
Usai di sumpah sebagai warga Negara Alamut, Bertha, Indra dan Gunadi diminta Zayn dan Udin untuk menjelaskan bawaan kapal niaga yang kini diberi nama Stockholm.
Sebelumnya Stockholm dibajak dalam kondisi penuh dengan muatan barang yang diimpor Residen kota Sumberurip, Tuan Lexington dari Kerajaan Ferris Indah. Sebelumnya pada pagi hari telah diturunkan oleh Rena, Anggi dan Dian dengan bersusah payah.
“Jelaskan muatan dari Ferris Indah yang dikirim untuk Residen Sumberurip ini”, tanya Udin menunjuk tumpukan peti yang pagi tadi diturunkan.
“Jadi peti yang digores warna kuning dan berjumlah paling banyak adalah benih padi tuan, totalnya ada 500 peti, 1 peti berisi 10.000 benih padi,” jawab Bertha.
“Hemmm… “ kalkulator Zayn muncul di benaknya.” Jadi 1000 benih itu biasanya setara 5 kg, 1 hektar sawah biasanya membutuhkan 25 kg benih, disini berarti ada 25 ton benih berarti untuk 1000 hektar. Apakah di Sumberurip atau wilayah lain tidak ada pembenihan padi?” tanya Zayn yang mengetahui fakta ini mengingat saat kuliah di Surabaya dia pernah mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di pedesaan sentra pertanian di Bojonegoro, sementara itu Udin hanya mengernyit mendengar fakta dimana para gadis tadi pagi dihukum Zayn menurunkan muatan yang ternyata banyak dan sangat berat.
“Jadi kapasitas pembenihan di Sumberurip dan wilayah lain di Suleka saat ini adalah sesuai lahan yang ada saat ini tuan, sedangkan Tuan Lexington baru saja membuka lahan baru di timur kota setelah mendatangkan 200 budak dari Kerajaan Mblagador, kebetulan Istri Residen adalah keponakan raja Mblagador,” ujar Gunadi.
“Para budak akan mengerjakan lahan baru itu dan membuat Sumberurip menjadi sentra padi baru di Kerajaan Suleka,” tambah Indra.
“Ok lanjut pada muatan berikutnya, apa ini yang digores warna biru,” tanya Udin.
“Itu garam tuan, total ada 100 peti garam,” Indra menjawab.
“Bagaimana masyarakat kepulauan memperoleh garam?” tanya Zayn.
“Garam disini didapat dari beberapa titik tambang tuan, Kerajaan Suleka sendiri memiliki tambang garam besar di timur Kota Klobot di Pulau Pale Pale,” jawab Bertha.
“Lalu mengapa kalian harus mengimpor dari Ferris Indah, dan bukankah air laut itu asin, mengapa kalian tidak membuatnya dari air laut?” Tanya Zayn.
“Jadi mengapa Tuan Lexington membeli di Ferris Indah, karena kebutuhan garam di Suleka tidak bisa dipenuhi dari tambang-tambang yang ada termasuk dari Kota Klobot, meski harga impor garam tentu saja lebih mahal seharusnya dengan ongkos kirimnya, namun tuan Lexington bisa mendapatkan harga garam bahkan daripada harga jual tambang-tambang yang ada di Suleka,” jawab Bertha.
__ADS_1
“Mengapa bisa begitu,” Udin menyala.
“Ferris Indah memiliki tambang garam terbesar di Kepulauan, tentu saja harga keluar tambang ada selisih lebih murah dibanding di Suleka, tapi seharusnya tetap lebih mahal karena ongkos kemasan dari tanah liat, juga ongkos peti dan biaya kami berlayar seharusnya menjadi sedikit lebih mahal, tapi tuan Lexington bisa mendapat diskon karena dia memberikan monopoli perdagangan mutiara hanya dijual untuk Ferris Indah, mutiara kota kami itu yang terbaik tuan, karena banyak warga yang merupakan penyelam handal dan hanya memilih tiram terbaik, sebelum anda bertanya lagi, di Ferris Indah tidak ada wilayah penghasil mutiara.” Lanjut Bertha.
“Lantas apakah raja kalian tidak melarang praktek monopoli yang dilakukan Lexington? Dan kalian belum menjawab pertanyaanku tentang membuat garam dari laut,” tanya Zayn lagi.
“Jadi hasil mutiara Sumberurip baru berjalan 5 tahunan saja tuan, Kota Jayagelang, Konan dan Sukapura telah menghasilkan mutiara lebih dulu dan lebih banyak, meskipun begitu tetap saja mutiara Sumberurip yang paling berkualitas tuan, terlebih ada kesepakatan dagang antara tuan Lexington dan Kerajaan Ferris Indah yang saling menguntungkan. Raja juga tak terlalu mempermasalahkan karena mau bagaimanapun Lexington adalah sepupunya dan pajak yang dihasilkan dari penyelaman mutiara juga lumayan tinggi, tentang garam dari air laut bukankah itu sangat lama dan mahal, karena kita harus menebang hutan untuk membuat banyak kayu bakar, membuat alat masak yang besar untuk memisahkan air dengan garam, dan juga butuh banyak pekerja. Tentu saja jauh lebih cepat dan murah dengan menambang,” pungkas Bertha.
“Cihuy, Zayn dengar itu bocah Arab, aku mendengar gemerincing koin emas di telingaku haha, kita bikin tambak garam dan budidaya tiram mutiara….” Bisik Udin kepada Zayn mendengar prospek bisnis garam yang disambut Zayn dengan senyum terkulum.
“Lalu jelaskan peti-peti yang lain,” Udin lanjut bertanya.
“Jadi yang digores warna putih itu berisi timah, jumlahnya ada 25 peti, yang digores warna jingga adalah tembaga jumlahnya juga 25 peti,” Indra ganti menjawab.
“Untuk perunggu ya,” Udin menebak. “Betul sekali tuan, kuningan biasa dipakai sebagai bahan untuk perkakas sehari-hari,” jawab Indra.
“Lalu sisa 40 peti ini yang digores warna coklat diisi penuh dengan jalinan lontar untuk tulis menulis dan surat menyurat, masyarakat Ferris Indah mampu membuat hal ini jauh lebih baik daripada kerajaan manapun di kepulauan, karena memang pohon lontar mereka yang terbaik dan bagaimana mereka mengeringkannya juga sangat luar biasa sehingga meski kering tapi tidak mudah rusak dan mampu membuat goresan tinta lebih berkilau,” lanjut Indra.
“Kalian belum menjelaskan 10 peti ini berisi apa?” Zayn menelisik.
“Ahh kalau itu peralatan pribadi, pakaian dan bahan makanan kami selama berlayar tuan, sebagian peti telah kosong. Tuan-tuan bisa memeriksanya,” Gunadi menjelaskan.
“Baiklah lantas apa alasan kalian mengkhianati Suleka?” tanya Udin.
“Selama dengan menjadi bagian Alamut itu mampu membuat rakyat lebih sejahtera kurasa tidaklah berarti pengkhianatan terhadap negeri kelahiran tuan. Bukankah lumrah yang kuat menaklukkan yang lemah, selain itu meski kami di Sumberurip sejahtera, kami terutama yang bekerja langsung dengan Tuan Lexington sangat muak dengan kelakuannya yang tidak bermoral tuan-tuan.” Bertha yang paling senior menjawab.
__ADS_1
“Kenapa kalian bisa menilai kami kuat? Dan juga seburuk apa Lexington itu,” lanjut Udin.
“Dengan melihat jumlah tuan berdua d
yang hanya ditemani para gadis dan anak-anak mungkin terlihat sepele, namun melihat barang-barang disini, pakaian yang tuan gunakan, bagaimana tuan menculik kami dan membawa 2 kapal kemari dari Sumberurip, juga apa yang tuan sebut menyerang ibukota itu sudah cukup untuk mengatakan tuan-tuan sangat berpotensi. Terlebih jika memiliki kekuatan penyokong. Sudah cukup kelakuan Lexington dan bagaimana raja disini mengatur rakyat, kami siap menyokong tuan untuk memakmurkan tanah kelahiran kami,” jawab Bertha.
“Tuan Lexington sepintas terlihat baik bagi warga miskin, dia meminjamkan uang bagi orang miskin untuk modal dan kebutuhan hidup, jika tidak mampu membayar maka dipekerjakan dan wajib menyicil dari gaji. Disinilah poin utamanya, bukan masalah gaji rendah, gaji yang diterima diatas kertas harusnya tinggi, namun dia banyak memotong gaji yang harusnya diterima dengan banyak alasan yang mengada-ada, jadi bisa saja gaji kami yang sisa 70 persen karena sudah termasuk cicilan hutang, maka kami pulang hanya membawa 40 persen dengan potongan-potongan tidak jelas itu,” lanjut Bertha.
“Selain itu kelakuan bejat Tuan Lexington sungguh diluar nalar, meskipun itu juga hanya terhadap para budak, tapi dia selalu mempertontonkan kelakuan amoralnya di masyarakat. Semisal dia tiap hari pasti mempertontonkan caranya menikmati budak wanita entah di tengah gerbang pagar residen yang terbuka, di pelabuhan kota, di tengah keramaian pasar, bahkan di tengah acara festival yang berlangsung. Tak hanya itu kadang dia menggenjot budak wanita saat rapat atau pertemuan dengan masyarakat. Itu sangat tidak manusiawi dan mengancam moral generasi muda. Generasi muda yang belum berpikir dewasa menjadi rusak, perzinahan merajalela. Meski kepada budak, hal buruknya, Lexington bajingan itu tega menikmati budak anak-anak seumuran anak yang sedang bermain itu.” Bertha menunjuk Octa yang masih berumur 3 tahun. Kini Bertha dari ucapannya terdengar sudah mulai berani memaki mantan majikannya itu.
“Baiklah silakan kalian beristirahat, kulihat kalian memiliki semacam tenda maka dirikanlah. penunjukan jabatan untuk kalian akan dilakukan sepekan lagi saat pangeran datang, aku tidak sesumbar, tapi di pihak Alamut ada pangeran Suleka dan mitra dari kerajaan luar yang bergabung, artinya jangan pernah menyesal bergabung dengan Alamut,” ujar Zayn.
Kemudian Zayn dan Udin meninggalkan ketiga mantan anak buah Lexington itu menuju tenda mereka.
“Ini sih harta karun Zayn, kita bisa menanam padi dan masalah kita sekarang tinggal budak saja, kita juga akan memanen garam laut dan tampaknya kita juga bakal kaya dengan jualan kertas dan mutiara, hehe.” Udin berbicara sambil berjalan bersisian dengan Zayn.
“Din, ingatanmu kan luar biasa sekali ya, apakah kamu bisa menuliskan pelajaran penting untuk pendidikan dasar masyarakat baru Alamut yang bakal ramai nanti di lontar-lontar itu, dan juga aku ingin kamu menuliskan teknologi yang paling bisa kita buat dalam waktu dekat dengan kemampuan manusia disini. Gunakan lontar saja jangan gunakan kertas di Rihlah kecuali terpaksa untuk menggambar bidang yang besar dan tidak bisa dibuat pada lembaran lontar yang lebarnya tidak seberapa itu. Atau kau butuh menjelaskan dengan mengeprintnya. BTW Ini perintah lohhh meski aku temanmu kamu telah membaiatku sebagai Padishah, maka kutugaskan semua selesai sampai sepekan kedepan hingga waktunya Johnny kembali, bisa kan?” Zayn bertanya.
“Oce bos, tentu saja.” jawab Udin.
Sementara itu
3 kapal perang, sore hari sebelumnya telah meninggalkan pusat pelatihan angkatan laut Kerajaan Suleka untuk berlayar menyisiri pantai timur pulau Grand Papalepap membantu patroli armada angkatan laut di kota-kota yang dilewati juga menjalankan misi utama menjemput tawanan para penyembah Sang Esa yang ada di kota Tegalwangi, Ranajaya, Kutapura dan Keplakrejo.
Setelah itu mereka akan melanjutkan patroli menyisiri pantai barat dengan tujuan akhir adalah Kota Gunungmacan. Sementara penangkapan penyembah sang Esa di kota-kota lain dilakukan pasukan angkatan darat dan akan dikirim ke Gunungmacan dengan berjalan kaki terikat.
__ADS_1
Hakim Agung Giman sendiri meski begitu telah meyakinkan raja agar tidak ada penyembah Sang Esa yang terbunuh selama penangkapan, karena jika ada yang terbunuh dikhawatirkan akan membuat masalah apabila menyinggung Kerajaan Gula-Gula Utara dan Kerajaan Gula-Gula Selatan yang menguasai benua kiri dan kanan dimana mereka mayoritas penduduknya menyembah Sang Esa.