
12 September 2022
Di saat 5 orang yang terdiri dari Udin, Johnny, Juki, Anggi dan Tunggul Wulung baru saja meninggalkan tambang emas di bukit Timbuktu, di saat yang sama Pangeran Danny mantan Panglima Angkatan Laut yang diperintahkan membangun kembali benteng Tanjungpagar terkaget oleh aktivitas banyak orang di tempat yang ia tuju.
Dari kejauhan dia melihat banyak kapal perang dan yang mencolok terlihat dari jauh adalah kapal yang berhias panji kerajaan Faranina dan kapal besar milik Jumanji yang keberadaannya terlihat dari jauh meski saat bersandar tertutupi banyak kapal lain.
“Astaga… rupanya Tanjungpagar selama ini menjadi basis pemberontak, sepertinya mereka selain bekerja sama dengan Ferris Indah juga bekerja sama dengan Faranina. Apakah mungkin mereka berniat menyatukan kembali kepulauan di bawah Fantastica. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Danny kepada orang-orang di sekelilingnya.
“Lebih baik kita mundur kembali ke kota terdekat dan melaporkan hal ini ke kerajaan pangeran,” ujar Senopati Doyle.
Dalam pelayaraan ini sebetulnya Danny ingin membawa beberapa loyalisnya yang berpangkat tinggi seperti Ryu, komandan intelejen berpangkat Laksamana Muda dan juga beberapa tumenggung. Tapi raja Siffredi hanya mengizinkan pangkat tertinggi Senopati untuk dibawa beserta dirinya dan keluarganya beserta 147 prajurit lain.
Dalam pelayaran ini Danny membawa 200 orang berlayar dimana 149 merupakan prajurit dengan diantaranya 2 Senopati yang sekaligus mengawaki 2 kapal perang tipe A.
Kemudian 15 orang merupakan awak 3 kapal niaga ukuran A yang membawa logistik mereka. 3 kapal niaga juga mengangkut 15 orang budak. Petinggi dalam armada ini selain Danny yang memimpin terdapat 2 senopati bernama Doyle dan Andra. Selain itu 18 orang dari keluarga Danny dan 2 senopati menggenapkan jumlah mereka menjadi 200 orang.
“Suamiku lebih baik kita melakukan pertempuran habis-habisan pagi ini. Matahari baru saja terbit, dan mereka mungkin saja lengah tanpa mempersiapkan diri menghadapi serangan. Hamba siap menerima nasib apapun daripada menerima cacian lagi saat kembali. Sudah cukup kita dicaci kerajaan dan masyarakat saat hendak berlayar kemari. Dan mari kita tunjukkan jiwa patriot kita dengan merebut Tanjungpagar,” ujar Malena istri Danny.
“Bagaimana menurutmu Doyle apabila kita menyerang, mungkin saja kita bisa menenggelamkan banyak kapal dan bahkan jika beruntung kita dapat mengkaramkan semua kapal pemberontak di lautan. Tapi nyawa menjadi taruhan” tanya Danny.
“Menurut hemat saya dari sudut strategi militer, terlepas apa strategi yang kita pilih. Kita harus segera menerbangkan merpati pos ke kota terdekat untuk memberikan informasi keadaan terkini. Lalu kembali adalah keputusan taktis terbaik menghindari korban jiwa dan kerugian. Namun dari sudut pandang ksatria dan kepahlawanan menyerang adalah pilihan tepat. Benar sekali yang dikatakan Putri Malena bahwa citra angkatan laut dan nama anda sebagai pangeran sudah teramat buruk dan akan semakin buruk ketika kita meninggalkan lokasi ini dan hanya akan dianggap mencari selamat. Apapun keputusan tuan kami di sini semua prajurit setia termasuk (senopati) Andra di kapal sebelah pasti akan menaati semua titah pangeran,” Doyle menjawab.
“Baiklah siapkan panah api untuk melancarkan serangan mendadak. Kita akan berlayar beriringan dari barat ke timur dengan setiap orang menghadap di sisi utara kapal dan akan menembakkan panah api. Setelah selesai memanah segera menunduk agar orang di belakangnya dapat bergantian menembakkan panah begitu seterusnya hingga panah kita habis kita akan berlabuh di pesisir dan menaklukkan kembali Tanjungpagar dengan pedang dan darah,” perintah Danny.
Sementara itu sirine engkol mengeluarkan suara keras dari dermaga Alamut. Leman yang bertugas jaga di dermaga dan sedang mager pagi di geladak Stockholm melihat gerakan 5 kapal Suleka dan segera membunyikan Sirine Engkol yang diterimanya dari Udin sebelum sang Wazir Akbar pergi k lokasi tambang.
“Teeeeeeet” para penduduk dan prajurit yang belum siap menerima serangan mendadak langsung menyiapkan diri dan senjata. Begitu pula Zayn yang sedang sendirian di atas Rihlah bermain smartphone.
Hanya sekitar semenit dari suara sirine terdengar, seratus panah api terlempar ke arah kapal-kapal yang bersandar dan dalam hitungan detik puluhan panah api susulan mengarah ke kapal-kapal yang tengah bersandar di dermaga dan pelabuhan.
Zayn segera memanaskan mesin Rihlah dan memberi komando melalui pengeras suara yang ada di Rihlah.
“Peran tempur… Peran tempur bahaya serangan kapal permukaan. Pertahankan Alamut, serang balik dengan senjata jarak jauh seperti panah,” ujar Zayn yang kemudian sendirian menggerakkan Rihlah ke jangkauan tembak senjata andalannya RPG 7 yakni 200-300 meter.
Tentunya jarak ini masih terlalu riskan karena jarak panah api orang-orang Suleka bisa mencapai 500 meter. Namun Zayn hanya sendirian tanpa Udin di sini yang bisa membantunya bermanuver sambil melayangkan serangan.
Melihat posisi Rihlah yang menuju sisi selatan mereka, Danny segera memerintahkan pemanah memanah ke arah Rihlah.
“Arahkan serangan ke kapal aneh di selatan kita, kapal kecil itu yang memporak porandakan istana 2 pekan lalu, berhati-hatilah dan panah dengan baik,” ujar Danny.
Panah yang sebelumnya diarahkan ke Utara mulai dilesatkan ke arah Rihlah. Dari 100 panah api pertama yang ditembakkan 8 diantaranya mengenai Rihlah yang materialnya dominan dari Fiberglass dan Alumunium.
Tapi di saat bersamaan Zayn juga menembakkan RPG 7 dan segera menghantam kapal perang yang dipimpin Andra dan membuatnya oleng sebelum akhirnya tenggelam beberapa menit kemudian. Tak peduli dengan serangan panah yang terus ditembakkan ke arah Rihlah, Zayn segera menembak kapal perang Danny dengan RPG dan kemudian menyusul 3 kapal niaga pengiring yang turut menembaki Rihlah dengan panah api.
Seluruh munisi RPG 7 yang dibawa Rihlah kinu telah habis. Dari 6 roket yang dibawa 1 telah digunakan Udin di istana dan 5 lagi digunakan untuk menghancurkan armada Danny.
Rihlah sendiri terkena 27 panah api dan mengingat material bahan yang rentan meski dilapis coating anti api tentu saja tetap menimbulkan beberapa titik yang terkena dampak. Zayn segera mengambil sebuah alat pemadam api ringan (APAR) dan memadamkan titik api yang menyala sebelum kemudian kembali ke muara.
Di muara dan dermaga tampak orang-orang ramai memadamkan kapal-kapal yang terbakar oleh serangan Danny. Melihat Rihlah yang seolah terluka dan terlihat mengepulkan asap. Jumanji segera memperintahkan dua orang untuk mendayung sekoci untuk menjemput Zayn.
__ADS_1
“Kalian berdua segera jemput dan selamatkan Padishah,” perintah Jumanji.
Orang-orang di daratan khawatir melihat semprotan APAR dari jauh seolah Rihlah yang mengeluarkan asap menuju muara. Beberapa saat kemudian Rihlah akhirnya kembali berlabuh di ujung selatan muara.
“Tuan Padishah, apakah anda baik-baik saja?” Tanya dua orang dari atas sekoci.
“Aku baik-baik saja, tolong bantu aku menurunkan 2 tabung ini,” perintah Zayn kepada orang di sekoci, dimana 1 APAR sudah terbuka dan terkurangi volumenya karena digunakan untuk mengamankan Rihlah.
Setelah Zayn melompat ke sekoci, dia segera mengajarkan dua orang itu menggunakan APAR.
“Mari dayung sekoci ke arah kapal yang masih terbakar, tekan nozzle nya dan arahkan selang ke arah kobaran api,” perintah Zayn.
Kebakaran-kebakaran kapal akhirnya padam setelah 2 jam.
“Jumanji, berapa kapal kita yang terkena panah api,” tanya Zayn.
“Ada 8 kapal Padishah, jika Rihlah dihitung maka jumlahnya menjadi 9. Diantara 8 kapal ada 3 kapal yang sulit untuk diperbaiki lagi dan sisanya masih bisa diperbaiki. Beruntungnya tidak ada kapal yang tenggelam dan tidak ada diantara warga yang terluka,” terang Jumanji.
“Jelaskan 3 kapal apa saja itu yang rusak berat dan 5 yang masih bisa diperbaiki,” tanya Zayn.
“Yang mustahil untuk diperbaiki adalah kapal milik pangeran Juki dari Faranina, kemudian Stockholm (kapal niaga tipe B) dan Siggy (Kapal perang tipe B).” jawab Jumanji.
“Sedangkan yang bisa diperbaiki adalah Freyja (kapal perang tipe A), Ivar (kapal perang tipe B), Dublin (kapal niaga tipe A), Cork dan Nuuk (kapal niaga tipe B),” tambahnya.
“Baik jadi segera pindahkan 8 kapal itu ke perairan dangkal di timur muara. Yang sudah tidak bisa diperbaiki dikandaskan saja tidak apa-apa. Besok segera lakukan perbaikan kapal dan pembongkaran kapal yang tidak bisa diapa-apakan lagi, kecuali kapal milik Faranina, tunggu mereka kembali. Kayu bongkaran kapal nanti bisa kita manfaatkan untuk hal lain,” perintah Zayn.
“Lalu segera kerahkan 12 kapal yang lain untuk berlayar sepanjang pesisir timur dan barat. 4 ke arah timur dan 8 ke arah barat. Selamatkan dan tawan mereka yang masih hidup dan evakuasi jasad mereka yang sudah mati. Untuk tim pekerja tambak garam sisir daratan di timur muara dan untuk tim tambang batu sisir daratan sebelah barat muara,” lanjut Zayn memberikan perintah.
“Bagaimanapun mereka manusia dan tawanan perang harus diperlakukan sebagaimana mestinya. Sedangkan jasad mereka yang tewas jika dibiarkan akan menjadi wabah yang merugikan kita nantinya,” jawab Zayn.
“Baik padishah semua perintah akan kami kerjakan,” jawab para pembesar.
“Terima kasih, mohon maaf aku gagal menjadi pemimpin yang baik bagi kalian,” ujar Zayn dengan sedikit berlinang air mata.
“Jangan seperti itu Padishah, lebih baik anda mengikuti saya bermeditasi. Siapa tahu hamba bisa membuat anda lebih tenang dengan menceritakan beberapa kisah sambil anda bermeditasi menenangkan diri,” ucap pendeta agung Hulagu.
“Baiklah, terima kasih ya.. aku akan menenangkan diri dulu. Jika Udin kembali maka beri tahu apa yang terjadi dan hasil yang kalian kerjakan dari perintahku barusan. Dia pasti bisa mengendalikan situasi selanjutnya,” ujar Zayn yang masih terpukul.
Akhirnya semua orang bergerak menjalankan perintah hingga barak pemukiman menjadi sepi tinggal para wanita, anak-anak dan juga kelompok dari Keluarga Sugiono.
Udin dan Juki beserta yang lain merasa terkejut ketika melihat Alamut sepi, bahkan tiada satupun kapal di dermaga dan muara hanya menyisakan Rihlah yang nampak habis mendapat serangan dan kondisinya tidak baik-baik saja. Sebelum pemukiman harusnya saat melintasi lahan pertanian yang dibuka Zayn mereka juga bertemu ratusan orang. Namun tadi mereka juga tidak bertemu siapapun. Pikiran buruk membuncah berkecamuk di hati mereka.
“Apa-apaan ini, dimana kapalku dan kapal lainnya, dimana para penduduk,” Juki shock melihat keadaan.
“Sepertinya masih ada orang di dapur umum mari kita kesana dulu pangeran,” ujar Udin.
Setengah dupa kemudian mereka tiba di dapur umum dan Udin menanyai Rena perkembangan situasi.
“Apa yang terjadi Rena, dimana semua orang dan kapal. Apa yang terjadi pada Rihlah,” tanya Udin.
__ADS_1
“Sekitar 4 jam lalu, tepatnya jam 5 pagi Alamut diserang kerajaan Suleka tuan, akibatnya 3 kapal nampaknya tidak bisa diperbaiki lagi dan dipindahkan ke daratan di sebelah timur muara bersama 5 kapal yang mengalami kerusakan lainnya,” jawab Rena.
“12 kapal yang lain sedang mencari orang-orang Suleka yang kapalnya berhasil ditenggelamkan di lautan dan ratusan yang lain menyisiri daratan di barat dan timur muara hingga sore hari mengikuti perintah Padishah. Padishah sendiri berhasil menghancurkan seluruh kapal musuh sendirian dan Rihlah nampaknya tak luput dari serangan panah api,” jawab Rena sambil tidak menceritakan kondisi Zayn yang shock berat dan pergi menenangkan diri.
“Lantas bagaimana kapalku Rena,” tanya Juki. “Bagaimana Valhalla,” Johnny turut bertanya.
“Mohon maaf untuk kapal tuan putera mahkota bersama Stockholm dan Aslaug tidak bisa tertolong karena terbakar hebat dan dikandaskan di perairan dangkal di timur muara. Untuk Valhalla aman pangeran Johnny,” Anna membantu menjawab.
“Berapa kapal Suleka yang menyerang Alamut,” tanya Tunggul Wulung.
“Ada 2 kapal perang tipe A dan 3 kapal niaga tipe A yang menyerang Alamut tuan senopati, kondisi Alamut tidak siap karena kita belum pernah berpikir akan ada serangan, terlebih sepagi itu,” jawab Anna.
“Paman senopati, apakah ada kemungkinan Suleka menyerang kembali?” tanya Anggi.
“Standard angkatan laut kerajaan Suleka jika menemui hal seperti ini adalah segera mengirim merpati pos ke pangkalan terdekat, artinya siang ini orang-orang di Sumberurip mengetahui informasi dari mereka yang menyerang dan info ini akan diteruskan estafet hingga berita ini sampai ke istana keesokan hari,” jawab Tunggul Wulung.
“Besok kita harus waspada, yang jelas 1 hingga 7 hari kedepan firasatku akan ada serangan susulan ke Alamut jika Suleka bereaksi cepat. Atau bisa 2 pekan hingga sebulan mendatang jika Suleka merencanakan serangan besar. Untuk Faranina jelas kini sudah dianggap sebagai musuh karena kapalnya terlihat di sini,” imbuhnya.
“Sialan 7 hari ya.. bahkan paling cepat dari sini untuk pulang dan pergi ke kerajaanku butuh waktu 10 hari,” dengus Juki.
“Lebih baik kita menunggu orang-orang kembali kemari dan menyusun rencana setelah melihat perkembangan berikutnya,” ujar Udin yang disetujui semua orang.
Sementara itu di Sumberurip
Sebuah merpati pos datang ke pangkalan angkatan laut Sumberurip, Tumenggung Margono segera membuka surat yang dibawa burung itu.
Selamat pagi
Kami menemukan fakta Tanjungpagar telah menjadi benteng persembunyian musuh yang terdiri dari puluhan kapal.
Kapal Jumanji yang terlibat pemberontakan terlihat jelas bersama kapal dari Faranina.
2 kerajaan di selatan kita rupanya hendak menggoyang Suleka.
Waspadai ancaman kebangkitan Fantastica dari selatan.
Kami akan bertempur dengan darah dan kehormatan kami meski nyawa harus menjadi maharnya.
Kami tak kan kembali kecuali bila membawa kabar kemenangan.
Teruskan kabar ini ke istana.
Pangeran Danny
Margono membaca surat ini dengan tangisan. Ia tahu mantan panglimanya di Angkatan Laut ini adalah orang yang keras kepala. Kemarin sore dia masih bertemu dengan pangeran yang mengunjunginya di sela pelayaran ke Tanjungpagar untuk menguatkan morilnya usai kota Sumberurip kehilangan seluruh kapal.
Si Kepiting Galak hilang dibajak pemberontak dan 2 kapal perang lainnya tenggelam dalam pertempuran melawan pemberontak selang sepekan kemudian.
Dia tahu persis bagaimana sifat Danny, karena dia dan si pangeran merupakan sahabat dan 1 letting dalam pendidikan di pusat pelatihan Angkatan Laut. Margono yakin Danny pasti melancarkan serangan tidak berimbang ke arah musuh yang memiliki kapal jauh lebih banyak.
__ADS_1
Margono hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi Danny, keluarga dan armadanya. Setelah merenung sejenak dia segera mengirim kembali surat itu melalui merpati pos ke Kalikucing untuk kemudian dikirim estafet hingga istana.
Kemudian Margono segera menuju markas legion untuk berkonsultasi dengan pemimpin angkatan darat setempat, Tumenggung Andik untuk kemudian bersama setelahnya menemui Residen Lexington.