
Alamut, 7 September 2022
Jam 3 Dini Hari, Udin dan Zayn melompat dari geladak Rihlah ke Geladak Stockholm, kemudian berjalan perlahan di dermaga dalam gelapnya malam yang sedikit diterangi purnama.
Bulan di planet ini meski ukurannya lebih besar, namun jaraknya lebih jauh dan sepertinya memiliki gravitasi yang lebih kecil daripada bumi.
Hal ini dapat dilihat dari sinar rembulan yang tidak seterang di bumi, dan arus pasang surut yang ada di planet ini tidak seberapa dibanding bumi.
Usai perlahan menapaki dermaga yang dibangun dari batuan reruntuhan benteng yang pengerjaannya belum rapi itu, mereka berdua meneruskan perjalanan hampir 100 meter untuk mencapai tenda.
Sampai di depan pintu tenda, mereka duduk sejenak pada kayu-kayu yang disusun melingkar. Lokasi di depan tenda ini beberapa kali digunakan Zayn dan Udin bersama warga Alamut awal untuk rapat dan diskusi.
Mereka duduk sambil mendengarkan suara kesibukan wanita memasak 30an meter di belakang tenda yang disulap menjadi dapur umum. Kemarin petang sebelum semua yang kelelahan beristirahat mereka telah memperintahkan setiap orang yang menjadi penanggungjawab logistik untuk berkoordinasi dengan Rena dan Anna mendirikan dapur umum.
Agenda pagi nanti adalah upacara penyambutan, sumpah pengangkatan warga Negara, beberapa arahan dan di akhiri sarapan bersama.
Kejutan paling besar dari kedatangan armada kemarin adalah ternyata Tuan Jumanji yang membawa 2 kapal yang seperti Tessarakonteres dan lebarnya yang menurut Udin sekilas belasan meter saja ternyata malah 30 meter dan sungguh memakan tempat di muara yang kini sesak oleh kapal berlabuh.
Tuan Jumanji ternyata memiliki kapal Tessarakonteres lain yang sebelumnya disamarkan dengan dipinjamkan sebagai kapal sebuah kongsi dagang di Kerajaan Nobuhara yang sebulan sekali berlayar ke Suleka. Dalam pelayaran kemarin Tuan Jumanji membawa 200 orang tambahan yang merupakan loyalisnya dari kalangan pekerja dan keluarga mereka yang mengerjakan lini produksi bisnis perantau dari Benua itu di Kerajaan Suleka. Pekerja tuan Jumanji yang dibawa ke Alamut didominasi pekerja sektor hulu yang memproduksi aneka komoditas ekspor dari olahan kayu, kain, logam, batu, tanah liat yang artinya semua adalah pengrajin. Golongan yang diharapkan kehadirannya oleh Zayn dan Udin.
Armada pengungsi dari Gunungmacan dan Kebon Gede yang hadir kemarin sore bejumlah 890 orang, maka dengan cepat warga Alamut kini sudah berjumlah 1047 orang, setara ukuran distrik sebuah kota di kepulauan.
“Din ciumlah semerbak bau wangi dari dapur umum ini, sepertinya lezat. Apakah kita perlu ikut memakan sarapan dari mereka nanti, atau menyiapkan mi goreng instan saja, hehe,” ujar Zayn menggoda.
“Boleh tuh Zayn, semoga cocok di lidah, bosan aku tiap hari menyantap makanan instan. Lagian secara jangka panjang takut gak sehat,” jawab Udin.
“Lah.. tumben, padahal aku gak nanya serius tadi,” Zayn menimpali.
“Penganut sang Esa di rombongan orang ini meski tidak mayoritas tapi kan dominan secara pengaruh, pasti makanan dibuat dengan standar yang boleh dimakan dan tidak sesuai keyakinan mereka lah. Menurutku setidaknya semacam halal dan kosher,” jawab Udin lagi.
“Yuk kita ke dapur umum saja, kok sepertinya menarik untuk melhat apa yang mereka masak,” ajak Zayn yang disambut Udin dengan berdiri melangkah mendahului Zayn.
“Eeh malah jalan duluan,” Zayn geleng-geleng kepala.
Udin kemudian mengaambil posisi duduk diatas batu agak besar di dekat dapur umum, Zayn yang tidak kebagian tempat hanya berdiri di sebelahnya.
“Wahh tuan-tuan ternyata memperhatikan kami bekerja, perkenalkan saya Waljinah istri dari Hakim Agung Giman yang bertugas mengkoordinasi logistik para pendatang dan membantu Nyonya Rena dan Anna yang benar-benar cekatan dan cerdas,” ujarnya.
“Nyonya, maksudmu?” Udin mengernyitkan dahi.
“Hah bukankah mereka berdua pasangan tuan-tuan,” tanya Waljinah.
__ADS_1
“Haha, kau salah sangka nyonya Waljinah, mereka bukan pasangan kami, dulu mereka sempat sebentar kami jadikan budak lalu kami merdekakan. Panggil mereka sebagai nona saja, lalu kenapa kau bisa berpikiran begitu,” tanya Zayn.
“Mohon maaf tuanku,” Waljinah menundukkan kepala. “Sekilas dari yang hamba lihat kemarin sore bagaimana dekat dan akrabnya tuan-tuan dengan mereka sudah benar-benar seperti pasangan ideal, terlebih paras putri-putri Menteri Sugiono itu sangat cantik. Dan kulihat terutama Rena sangat menempel dengan Tuan Udin kemarin, jadi kuasumsikan seperti itu,” dia menjelaskan.
“Gakpapa hanya salah paham kecil, oh iya apa yang kalian masak,” tanya Udin.
“Kami memasak untuk sarapan nanti nasi lemak sesuai menu yang pernah tuan ajarkan kepada Nona Rena dengan tambahan sayuran dan lauk daging sapi tuan,” jawab Waljinah.
“Kelihatannya sedap, aku tak sabar menantikan waktu sarapan, monggo silakan lanjut memasak lagi, kami akan lanjut berkeliling,” ujar Zayn.
Ketika lanjut berjalan meninggalkan dapur umum, Udin sempat menoleh ke belakang saat mendengar suaranya dipanggil, ternyata itu Rena yang teriak memanggil namanya dari dapur umum sambil melambai tangan. Udin balas melambaikan tangan dengan senyuman lalu lanjut berjalan menyusul Zayn yang melangkah lebih cepat.
“Duh romantisnya nyonya Rena dengan salah seorang tuan itu, tinggi, gagah dan tampan… sungguh beruntung,” sebut salah seorang ibu-ibu istri prajurit berghibah.
Usai berkeliling, Zayn dan Udin kini menggeletakkan badan di bawah bendera Alamut lalu berdiskusi.
“Din biasanya otakmu encer dan lebih bisa berpikir jangka pendek daripada aku, apa rencanamu dengan 1000an orang ini, tentunya orang sebanyak ini juga butuh logistik yang besar loh,” tanya Zayn.
“Gini Zayn menurutku, kita harus segera membagi orang disini dalam beberapa pekerjaan. 1047 orang bisa kita bagi menjadi 5 pekerjaan utama menurutku. Pertama sesuai rencana menambang bukit batu. Setelah beberapa kali kuamati volume batuan disana sepertinya melebihi ekspektasi kita, mungkin sebagian sisa volume batu yang ditambang bisa kita bangunkan kuil dan asrama bagi pemuja Dewata Agung dan batas kota. Model Candi Ratu Boko di Jawa Tengah gitu lah, aku gak mau ada permusuhan pihak yang saat ini mayoritas dengan kita gara-gara isu agama. Perlu diingat pemuja Dewata Agung di Alamut juga merupakan mayoritas,” ungkpnya.
“Sebelum kau bicara, ku tahu kau pasti akan menanyakan isu harimau kan. Rena pernah berbicara padaku tentang ketika kamu mengajari Dona dan Doni menembak di dekat bukit yang membuat harimau yang sedang memakan buruannya dan keberadaannya tidak kau sadari lari ketakutan mendengar suara tembakan,” lanjut Udin.
“Beberapa kali dalam pantauan drone kita juga melihat harimau, maka solusi permanen untuk saling melindungi harimau dan manusia adalah membuat batas ekosistem. Menurutku nanti kita dapat membuat benteng tambahan di luar benteng induk dengan kombinasi batu dan kayu dari sisi terluar plan pembangunan kita hingga muara," lanjut Udin lagi.
“Kemudian 200 orang berikutnya akan kita tugaskan untuk membuka tambak garam di sisi timur muara. No debat garam sangat penting untuk metabolisme tubuh, perasa makanan dan juga komoditas dagang.” tambahnya.
“Lalu 200 orang ketiga akan kita tugaskan untuk pembangunan kota, benteng dan pelabuhan. Sisa material tanah yang kurang berguna dari tambang dan tambak garam bisa digunakan untuk memadatkan area dermaga. Semoga batu di bukit itu benar-benar berlebih dan ada sisa agar kita bisa memperpanjang dan menambah dermaga juga memagari kota. Selain urusan pelabuhan, kita juga akan benar-benar membuat benteng, tak perlu mengubah desain cukup dengan desain yang lalu saja sebagai pusat kota dan pemerintahan, untuk pemukiman ada di luar benteng utama hingga pembatas dengan hutan harimau. Pembangunan aneka hal di kota adalah urusan kelompok kedua ini,” tambah Udin lagi.
“Lalu 200 orang keempat akan kita arahkan untuk membuka lahan pertanian. Kita memiliki bibit melimpah, hanya 50 meter ke utara dari titik paling ujung cekungan muara tempat kapal terparkir, air sungai sudah tidak terasa payau terpengaruh air laut karena ada air terjun mini setinggi setengah meter yang kurang estetik dan secara alami hingga saat ini membantu persediaan air tawar kita. Lupakan air terjun itu, saluran air nanti kita by pass, kita rekayasa untuk membuat saluran air minum perkotaan lengkap dengan kolam-kolam penampungan air bersih, juga untuk irigasi pertanian. Targetku pada pekan pertama 200 orang itu bisa membuat lahan pertanian seluas 2 ha dengan kondisi sudah tertanami, dan kemudian mungkin 30 ha dalam sebulan karena tenaga pada akhirnya mulai berkurang untuk perawatan tanaman ketimbang membuka lahan,” Udin masih belum selesai menjelaskan.
“Sisa yang kelima akan kita fokuskan untuk membuat peralatan pendukung utamanya dari logam, kita sudah punya bahan untuk membuat perunggu, semoga ada bahan mentah lain yang bisa diolah utamanya besi, kita sangat butuh banyak peralatan untuk menambang batu, membuka lahan, alat pertanian hingga senjata,” pungkasnya.
“Terima kasih Din. kau benar-benar pemikir yang cepat, nanti akan kita diskusikan lagi agar lebih matang dan akan ku umumkan saat upacara,” Zayn menanggapi sebelum keduanya bangkit dari posisi berbaring untuk beribadah.
“Tuan Padishah, Tuan Wazir Akbar,” Anna berlari mendatangi mereka yang terlihat sedang berdiri namun ternyata sedang menjalankan ibadah pagi. Anna menunggu mereka selesai melakukan ibadah kemudian menyampaikan sesuatu.
“Tuan kabar gembira, seluruh tawanan meminta untuk menjadi warga Negara kita,” Anna mengabarkan.
“What… mudah kali goyah orang-orang itu Zayn, kemarin masih pada teriak demi tanah air lah apa lah, lihatlah sekarang,” Udin menanggapi.
“Kok bisa begitu Anna,” tanya Zayn. “Jadi Residen Pramono dan Tumenggung Antoni yang ditawan orang Gunungmacan itu merasa tidak ada pilihan lain yang paling logis selain bergabung, jika kembali mereka akan dituduh pengkhianat dan dihukum mati sehingga dia mengutarakan niat untuk bergabung. Tanpa diduga apa yang mereka berdua utarakan diikuti oleh tawanan lain,” jawab Anna.
__ADS_1
“Berapa sih jumlah tawanan kita Anna sekarang aku sekarang kurang mengikuti, yang pasti lebih dari 24 orang kan, karena saat keliling aku sudah melihat ada tawanan yang mulai diiikat dengan tali alih-alih di borgol,” Zayn menimpali.
“Jadi sebelumnya tawanan kita 5 orang, tawanan yang dibawa Leman dan Roni 9 orang, kemudian Residen Pramono beserta anak dan istrinya berjumlah 7 orang, Tumenggung Antoni beserta anak dan istrinya berjumlah 5 orang. Total 26 orang tuan tawanan kita hari ini,” Anna menjelaskan.
“Baiklah Anna jika begitu instruksi dari kami segera kumpulkan 24 orang untuk rapat di kayu bundar di depan tenda. Dari kita ada Aku, Udin, Kamu, Rena, Gina, Rani, Anggi, Dian dan Bertha. Dari mereka Roni dan Leman kemudian 13 orang lagi yang memiliki kedudukan paling tinggi termasuk yang ada diantara para tawanan. Kita akan melakukan diskusi sedikit sebelum upacara pagi,” perintah Zayn.
Sementara itu di Gunungmacan
Raja Siffredi betul-betul marah besar. Tiga hari ini dia mendapati beberapa hal yang mencoreng wibawanya sebagai raja.
Pertama saat pemberontakan di kota, tak hanya melarikan tawanan, gerombolan pengacau juga melibatkan Angkatan Laut hingga level laksamana bisa turut memberontak. Lalu pemberontak juga menguras harta berharga kota, hingga nuansa mewah ornament Gedung Residen dimana saat ini dia menyesap teh pagi juga raib digondol pemberontak.
Kedua, pada hari berikutnya dia mendengar kabar bahwa seluruh kapal Angkatan Laut di Kalikucing raib tanpa jejak termasuk komandan pangkalannya Tumenggung Karsimin. Semua menduga Karsimin yang terakhir kali terlihat bersama keluarganya meninggalkan kota menumpang kapal niaga milik Kerajaan Ferris Indah juga turut terlibat pemberontakan. Spekulasi berkembang bahwa Ferris Indah menyokong pemberontakan. Tak hanya di Kalikucing, kota Sumberurip yang baru kehilangan Si Kepiting Galak juga harus kehilangan 2 kapal lagi dalam pertempuran.
Berita-berita termasuk kabar burung keterlibatan kerajaan Ferris Indah dalam pemberomtakan membuat Raja Siffredi naik pitam dan memerintahkan pengusiran Duta Besar Ferris Indah dari Kebon Gede.
Di tengah masalah diplomatik yang genting ini Raja pusing dengan menghilangnya Menteri Luar Negeri Suleka, Pangeran Johnny yang dianggapnya hanya suka melancong ke luar negeri dan menyerahkan segala hal untuk dikerjakan Rocco, sepupunya.
Ketiga adalah kabar dari pengawal Istana yang bahwa Panglima Angkatan Laut, Pangeran Danny yang kedatangannya ia tunggu-tunggu malah datang ke Gunungmacan dengan menunggang kuda, alih-alih menggunakan kapal perang.
“Jordi, Tomi, James apakah sudah ada kabar dari adikmu Johnny. Si bungsu itu menghilang di saat genting,” ujar Siffredi yang sedang minum teh di pagi hari bersama para putranya.
“Tak usah ayah mengkhawatirkan adik, terakhir yang kutahu adik sedang menjual anak-anak menteri Sugiono yang kita eksekusi itu ke pasar luar negeri,” Jordi menanggapi.
“Kabar terakhir Adik menurut informasi dia terlihat oleh para pedagang kita di Kerajaan Faranina yah,” Tomi turut menimpali.
“Syukurlah bukan ke Ferris Indah si bebal itu melancong haha,” gurau Raja.
Tak lama seorang Senopati pengawal istana datang menghadap.
“Mohon maaf mengganggu Raja, dan para pangeran. Kami mengabarkan Pangeran Danny telah memasuki pagar kota dengan menunggangi kuda, 2 dupa perjalanan lagi (50 menit) kemungkinan pangeran sampai kemari,” ujar Tumenggung itu sambil berlutut.
“Informasi diterima, pergilah ujar Pangeran James yang juga komandan mereka.
Wajah raja tiba tiba terlihat merah dengan ekspresi marah dia membanting gelas hingga pecah berkeping-keping.
“Apa yang ada di otak Danny pengecut itu. Apa si anak sialan itu takut berlayar dengan prajuritnya sendiri. Bisa-bisanya dia berkuda kemari. Dasar anak tak berguna. Angkatan Laut runtuh dengan memalukan di tangannya,” Siffredi benar-benar geram dengan Danny yang datang dengan berkuda.
Dulu sebelum menjadi putra mahkota, tak seperti putranya Jordi yang memilih menjadi Panglima Angkatan Darat, Siffredi memilih menjadi Panglima Angkatan Laut.
Dia melewati puluhan pertempuran laut dengan kemenangan yang gilang-gemilang.
__ADS_1
Bahkan ketika kepemimpinannya dulu Pulau Sam Brody milik Samiam pernah diduduki Angkatan Laut Suleka selama 7 tahun. Sebelum akhirnya dikembalikan melalui sebuah perjanjian saat dirinya baru saja diangkat sebagai raja sebagai barter untuk si bungsu. Johnny yang ia kirim sekolah ke Faranina diculik di tengah laut dalam perjalanan oleh pihak Samiam.