Membangun Peradaban Di Planet Primitif

Membangun Peradaban Di Planet Primitif
31. Putera Mahkota Mengejutkan Alamut


__ADS_3

Pagi 8 September 2022


Hari kedua progres 5 proyek besar pembangunan Alamut masih terus berjalan on the track. Di perbukitan para pekerja masih terus menyelesaikan penggundulan sisi timur bukit yang akan lebih dulu ditambang dengan gergaji mesin serta peralatan manual lainnya, tanah-tanah yang menyelimuti bagian atas dari sisi timur bukit juga mulai dikelupas dan digunakan untuk menimbun batu yang sebelumnya disusun membentuk dermaga sederhana.


Menjelang petang hari sebelumnya ketika kelompok yang dipimpin Andi Keling hendak beristirahat, auman beberapa harimau terdengar dari kejauhan. Nampak kawanan loreng dengan 3 ekor harimau dewasa mengaum tak berdaya melihat ujung wilayah kekuasaannya yang ditandai dengan kencing beberapa hari sekali diduduki ratusan manusia. Para pekerja nampak keder juga mendengar auman harimau. Namun kawanan harimau juga sadar diri dengan meninggalkan ujung selatan teritori kawanan mereka.


Para pekerja pembangunan dibawah Hakim Agung Giman sejak hari pertama telah mengerjakan banyak hal dengan kayu-kayu yang beberapa pekan lalu ditebang 7 prajurit Samiam bersama Johnny. Kayu-kayu itu dipergunakan untuk membangun barak prajurit lebih banyak lagi. Ditargetkan akan dibangun 486 prajurit di sekeliling benteng utama Alamut dimana sudah 10 telah dikerjakan Bertha dan kawan-kawannya. 486 barak mengacu pada jumlah regu pasukan Marinir Angkatan Laut yang prioritas mendapat barak. Satuan ini diproyeksikan sebagai prajurit penggebuk ke luar wilayah berkekuatan 2 Divisi yang diperkuat 6500 orang. Angkatan Darat pun diproyeksikan akan berjumlah serupa dan akan dibangunkan barak berjumlah sama. Belum lagi korps pelaut dari Angkatan Laut, kepolisian dan gendarmerie yang nanti akan mewadahi unit sipil bersenjata berkewenangan terbatas dari berbagai kementrian.


Hingga nantinya pembangunan pemukiman permanen dari batu dan bata mulai dikerjakan, para penduduk sementara akan tinggal di barak yang dipersiapkan untuk prajurit yang sengaja dibangun sederhana.


Alamut menurut Zayn dan Udin membutuhkan setidaknya 25.000 orang bersenjata untuk menjaga supremasi di seluruh kepulauan yang ada di Fantastica dan mulai menjelajah ke wilayah yang lebih luas di luar sana.


Impian ini setara 2 kali jumlah penduduk Ibukota Kerajaan Suleka, kota Kebon Gede.


Selain urusan kayu 50 dari 200 orang dibawah Giman ditugaskan membuat kolam penampungan air sementara di sebelah lahan yang akan dibuka Zayn menjadi lahan pertanian, aliran air hilir Sungai Tabuan Lasi akan dibagi 3 yakni ke muara, kolam air minum dan pertanian. Tentunya Alamut masih membutuhkan sumber air baru selain aliran alami dari Tabuan Lasi, Zayn dan Udin telah memikirkan akan membuat beberapa titik sumur air tanah di beberapa wilayah kedepan setelah 5 proyek utama jadi.


Sementara itu Zayn dan 200 orang dalam sehari kemarin berhasil membabat cemara laut di utara wilayah utama yang akan dibangun benteng untuk area pertanian. Melihat wilayah benteng utama yang sudah bersih dari pepohonan ditambah area pertanian dataran rendah yang juga bersih dari tegakan, membuat wilayah kosong ini malah terlihat gersang dan panas, oleh karenanya Zayn meminta Udin sedikit memodifikasi denah peta untuk penempatan pohon besar yang akan dipindahkan dari bukit yang ditambang untuk ditanam di beberapa titik. Hari ini kelompok Zayn akan mengolah lahan yang sudah dibersihkan dari pohon sebagai petak-petak lahan pertanian yang setiap petaknya akan berukuran 50x50 meter atau seperempat ha. Dan hari ini ditargetkan seperempat ha pertama dengan aliran irigasi siap dikerjakan dan dapat ditanami keesokan harinya.


Di sisi lain Udin juga telah selesai meratakan padang cemara laut di seberang muara kemarin. Hari ini dia akan membuat kolam-kolam tambak garam sebelum kemudian setelah siap akan dialiri air laut dan ditempatkan beberapa kincir angin. Udin terkejut melihat areal di sekitarnya kaya akan pasir besi. Maka ia memutuskan sebelum menjadikan wilayah ini tambak dirinya akan menambang habis pasir besi di timur muara khususnya di titik pembuatan tambak garam akan difokuskan dulu sebagai tambang.


Udin sempat kegirangan melihat potensi pasir besi Alamut yang melimpah hingga akhirnya dia menundukkan muka lesu. Pada peradaban ini tentu saja belum memungkinkan untuk membuat separator magnetic maupun pemisah sederhana lain dengan mekanisme mesin sederhana dari logam yang dijaman ini masih belum dikuasai.


Namun dia segera berkoordinasi dengan Jumanji untuk membuat banyak tungku besar dari tanah di sebelah timur lagi dari lokasi dirinya akan membuat tambak agar dapat membuat iron bloom dari pasir besi yang akan digunakan sebagai besi bahan.


Melihat hal ini Tunggul Wulung pun hanya bisa tersenyum kecut dan berghibah dengan sekelompok kecil bekas prajuritnya di Gunungmacan melihat kelakuan Udin.


“Lihat kemarin orang itu membual akan membuat garam, sekarang dia akan membakar pasir laut berwarna hitam ini, entah apa maunya,” bisiknya kepada mantan prajuritnya yang tidak mendapat tanggapan.


Senopati Tunggul Wulung benar-benar sudah terhasut provokasi Tumenggung Antoni kemarin, namun orang lain di tim Udin tak berani menanggapi ocehannya. Sebagian besar orang disana berpendapat, jika pejabat tinggi dan pendeta agung saja tunduk kepada 2 orang itu, maka mereka bukanlah orang yang bisa mereka pandang remeh.


Di sisi lain Jumanji melaporkan kepada Udin temuan logam langka dari perbukitan yang akan ditambang batunya saat membuat tungku.


“Tuan lihatlah batuan ini menurut pengalamanku di Benua adalah mineral logam yang berharga,” Jumanji memperlihatkan sampe.


Ketika Udin melihatnya dia segera melihat batuan Ferronickel.


“Kerja bagus, segera kirim salah seorang disini minta Andi Keling pisahkan material ini dengan batuan Andesit yang akan kita pakai sebagai bahan bangunan dan benteng. Batuan andesit yang kumaksud seperti batuan tua bekas benteng yang kini sudah menjadi dermaga,” Udin tersenyum puas dan meminta Jumanji berkomunikasi dengan Andi Keling untuk memisahkan Ferronickel dan batuan andesit yang ditambang.


Udin berpikir untuk menyimpan sementara sambil menunggu ada kejutan temuan mineral lain yang mungkin akan terjadi lagi untuk membuat bahan baja.


Disisi lain para pengrajin di titik utama pemukiman sementara di koordinasi pendeta agung Hulagu untuk membuat perunggu dan membuat pahatan ukiran pada kayu keras yang hari ini mulai dikirim dari bukit yang ditambang. Kayu keras akan diukir indah sebagai gerbang-gerbang benteng, ornamen atap rumah, dan kusen-kusen berdaya seni tinggi.


Menjelang sore hari kelompok pembangun yang sedang mengerjakan barak di pesisir melihat beberapa kapal berlayar mendekat dan nampak panji kerajaan Faranina berkibar. Indra rekan Bertha yang menjadi salah satu mandor proyek dibawah Hakim Agung Giman melihat pertama kali hal itu dan segera berkomunikasi dengan regu mandor Bertha dan Gunadi koleganya. Indra segera memperintahkan tim mereka ber tiga berjaga di sepanjang pesisir dan dermaga, serta melaporkan hal ini ke Giman dan kemudian segera melaporkan hal ini ke Zayn pemimpin mereka yang jaraknya paling dekat dijangkau di utara lokasi pemukiman sementara Alamut.


”Tuan Padishah, terpantau 3 kapal berpanji Faranina berlayar kemari apa yang harus kita lakukan,” tanya Indra dengan cemas.


“Akhirnya yang kita tunggu-tunggu datang,” Zayn malah tersenyum lebar yang tidak dapat dimengerti Indra.


“Bukankah ini bahaya tuan, meski mereka sedikit ini akan membuat geopolitik kita akan menjadi rumit disini masalah kita dengan Suleka belum selesai,” tanya Indra.


“Sudahlah jangan terlalu ketakutan gitu, sambut mereka dengan baik, mereka di pihak kita yakinlah,” sekarang perintahkan sebagian kelompok pembangun dan pengrajin menyambut mereka di dermaga, bagi yang mampu mengendalikan sekoci mari bawa sekoci untuk menjemput mereka di mulut muara. Mereka tidak mungkin bersandar kemari, dermaga dan bagian dalam muara sudah penuh,” jawab Zayn santai.


Sementara itu di tengah lautan


Juki takjub melihat Alamut ramai sesak dengan berbagai jenis kapal. Johnny pun sama tak bisa menyembunyikan keheranannya. dia hanya geleng-geleng kepala melihat muara yang hampir 3 pekan lalu penuh buaya kini dijejali berbagai kapal.

__ADS_1


“Johnny, apa ini Tanjungpagar yang kau sebut Alamut itu? Terakhir kali aku mengunjungimu 6 bulan lalu dan melewati tempat ini hanya kulihat reruntuhan benteng di pesisir pantai yang diselimuti belantara hutan, apa Suleka membangun ini… tidak-tidak apa itu panji aneh berkibar dengan bentuk kotak itu, jelas itu bukan Suleka. Lihat juga kapal aneh dari logam berukuran kecil menelisip di antara kapal kapal lain.” celetuk Juki yang heran dan dipenuhi tanda tanya.


Mendengar Juki menyebut panji aneh Johnny langsung menoleh ke arah dekat dermaga dimana bendera Palestina berukuran 3 x 4 meter berkibar di sana dan kemudian tersenyum melihat hal yang familiar.


“Kenapa kau tersenyum,” tanya Juki.


“Putra Mahkota Faranina, kita telah tiba di Alamut, tak salah lagi itu adalah panji kami. Padahal aku bercerita saat meninggalkan tempat ini dengan para pelaut Samiam itu kami hanya bersama mereka berdua saja dan baru kehilangan budak toh, tak kusangka Alamut berkembang secepat ini entah bagaimana cara mereka berdua,” jawab Johnny dengan penuh karangan dusta.


Terkait bendera sendiri dia familier karena benda itu tergantung di dinding rihlah dimana dia kerap kali diminta membantu menurunkan barang aneh milik 2 orang atasannya itu.


“Sebelumnya kau hanya berencana singgah 3 hari kan Pangeran Juki, mari tinggal lebih lama lagi setidaknya 1 pekan atau bahkan 2 purnama, mari kita lihat bagaimana 2 orang pemimpinku memberi banyak kejutan hal baru padamu, untuk membuatmu yakin Faranina bisa menaklukkan Ferris Indah,” lanjut Johnny lagi.


“John lihatlah ada beberapa orang mendayung sekoci mendekati kita,” teriak Juki yang masih bingung akan menyandarkan 3 kapal ini dimana. Semula mereka hendak melabuhkan kapal di muara, namun apa daya sudah penuh sesak.


“John sini lihatlah lagi kapal aneh dari logam itu mulai terlihat bergerak,” Juki teriak lagi.


“Tenanglah sahabatku, mereka menjemput kita dan mungkin akan mengarahkan kita untuk dimana kita melepas jangkar. Kapal aneh yang kau sebut itu adalah Rihlah yang sering kuceritakan padamu,” Johnny memberi penjelasan.


Rihlah yang melaju beberapa menit setelah sekoci menuju arah armada dari Faranina itu kemudian mematikan mesin pada posisi bersisian dengan Kapal perang berukuran A yang ditumpangi Johnny dan Juki.


“Selamat datang kembali di Alamut, Duta Besar Johnny yang luar biasa, pertama bertemu denganmu adalah kejutan dan kini kau kembali dengan kejutan. Mohon maaf jika aku kurang sopan tuan dari Faranina.. ehhmm,” sebut Zayn. “Putra Mahkota Pangeran Juki,” celetuk Johnny.


“Selamat datang Putra Mahkota Faranina Pangeran Juki di kampung kecil kami ini Alamut, saya mengundang anda dan Johnny bersama orang penting yang anda bawa dari Faranina untuk berlayar bersama kapal kebanggaan kami Rihlah, biar orang-orang di sekoci nanti memandu anda berlabuh dan membantu memindahkan orang dan muatan ke daratan,” ujar Zayn yang kemudian disambut antusias Juki yang segera melompat ke atas Rihlah disusul Laksamana Muda Kipli yang mengawalnya, Tumenggung Tono salah satu orang berpangkat di armada yang dibawa Juki dan terakhir Johnny yang biasa saja tanpa antusias berlebih.


Kemudian mereka duduk di sofa melingkar di belakang ruang kemudi dan Zayn mulai mengemudikan Rihlah dengan kecepatan pelan ke arah pantai di timur muara dekat lokasi Udin mempimpin pembuatan tambak.


“Benda ini sungguh berlayar tanpa layar dan dayung,” Juki yang kemudian berdiri di kanan Zayn takjub tanpa dikomentari Zayn.


“Tuan Zayn dimana Tuan Udin kok tidak bersama anda apakah anda mengutusnya berlayar seperti halnya aku dan orang-orang Samiam itu,” tanya Johnny.


“Cerita singkatnya ya? Jadi sepeninggalmu dari Alamut kami menuju ke pulau Sam Brody untuk menjemput budakmu yang katanya diambil paksa Samiam itu. Yahh kami bosan berdua saja di Alamut,” Zayn mengarang.


“Anda menyerang Samiam berdua saja,” Juki takjub.


“Tentu saja pangeran, kami menemukan sebuah pangkalan militer mereka di timur pulau dan sedikit melakukan ramah tamah dengan senjata kami, kebetulan kami langsung menemukan budak milik Johnny. John sesuai perjanjian mereka kalau ketemu jadi milik kami loh, urusanmu dengan Putra Mahkota hal lain mohon maaf nih. Dan selanjutnya karena gak tega punya budak jadi sekarang mereka kami merdekakan dan kami beri jabatan seperti halnya Johnny dan 7 orang Samiam itu,” jelas Zayn yang perlahan meminggirkan Rihlah ke tepi pantai dangkal sambil melepas jangkar dan menyalakan pengeras suara.


“Panggilan untuk Wazir Akbar Zahiruddin Muhammad, segera merapat menemui Padishah dan para tamu di atas Rihlah yang berposisi di selatan anda, sekalian ketika kemari ajak orang-orang penting di kelompokmu. Alamut kedatangan tamu agung,” Teriak Zayn melalui mikrofon.


“Ba.. bagaimana alat di kapal ini mampu mengeraskan suara hingga menggema dan terdengar jauh sekali,” Takjub Juki. Tak hanya Juki, orang-orang di sofa di belakang mereka seperti Kipli dan Tono juga tak henti-hentinya mengagumi kapal aneh ini.


“Hahaha Juki-Juki bahkan kau terlihat lebih udik dibanding saat aku baru mengenal 2 tuan ku ini. Tuan Udin anda masih punya hutang jawaban tentang darimana kapal-kapal itu,” tanya Johnny.


“Jadi begini John ada sebagian orang di Angkatan Laut melakukan pemberontakan disponsori orang kaya di Suleka dan penyembah Sang Esa yang tiba-tiba dipersekusi raja. Mereka membuat kontak dengan kami dan kami terima mereka sebagai warga Alamut. Kita sekarang memiliki lebih dari 1000 warga dan 21 kapal termasuk Rihlah, belum lagi 8 sekoci dari 2 kapal besar di tengah muara yang mencolok terlihat. Pemiik kapal itu yang mendanai pemberontakan,” jawab Zayn.


“Tuan Jumanji,” Johnny terkaget. “Iya Jumanji juga ada disini, nah panjang umur dia datang kemari bersama Udin. “Angkatan Laut memberontak apakah kakakku selamat?” tanya Johnny khawatir.


“Tenanglah John dia tidak apa-apa, yang jelas angkatan laut di Kalikucing, Sumberurip dan Gunungmacan telah kita lumpuhkan habis bahkan sebagian kapal mereka ada di sini. Juga Andi Keling yang menjadi tokoh utama pemberontakan di Angkatan Laut juga melarikan kapalnya kemari.


“Zayn apakah tamu kita itu Johnny,” teriak Udin 20 meter dari pantai yang tidak dijawab oleh Zayn.


Udin mengajak Tumenggung Kamto anak buah Andi Keling, Senopati Tunggul Wulung dan juga Jumanji. Merek berempat segera memanjat menaiki Rihlah dan melihat Udin duduk di sofa mereka turut duduk di sofa.


“Selamat datang kembali Johnny,” Udin segera menyalami Johnny yang segera menghampirinya dari posisi dekat kemudi, lalu 3 orang ini? Tanya Udin.


“Wazir Akbar disamping Pangeran Johnny ini adalah Pangeran Juki, Putera Mahkota Kerajaan Faranina, yang lain hamba tidak paham,” Jumanji bantu menjelaskan.

__ADS_1


“Selamat datang di Alamut Pangeran Juki,” Udin mendahului menyalami sambil menyapa Juki yang sebetulnya hendak menyapa terlebih dahulu.


“Tuan Udin 2 orang yang belum memperkenalkan diri ini adalah pengiring saya Tumenggung Kipli dan Senopati Tono,” jelas Juki memperkenalkan orangnya.


“Tuan apa maksud yang disebut Padishah dan Wazir Akbar, aku belum mendengarnya ketika sebelumnya disini,” tanya Johnny.


“Jadi perkenalkan John aku kini Wazir Akbar semacam perdana menteri gitu, dan Zayn adalah Padishah , atau pemimpin tertinggi,”


“Wazir Akbar ajak orang-orang ini kedalam untuk cuci tangan dan kaki, sekalian boat tour, kita kenalkan bagian kapal ini secara singkat,” perintah Zayn kepada Udin.


“Mari masuk,” pimpin Udin kepada mereka semua.


Jadi kita memasuki kabin rihlah disambut bagian dapur, mari keujung di sebelah dapur ini adalah kamar mandi, mari kuajarkan mencuci tangan dan mungkin nanti para tamu agung ini juga akan mandi di Rihlah.


Juki menyerobot di depan masuk ke toilet dan membuka kloset dan mendapati air jernih yang segera ia coba minum.


“Airnya tawar dan tempat penyimpanannya unik,” Juki berkomentar.


Udin mual-mual hampir muntah melihat tingkah laku Juki.


“Pangeran kenapa kau minum air itu, tempat itu bukan tempat kami menyimpan air tapi tempat kami buang air kecil dan air besar,” jelas Udin.


“Bhaahahaha, menjijikkan apa dikata rakyatmu jika berita ini menyebar,” teriak Johnny diikuti orang-orang lain di Rihlah.


Johnny sendiri pun baru tahu akan hal ini karena sebelumnya dia hanya membantu mengangkut barang saja tanpa bertanya.


Wajah Juki diliputi rasa malu luar biasa dan nampak seperti api merah padam tanpa berkata-kata.


“Mohon maaf demi kebaikan kita semua disini supaya tidak menyentuh apapun sebelum kami jelaskan dan kami persilakan,” ujar Udin.


“Jadi di toilet ini kami menggunakannya dengan cara duduk, setelah selesai kami tekan tombol flush ini untuk membersihkan toilet dan membuang kotoran ke lautan,” Udin memperagakan penggunaan toilet.


“Sedangkan untuk mencuci kaki atau menyiram hal lain kita menggunakan bidet dengan cara seperti ini. Untuk cuci muka dan membasuh tangan kita menggunakan wastafel begini ujar Udin memutar kran. Silakan kalian mencoba mencuci kaki, tangan dan wajah,” Udin mempersilakan yang disambut semua antusias mencoba.


“Tuan air bersih dan tawar ini dari mana asalnya, apakah ada penampungan persediaan,” tanya Kipli yang mencoba setelah giliran Juki yang masih terdiam malu.


“Ada penampungan tapi tidak menampung banyak di atas kita ini, dibawah tempat kita saat di atas dan kini tepat diatas kepala kita. Namun kami memiliki kemampuan memisahkan air laut dengan garam untuk menghasilkan air tawar, sedangkan garam untuk bahan kami memasak,” jelas Udin yang membuat semuanya melongo tak percaya.


“Tuan bukankah kapal ini bisa membuat garam, lantas mengapa kita harus melakukan apa yang tuan sebut membuat garam dengan kolam tambak itu,” tanya Tunggul Wulung.


“Begini senopati Tunggul Wulung, kemampuan Rihlah terbatas, fokus utama kami disini bukan garam tapi air untuk mandi kami berdua, kami sangat menyayangi kapal ini sehingga akan merawatnya sebisa kami agar bisa melampaui masa yang lama. Bahkan rencananya kami akan pindahkan kapal ini ke daratan jika waktunya tiba, selain itu garam dari Rihlah tidak bisa mencukupi kebutuhan ribuan orang” jelas Udin.


Tunggul Wulung dalam hati merasa malu dirinya mudah terprovokasi Antoni. Bagaimana tidak seorang pangeran Suleka dihadapan 2 orang ini berlaku seperti seorang abdi setia, dan seorang putra mahkota dari negeri seberang pun jauh-jauh datang menemuinya, dia mengutuk kebodohannya. Bukankah Tumenggung Jayadi yang ia hormati dan pendeta agung Hulagu panutannya pun dengan senang hati memasrahkan diri ke Udin dan Zayn, kenapa bodohnya ia terprovokasi.


“Kemudian ini meja kerja kami berdua dengan layar monitor dapat memantau sekitar kapal maupun menerbangkan drone. Lihatlah tampilan diluar kita ini,” tunjuk Johnny ke tangkapan CCTV yang terlihat di layar.


“Ba bagaimana bisa alat ini seperti cermin yang bisa memantulkan pemandangan diluar kedalam, dan ini sekian cermin dalam 1 bidang saja, luar biasa,” Juki akhirnya kembali bicara.


“John keluarkan drone dibawah meja kerja ini ke anjungan depan dengan hati-hati dan kita akan membuat pertunjukan,” perintah Udin yang segera dilakukan Johnny dengan hati-hati.


5 menit kemudian, layar dialihkan Udin kepada layar tangkapan drone yang sudah diaktifkan Zayn yang menemai Johnny ke atas. Tak lama suara dengungan terdengar di luar dan nampak pada layar drone terbang mengelilingi Rihlah. Juki segera lari ke atas menyusul Johnny.


“Alat itu terbang dan memperlihatkan pandangan matanya ke dalam cermin di dalam, aku tak bisa berkata-kata,” ucap Juki yang didengar semua orang di kabin yang fokus melihat monitor.


“Baiklah masuk semua akan kami perlihatkan Alamut dari atas,” jelas Johnny.

__ADS_1


__ADS_2