Membangun Peradaban Di Planet Primitif

Membangun Peradaban Di Planet Primitif
18. Membuat Peta Kebon Gede


__ADS_3

Jarum jam di Rihlah telah menunjukkan pukul 09.00, tidak ada hal berarti yang mengganggu Rihlah pagi ini sebelum akhirnya tiba waktu untuk Anggi dan Dian membangunkan Udin dan Rena. Semalaman Udin dan Rena begadang mengemudikan kapal dan melakukan navigasi, sedangkan 2 saudari itu menghabiskan waktu di kabin semalaman.


“Tuan Wazir Akbar dan Kak Rena sekarang sudah di jam 9,” ucap Anggi mengetuk pintu yang membuat Udin dan Rena terbangun.


Posisi tidur mereka sungguh membagongkan, ketika pagi tadi mereka berbaring di kabin yang tepat berada di bawah haluan, mereka tidur saling berjauhan di sisi tempat tidur, namun pagi ini Rena yang baru mendapatkan tidur yang nyaman setelah sekian lama, nampak sangat pulas sehingga tanpa sadar dirinya berguling guling bergeser ke arah Udin yang juga terlelap sehingga secara tak sengaja paha dan tangan Rena merangkul menindih tubuh Udin, tanpa terasa panggilan dari Anggi membangunkan tidur mereka yang sudah 4 jam.


“Maafkan aku tuan Udin,” jawab Rena yang segera menarik diri dengan menundukkan wajah dengan pipi yang memerah. “Eh, iya,” jawab Udin singkat sambal menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, bagaimanapun juga Udin adalah seorang pria dewasa yang sudah berumur 27 tahun, juniornya yang tegak di pagi hari ditambah sambutan pagi yang membagongkan dari Rena membuat ekspresinya sungguh salting.


Udin keluar kabin dengan celana yang meruncing seperti ujung tenda meninggalkan Rena yang masih meringkuk terdiam penuh makna di sudut tempat tidur.


“Selamat pagi Anggi dan Dian, sebelum kalian tidur mandilah terlebih dahulu lalu kita akan memakan sarapan pagi, aku akan ajarkan kalian mandi, sini ikuti aku,” Udin mengarahkan mereka berdua kedalam kabin menuju arah ujung sebelah kanan dari buritan. Bagian dek atas OTAM 45 yang menjadi basic Rihlah terdiri dari ruang kendali dan sofa di belakangnya yang bisa dibuka tutup dengan atap berbahan kanvas.


Sedangkan pada bagian dek bawah Rihlah terdapat kabin berisi toilet dan dapur di buritan, kemudian ruang santai tanpa sekat yang seharusnya berisi sofa, namun salah satu sisinya akhirnya menjadi ruang penyimpanan drone dan segala piranti elektronik juga penyimpanan suku cadang yang diatasnya sekaligus juga menjadi meja kerja Zayn dan Udin, sedangkan di salah satu sisi yang lain dimodifikasi sebagai tempat reaktor mini dan baterai serta ditempatkan freezer untuk menyimpan lebih banyak barang dari yang ada di dapur.


Kemudian di ujung haluan terhadap tempat tidur yang cukup menampung 2 orang dan dibawahnya merupakan lemari penyimpanan persenjataan.


Kamar mandi Rihlah kecil dan simple, hanya ada kloset, wastafel, gantungan dan laci yang digunakan menyimpan baju kotor oleh Zayn dan Udin dibawah wastafel, kemudian sebuah shower. “Jadi jika kalian ingin buang air kecil dan besar buka tutup lobang wastafel ini kemudian duduklah, setelah selesai tekan tombol flush dibelakangnya dan untuk cebok gunakan shower itu dengan memutar tuasnya, untuk mandi kalian bisa menggantungkan pakaian disini, juga kalian dapat menggunakan shower untuk membilas badan kalian, tentunya gunakan sabun dan shampoo ini.


Sabun untuk badan, shampoo untuk rambut kepala, kalian pasti akan suka baunya. Jangan boros shampoo dan sabun sedikit saja pencet penyimpanannya hingga ukuran setengah telapak tangan kalian. Kemudian usap ke seluruh tubuh. Setelah selesai mandi keringkan badan dengan ini, namanya handuk untuk mengeringkan badan. Lalu setelahnya gunakan hair dryer yang akan menghembuskan angin hangat untuk mengeringkan rambut lebih cepat,” Udin memberi arahan tata cara mandi sambil menunjukkan caranya.” Jadi silakan mandi bergantian ya, nanti kalian ajari Rena,” ujarnya sambil menunjuk ke arah Rena yang meringkuk terbaring di ujung tempat tidur.


Dian yang paling muda mandi terlebih dahulu, Udin kemudian mengambil sesuatu yang ternyata Dosa instan dari freezer dan membawanya ke dapur di samping kamar mandi, Udin kemudian memasak 4 kemasan Dosa dengan microwave, bergeser sedikit ke sebelah Udin menyalakan kompor induksi untuk melelehkan keju sembari mengupas kentang yang akan ia buat sebagai mashed potato.


Udin menyiapkan sarapan Dosa yang merupakan makanan khas India dengan pelengkapnya adalah saus pedas, mashed potato, saus keju dan chutney.


Anggi yang menunggu Dian mandi berjalan ke tempat tidur mendatangi Rena. “Kak apakah kau sakit, daritadi kamu belum beranjak dari tempat tidur, oh lihat wajahmu merah seperti udang rebus,” tanya Anggi.


“Tidak apa Anggi aku tidak sakit, hanya saja pagi ini adalah pagi yang paling bahagia buatku namun juga pagi yang membuatmu malu kepada Wazir Akbar,” jawab Rena dengan ekspresi aneh sambil senyum-senyum sendiri.


“Sebetulnya apa yang terjadi kak, apakah tuan Udin akhirnya menerima persembahan mahkotamu,” tanya Anggi pelan dengan ekspresi takjub. Tentu saja dia tak berani berkata cukup keras dikarenakan Udin di dapur pasti mendengar jika mereka bicara dengan keras.


“Tidak sevulgar yang kau pikirkan adikku, jadi aku semalam mimpi indah sekali, dalam mimpiku Wazir Akbar datang menyelamatkanku bak pahlawan dari mara bahaya, kemudian beliau yang tampan membawaku ke sisinya, hingga seakan hal menyenangkan itu terjadi, kami berdua bergumul mesra. Tapi panggilanmu tadi menghentikannya, aku terbangun dengan bagian bawah yang lembab dan basah. Terlebih yang membuatku malu ternyata aku tidur sambil memeluk tuan Udin, paha dan tanganku memeluk erat tuan dan wajahku terbenam di bahu dan lehernya, aku bahagia sekaligus malu dik,” jelas Rena.

__ADS_1


“Sarapan siap setelah mandi kutunggu di atas ya, usai semuanya mandi segera ke atas,” teriak Udin yang hendak membawa senampan Dosa keluar kabin di bagian atas.


“Tuan tunggu aku, biar aku saja yang membawa makanan ke atas,” ucap Dian yang sudah menyelesaikan mandinya merebut nampan dari tangan Udin.


Pukul 10.00 pagi para wanita telah selesai mandi dan naik ke atas dan menyantap Dosa bersama Udin. Sensasi sambal pedas ternyata benar-benar membuat pagi itu gaduh, mereka kepedasan.


“Huh huh huh, olesan apa tadi ini tuan, aku tadi dengan semangat mengoleskannya ke rotiku karena warnanya merah menyala dan menarik aku tak tahan,” ucap Anggi sambil meminum susu yang diberikan Udin untuk menetralisir rasa pedas di lidah mereka.


“Jadi di negeri kalian tidak ada makanan pedas dari cabai begini ya,” tanya Udin. “Di negeri kami hanya ada makanan yang dibumbu rempah-rempah yang membuat mulut dan tenggorokan hangat, tetapi tidak membuat mulut terbakar seperti olesan merah ini,” Rena yang dari tadi memandangi wajah Udin juga berbicara.


“Hahaha, kalau gitu jangan ambil saus sambal lagi, kalian masih bisa mengolesinya dengan keju, chutney maupun kentang, aku mandi dulu ya,” ucap Udin sambil turun ke kabin untuk mandi.


"Tuan terima kasih telah mengajari mandi dengan cara ala kehidupan tuan, sabun dan shampoo membuat kami hari ini menjadi wangi yang tak pernah kami alami sewangi ini dengan air bunga sebelumnya," ujar Dian kepada Udin yang hendak turun ke kabin.


15 menit kemudian Udin naik ke atas setelah mandi dengan membawa drone untuk melakukan pemetaan.


“Menjelang siang kita akan membuat peta, mungkin ini akan memakan waktu hampir 2 jam, sekarang pukul 10.30 dan akan selesai pukul 12.30, setelah drone ini terbang kita akan memantau dan menggerakkannya dari monitor di ruang kemudi, nanti kalian tunjuk nama-nama tempat penting yang bisa kalian identifikasi.” pinta Udin. “Siap laksanakan tuan,” jawab mereka serempak.


Drone mulai diterbangkan Udin dari haluan Rihlah dengan kendali melalui ruang kemudi. Drone terbang dengan kecepatan rendah di ketinggian 120 meter untuk menghindari bunyi yang dapat didengar orang dibawah. Saat ini Rihlah berada di rerimbunan bakau bagian selatan gugusan pulau di delta Sungai Kalideres, titik ini dipilih karena di bagian utara Delta merupakan alur pelayaran berbagai macam kapal dan juga terdapat pelabuhan Kebon Gede di bagian utara muara Sungai Kalideres tepatnya masuk 1,5 km dari muara sungai. Di pulau paling utara gugusan bakau Kebon Gede adalah pusat pelatihan Angkatan Laut Kerajaan Suleka, dimana ada 1 kapal perang besar dan 2 kapal perang yang lebih kecil bersandar. Drone memetakan seluruh aktivitas dengan terbang bolak balik pada radius 6,5 km. Ketika berada di posisi terjauh 6,5 km dari posisi Rihlah, drone juga mengambil gambar ke arah luar jarak terbang sehingga mendapat gambaran yang lebih luas.


Rena kemudian mengetik “Rumah Keluarga Sugiono”, pada peta udara hasil capture drone canggih Udin.


Meski mengetik dengan 2 jari saja dan masih mencari letak-letak huruf di keyboard ternyata Rena dan adiknya benar-benar cerdas dan tidak melupakan lokasi huruf untuk ketikkan berikutnya di keyboard.


Pukul 12.30 drone telah kembali dari kegiatan pemetaan dan dibawa Udin ke bawah ke dalam kabin, “kalian terus lanjutkan tulis nama-nama tempat setahu kalian selengkap mungkin, terutama tolong di perdetail bagian-bagian yang ada di Istana. Aku akan mempersiapkan beberapa hal kemudian kembali diatas dengan membawa makan siang, setelahnya kita akan berkenalan dengan pihak kerajaan,” teriak Udin.


“Jadi apakah kita akan mengunjungi daratan Tuan Udin?” Dian teriak gembira. “Mohon maaf jawabannya tidak para gadis, kita akan bermain-main menggunakan drone lagi, sangat riskan bagi keamanan kita untuk berkunjung ke darat, terlebih latar belakang keluarga kalian yang kini memiliki reputasi buruk di kota, juga Rihlah sangat beresiko untuk ditinggalkan, nanti akan kuberikan kejutan untuk pihak kerajaan dengan drone” jawab Udin berteriak dari dalam kabin.


Kota Kebon Gede membentang hampir menyerupai persegi dengan luasan sekitar 5 x 7 km, sangat besar bagi sebuah kota dengan jumlah penduduk hanya 10.000 an jiwa termasuk para prajurit. Jalanan sangat lebar selebar 20 meter di jalan-jalan utama.


Rumah-rumah kebanyakan memiliki halaman yang luas, kantor-kantor instansi besar-besar memiliki halaman luas dan taman-taman, serta markas besar militer yang luas dengan arena latihan dan terdapat sebuah istana kecil dimana putra mahkota yang menjadi panglima tinggal yang lokasi yang berada di pinggir timur kota, di sisi utara nampaknya area pertanian mendominasi, di sisi barat dimana terdapat pantai yang memiliki perairan sangat dangkal penuh terumbu karang dan rumput laut yang luas dan tak mungkin dilalui kapal menjadi tempat rekreasi warga.

__ADS_1


Terdapat pasar besar sepanjang sempadan pantai sebagai denyut nadi ekonomi kota, di bagian selatan kota dibatasi muara sungai Kalideres dimana di ujung muara terdapat markas besar Angkatan Laut dengan 2 kapal perang besar dan 5 kapal perang kecil bersandar, di seberang markas angkatan laut adalah pulau Keket, pulau yang terbesar di muara dimana terdapat pusat pelatihan Angkatan Laut yang tadi kita sebut, jalur antara ujung muara sungai Kalideres dan pulau Keket, dilarang dilintasi selain oleh kapal militer. Untuk kapal dagang dan nelayan jalurnya melintasi perairan selatan antara pulau Keket dan pulau Biawak.


Posisi Rihlah saat ini berada di pulau kecil di ujung selatan muara yang disebut masyarakat sekitar sebagai pulau Pohon Duri, dimana jaraknya ke bagian utara yang terdapat markas Angkatan Laut di sisi lain muara adalah sekitar 3 km. Kota Kebon Gede tidak memiliki benteng. Namun batas kota dapat terlihat jelas dengan pagar alami dari tanaman boxwood yang ditanam mengelilingi pinggir kota dan dipangkas rapi menyerupai dinding.


Kota ini memiliki 2 pintu keluar dari pagar tanaman tadi dengan pintu dari gerbang kayu raksasa. Pintu pertama berada di arah timur laut, yang merupakan arah keluar ke kota Kebon Sapi di sebelah timur, jalan keluar darisana akan mengarah ke utara hingga mencapai pantai utara dengan jalanan makadam menyisiri pesisir hingga tiba ujungnya di kota Kebon Sapi.


Pintu keluar ke dua adalah di sebelah tenggara di dekat ujung pagar di tepi sungai Kalideres. Jalanan disini akan menyisiri sepanjang tepian sungai Kalideres ke arah timur hingga mencapai sisi sungai yang lebarnya hanya 5 meter dengan jarak sejauh 30 km dari pagar tanaman kita Kebon Gede, berbelok ke selatan melalui jembatan, jalanan makadam mengarah menuju kota Tampak Sirih.


Pintu keluar timur laut berada di sekitar markas besar militer, sedangkan pintu keluar bagian tenggara dekat dengan markas besar Angkatan Darat yang berada di tepi sungai.


Angkatan Laut kerajaan dipimpin Pangeran Danny, putra kedua Raja Siffredi, untuk Angkatan Darat dipimpin putra ketiga yakni Pangeran Tomi, putra keempat yang bernama Pangeran James menjadi kepala pengawal istana.


Putra kelima, Pangeran Evan menjadi Residen Kota Kebon Gede, sedangkan putra keenam raja, Pangeran Kieran baru saja menjadi menteri pertanian setelah eksekusi mati menteri Sugiono yang ternyata masih sepupu Raja Siffredi. Yang terakhir sudah kita kenal Johnny yang menjadi menteri luar negeri Kerajaan Suleka dan dikenal juga sebagai pedagang budak Internasional.


Johnny secara rahasia telah menjadi Duta Besar Berkuasa Penuh Alamut untuk dunia luar.


Evan adalah pangeran yang malas, sebelumnya dia hanya mengurus lahan pertanian yang luas milik kerajaan sebelum naik menjadi menteri setelah skandal yang penuh benang kusut di Kementrian Pertanian.


Rena menduga ada kepentingan besar Evan dibalik tuduhan korupsi ayahnya yang kemudian dieksekusi bersama istri-istrinya.


Istana kerajaan Suleka berbentuk persegi dan satu-satunya di kota ini yang dibenteng batu. Ukurannya 300 x 300 meter persegi dengan dinding setinggi 3 meter dan memiliki 4 pintu masing-masing di tengah sisinya. Setiap pintu dijaga 10 prajurit pengawal istana.


Memasuki pintu selatan kita dapat menemukan bangunan rapat kerajaan berbentuk pendopo dengan dinding hanya setengah dari tinggi ruangan, rapat dilakukan secara lesehan da nada sebuah singgasana untuk tempat duduk raja dan 2 orang yang biasanya istrinya. Di kiri-kanan singgasana terdapat kipas besar yang biasa digunakan dayang untuk mengipasi raja.


Pintu sisi timur merupakan pintu khusus keluarga kerajaan dimana dari pintu ini kita dapat melihat bangunan utama istana raja dan para keluarganya tinggal. Pintu barat merupakan pintu masuk utama untuk tamu-tamu umum maupun tamu asing serta para pejabat dalam acara seremonial. Ketika memasuki pintu ini kita disambut lapangan yang luasnya 100 x 100 meter tempat raja melakukan apel siaga para bawahannya dan sebagai tempat atraksi serta festival-festival khusus di lingkup istana. Lapangan ini merupakan tempat terbuka dan tempat terluas di istana yang langsung menghadap bagian utama istana dimana terdapat markas pasukan pengawal istana yang dibelakangnya berdiri megah kediaman raja yang dapat dilihat dari kejauhan.


Di sisi utara dan selatan lapangan terdapat barak prajurit pengawal istana. Dari pintu barat ini terdapat 2 buah jalan yang mana satu menuju balai pertemuan di selatan dan satu lagi menuju istana tamu di bagian utara.


Jika kita memasuki istana dari pintu utara, maka langsung disambut sebuah istana kecil yang berbentuk persegi memanjang yang merupakan tempat bagi para tamu kerajaan yang berkunjung. Antara Istana tamu dan bangunan utama Istana tempat raja tinggal terdapat kompleks tempat tinggal pelayan dan dayang serta dapur kerajaan.


Anggi turun masuk ke dalam kabin saat Udin menyiapkan makan siang dan memberi informasi, "Wazir Akbar, keterangan lokasi pada peta selesai kami tulis."

__ADS_1


Udin segera mencetak peta di 6 lembar kertas A3 yang lalu ia susun dan tempelkan di dinding diatas meja kerja di kabin Rihlah, setelahnya Udin membawa drone lagi ke atas sambil menenteng 1 krat kotak amunisi RPG 7 dan sebuah kotak berisi kain Songket Palembang yang ditenun dengan tambahan benang emas. Udin merangkai drone dengan hadiah perkenalan dan membiarkan kotak amunisi di ruang sofa bagian atas rihlah.


Sambil merakit hadiah untuk dibawa drone udin memerintahkan Rena dan Dian sekaligus. “Rena segera salin tulisan pesan untuk raja dengan aksara Fantastica, aku sudah mencobanya tapi tulisanku jelek sekali, Dian tolong bawakan nampan makan siang dan minuman kita yang sudah kusiapkan di dapur,” ujar Udin ke arah Dian yang sedang bersama para gadis masih sibuk scrolling dan memperbesar tampilan, peta dari monitor Rihlah mengenang kehidupan mereka sebelumnya. “Baik tuan Wazir Akbar,” jawab Rena dan Dian serentak.


__ADS_2