
Sore hari aktivitas patroli dan pencarian para penyerang dari Suleka yang tenggelam di tengah laut dihentikan sementara. Dari 12 kapal yang berpatroli, telah berhasil mengevakuasi 94 orang dan 17 jasad. Sedangkan tim patroli di darat mengamankan 27 orang dan 42 jasad yang terdampar.
Hakim Agung Giman dan Laksamana Muda Andi Keling memisahkan jasad dan orang-orang yang ditawan berdasar statusnya seperti orang penting, prajurit biasa, budak dan warga sipil biasa.
Selain itu 59 jasad yang ditemukan diidentifikasi dan diputuskan akan dimakamkan segera malam harinya.
Diantara jasad yang ditemukan terdapat sosok Doyle, Andra dan Danny yang menjadi orang terpenting di armada penyerang.
“Tuan Wazir Akbar kami telah mengamankan 121 orang dan menguburkan 59 jasad. Di antara yang meninggal ditemukan Pangeran Danny, Senopati Doyle dan Senopati Andra. Yang kami tawan ada istri dari ketiga orang itu, 7 anak dari mereka dan 100 prajurit dan 11 budak,” lapor Giman kepada pembesar Alamut yang berkumpul, namun tanpa Padishah yang masih menenangkan diri.
“Apa… kakakku Danny?” Johnny langsung terhuyung dan jatuh pingsan.
Udin lalu membaringkan Johnny di posisi nyaman, kemudian mengganjal posisi kaki agar lebih tinggi dan melonggarkan pakaian si pangeran, kemudian Udin mencoba membangunkan Johnny dengan mengusap minyak kayu putih ke sekitar hidung Johnny.
“Mohon maaf John jika kabar ini membuatmu shock,” ujar Udin sesaat usai Johnny terbangun.
“Izinkan aku menemui kakak iparku, bisa saja nanti aku akan mendapat informasi berharga,” sebut Johnny.
“Baiklah kamu bisa melakukan semacam interogasi sekaligus reuni keluarga di dalam kabin Rihlah, aku mengerti keluargamu itu pasti kondisinya lebih shock daripada dirimu, mereka butuh istirahat di tempat yang nyaman. Antarkan mereka ke Rihlah sambil membicarakan beberapa hal,” ujar Udin.
Udin kemudian mengajak Juki, Giman, Andi Keling dan Jayadi untuk membantu mempersiapkan Rihlah.
Di atas Rihlah mereka menyimpan tekonologi-teknologi penting di penyimpanan di bawah tempat tidur dan dibawah meja karja.
Selain itu Udin memasak rendang frozen yang kemudian ditambah dengan olahan daging buaya dan sosis untuk menambah isian. Nasi juga dibawa dari dapur umum untuk makanan Malena kakak ipar Johnny dan 3 anak perempuannya.
“Tuan apakah aman menaruh Putri Malena di dalam Rihlah mengingat temperamen dan sifat pendendamnya,” tanya Andi Keling kepada Udin. Andi Keling tentu sangat mengenal keluarga pangeran Danny karena sama-sama berasal dari angkatan laut.
“Maka daripada itu aku minta bantuan kalian untuk mengamankan banyak hal saat ini, dan pembicaraan mereka ber lima dapat kita dengarkan di dekat Rihlah melalui alat yang ada di kapal ini,” jawab Udin.
“Sebetulnya aku juga takut melihat shock nya Johnny tadi membuatnya berubah pikiran terhadap rencana masa depan dengan Alamut. Apalagi dia telah mengetahui kakaknya tenggelam di lautan bersama armadanya karena serangan Zayn yang mempertahankan Alamut,” sebut Udin lagi.
“Ku rasa makanan dan persiapan telah siap untuk Johnny dan keluarganya, mari kita atur pertemuan mereka,” tukas Udin.
Sebelumnya Johnny telah di briefing tentang bagaimana hubungannya dengan Alamut. Dia akan pura-pura menjadi tawanan Alamut yang tidak mengetahui situasi yang berkembang. Agar keluarganya dapat berbicara panjang lebar tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Johnny kemudian segera dimasukkan ke Rihlah usai kapal itu selesai dipersiapkan dan menunggu selama 10 menit sebelum akhirnya Malena dan ketiga putrinya dibawa ke atas Rihlah dan bersiap masuk ke kabin dengan pengawalan Udin, Juki, Jumanji, Giman dan Andi Keling.
“Selamat malam putri Malena, atas kebaikan hati Wazir Akbar Alamut, tuan Udin di sebelah saya. Maka kami membawa putri untuk makan malam dan bertemu pangeran Johnny yang telah kami tawan sebelumnya,” ujar Giman.
__ADS_1
“Dasar kau hakim agung pengkhianat, inikah balasanmu atas kebaikan ayah mertuaku. Mana suamiku mengapa kau tidak turut membawanya bersamaku,” ujar Malena.
“Mohon maaf tuan putri, Laksamana Agung kami temukan tidak bernyawa dan telah kami makamkan bersama 59 jasad yang lain termasuk Senopati Doyle dan Andra,” ujar Andi Keling.
“Kau… pengkhianat angkatan laut, masih berani kau membual di hadapan istri panglimamu hah.. cepat bawa suamiku kemari,” ujar Malena dengan teriakan yang semakin histeris.
“Atas nama negeri Alamut kami mohon maaf atas korban yang ditimbulkan dari pertahanan diri kami menghadapi serangan pihak anda termasuk gugurnya suami anda pangeran Danny sebagai ksatria berjiwa pahlawan,” ujar Udin sambil memperlihatkan foto jenazah Danny.
“Tidak mungkin… itu pasti lukisan bohong yang seolah dibuat seperti itu..,” jawab Malena terisak melihat foto dari smartphone Udin. “Ibu apa benar ayah telah meninggal huhuhu,” tangisan putri-putri Danny di atas Rihlah.
Johnny yang mendengar percakapan itu dari dalam kabin Rihlah juga tak henti-hentinya menangis. Selain bersedih atas kepergian kakaknya selamanya dia juga memikirkan nasib putri-putri pangeran Danny.
“Tidak ada lagi yang harus kami sampaikan putri, lebih baik putri dan anak-anak segera masuk ke dalam kapal untuk makan malam dan bertemu pangeran Johnny,” ucap Udin.
Di dalam kabin Rihlah, Malena benar-benar kaget Johnny ternyata ditawan di dalam Rihlah.
“Johnny apakah benar-benar kau ditahan disini adik ipar, sejak kapan? Padahal terakhir kali kami mendengar kamu sedang berada di Faranina yang ikut mengacaukan Negara kita,” tanya Malena melihat Johnny yang masih terisak menangis.
“Kenapa kau tak henti menangis John?” tanya Malena lagi.
“Sudah dulu kak, lebih baik kita menyantap hidangan yang telah mereka persiapkan untuk kita. Kakak dan keponakan-keponakanku ini pasti sudah lapar,” sebut Johnny.
Akhirnya mereka memakan rendang dengan luar biasa lahap.
“Ini karena pihak yang menawan kita datang dari negeri yang jauh dari benua yang tidak kita kenal kak, mereka kemudian membangun Tanjungpagar hingga seperti sekarang,” sebut Johnny.
“Sepertinya kau tahu banyak informasi John, ceritakanlah,” ujar Malena.
“Kebetulan saja sebetulnya kak, aku sudah lebih dari 2 pekan ditawan di sini sehingga banyak informasi kudengar. Oh iya selesai makan nanti kakak dan anak-anak ku ajarkan cara mereka mandi di kapal ini agar kita bisa berbicara lebih tenang,” ucap Johnny mengulur waktu.
1 jam setelah selesai makan malam. Malena dan ketiga putrinya selesai mandi dan kemudian diberikan jersey Princeton Tigers Soccer oleh Johnny yang disediakan Udin. Mereka paham tawanan ini pasti juga kehilangan pakaian dan segalanya yang tenggelam ke dasar laut.
Udin dan Zayn sendiri di Rihlah memiliki 30 buah jersey klub sepak bola di kampusnya, karena mereka mendapat pengadaan jersey yang belum sempat dibagi terikut terbawa Rihlah terteleportasi ke planet ini.
“Baju ini bahan dan cara membuatnya aneh tapi rasanya nyaman. Mereka juga bisa menggambar harimau dengan sangat mirip aslinya di baju ini,” ucap Malena kembali kagum.
“Jadi Johnny apa ceritamu,” tanya Malena.
“Jadi pasti kakak ipar tahu bahwa aku sempat berdagang ke Faranina sebelum ini. Di sana ternyata aku mengetahui rahasia bahwa mereka memiliki hubungan dengan pemberontak di Suleka yang bekerja sama dengan dua pemilik kapal ini yang menyebut mereka berasal dari negeri Alamut. Karena aku mengetahui rahasia maka aku ditawan dan dibawa ke mari oleh pangeran Juki, putra mahkota Faranina yang masih sepupumu.” ujar Johnny kepada Malena yang berasal dari Faranina. Johnny berharap penekanan hubungan keluarga antara Malena dengan Juki dapat sedikit melunakkan hati kakak iparnya.
__ADS_1
“Lantas bagaimana ceritanya kak Danny berani menyerang mereka yang menguasai wilayah ini tanpa persiapan matang dan hanya membawa 2 kapal perang dan 3 kapal niaga seperti yang ku dengar sebetulnya berapa orang yang menyertai pelayaran ini,” tanya Johnny.
“Nasib buruk kami, setelah pemberontakan Andi Keling dan loyalisnya di angkatan laut bersama penganut sang Esa, Faranina dan Ferris Indah. Kakakmu diberhentikan dari jabatannya dan ditugaskan membangun Tanjungpagar dan mempersiapkan armada untuk berlayar keseluruhan 200 orang untuk membuat pertahanan dalam perang menghadapi Ferris Indah namun ternyata disini malah jadi pusat pemberontakan yang bahkan baru kami tahu juga di support Faranina,” jawab Malena.
“Bagaimana Ferris Indah terlibat kak, bahkan aku belum mendengar kabar itu,” tanya Johnny keheranan.
“Seluruh kapal perang di Kalikucing raib lenyap dalam semalam dan kemudian Karsimin pemimpin disana kabur dengan kapal Ferris Indah,” jawab Malena.
Johnny akhirnya bisa memahami kesalahpahaman yang muncul di antara Suleka dan Ferris Indah. Ya dia mengetahui pasti kapal-kapal di Kalikucing ada di Alamut dibajak pemberontak, bukan Ferris Indah seperti yang disalahsangkakan orang-orang Suleka, namun ia memilih diam.
“Kalau begitu mengapa Lexington tidak dianggap pemberontak, bukankah perdagangan Ferris Indah di wilayah kita paling banyak dengan kota Sumberurip. Bisa jadi pergerakan pemberontak muncul dari informasinya,” jawab Johnny.
“Sebetulnya itu sudah kami pikirkan sampaikan ketika kami bertemu Margono di Sumberurip. Bahkan tumenggung itu juga menduga tingkah amoral Lexington di kota itu sedikit banyak karena mendapat pengaruh buruk dan karena dimanjakan harta dari Ferris Indah. Semoga raja Siffredi meringkus residen gila itu. Oh iya John apa kamu mendapat informasi tentang suamiku,” tanya Malena.
“Aku memiliki informasi kak. Tapi sebelumnya aku ingin mendengar pendapatmu. Jika para penawan kita memberi pilihan apakah kamu akan menyerah, ditawan selamanya disini hingga Suleka menyelamatkan kita, atau meminta kemurahan hati Juki untuk memulangkanmu ke pamannya atau orang tua mu di Faranina,” tanya Johnny.
“Yang jelas menyerah seharusnya belum pernah ada pada kehidupanku yang keras John. Menunggu Suleka menyelamatkan kita yang ditawan juga aku tidak yakin. Pemilik kapal ini dengan mudah menenggelamkan seluruh armada kita dalam beberapa hitungan detik saja, sulit ku rasa Suleka menang dengan mudah. Selain itu kita yang sudah pernah ditawan musuh pasti akan menjadi cemoohan di ibukota setelah bebas nanti. Kau tidak tahu bagaimana ayah mertua memperlakukan kami dan caranya mengirim kami kesini. Belum lagi Jordi yang menyudutkan kakakmu di antara pembesar kerajaan. Pun istri Jordi yang mencemooh kami dan menjelek-jelekkan kami ketika akhirnya kami dikirim kemari,” jawab Malena.
“Lantas untuk kembali ke Faranina itu. Hemm... aku tidak pernah ingin kembali ke orang tuaku. Mereka membesarkan anak-anaknya dengan kasar dan ketika menyerahkanku kepada Danny mereka hanya tergiur hadiah pernikahan daripada masa depan anaknya. Orang tua ku membesarkan anak-anaknya dengan buruk. Lalu tolonglah jangan terlalu berbelit bagaimana kabar kakakmu yang kutanyakan sedari tadi” ujar Malena.
“Kakak ipar, mohon maaf aku harus berkata jujur. Kakak ipar gugur dalam pertempuran tadi pagi,” ujar Johnny. Tangisan pun pecah semua orang yang ada di dalam kabin menangis.
Apalagi Malena dan anak-anaknya yang histeris mengetahui fakta dari kerabatnya itu.
“Kak kurasa kita harus memilih, akan melanjutkan hidup di Faranina atau menerima keadaan menjadi warga Alamut. Mohon maaf berbicara seperti ini saat kau tengah berduka. Aku sendiri sangat kehilangan jujur. Malam ini kalian akan ditawan di dalam kapal yang nyaman ini. Beristirahatlah… aku akan keluar dan meminta kembali diantar ke selku,” sebut Johnny yang keluar kabin Rihlah sambil menangis.
Semua pembicaraan di kabin antara Johnny dan Malena didengar jelas oleh Udin dan Juki yang menggunakan airpods. Sedangkan yang lain hanya mendengar penyampaian dari mereka berdua.
“Bagaimana mungkin Ferris Indah dituduh sebagai bagian pemberontak dengan kesimpulan konyol. Lalu apa kira-kira ini berdampak dengan rencana kita menaklukkan Ferris Indah tuan Udin,” tanya Juki yang mendengar pembicaraan Johnny tadi.
“Nanti kita bicarakan bertiga dengan Zayn malam ini kita harus mengganggu istirahatnya. Kalian yang lain bawa kembali Johnny ke pemondokannya, biar saya dan Juki sementara menemui Zayn. Jangan khawatir Johnny tidak menunjukkan gelagat mengkhianati kita,” ujar Udin kepada semua yang menemaninya di luar Rihlah.
Beberapa saat kemudian…
“Dimana Juki dan Wazir Akbar,” tanya Johnny kepada orang-orang yang sedang berkerumun.
“Sejak anda menemui keluarga di dalam. Wazir Akbar mengajak Juki untuk membujuk tuan Padishah keluar. Padishah menurut informasi sedang terpukul dan merasa gagal melindungi Alamut sehingga memilih laku meditasi,” jawab Giman menyembunyikan fakta bahwa pembicaraan Johnny dengan iparnya telah mereka ketahui di luar.
“Mari kita kembali ke pondok tuan, biarkan keluarga and malam ini beristirahat di dalam Rihlah,” lanjut Giman yang kemudian diiyakan Johnny.
__ADS_1
Udin dan Juki berjalan menuju pertapaan pendeta agung Hulagu yang ada di seberang muara. Sedikit ke arah timur laut dari lokasi yang rencana akan digunakan sebagai area tambak garam.
Mereka berjalan di kegelapan malam dengan bantuan cahaya senter menuju lokasi pertapaan.