Membangun Peradaban Di Planet Primitif

Membangun Peradaban Di Planet Primitif
27. Membangun Pelabuhan


__ADS_3

Setelah diskusi sepagian di tenda, Zayn dan Udin kemudian keluar dan memeriksa keadaan.


Alamut, hari ini telah memiliki 157 populasi manusia dan akan segera bertambah lebih banyak lagi setelah rombongan dari Gunungmacan nanti hadir.


157 orang itu terdiri dari 2 orang pemimpin Alamut, Zayn dan Udin, 10 bersaudara anak dari Menteri Sugiono yang telah dieksekusi pihak kerajaan Alamut, 3 mantan awak Stockholm (eks kapal milik Lexington), 5 tawanan eks awak kapal perang berukuran besar Ragnarok (Si Kepiting Galak), 120 prajurit dan keluarganya yang diangkut kapal perang ukuran sedang Bulu Babi dan Cacing Laut, 9 orang yang ditawan pasukan Gunungmacan dari 3 kapal perang penjaga kota Kalikucing yang dibajak selama pelayaran juga masih ada 7 prajurit Samiam bersama Johnny yang hingga kini belum terdengar kabarnya.


Zayn dan Udin kemudian mengumpulkan Rena, Anna, Bertha, Roni dan Leman untuk membahas kedatangan orang-orang di Alamut di sebuah pondok kayu yang pertama kali dibuat kelompok Bertha.


“Luar biasa, tuan Padishah membangun kembali Tanjungpagar menjadi Alamut, kawasan reruntuhan benteng yang lama tidak digunakan sudah sangat bersih, tertata dan kuhitung sudah selesai dibangun 9 pondok kayu dan masih ada 1 lagi yang sedang dibangun,” puji Leman yang sudah ikut-ikutan memanggil Zayn dengan gelar Padishah.


“Ahh untuk hal ini kalian bisa berterimakasih kepada Bertha dan kedua rekannya, mereka kami tugaskan membangun 10 pondok kayu yang tiap pondoknya mampu menampung 1 regu prajurit dalam standard kami yang jumlahnya 12 orang. Dengan selesainya 1 pondok yang sedang dibangun nanti berarti kita sudah memiliki hunian sementara untuk 120 orang,” jawab Zayn.


“Jadi mohon maaf apabila sedikit kurang nyaman, jumlah orang di Alamut dengan kedatangan kalian berjumlah 157 orang. Kami berdua sementara tinggal di atas Rihlah, kapal kami yang ada di muara, 10 bersaudara termasuk Rena dan Anna yang ada disini tinggal di tenda, kemudian masih ada 8 orang sedang berlayar termasuk salah seorang Pangeran Suleka yang ada di pihak kami, dan jumlah tawanan kita hari ini mencapai 14 orang yang cukup kita ikat dengan borgol di pohon cemara laut. Jadi 120 orang dari kalian mohon maaf akan menempati 8 pondok saja ya dan secepatnya menjadi 9 pondok usai yang terakhir selesai dibangun. Pondok yang kita tempati sekarang yang dibangun Bertha akan kami dedikasikan untuk 3 orang yang membangunnya Bertha, Gunadi dan Indra,” tambah Udin.


“Meski begitu ini masih sementara saja, kita akan bangun yang permanen dan kokoh dari batu dan bata, nanti kami jelaskan rencana pembangunan Alamut setelah rombongan berikutnya dari Gunungmacan hadir,” lanjut Zayn.


“Jadi apa agenda yang akan bahas di pondok ini tuan Padishah,” Anna membuka pembicaraan serius.

__ADS_1


“Tentu saja kita akan menyambut warga baru dong, kita akan kedatangan tamu ratusan orang lagi, tolong Roni atau Leman menjelaskan seberapa banyak nanti tamu kita yang akan datang,” Udin menimpali.


“Baik Wazir Akbar, jadi pertama dari Kebon Gede, tuan Jumanji membawa kapalnya yang terbesar di seantero kepulauan dengan muatan 200 orang yang didominasi keluarga prajurit pusat pelatihan Angkatan Laut yang turut memberontak. Kemudian dari pihak pusat pelatihan Angkatan Laut sendiri berjumlah 85 orang yang dipimpin Laksamana Muda Andi Keling. Lalu sisa 100 orang prajurit dari Pangkalan Gunungmacan. Dari orang beriman jumlahnya 124 orang yang terdata. Selain itu masih ada 100an orang keluarga para prajurit pangkalan yang akan diangkut. Tumenggung Jayadi menargetkan ada 181 orang lagi terangkut termasuk keluarga prajurit. Sehingga ada 200 orang dari Kebon Gede dan 490 yang berangkat dari Gunungmacan. Sebetulnya hanya 290 orang yang bisa dimuat dari Gunungmacan. Namun kami berhasil mengkondisikan ada 10 kapal niaga yang pada hari h pemberontakan merapat di pelabuhan agar sisa yang perlu diungsikan kemari dapat terangkut semua," tutur Roni


“Kalau boleh tahu siapakah pangeran Suleka yang ada di pihak kita tuan?” Leman kemudian menambahi pertanyaan usai Roni selesai bicara.


“Tak kusangka Zayn, warga Alamut tiba-tiba akan bertambah menjadi hampir 1000 orang secepat ini. Jadi begini Roni, Leman, pangeran Suleka yang ada di pihak kita sedang mengemban misi dari kami ke suatu tempat, kalian akan tahu siapa dia saat dia tiba beberapa hari mendatang,” Udin menjawab sekenanya.


“Din apakah muara mampu menampung sekian kapal lagi? Kulihat muara sudah penuh sesak dengan 8 kapal yang ada, belum lagi setelah ini kemungkinan ada 15 kapal bersandar, apa idemu? Ataukah dari kalian disini memiliki ide juga,” Zayn bertanya kepada Udin dan yang lain.


“Selama pengalaman kami sebagai pelaut memang di lokasi Alamut ini hanya muara sungai Tabuan Lasi yang merupakan lokasi paling cocok untuk kapal bersandar, karena di sebelah barat muara atau selatan benteng dipenuhi karang berbatu, sedangkan di timur muara agak jauh berjalan terdapat pantai yang terlalu dangkal. Tapi kami belum memiliki ide yang bisa segera diaplikasikan,” Leman menyela.


“Gimana caranya Din?” Zayn bertanya. “Jadi batuan yang umurnya ratusan tahun penyusun benteng ini menurutku tidak layak untuk dipertahankan, bentuknya sudah tidak beraturan dan kurang kokoh, sebagian lapuk, menurutku itu dapat kita susun sepanjang sisi Alamut dari muara memanjang ke tengah lautan. Kita akan kerjakan sebisanya saja dulu, volume batu segitu bisa membuat dermaga tangkis sepanjang kurang lebih 100 meter. Kalau kalian mau gunakan rencanaku, mari mulai bekerja sama angkat batu dan libatkan tawanan,” Udin menerangkan.


“Yahh itu hal terlogis sih, jadi mari kita membubarkan diri dan mulai membongkar batuan benteng untuk membangun pelabuhan, kita akan lakukan angkat batu secara estafet hingga tepi laut dimulai dari sudut timur laut benteng dulu, Anna kutugaskan dirimu untuk membebaskan tawanan, Roni tolong kawal Anna dengan beberapa prajuritmu, mari kita segera bergerak.” Zayn berusaha mengakhiri rapat di pondok.


“Lalu bagaimana dengan benteng kita,” Leman menyela.

__ADS_1


“Kita akan menambang batuan dari bukit di barat laut benteng, kita nanti akan bangun benteng lebih luas, tidak perlu memperdebatkan banyak hal waktu kita sempit, tak lama lagi ada 15 kapal kemari. Ayo segera bergerak.” Rena menjawab Leman.


Tak perlu waktu lama 142 orang secara estafet memindahkan batu ke dasar laut, setiap orang berdiri dan memindahkan batu sejauh 2 meter dari lokasi berdirinya ke orang di depannya. Sedangkan 4 balita yang tentunya belum mampu mengangkat beban bertugas menjadi pengawas dan pengarah.


Zayn dan Udin yang berfisik paling besar diantara orang-orang yang ada disini berperan untuk membongkar susunan batuan benteng.


Pekerjaan yang dimulai sejak pukul 10.00 Waktu Alamut ini dikerjakan dengan hanya beristirahat antara pukul 13.00-13.30 dan diakhiri pukul 17.00


Kerja keras pembangunan pelabuhan selama 6,5 jam berhasil memindahkan semua batuan dari retuntuhan benteng ke dasar laut. Sebuah dermaga berbentuk L telah tersusun dari batuan yang ditumpuk ke dasar lautan sejauh 70 meter ke selatan dan kemudian berbelok ke arah barat sejauh 18 meter dengan kedalaman di titik paling dalam mencapai 3,5 meter.


Usai pekerjaan hari ini selesai para tawanan kembali diborgol dengan posisi kaki memeluk batang cemara laut.


Ratusan yang lain usai kelelahan bekerja akhirnya dipersilakan untuk istirahat di 8 pondok kayu yang dipersiapkan.


Namun pekerjaan belum berarti selesai bagi para pelaut.


“Roni dan Leman bantu kami mengerahkan pelaut handal disisimu untuk memindahkan kapal yang ada sekarang di dermaga baru. Dermaga baru masih belum siap untuk bongkar muatan dan menurunkan manusia dalam jumlah banyak. Batuan-batuan yang baru saja kita tumpuk di laut masih sulit digunakan untuk kegiatan yang massif dan juga masih belum benar benar kuat, masih butuh sekian kegiatan pengerasan lagi dengan lumpur, pasir dan tanah. Jadi sementara kita pindahkan kapal disini untuk melepas jangkar dan menambatkannya di sisi dalam dermaga juga sisi muara dermaga, selanjutnya kita akan turun dengan papan-papan kayu,” Zayn memberi perintah ekstra.

__ADS_1


“Jadi di sisi muara dari dermaga akan kami tambatkan kapal perang besar yang kami sebut dengan Ragnarok, kemudian 1 kapal besar yang kalian bawa akan kita tambatkan di sisi dalam dermaga. Stockholm kita parkir di sisi luar bagian selatan dermaga menghadap samudera luas, 4 kapal perang sedang yang kalian bawa akan melepas jangkar berjajar searah dengan sisi dalam dermaga yang mengarah ke pantai dan posisinya mengunci posisi kapal besar kalian. Pastikan jangkar dilepas dengan benar dan tali ditambatkan dengan baik agar tidak malah karam dan menjadi kerugian bagi kita. Rihlah sendiri akan kami posisikan agak ketengah laut jauh dari dermaga sekaligus melakukan pengamanan perairan dan mengarahkan armada yang akan datang yang bisa jadi di tengah gelapnya malam. Besok armada dengan 15 kapal yang akan datang akan terparkir menggantikan posisi kapal hari ini mengisi muara yang tidak begitu luas, bagaimana caranya nanti kita atur.” Udin menambahkan.


“Oh iya perlu diingat pembangunan pelabuhan masih jauh dari kata selesai, selain urusan penguatan dermaga yang baru saja kita susun dari batu. Kedepan Pelabuhan Alamut akan kita buat menjadi yang terbesar di kepulauan,” pungkas Zayn optimis.


__ADS_2