Membangun Peradaban Di Planet Primitif

Membangun Peradaban Di Planet Primitif
20. Kekacauan di Kerajaan Suleka


__ADS_3

Rihlah berlayar lebih ketengah laut di banding perjalanan ketika berangkat sebelumnya yang hanya sejauh 4,5 km dari daratan.


Rihlah meninggalkan muara sungai Kalideres pada pukul 11.00 dan sekira pukul 21.00 Rihlah telah berada 20 km dari lepas pantai Sumberurip.


Udin, Rena, Anggi dan Dian duduk di sofa dekat ruang kemudi, mendiskusikan pembajakan Si Kepiting Galak.


“Jadi kita saat ini berposisi sekitar 15-30 menit dari pelabuhan Sumberurip jika kita berlayar sekencang tadi, tapi aku akan menjalankannya dengan kecepatan lebih rendah agar bisa menyusup perlahan dari pengawasan pelabuhan dan akan segera tiba disana 1 jam lagi. Nanti dalam pelayaran, di tengah perjalanan drone akan ku terbangkan membawa sleeping grenade yang akan membuat orang yang menjaga Si Kepiting Galak dan di sekitarnya tertidur, drone akan membawa 2 buah sleeping grenade.” Udin menjelaskan rencananya.


“Kemudian untuk mengambil alih Si Kepiting Galak, aku butuh kalian semua membantu, rencana khusus ini sangat tergantung kemampuan Anggi. Rihlah akan merapat dari sisi belakang Si Kepiting Galak dan Anggi harus segera melakukan boarding dengan melompat ke atas kapal perang itu, pastikan semua penjaga tertidur atau lumpuhkan dengan kemampuan bela diri dasarmu, setelahnya ikat mereka semua di tiang utama. Selanjutnya Dian akan melempar tali untukmu. Setelahnya Rena dibantu Anggi juga akan boarding ke atas Si Kepiting Galak,” ujarnya menambahkan.


“Setelah Rena dan Anggi di atas kapal itu, segera putuskan tali jangkar dan terima satu lagi tali besar yang akan dilempar Dian untuk mengikat Si Kepiting Besar. Kalian akan tetap berada di kapal perang itu selama Rihlah menariknya ke Alamut, Rena akan mengendalikan laju kapal itu. Dian akan tetap bersamaku di atas Rihlah. Apakah dimengerti dan kalian siap?” tanya Udin.


“Siap laksanakan,” ujar ketiga gadis kompak.


5 km sebelum pelabuhan, Udin telah menerbangkan Drone yang terbang membawa 2 buah sleeping grenade, Rihlah memiliki persediaan sebanyak 12 buah granat jenis itu, dan malam ini tampaknya stok sleeping grenade akan berkurang hingga sisa 10 saja.


Drone terbang perlahan dengan ketinggian 120 meter dan tiba lebih dulu dari Rihlah yang berjalan menyusul semakin pelan, gelapnya malam dan warna hitam yang digunakan Rihlah yang telah mematikan segala penerangan, membuat keberadaan mereka tersamar.


Tepat diatas pelabuhan dari pengamatan drone terlihat ada 5 prajurit yang berjaga di atas Si Kepiting Galak dan ada sebuah kapal niaga di sebelahnya yang terlihat ada 3 orang tertidur, di sisi dermaga tidak ada penjagaan berarti, sehingga Udin memutuskan sleeping grenade pertama akan dijatuhkan ke atas Si Kepiting Galak dan yang kedua ke atas kapal niaga di sebelahnya.


Drone menurunkan ketinggian hingga 10 meter yang suara dengungnya menimbulkan kepanikan penjaga kapal perang Si Kepiting Galak, tak perlu waktu lama granat dilemparkan drone dan para penjaga akhirnya ambruk tertidur diselimuti kabut gas tidur.


Drone bergeser sedikit ke arah kapal niaga, seseorang disana nampaknya terbangun mendengae kegaduhan yang ada pada kapal perang di sebelahnya. Orang itu mencoba melihat sumber suara dengungan yang tiba-tiba terdengar di atasnya, belum sempat mendongak, granat telah dilempar drone dan jatuh di atas geladak kapal dan membuat orang itu tertidur kembali.

__ADS_1


5 menit kemudian Rihlah sudah berada di sisi belakang Si Kepiting Galak. “Tuan Wazir Akbar Udin, apakah anda tidak tertarik membawa pulang kapal di sebelah Si Kepiting Galak, nampaknya mereka baru saja bersandar dan belum menurunkan muatan bukankah itu sangat menggiurkan?” tanya Rena yang sedari tadi juga memperhatikan kondisi pelabuhan dari penglihatan drone yang terpantau di monitor Rihlah.


“Sebetulnya aku sangat tertarik, lalu siapa yang akan mengendalikannya ke Alamut, meskipun dia juga akan ditarik Rihlah tetap saja harus ada yang mengendalikannya,” jawab Udin.


“Tidak usah terlalu khawatir tuan biar aku yang mengurusnya, kurasa kak Rena tak apa untuk sendiri di atas Si Kepiting Galak, sedangkan kapal niaga besar itu biar jadi tanggung jawabku mengendalikannya, seusai aku menyelesaikan tugas di Si Kepiting Galak aku akan melakukan yang kau sebut boarding ke kapal satunya, untuk hal itu tadi dibawah saat mengambil tali, ku lihat masih ada 1 tali besar untuk menarik kapal dan 1 tali kecil untuk mengikat awak mereka.” Anggi memberikan gagasan.


“Brilian Anggi, lets do it, maksudku ayo segera laksanakan, untuk kapal niaga itu ikatkan di bagian belakang Si Kepiting Galak, kita akan berlayar beriringan.


Rencana pembajakan di Sumberurip berjalan sukses. Rena Anggi dan Dian dengan mudah berhasil menjalankan instruksi. Pukul 22.00 Rihlah menggeret 2 kapal ke arah Alamut, selain Si Kepiting Galak yang berukuran 5 kali lebih besar dari Valhalla milik Johnny, Rihlah juga menarik sebuah kapal niaga penuh muatan berharga dari jenis Knaar yang berukuran satu setengah kali lebih besar dari Valhalla.



(Ilustrasi kapal niaga)



Sebelumnya direncanakan Rihlah telah kembali pada pukul 20.00 di Alamut, namun segala perkembangan membuat Rihlah telat kemungkinan hingga 6 jam bersandar di muara Sungai Tabuan Lasi, tentunya hal ini sangat mencemaskan Zayn dan timnya serta Dona juga Doni yang semalaman berjaga di sekitar tenda dan muara bergantian.


“Padishah, apakah kakakku akan kembali bersama tuan Udin, bahkan ini sudah 2 jam mereka terlambat,” tunjuk Doni ke arah jam yang digantungkan Zayn di pintu tenda.


“Tenanglah Doni, kita berdoa saja yang banyak, ku yakin mereka tidak apa-apa, jika hingga matahari terbit mereka belum tiba, maka kita akan melakukan rencana kedua yang kupikirkan. Sekarang kembali tenang dan ajak seluruh saudaramu berdoa,” pinta Zayn yang juga kebingungan, dirinya sebetulnya tidak punya plan B, apa saja yang keluar dari mulutnya tadi hanya bualan omong kosong yang untuk menenangkan kelompok bersaudara yang tinggal bersamanya di Alamut.


6 jam kemudian Anna yang berjaga di muara berlari menuju tenda, “Tuan Padishah Zayn, mereka telah kembali mari kita sambut di muara,” teriak Anna dengan nafas yang terengah engah usai berlari.

__ADS_1


Mendengar teriakan itu sontak Zayn, Doni, Gina dan Octa segera lari keluar tenda bersama Anna ke muara.


Suara musik instrumen dan lagu Ceddin Deden yang dimodifikasi Udin mulai terdengar di muara, 8 orang telah berbaris rapi di sisi barat muara Sungai Tabuan Lasi menyambut kehadiran Rihlah. Mereka adalah Zayn, Anna, Rani, Gina, Brian, Octa, Dona dan Doni.


Rihlah segera melempar jangkar kemudian kapal-kapal di belakangnya yang jangkarnya telah diputus menunggu bantuan untuk bisa menjaga posisinya. “Tuan tolong kirimkan 2 batu besar sebagai jangkar untuk kami,” teriak Anggi dari kapal paling belakang.


Dengan bergegas Zayn mengangkat sebuah batu besar yang ia temukan di sekitar muara, menuju kapal niaga yang dikendalikan Anggi. Sedangkan Udin yang turun dari Rihlah bersama Dian juga segera mengambil batu besar menuju Si Kepiting Galak. Tak lama kedua kapal telah berhasil distabilkan dengan 2 jangkar yang sementara menggunakan batu besar.


“Lama sekali kau Din, ini 6 jam terlambat dari jadwal, kalian semua harus dihukum,” ucap Zayn kesal.


Sebelum Udin menjawab ketiga gadis menyela, “Kami siap menanggung segala hukuman dari Padishah, mohon untuk tidak memberikan Wazir Akbar hukuman.”


Zayn pun tidak bisa berbicara lebih lanjut dan kemudian melenguh sesaat sebelum berbicara lagi, “baiklah hukuman untuk kalian bertiga, bekerja samalah menurunkan seluruh tawanan dan turunkan seluruh muatan dari kedua kapal.”


“Siap, laksanakan perintah tuan Padishah,” ujar ketiga gadis kompak dan segera melaksanakan perintah.


Sementara itu pagi hari di kota Sumberurip mendadak dilanda kepanikan, bagaimana tidak, kapal terbesar yang menjaga kota itu Si Kepiting Galak lenyap tanpa jejak, begitu pula kapal niaga milik Tuan Lexington yang menjabat Residen Sumberurip. Kapal itu baru saja bersandar petang sebelumnya dari Ferris Indah dan belum sempat menurunkan muatan. Tentu saja hal ini membuat Lexington murka.


“Apa kapalku hilang bersama beberapa awaknya? Cepat selidiki segera masalah ini, hadapkan siapapun yang bertanggung jawab kehadapanku dalam keadaan baik hidup atau mati. Segera kirimkan merpati pos ke Istana dan markas Angkatan Laut via Kalikucing secepatnya,” bentak Lexington kepada Komandan Pangkalan Angkatan Laut Sumberurip, Tumenggung Margono yang datang memberi laporan.


Merpati pos hanya bisa terbang pada jarak terbatas sehingga pengirimannya dari Sumberurip ke Istana di Ibukota Kebon Gede harus dilakukan secara estafet berganti-ganti merpati di Kalikucing, Gunungmacan, Jayagelang dan terakhir di Tampaksirih agar pesan dapat terbang mencapai Ibukota Kebon Gede.


Tak lama setelah ajudan Margono menerbangkan merpati pos, seorang prajurit angkatan laut tergopoh gopoh menghampiri Tumenggung Margono yang berada disisi Lexington. “Izin melapor komandan dan residen. Ada kabar buruk dari kerajaan yang ditujukan kepada Komandan Pangkalan Angkatan Laut, Barak Angkatan Darat dan Residen, bahwasanya kemarin istana dikacaukan pengacau dari negeri Alamut, raja memberi titah supaya segenap unsur militer, menjaga keamanan dan menggeledah setiap yang dicurigai dan menangkap seluruh pengikut Sang Esa di seluruh daerah.”

__ADS_1


“Pengikut sang esa ya? Sepertinya ada hubungannya hilangnya kapalku dan juga Si Kepiting Galak di pelabuhan semalam dengan mereka, Margono segera tangkap pengikut Sang Esa di Sumberurip, sita harta kekayaan mereka dan kuilnya, mereka harus mengganti setiap koin emas yang hilang dari harta kapalku,” perintah Lexington.


“Siap Tuan Residen,” Margono segera menjalankan perintah.


__ADS_2