
Untuk mengembalikan stabilitas kota Gunungmacan, dengan segera raja menunjuk dua adik ipar Pangeran Jordi yang bernama Sandy dan Bob menjadi Residen dan Patih. Mereka berdua adalah putra dari Perdana Menteri Suleka, Tuan Ilaga.
Sebelumnya Gunungmacan sudah setahun tidak memiliki patih karena semenjak kematian Patih Gianto yang tanpa meninggalkan keturunan, Residen Pramono terkesan menunda-nunda menunjuk Patih pengganti. Kondisi ini pasca kekacauan di Gunungmacan menguatkan dugaan bahwa Pramono benar-benar telah mengatur sebuah kudeta. Reputasi cemerlangnya menyejahterakan kota Gunungmacan benar-benar telah hancur lebur dengan cepat.
Sementara itu di Pangkalan Utama Angkalan Laut di Ibukota…
“Pangeran Danny, ada merpati pos membawa surat dengan segel raja,” seorang senopati membawa surat ketika fajar terbit keesokan harinya.
Danny yang memimpin Angkatan Laut mengernyit kemudian terhenyak setelah membaca surat yang ia terima dari bawahannya.
Dasar anak pemalas tidak berguna…
Apa saja yang kamu lakukan di satuanmu selama ini.
Sungguh satuan yang penuh pengkhianat dan pengacau
*Satuanmu hampir membunuhku dan kakak sulungmu
Mereka hari ini telah melarikan ratusan musuh kerajaan di Gunungmacan*
Tunjukkan kau memang anakku yang berbakti
Tangkap semua musuh kerajaan baik hidup dan mati
Ungkap semua benalu di satuanmu
Tunjukkan kau memang becus bekerja
Danny kemudian meremas surat itu dengan geram. Sudah beberapa kali semenjak menjabat dirinya selalu mendapat ucapan kurang baik dari ayahnya. Ayahnya selalu membanding-bandingkannya dengan Jordi dan Tomas.
Namun dia sedikit bertanya-tanya ada apa gerangan di Gunungmacan? Jikalau ada kekacauan dari satuannya berarti asalnya dari pusat pelatihan Angkatan Laut dan Pangkalan kota Gunungmacan, tentu saja ini membuatnya makin pusing.
“Ryu…” teriaknya yang menggelegar ke seantero pangkalan utama.
“Laksamana Muda Ryu menghadap kepada Laksamana Agung Pangeran Danny,” ujar Ryu yang datang tergopoh-gopoh setelah mendengar teriakan dari pemimpinnya itu.
“Segera kerahkan pasukan untuk memeriksa seluruh keluarga Andi Keling dan pasukannya yang berlayar dalam misi patroli dan penjemputan tawanan. Selain itu segera buat tim untuk pemeriksaan mendalam di pusat pelatihan, sementara bekukan dulu kegiatan mereka dan tangkap juga periksa seluruh prajurit disana untuk kepentingan investigasi,” perintah Danny kepada Ryu yang merupakan Kepala Intelejen Angkatan Laut.
Setelah kepergian Ryu, Danny segera mengirim merpati pos yang ditunjukkan kepada seluruh Pangkalan Kota untuk mulai melakukan pemeriksaan seluruh pelayaran kapal dari luar wilayah dan secara khusus dirinya juga memerintahkan Pangkalan Angkatan Laut di kota Tampaksirih, Jayagelang, Kalikucing dan Sumberurip untuk melakukan patroli dan operasi pengejaran 6 kapal dari pusat pelatihan dan Pangkalan kota Gunungmacan. Selain itu seluruh awak dari 6 kapal sementara ini dinyatakan sebagai buronan hingga peristiwa ini terungkap jelas.
Setelah selesai membuat serangkaian perintah, Danny bersama 50 prajurit segera berangkat menyusul ayahnya menuju Gunungmacan melalui jalur darat.
Dirinya berpergian melalui jalur darat beberapa saat setelah mendapat berita buruk dari merpati pos dan memberi perintah di pagi hari karena khawatir akan keselamatan raja juga dirinya sendiri.
__ADS_1
Selain itu dia juga takut bila akhirnya tidak bertemu dengan raja yang mungkin saja sudah dalam perjalanan pulang ke ibukota jika dia datang ke Gunungmacan melalui laut.
Serangkaian kejadian yang melibatkan Angkatan Laut membuat Pangeran Danny mulai takut untuk berlayar, peristiwa penyerangan istana, pembajakan di Sumberurip dan terbaru di Gunungmacan membuatnya mulai meragukan loyalitas anak buahnya di Angkatan Laut.
Sementara itu di Pangkalan Angkatan Laut kota Kalikucing dan Sumberurip
Siang dan sore pada hari yang sama mereka telah menerima merpati pos yang membawa surat dari pemimpin tertinggi mereka Panglima Angkatan Laut, Laksamana Agung Pangeran Danny.
Mereka para tumenggung yang menjabat komandan pangkalan di kota setempat hanya bisa duduk tertegun dan bingung akan bertindak apa.
Malam hari sebelumnya tanpa disadari siapapun 3 kapal perang di Kalikucing hilang tak berbekas seperti yang sebelumnya telah terjadi di Sumberurip sepekan lalu. Kalikucing melakukan blunder dengan mengendurkan pengamanan aset angkatan laut mengingat seluruh tawanan penyembah Sang Esa telah dikumpulkan di Gunungmacan.
Sementara Tumenggung Margono di Sumberurip juga ketakutan,tapi dia masih bisa sedikit berpikir lebih jernih. Semalam ada 5 kapal perang beriringan hendak merebut 2 kapal yang tersisa di Pangkalan Sumberurip, namun dia belajar dari kasus Si Kepiting Galak dan memperketat penjagaan di malam hari. Walhasil sempat terjadi pertempuran laut yang menyebabkan tenggelamnya 2 kapal perang yang tersisa di Pangkalan Angkatan Laut Sumberurip.
Melihat kondisi yang kurang menguntungkan Tumenggung Karsimin, komandan pangkalan Angkatan Laut Kalikucing akhirnya mengambil langkah selamat dengan secara pengecut kabur mencari suaka ke kerajaan Ferris Indah. Kebetulan sore itu ada kapal niaga yang akan kembali ke Ferris Indah membawa muatan dari Kalikucing.
Mengetahui hal itu Karsimin segera meninggalkan jam dinas di Pangkalan untuk menjemput keluarganya dan membawa mereka turut berlayar ke Ferris Indah tanpa meninggalkan arahan dan informasi apapun kepada anak buahnya.
Sementara itu, hari yang sama di Alamut
Pagi hari di waktu yang sama dengan Pangeran Danny menerima merpati pos. Para pria eks awak kapal niaga yang sedang bekerja membuat pondok kayu melapor kepada Zayn dan Udin bahwa mereka telah melihat adanya rombongan 5 kapal perang dengan awak yang melambaikan kain putih di sisi kapal berlayar di pesisir menuju muara Tabuan Lasi dimana disana berlabuh Rihlah, Ragnarok dan Stockholm.
“Tuan Padishah, ada 5 kapal perang menuju kesini,” Bertha sambil berlari-lari memberi informasi kepada Zayn dan Udin yang sedang sarapan pagi di salah satu pondok kayu.
“Entahlah Din siapkan senjata yang ada dan mari menyambut maksud kedatangan mereka di muara siapapun itu yang datang, putar Ceddin Deden versimu itu dan mari berdoa semoga itu Johnny,” Zayn menjawab Udin.
Sementara itu beberapa saat kemudian, dari lautan Roni dan Leman terkesima dengan penyambutan yang dilakukan 5 pria dewasa, beberapa wanita dan anak-anak yang menenteng benda aneh yang kemungkinan besar menurut pikiran mereka senjata dan menyanyikan lagu berisi hal tentang Alamut. Di belakang mereka berkibar bendera dengan warna merah, hitam, putih dan hijau (bendera Palestina).
Mendengar kata Alamut Roni dan Leman semakin yakin bahwa mereka tiba di tempat yang benar.
Usai menurunkan jangkar dari Bulu Babi dan Cacing Laut. Roni dan Leman turun berdua saja dari kapal masing-masing untuk salam perkenalan sesuai adat pelaut yang ada di kepulauan.
“Salam hormat kami, dua orang beriman penyembah Sang Esa mewakili para saudara kami yang masih ada di kapal dan para orang baik penyembah dewata agung yang mengikuti kami untuk melarikan diri dari tirani Kerajaan Suleka demi bertemu para pencerah,” Roni memberi salam.
“Apakah kami dapat bertemu dengan tuan Zaynall Abideen dan Zahiruddin Muhammad yang menguasai Alamut, perkenalkan saya adalah Roni, senopati komandan kapal perang Bulu Babi dan disamping saya adalah Senopati Leman komandan kapal perang Cacing Laut. Kami datang dengan damai membawa keluarga dan rekan kami serta para tawanan untuk bertemu tuan-tuan itu,” lanjut Roni.
“Para pencerah apa maksudmu itu? Aku adalah Udin.. Zahiruddin Muhammad dan disebelahku adalah Zaynall Abideen kalian bisa memanggilnya Zayn. Apa maksud kehadiran para prajurit kemari?” jawab Udin dengan nada sopan.
“Kalian benar-benar tinggi dan gagah seperti sosok yang biasanya disebut sebagai para pencerah dalam sejarah,” ujar Leman yang tiba-tiba bersujud di ikuti Roni.
“Ehhh berdiri... berdiri saja apa apaan kalian bersujud disini, bersujudlah hanya kepada tuhanmu,” jawab Zayn.
“Sekarang lanjut jelaskan apa itu pencerah dan apa maksud tujuan kedatangan kalian kesini,” Udin menyela setelah melihat dua orang itu berdiri.
__ADS_1
“Izin menjelaskan tuanku, 2 tahun yang lalu orang suci Temujin mendapatkan mimpi bahwa para pencerah yang muncul setiap 200 tahun sekali akan segera menunjukkan diri di suatu pulau yang memiliki banyak gunung dan dihuni banyak harimau. Oleh karenanya orang suci mengutus Pendeta Agung Hulagu dari Kerajaan Gula-Gula Selatan di benua Jayamas yang juga dikenal sebagai benua kanan untuk menyambut kehadiran para pencerah,” jawab Roni.
“Satu-satunya pulau dengan banyak gunung yang memiliki ribuan populasi harimau hanya pulau Grand Papalepap di kerajaan Suleka ini, sehingga pendeta agung memutuskan berlayar dan mendirikan kuil di kota Gunungmacan karena kota itu memiliki unsur nama gunung dan harimau. Kota itu juga berada di barat gunung yang bernama Macan meskipun hari ini disana sudah tidak ada macan,” lanjut Roni.
“Namun pendeta agung tidak menyadari 1 hal. Bahwasanya dalam mimpi Orang Suci disebutkan para pencerah muncul di salah satu benteng di pulau itu yang disekitarnya dijaga harimau. Tentu saja hal yang dimaksud hanya kawasan Benteng Tanjung Pagar ini yang berada di kawasan Hutan Terlarang dan sebetulnya masih kawasan dibawah kekuasaan kota Sumberurip,” Roni menambahkan.
“Usai peristiwa tuan Udin yang menggemparkan ibukota pekan lalu, raja Siffredi yang berkelakuan tiran marah dan menangkapi seluruh penyembah Sang Esa di seluruh kerajaan, harta kami disita, kuil kami ditutup. Beruntung kami memiliki orang yang menyembunyikan iman semacam Hakim Agung Giman, Laksamana Muda Andi Keling, Tumenggung Jayadi dan Juragan Jumanji yang mengatur pemberontakan di kota Gunungmacan dimana semua penyembah Sang Esa ditawan dari penjuru kerajaan,” Roni belum selesai cerita.
“Dalam pemberontakan yang harusnya berjalan kemarin sore, saya dan Leman bertugas memimpin pasukan pembuka untuk membersihkan jalur laut menuju Tanjungpagar,” lanjut Roni.
“Dalam perjalanan kemari semalam kami membajak seluruh kapal perang yang menjaga kota Kalikucing dan menawan awak yang berjaga diatasnya serta menenggelamkan 2 kapal perang dalam lanjutan perjalanan ketika melintasi Sumberurip,” imbuh Roni.
“Kemungkinan besar malam hari atau esok pagi jika pemberontakan di Gunungmacan sukses rombongan besar Hakim Agung Giman, Juragan Jumanji, Laksamana Muda Andi Keling dan Tumenggung Jayadi bersama Pendeta Agung Hulagu akan tiba di Tanjungpagar ini untuk sumpah setia mengikuti tuan Zayn dan tuan Udin,” pungkas Roni.
“Para pencerah, Orang Suci, Pendeta Agung jelaskan kaitan semua itu dan apa disini ada istilah nabi,” tanya Zayn kepada Roni dan Leman.
“Nabi terakhir pembawa risalah Sang Esa telah berpulang 600 tahun lalu di Kerajaan Gula-Gula sebelum para pencerah yang muncul 200 tahun setelah kematian Nabi, berhasil membawa Gula-Gula berubah dari kerajaan kecil tak diperhitungkan di benua Jayamas atau benua kanan dan kemudian menjelma menjadi kerajaan kembar Gula-Gula Utara dan Selatan yang menguasiai benua kanan dan benua Jayati di kiri,” Leman berusaha menjawab.
“200 tahun kemudian para pencerah muncul di suatu kota di benua kiri yang masuk wilayah Gula-Gula Utara dan yang mengejutkan para pencerah ketiga ternyata muncul di Fantastica tepatnya di Kerajaan Suleka,” Leman meneruskan.
“Adapun orang suci adalah pendeta agung yang naik jabatan bergantian menjadi pemimpin agama para penyembah Sang Esa, semacam pemimpin tertinggi umat. Sementara pendeta agung adalah pemimpin agama di kewilayahan. Sebelumnya Pendeta Agung Hulagu bertanggung jawab untuk Gula-Gula Selatan, namun orang suci Temujin memindahkannya ke Fantastica untuk menjemput ramalan dan telah mengangkat pendeta agung baru di Gula-Gula Selatan untuk menggantikannya. Menurut hamba ini adalah kabar baik dimana kebenaran Sang Esa akan menyebar di seluruh dunia, 200 tahun lagi kemungkinan para pencerah akan muncul di kawasan belum beriman yang lain di dunia ini,” pungkas Leman.
“Udin tolong jelaskan apa hubungan seranganmu ke ibukota sehingga raja menarget penyembah Sang Esa dan merepotkan kita disini,” tanya Zayn.
Rena yang berada bersisian dengan Udin dengan cepat menjawab sebelum Udin menjawab, “Wazir Akbar menulis surat kepada Raja Siffredi dengan awalan atas rahmat dan ijin Allah Tuhan Yang Maha Esa, tuan Padishah, menurut saya itu alasan raja bertindak kejam kepada penganut Sang Esa.”
“Adu duh… kepalaku pusing memikirkan ini, sudah lah kita tunggu saja kehadiran Pendeta Agung Hulagu nanti, dia pasti bisa menjelaskan lebih mudah,” jawab Zayn.
“Roni dan Leman kupersilakan kalian menurunkan awak kapal, harta benda dan tawanan di Alamut. Kalian bisa berkoordinasi dengan Bertha tentang hunian sementara dan berkoordinasi dengan Rena masalah tawanan. Untuk penyimpanan barang bawaan koordinasi dengan Anggi,” Udin berbicara sambil menunjuk beberapa orang.
“Untuk beberapa jam kedepan aku dan Zayn akan diskusi di tenda, tolong jangan diganggu kecuali ada tamu yang hadir di Alamut,” jawab Udin yang langsung menarik Zayn menuju tenda.
“Zayn, apa kau dengar yang dikatakan dua orang itu? Apakah terteleportasinya kita di planet ini adalah takdir yang disengaja tuhan,” tanya Udin.
“Entahlah Din kepalaku makin pusing, tapi pikiran pragmatisku simple saja, kita akan kedatangan ratusan orang yang membuat kedudukan kita disini semakin kuat dan bisa segera membangun itu saja, untuk masalah agama dan Sang Esa yang disembah orang-orang itu aku masih malas untuk memikirkannya lebih lanjut yang penting kewajibanku sebagai hamba tuhan selalu kutunaikan sesuai aturan agama kita, ngomong-omong bagaimana progress penulisan ilmu pengetahuan terapan dan kurikulum” jawab Zayn sambil bertanya.
“Menurutku mereka semacam ahli kitab yang bisa jadi sejenis agama kita jika kita bandingkan dengan keadaan di bumi Zayn, aku juga sepakat denganmu artinya dengan kehadiran mereka Alamut semakin kuat dengan cita-citanya,” jelas Udin.
“Tentang ilmu pengetahuan, teknologi terapan dan kurikulum pendidikan apakah Rena belum cerita kepadamu jika 40 peti lontar itu semuanya sudah kutuliskan segala hal, belum lagi aku menghabiskan 1 rim kertas di Rihlah untuk mengeprint banyak hal penting,” pungkas Udin.
“Kerja bagus bapak kos,” celetuk Zayn.
“Haha… bapak kos, lama tak kudengar sapaan itu darimu sekian tahun setelah meninggalkan Surabaya Zayn,” Udin kemudian merebahkan badan di tenda.
__ADS_1