Membangun Peradaban Di Planet Primitif

Membangun Peradaban Di Planet Primitif
17. Pelayaran Rihlah


__ADS_3

“Kami umumkan selamat atas keberhasilan Tim Rena, Anggi, Dian dan juga Dona serta Doni dalam kemampuan membaca dan menulis aksara Alamut (Alfabet Romawi modern) secara singkat. Kalian benar benar luar biasa cerdas,” ungkap Zayn. “Hadiah spesial bagi Dona dan Doni yang belum akan berlayar dengan Rihlah dan sementara menetap disini adalah pelatihan penggunaan senjata api, yang bahkan para pria sebelumnya belum pernah kami ajari ini. Kalian berdua di masa depan akan tim inti dari prajurit pengamanan utama Padishah Zaynal Abideen dan Wazir Akbar Zahiruddin Muhammad. Sementara Rena, Anggi dan Dian akan mendapat kesempatan mengawal perjalanan rahasia sang Wazir Akbar ke Ibukota Suleka di Kebon Gede,” tambah Zayn.


“Bagi tim Anna dan adik-adiknya hanya sedikit lagi ketinggalan kalian dan mari tunjukkan kalian bisa menyelesaikan ketinggalan kalian sebelum kembalinya Udin. Kuharap paling lambat dalam 2 hari kedepan bertepatan dengan waktu perkiraan Rihlah kembali bersandar di Alamut kalian bersaudara sudah bisa menyelesaikan studi aksara sehingga semuanya beberapa hari lagi dapat berlatih menggunakan senjata api,” tambah Zayn.


Sore beberapa jam sebelumnya gelar kepemimpinan Alamut resmi dipergunakan. Zayn menjadi pemimpin tertinggi dengan gelar Padishah, sedangkan Udin menjadi pejabat setingkat perdana menteri bergelar Wazir Akbar.


Rihlah memiliki persediaan beberapa senjata canggih versi sipil yang masing-masing berjumlah 2, untuk tipe pistol terdapat SIG P938 dengan stok magazen berjumlah 12 yang berisi masing-masingnya 7 peluru, untuk tipe riffle mereka mengandalkan AR-15 dengan 12 magazen yang berisi masing-masingnya 10 peluru sesuai pembatasan di New Jersey, untuk tipe shotgun mereka memiliki Benelli M3 bertipe otomatis dengan 6 peluru, mereka juga memiliki RPG 7 yang legal di New Jersey yang sipil dapat memilikinya dengan 2 krat amunisi masing-masing berisi 3 roket.


Setengah persenjataan akan ditinggalkan di Alamut dan sisanya akan dibawa Rihlah berlayar malam ini 24 Agustus 2022. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 waktu Pantai Timur Amerika yang mereka gunakan sebagai standard waktu Alamut. Udin dan Zayn baru saja menyelesaikan ibadah malam mereka dan kini mereka telah berkumpul dalam pelepasan pelayaran Rihlah.


“Selamat malam semuanya sebelum melepas kepergian Rena, Anggi dan Dian bersama Wazir Akbar Udin, akan aku jelaskan tentang situasi pelayaran nanti, kalian akan berlayar selama 10 jam dalam cuaca yang diprediksikan baik dan ketika matahari terbit esok pagi, diperkirakan kalian akan sudah tiba dan menyembunyikan keberadaan Rihlah dalam rerimbunan bakau di muara sungai Kalideres wilayah selatan kota Kebon Gede. Pesanku sebagai Padishah jaga keselamatan Wazir Akbar dan Rihlah. Berjuanglah dan pulanglah kembali dengan selamat. Pada pelayaran normal bangsa kalian harusnya pelayaran ini menghabiskan waktu 3 hari maka, siaplah perut kalian terkocok karena ini bahkan 6 kali lebih cepat, jika nanti mual Udin telah menyiapkan kalian sebuah ember. Kegiatan kalian selama disana adalah membuat kontak rahasia dengan kerajaan melalui bantuan drone untuk melakukan surat menyurat dan telekonferensi. Kemudian membuat peta udara dalam radius 6,5 km dari persembunyian kalian. Selalu awas dalam perjalanan dan amati kondisi pelabuhan, jumlah kapal dagang dan kapal perang Suleka di Sumberurip, Kalikucing, Gunungmacan, Jayagelang dan Tampaksirih dalam perjalanan berangkat dan pulang ke Alamut bersama Rihlah, jika memungkinkan aku ingin kalian bisa membawakan oleh-oleh sebuah kapal perang besar misal kalian menemukannya di Sumberurip untuk ditarik ke Alamut, utamanya apabila kalian mendapat sambutan kurang baik selama misi di Kebon Gede nanti. Misi kalian akan dikerjakan dalam waktu 48 jam, berangkat pukul 20.00 malam ini dari Alamut dan kembali 20.00 2 malam lagi disini. Selamat berjuang, Wazir Akbar membutuhkan bantuan dan informasi yang mungkin kalian tahu, kulihat Anggi cukup tangkas dalam perkelahian, maka dia akan menjadi pemimpin pengawalan Wazir Akbar dalam pelayaran ini, sedangkan Rena yang lebih memahami seluk beluk Suleka akan menjadi navigator, Dian yang paling muda akan bertanggung jawab membantu urusan logistik yang diperintahkan Udin.” Zayn menjelaskan.


“Sebelum berangkat berlayar bersama, aku ingin mendengar suara Rena, Anggi dan Dian yang telah berhasil memenangkan kompetisi bersama Dona dan Doni untuk membakar semangat saudara saudari kalian disini agar dapat lebih cepat berkembang seperti kalian.” pinta Udin

__ADS_1


Rena kemudian mengawali bicara, “Sebulan lalu kukira kita mengalami mimpi buruk yang akan membuat kita jatuh menjadi manusia yang hina, ayah mendapat tuduhan yang menjadi aib keluarga dengan tudingan melakukan korupsi yang aku yakini adalah tuduhan palsu, sehingga ayah dihukum mati bersama ibu-ibu kita. Berselang waktu kita terpaksa menjalani mimpi buruk dengan menjadi budak untuk dijual ke negeri yang jauh. Sebelumnya beberapa hari lalu kita alami kengerian Rihlah dengan tuan berdua didalamnya yang menghabisi pengawal dari Faranina yang meregang nyawa dengan cepat tanpa mendapat kesempatan melawan. Ternyata hidup tidak menjadi lebih buruk bersama Padishah dan Wazir Agung, kami justru bertemu malaikat-malaikat penyelamat kami, kami tidak terlalu mengerti konsep ketuhanan dan keagamaan yang kami jalankan sehari-hari, oleh karena itu aku secara pribadi bersedia melepas kepercayaan kepada Dewata untuk mempelajari hal baru yang mungkin akan lebih mendekatkanku tentang kebenaran ilahi, kumohon tuan Udin sudi mengajariku dan mungkin menikahiku di masa depan, untuk adik-adik semua berjuanglah untuk belajar, ikuti semua perintah Padishah dan Wazir Akbar, mari kita guncangkan dunia,” ucap Rena berapi-api yang direspon Udin dengan garuk-garuk kepala.


“Padishah dan Wazir Akbar telah berhasil meyakinkan kami bahwa kami bukanlah manusia hina dan ternyata tidak juga kami seburuk apa yang kami kira, kita telah belajar membaca aksara lain yang tidak pernah kita lihat sebelumnya dengan cepat dan tuan berdua mengajarkan kami percaya diri dan menunjukkan bahwa kami dilahirkan dengan bakat luar biasa, selanjutnya mari kita ukir nama kita dalam tinta emas sejarah berdirinya Alamut,” Anggi yang mendapat kesempatan bicara menambahkan.


“Malam ini Padishah dan Wazir Akbar melepas kami dengan makanan yang asing tetapi sungguh lezat (Indomie telur buaya), mari menjadi bagian utama Alamut yang akan membawa dunia lebih baik dari segi kehidupan dan peradaban. Alamut memimpin dunia, dan kita 10 bersaudara putra-putri Menteri Sugiono adalah penyokong utama kemajuannya. Aku yakin Menteri Sugiono dijebak dalam tuduhan keji dan sebetulnya tidak bersalah. Mari kita ungkap siapa yang salah dan siapa yang benar bersama tuan-tuan kita. Harumkan kembali nama Sugiono dan ibu-ibu kita, berjuanglah saudara-saudariku demi mereka!” teriak Dian berapi-api.


“Baiklah terimakasih dengan semangat yang diberikan 3 saudari, setelah upacara ini silakan saling berpamitan dan berangkulan untuk setelahnya segera naik dan berlayar bersama Rihlah. Attention (siap grak), present arm (hormat grak), order arm (tegak grak), open rank march (bubar barisan jalan).” Zayn menutup upacara pelepasan dan kemudian Udin, Rena, Anggi dan Dian langsung berjalan ke Rihlah.


Udin dari ruang kemudi Rihlah memutar instrumentasi lagu perang Ottoman, ‘Ceddin Deden’ yang membuat suasana menjadi lebih syahdu. Jelang pukul 22.00 Udin menurunkan kecepatan Rihlah atas saran Rena, karena mereka akan melewati perairan kota Sumberurip. Rihlah hanya dijalankan sementara ini dengan kecepatan 12 knot, Udin tak lupa mengambil beberapa gambar situasi kota yang terlihat dari lautan dan juga pelabuhannya.


“Menarik sekali ada 1 kapal besar diantara kapal yang berlabuh, kapal apa itu Rena,” tanya Udin menunjuk foto yang ditampilkan di monitor Rihlah.


“Itu kapal perang tuan Udin, tidak salah lagi itu Si Kepiting Galak, dan nampaknya hanya ada 1 kapal perang yang bersandar di Sumberurip, selain Si Kepiting Galak, kapal kecil yang lain kemungkinan merupakan kapal nelayan dan kapal dagang. Jangan tanya kenapa aku yakin kalau itu Si Kepiting Galak, dulu aku dan ayahku pernah mengikuti pelayaran mengelilingi Pulau Grand Papalepap dan tentu saja aku hafal lambang yang ada di benderanya itu,” Jawab Rena.

__ADS_1


“Pantas saja kau sangat menguasai seluk beluk disini Rena cantik,” ucap Udin yang membuat wajah Rena tersipu kemerahan.


Usai melintasi Sumberurip Rihlah kembali berlayar dengan kecepatan 44 knot yang membuat para gadis kembali muntah beberapa kali. Pukul 24.00 Rihlah tiba di perairan kota Kalikucing dan mendapati ada 3 kapal perang disana, 1 sebesar Si Kepiting Galak dan 2 lagi dari jenis lebih kecil.


Memasuki 25 Agustus 2022, Pukul 01.00 Rihlah melintasi kota Gunungmacan kemudian melintasi Jayagelang di pukul 02.00 dini hari selanjutnya melintasi Tampaksirih pukul 03.20, dan tiba serta bersembunyi rerimbunan di perairan bakau di muara sungai Kalideres di selatan ibukota Kebon Gede pukul 05.00.


Sebelumnya di beberapa kota yang telah dilintasi terpantau dijaga masing-masing kota oleh 3 kapal perang dengan rincian 1 kapal besar dan 2 kapal yang berukuran lebih kecil. Karena itu diasumsikan saat melintasi Sumberurip 2 kapal yang berukuran lebih kecil sedang melakukan patroli.


Seluruh kapal perang berbentuk seperti Viking Longship seperti Valhalla namun dengan ukuran yang lebih besar, kapal perang berukuran besar menurut Rena didayung oleh 35 pendayung dengan satu buah layar raksasa, sedangkan kapal perang berukuran lebih kecil didayung 25 pendayung dengan satu buah layar raksasa, kapal perang besar semacam Si Kepiting Galak selain diawaki 35 pendayung, maksimal dapat membawa 50 awak atau penumpang lain. Saat Si Kepiting Galak diluncurkan 2 tahun baru, Rena bersama ayah dan ibunya berkesempatan bersama Raja Siffredi dan keluarga petinggi kerajaan yang lain berlayar mengelilingi Pulau Grand Papalepap dan melakukan kunjungan kerja dengan menyinggahi seluruh kota di pulau dalam 2 bulan perjalanan.


Pada pelayaran itu Si Kepiting Galak dikawal 2 kapal besar lain yakni Sang Hiu Gigi Besar yang terlihat saat mereka malam ini melintasi pelabuhan kota Tampak Sirih dan Si Tuna Gesit yang menurut Rena berjaga di ibukota Kebon Gede bersama 2 kapal besar dan 7 kapal lebih kecil yang lain.


“Terimakasih atas kerja bagusmu dalam melakukan navigasi Rena, untuk kalian berdua pagi ini aku dan Rena akan istirahat terlebih dahulu, bangunkan kami saat jarum jam menunjukkan angka 9 perintah Udin.” kepada Anggi dan Dian. “Kalian pagi ini mendapat giliran berjaga. Amati sekitar dari dalam Rihlah dan pantauan layar kendali, jika ada titik melaju memasuki lingkaran hitam (perimeter radius 2 km) maka segera bangunkan kami.” perintah Udin.

__ADS_1


__ADS_2