melihat hal ini Jayadi segera memerintahkan Smyrna dan Freyja berlayar mendekati musuh hingga mencapai jarak tembak cetbang.


Kapal yang lain juga diminta mendekat hingga mereka bisa memanah kapal-kapal Suleka dengan panah api. Dalam waktu 5 menit berikutnya suara tembakan dari meriam, cetbang bertalu-talu diikuti hempasan panah api yang mulai ditembakkan. Kapal-kapal Suleka semuanya kini nampak terbakar mulai panik dan frustasi. Alih-alih balas menyerang, mereka malah terlihat mengarah ke Utara ke arah pantai untuk menyelamatkan diri.


Serangan Alamut terhadap kapal-kapal Suleka yang masih mengapung di laut terus dilakukan hingga 1 persatu kapal Suleka tenggelam ke dasar lautan. Setengah jam perang berlangsung nampak 7 kapal Suleka berhasil menjangkau pantai dengan kondisi yang tidak baik dengan api menyala-nyala.


Jayadi segera memerintahkan seluruh armada untuk menyusul musuh ke pesisir dan menyerang mereka tetap dari lautan. 1 jam pertempuran 18 kapal penyerang dari Suleka dikonfirmasi hancur total dan ratusan prajurit menyelamatkan diri ke daratan dan menghilang dalam gelapnya hutan terlarang ke arah pedalaman.

__ADS_1


Karena mendapat perintah untuk segera kembali ke Alamut ketika seluruh kapal ditenggelamkan maka Jayadi tidak mengejar prajurit Suleka yang kabur ke dalam hutan maupun mengevakuasi ratusan prajurit musuh yang terombang ambing di lautan, mereka segera kembali dan bersiap membantu pertempuran sektor lain.


Di sisi lain hanya 2 dupa perjalanan di arah barat dari lokasi pertempuran laut. Prajurit angkatan darat Suleka sempat terhenti mendengar dentuman silih berganti dari lautan di belakang mereka. Pangeran Tomi yang memimpin angkatan darat sebetulnya sudah mengira hal buruk akan terjadi mengingat hal yang pernah terjadi di ibukota Kebongede sebulanan yang lalu ketika suara dentuman seperti itu membunuh puluhan prajurit penjaga istana.


Tapi dia tidak ambil pusing dan memerintahkan 1000 prajuritnya untuk terus maju melakukan penyerangan. Hingga setelah sekian jauh berjalan beberapa prajurit terperosok pada galian tambak yang ditutupi kamuflase tanaman. Tak di sangka dalam galian terdapat banyak tombak runcing yang menusuk siapa saja orang yang terjatuh. “arrghhh.. tolong.. sakit,” teriakan prajurit yang terjatuh ke lubang-lubang menjadi alarm pasukan Alamut yang bersiaga akhirnya menyadari musuh datang dari kegelapan malam dan memasuki perimeter jarak tembak mereka.


“Swossh tak lama ratusan anak panah api terbang ke arah prajurit Suleka yang datang dan membuat lokasi menjadi terang. Tak lama 4 hwacha segera menyusul melepaskan tombak dan panah ke arah prajurit Suleka di tempat terbuka yang lokasinya sudah ditandai panah api “Arrgghhh… mama oh mama….”


Teriakan mengerikan dari pasukan Suleka yang kesakitan terdengar dari daratan sektor timur. Kipli yang memimpin kemudian memerintahkan 4 hwacha segera melakukan reload untuk kemudian bersama 2 meriam bergerak maju ke arah musuh didampingi prajurit pembawa senjata baru. “Semua pasukan berhenti, 4 hwacha tembak.. swoosshhh,” Kipli mengarahkan pasukannya.


Sebetulnya moril pasukan Suleka yang dipimpin Tomi sempat melemah, namun melihat pasukan Alamut maju mereka kemudian juga turut ikutan maju, namun lagi-lagi ratusan panah dan tombak datang mengenai mereka “Argggh” teriakan dari arah prajurit Suleka yang kesakitan.


“2 hwacha yang masih memiliki sisa munisi segera reload lalu maju untuk diikuti formasi,”perintah Kipli.


Setelah melakukan reload hwacha kembali maju dan pasukan musuh nampak berlari mendekati formasi mereka, “Berhenti dan tembakkan hwacha,” perintah Kipli. “Swoosh, arrhgh.”


“Meriam tembak,” perintah Kipli, 2 meriam kemudian menembakkan peluru canister ke arah prajurit Suleka. “Reload sambil gerak maju dan terus tembak,” perintah Kipli.


Pasukan yang lain akhirnya merasa bosan karena sedari tadi hanya Hwacha dan Meriam yang diberi kesempatan unjuk gigi. 24 prajurit pembawa senjata baru termasuk 10 prajurit berkuda yang diperkuat terakul dan musket juga merasa bosan belum mendapat kesempatan menyerang.


“Laksamana Muda, sampai kapan kami hanya gerak maju tanpa harus ngapa-ngapain, para pemanah api yang menggunakan senjata kuno bahkan sudah melakukan aksinya,” protes Tunggul Wulung.


“Sabar Tunggul Wulung, kita melakukan pertempuran efektif. Bukankah esok masuh ada serangan susulan, nah itu yang harus kita waspadai jangan buang sumber daya,” ujar Laksamana Muda dari negeri Faranina itu.


Di saat Tunggul Wulung melayangkan protes kepada Kipli di kejauhan mulai terdengar suara teriakan-teriakan. “Tolong hentikan kami menyerah,”


“Pasukan senjata baru, giliran kalian maju. Pasukan berkuda membawa musket dan terakul di depan. Dibelakangnya pasukan Arquebus dibelakangnya. Pembawa chu ko nu menyusul. Meriam tetap di posisi. Pasukan yang lain siapkan pedang berjalan ke depan untuk meringkus dan ikat semua pasukan musuh yang menyerah di tangan dan kaki dengan sobekan pakaian mereka. Pasukan senjata baru bertanggungjawab dalam pengamanan penyerahan musuh, tembak setiap yang melawan,” perintah Kipli.


Hingga 10 menit kemudian satu persatu musuh diikat. “Door,” prajurit pembawa Arquebus menembak mati salah seorang musuh yang hendak melawan saat akan diikat. “Angkat tangan untuk menunjukkan itikad baik kalian, sebelum kami mulai menggila,” Tunggul Wulung berteriak ke arah kerumunan prajurit Suleka yang menyerah. “Doorr,” musket Tunggul Wulung menyalak membawa maut kepada orang yang tidak segera menunjukkan isyarat tangan.


“Tuan hamba menemukan pangeran turut menyerah,” ujar salah seorang prajurit mulai mengikat pangeran Tomi. Sebelumnya Tomi hendak melawan orang yang akan mengikatnya. Namun suara senjata api dan jatuhnya ratusan korban di pihak mereka membuatnya tidak bisa melawan.


“Segera kumpulkan mereka yang ditangkap, pisahkan yang berpangkat tinggi, sisir dan hitung semua jenazah musuh dan masukkan dalam lobang yang tadi menjadi tempat jebakan prajurit awal mereka, lalu bakar dan timbun tanah kemudian," ujar Kipli.


Pertempuran darat di sisi barat tadi berjalan tidak sampai setengah jam dan kemudian terus berlanjut hingga nyaris 4 jam karena pengumpulan tawanan dan jasad musuh.


Kipli berhasil menawan 512 prajurit musuh termasuk pangeran Tomi dan membunuh 310 yang lain. Sementara ratusan yang lain nasibnya tidak diketahui. 512 orang yang ditawan kemudian digiring menuju posko sektor 4 dimana Udin memimpin para wanita dan anak-anak serta 29 loyalis Johnny menjaga markas.


Pertempuran sektor 5 dimana Hakim Agung Giman memimpin pasukan, berlangsung berbeda dengan strategi Kipli yang cenderung menunggu datangya musuh.


Saat komando mulai diluncurkan Zayn. Giman membawa pasukan bergerak tanpa henti ke arah barat daratan hutan terlarang. 20 orang dengan 10 kuda bersenjata 6 terakul dan 4 musket diminta mendahului dan merangsek ke kedalaman pasukan musuh.


“Doorr doorrr dooorrr,” suara tembakan silih berganti mengacaukan barisan prajurit Suleka yang dating dari arah barat. Usai setengah jam mengobrak-abrik barisan Suleka dan membuat onar 10 pasukan berkuda seger kembali ke formasi yang menyusul mereka bergerak ke barat.


Pasukan Suleka yang melihat 10 kuda Alamut beranjak pergi segera menembakkan ratusan panah api ke arah timur dan menerangi daratan. 6 kuda terpanah dan jatuh termasuk 8 orang prajurit Alamut yang kemudian tergeletak.

__ADS_1


Ketika 4 kuda mencapai formasi, Giman segera menghentikan pasukan, “formasi berhenti, hwacha bersiap. Pasukan panah api tembak.”


Panah api tidak mengenai satupun prajurit Suleka karena masih belum mencapai jarak jangkau dan hanya bertujuan mengukur jarak dan menerangi medan pertempuran. Namun prajurit Suleka terus maju tak terprovokasi dengan menggunakan formasi tameng. Giman melihat formasi tameng kemudian mempersiapkan peluru bulat meriam untuk menghancurkan formasi mereka.


“Booom,” meriam menembakkan peluru bulat berkali-kali setelah formasi tameng mulai memasuki jarak tembak hwacha dan setiap mengenai formasi maka formasi itu tercerai berai dan terlempar dari barisan. Setelah beberapa formasi tameng prajurit Suleka buyar, Giman segera memerintahkan 4 hwacha menembak berulang kali hingga amunisinya habis dan membuat ratusan orang teriak kesakitan dari kubu Suleka “arrgghh,”


Setelah peluru hwacha habis, Giman memerintahkan pasukan kembali maju termasuk pasukan meriam dan dilindungi tameng. Melihat prajurit Alamut maju, pasukan Suleka yang masih bisa berperang menyambut datangnya formasi Alamut dengan terus menembaki panah. 31 pasukan Alamut yang kalah kualitas tumbang terkena panah. Melihat itu Giman mengeluarkan perintah berhenti.


Giman kemudian memberi perintah prajurit balas memanah dan meriam menembakkan peluru canister. “Duaarr.” Setelah beberapa tembakan meriam, Giman memerintahkan prajurit kembali menggunakan tameng dan bergerak maju, sedangkan 4 kuda yang tersisa melakukan serangan sayap dengan menggunakan 2 musket dan 2 chu ko nu. Dibelakang pasukan berkuda 4 orang berlari senyap membawa chu ko nu dam 12 arquebus.


Ketika prajurit Suleka hendak membalas serangan panah, mereka dikejutkan dari kedua sisi akan serangan senjata api dan panah jarak pendek yang sangat cepat dan berulang dan membuyarkan konsentrasi mereka untuk menyerang bailk.


"Dorr dor dor ", suara tembakan bertalu-talu menjadi isyarat Giman untuk memerintahkan pasukan pemanah dan meriam menyerang.


“swoosh boommm swosssh bomm.”


“Menyerahlahh,” teriak Giman. “tidak akaaannn hidup Sulekaaa…” balas prajurit musuh. Pertempuran terus berlangsung, pasukan Suleka yang awalnya berjumlah 5 kali lipat prajurit Alamut di sektor ini kemudian jumlahnya makin sedikit hingga akhirnya ketika Giman merasa jumlah prajurit sudah seimbang. Mantan Hakim Agung Suleka itu kemudian memerintahkan prajuritnya menerjang maju dengan tombak, pedang dan bayonet.


Ketika sudah tidak ada perlawanan dari pihak Suleka, Giman kemudian memerintahkan menawan musuh yang masih hidup dan sesegeranya memerintahkan para tawanan menggali lobang dan mengubur mayat teman mereka.


Dari 1000 prajurit Suleka yang menyerang sektor barat, diketahui 724 orang tewas, 182 orang ditawan dan puluhan sisanya tidak diketahui keberadaannya. Di sisi Alamut mereka kehilangan 6 kuda dan 41 prajurit yang gugur. Diantara prajurit yang gugur adalah Tumenggung Kamto tangan kanan Andi Keling yang terpanah ketika berkuda.


Kita beralih pada pertempuran laut di sektor barat…


Sektor 2 yang berada di laut barat didukung Udin sedari awal menggunakan drone membawa granat berisi gas tidur. Alamut memiliki 24 granat tidur di Rihlah yang kemudian sisa 22 saja setelah 2 pcs digunakan untuk merebut Ragnarok dan Stockholm.


Di awal pertempuran Udin mengedarkan drone untuk memantau sisi timur dan melihat pasukan di laut dan daratan menghadapi pasukan-pasukan Suleka dengan mudah, akhirnya mengarahkan drone ke sisi barat di lautan. Karena bosan dia akhirnya menyerahkan tampuk komando Sektor 4 ke Rena dan berjalan membawa drone ke Rihlah yang berlabuh di muara.


“Udin ngapain kamu kesini,” ujar Zayn. “Kamu juga kenapa diam saja di muara tidak membantu sektor yang lain? Tanya Udin. “Aku masih menunggu flare panggilan darurat dari lautan, jika tidak ada flare bukankah Rihlah dalam strategi bertugas mengamankan muara,” jawab Zayn. Armada angkatan laut telah dibekali kembang api flare yang bisa dinyalakan dengan api untuk memberi tanda jika mereka tertimpa bahaya.


“Ayo kita berlayar ke timur Zayn, bukankah kita masih memiliki 22 granat asap tidur. Lebih baik kita susul armada Andi Keling sebelum mereka menenggelamkan kapal musuh, kenapa tidak kita membajak kapal musuh seperti dulu kuperbuat di Sumberurip,” ujar Udin.


“18 kapal ya… sounds good, skuy,” ujar Zayn yang kemudian berlayar. Di dalam Rihlah juga terdapat Anna, Rani, Gina dan diperkuat 2 unit AR 15 dan SIG P938, adapun shotgun diamanatkan untuk dibawa Dona dan Doni yang menjaga di sektor 4 sebagai markas.


Rihlah segera berlayar mendekati armada Andi Keling dengan kecepatan tinggi dan kemudian memerintahkan armada itu berhenti mendayung melalui pengeras suara.


“Hentikan pelayaran, kami akan kalahkan semua musuh tanpa pertempuran,” ujar Zayn sementara Udin menerbangkan drone yang membawa 2 buah granat tidur.


1 persatu granat dilemparkan kepada kapal-kapal musuh di barisan paling belakang sehingga yang didepan tidak menyadari bahwa armada mereka di serang.


Rencana berhasil dan semua kapal terkena gas tidur. Namun tidak semuanya pingsan tertidur, sebagian kapal juga masih memiliki awak yang mual dan menderita akibat gas.


“Sudah kubereskan Zayn, sekarang perintahkan armada Andi Keling melakukan boarding untuk melumpuhkan musuh dan mengikat mereka,” ujar Udin yang kemudian diteruskan Zayn dengan kepada Andi Keling melalui pengeras suara.


Peperangan berjalan dengan gilang gemilang. Andi Keling berhasil menawan 1211 prajurit angkatan laut Suleka dengan membajak 18c kapal mereka, 19 prajurit Suleka dibunuh karena tidak mau menyerah saat pasukan Andi Keling melakukan boarding.

__ADS_1


Hakim Giman seperti kita ceritakan tadi berhasil menawan 184 prajurit, membunuh 724 musuh dengan sisa puluhan musuh yang tidak diketahui posisinya. Namun hakim Giman kehilangan 41 prajurit yang gugur dan kehilangan 6 kuda yang terbunuh di medan perang.


Kipli berhasil memenangkan pertempuran dan menawan 512 orang prajurit termasuk pangeran Tommy, mereka juga membunuh 310 orang prajurit dan ratusan lainnya tidak diketahui nasibnya.


__ADS_2