
Keesokan harinya, Kota Gunungmacan 4 September 2022.
Menghindari potensi bocornya informasi dan sabotase, Tumenggung Jayadi merubah waktu pelayaran Kapal Perang berukuran sedang yang bernama Bulu Babi dan Cacing Laut dengan dipimpin Senopati Roni dan Leman yang semula direncanakan berlayar untuk alasan patroli di sore hari menjelang vonis terhadap penganut Sang Esa dibacakan diubah menjadi sebelum fajar terbit.
Selain itu komposisi prajurit yang berlayar diubah. Yang semula berisi 25 prajurit tiap kapal dan 35 keluarga mereka di tiap kapalnya menjadi masing-masing 10 prajurit dan 50 keluarga prajurit tiap kapal.
Hal ini dimaksudkan Jayadi untuk menambah kekuatan Operasi Macan di Laut yang sore ini akan dilaksanakan.
Mengingat informasi terbaru dikabarkan Raja Siffredi dan Putra Mahkota Jordi diketahui akan tiba dalam pembacaan vonis oleh Hakim Agung Giman nanti sore. Posisi terkini raja pada dini hari telah tiba dan menginap di sebuah desa yang jaraknya sekitar seperempat hari perjalanan kereta kuda dari Gunungmacan.
Jayadi sendiri telah mengestimasikan kekuatan Angkatan Darat akan meningkat sehubungan dengan kehadiran raja dan putera mahkota.
Sebelumnya lawan mereka hanya 150 orang prajurit dari Angkatan Darat legion Gunungmacan dan tentu saja jumlah ini bakal hampir berlipat ganda mengingat setiap perjalanan dinas, raja selalu dikawal 50 prajurit pengawal istana, dan Pangeran Jordi kemungkinan juga membawa 50 prajurit.
Sementara kini kekuatan Angkatan Laut tersisa sejumlah 100 orang prajurit pangkalan selain dari 20 prajurit yang telah berlayar dengan Bulu Babi dan Cacing Laut. meski ditambah 85 pasukan dari prajurit Laksamana Muda Andi Keling maka jumlah mereka hanya 185 orang saja di daratan, bakal lebih sedikit dari total 250 pasukan Angkatan Darat.
Oleh karena itu Jayadi diam-diam juga telah mengubah skenario pertempuran pengamanan dari pihaknya. Beruntung komandan legion Angkatan Darat merupakan perwira muda minim pengalaman dan sangat menuruti nasehat Tumenggung Jayadi.
Setelah keberangkatan Bulu Babi dan Cacing Laut dengan alasan berlayar mengamankan jalur. Jayadi segera menuju markas legion Gunungmacan untuk menemui Tumenggung Antoni yang memimpin Angkatan Darat setempat.
“Salam hormat, kepada Tumenggung Antoni, mohon maaf mengganggu anda sepagi ini,” ujar Jayadi kepada Antoni yang baru saja tiba di markas.
“Ada apa gerangan pahlawan laut kita ini menemui junior sepagi ini,” jawab Antoni.
“Jangan terlalu memuji komandan, saya hanya ingin berkoordinasi terkait pengamanan kota dengan kehadiran raja yang mungkin siang hari sudah memasuki kota Gunungmacan,” Jayadi membuka diskusi.
“Aku sih sebetulnya akan berpatokan dengan standar pengamanan yang dulu diajarkan di akademi, tapi setiap petuah senior dengan pengalaman yang lebih panjang dan prestasi di tiap pertempuran tentunya sangat berharga dan patut didengar, bagaimana pandanganmu Tumenggung Jayadi,” tanya Antoni.
“Jadi begini Tumenggung, kota ini memiliki 150 prajurit angkatan darat dibawahmu dan 120 prajurit angkatan laut dengan 3 kapal yang kupimpin, kebetulan juga sedang ada 85 prajurit dari pusat pelatihan Angkatan Laut” jelas Jayadi.
“Aku sendiri berkewajiban mengamankan perairan dengan telah melayarkan 2 kapal perang yang diawaki 50 prajurit (Fakta sebenarnya 20 dan ditutupi oleh Jayadi), maka kini prajuritku hanya berjumlah 70 orang. Masalahnya mereka ini hanya memahami medan pelabuhan dan perkotaan saja dari segi pengamanan,” lanjut Jayadi.
“Jadi aku mengajukan proposal pengamanan, 25 prajuritku akan membantu mengamankan pelabuhan, 25 lagi akan mengamankan lokasi penahanan kaum sialan itu dan 20 lagi akan menjaga pusat kota tepatnya sekitaran Gedung Residen kota Gunungmacan,” tambah Jayadi.
“Sedangkan sisanya kumohon prajurit legion dapat mengamankan sepanjang perbatasan, 70 prajurit berjaga di perbatasan utara dan 70 di perbatasan selatan. Mengingat penganut Sang Esa dikabarkan baru saja membuat kekacauan di ibukota Kebon Gede di utara, dan kota Sumberurip di selatan. Aku takut kita akan kecolongan di sisi perbatasan itu sedangkan angkatan laut kurang menguasai medan perbatasan kota,” ungkap Jayadi.
“Lalu sisa 10 orang prajurit anda, 5 orang akan membantu pengamanan pusat kota bersama prajurit saya dan anda bersama 4 sisanya akan berada di sisi raja saat vonis dibacakan. Selain itu masih ada 85 prajurit Laksamana Andi Keling yang jika anda setuju akan saya minta untuk membantu area vonis bersama 25 prajurit Angkatan Laut dari pangkalan untuk menguatkan pengamanan seperti saya sebut tadi. Selain itu lokasi pembacaan vonis akan sangat aman karena akan ada 100 prajurit dari ibukota yang datang bersama Raja Siffredi dan Pangeran Jordi. Bagaimana menurut anda Tumenggung Antoni?”
“Rencana senior sungguh brilian dan sistematis, aku saja bahkan tak sempat memikirkan hal ini. Dengan kerjasama kita selama ini yang cemerlang dan pengamanan di seluruh sudut kota membuatku merasa aman atas kehadiran Raja di kota ini untuk pembacaan vonis nanti,” Antoni tersenyum simpul membayangkan pujian dari raja sore hari nanti.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu, izinkan saya pamit untuk memberi instruksi prajurit melaksanakan pengamanan hari ini dan juga berkomunikasi kepada Laksamana Muda,” ujar Jayadi.
“Tentu saja senior, aku juga harus bergegas mengumpulkan prajurit untuk memberitahukan perubahan rencana pengamanan,” balas Jayadi.
Jayadi meninggalkan markas legion angkatan darat Gunungmacan dengan menahan tawa. Ia berhasil membodohi juniornya di militer. Sore nanti jalur pengamanan sepanjang kota hingga pelabuhan bakal didominasi Angkatan Laut. Di lokasi vonis pun tak hanya 25 prajurit pangkalan seperti dibicarakan barusan. masih 30 orang awak Bulu Babi dan Cacing Laut yang tidak berlayar akan berpakaian bebas di sekitar lokasi vonis sehingga jumlah prajuritnya di lokasi vital itu nanti sore berjumlah 55 orang plus para pasukan dari pusat pelatihan Angkatan Laut yang berjumlah 85 orang dan tentu saja para saudaranya penyembah Sang Esa yang telah didistribusikan aneka senjata untuk mengamankan diri membuatnya sangat pede menghadapi kehadiran 100 prajurit ibukota dan hanya 5 orang tambahan dari angkatan darat di lokasi vonis.
Meski begitu Jayadi sepanjang pulang berdoa untuk kesuksesan operasi berlayar meninggalkan kota dengan korban sesedikit mungkin dari pihaknya.
Sementara itu…
Rombongan raja yang berjumlah 125 orang termasuk 100 prajurit telah mendekati gerbang kota, dari kejauhan mereka melihat sepanjang pagar tanaman yang membatasai bagian utara kota terdapat panji-panji Angkatan Darat tinggi menjulang.
“Lihatlah Jordi, pasukan kota ini sangat sigap dan patut diacungi jempol, mereka menjaga ketat perbatasan dari ancaman, hal yang tidak kita lihat saat melintasi Tampaksirih dan Jayagelang sebelumnya,” ujar Raja yang hanya disambut anggukan oleh Putra Mahkota. Jordi sendiri dalam benaknya terbersit tanda tanya dan firasat tidak mengenakkan.
Raja kemudian beristirahat di gedung Residen yang dijaga pasukan yang didominasi dari Angkatan Laut, hal ini tentu saja menambah pikiran Jordi, mengingat pada umumnya pusat pemerintahan yang berada di tengah kota dijaga Angkatan Darat. Namun Jordi hanya bisa mengesampingkan pikiran buruknya melihat kesigapan prajurit yang berjaga menurutnya sangat luar biasa.
Siang itu Residen kota Gunungmacan, Tuan Pramono yang secara turun temurun keluarganya memimpin Gunungmacan duduk mendampingi raja dan putera mahkota makan siang bersama Hakim Agung Giman, Laksamana Andi Keling, Tumenggung Antoni dan Tumenggung Jayadi.
“Pramono, luar biasa penyambutanmu, selain itu pengamanan prajurit disini luar biasa. Aku salut ini merupakan pengamanan prajurit kota terbaik yang pernah kulihat,” celetuk raja usai santap makan siang.
“Tentu saja yang mulia raja Siffredi, perwakilan yang ditunjuk Angkatan Darat maupun Laut di kota ini selama ini selalu kompak, sehingga selama saya memimpin kota ini sudah 12 tahun belum pernah mendapat gangguan keamanan dari luar. Selain itu dengan kekompakan kedua angkatan perang ini membuat angka kriminalitas nyaris tidak ada. Kota ini sepanjang saya memimpin, puji syukur selalu mendapat penghargaan kota paling aman di Suleka. Mohon kiranya dengan prestasi kami, raja dapat memberikan hadiah untuk kesejahteraan rakyat,” jawab Pramono disambut anggukan raja.
“Giman mana keputusanmu untuk vonis sore nanti, aku akan memberinya restu dengan cap darahku,” raja bertanya kepada Hakim Agung.
Raja tersenyum sumringah, “Penganut Sang Esa itu pekerja keras, mereka telah mengumpulkan harta luar biasa banyak dari pekerjaan mereka di berbagai kota, tentu saja hal itu akan menjadi hadiah para Residen untuk menyejahterakan rakyat termasuk untukmu Pramono. Selain itu kita akan mendapat tenaga kerja gratis untuk menambang dan menghasilkan uang membuatku gembira sekali siang ini. Hahaha,” tawa raja menggelegar.
Sore hari rombongan kerajaan telah tiba di bagian timur kota dimana seluruh penganut Sang Esa telah dikumpulkan dari penjuru pulau untuk mendapat vonis di halaman belakang bekas kuil agung mereka.
Keputusan Giman, Hakim Agung Kerajaan Suleka.
Atas restu yang mulia paduka raja Siffredi yang memimpin Suleka dengan penuh keagungan.
Atas nama hukum dan keadilan.
Mengingat, tindakan keji mempermalukan kerajaan di istana dan ibukota juga membunuh 60 prajurit di Ibukota yang dilakukan penganut Sang Esa.
Menimbang, potensi kekacauan dan pemberontakan para penganut Sang Esa.
Memutuskan, Pertama, penetapan sita aset dan harta seluruh penganut Sang Esa di seluruh penjuru Suleka untuk seluas-luasnya demi kemakmuran rakyat.
__ADS_1
Kedua, pengasingan penganut Sang Esa dari seluruh kota yang ada di Suleka.
Ketiga, penerapan hukuman kerja paksa menambang batu bara di Gunung Klepon kepada seluruh penganut Sang Esa di Kerajaan Suleka.
Keputusan ini menjadi titah atas nama raja, usai dibacakan dan berlaku segera hingga kemudian dicabut atau diperbaiki apabila diperlukan.
“Jangan bergerak,” tiba-tiba puluhan orang berbaju hitam bertopeng harimau mengepung podium yang berisi Hakim Agung Giman, Raja Siffredi, Pangeran Jordi, Laksamana Muda Andi Keling dan Residen Pramono. Orang-orang berbaju hitam itusegera mengikat tangan dan kaki raja dan pejabat di podium.
Dari kejauhan nampak Senopati Tunggul Wulung mengarak puluhan gerobak ditarik kuda dengan salah satu kereta berisi Tumenggung Jayadi yang sudah terikat. Di sekitar podium para prajurit Angkatan Laut dikomando Tunggul Wulung segera mengikat Tumenggung Antoni yang berdiri kebingungan, lalu para pejabat di podium dengan kondisi terikat dinaikkan dalam sebuah gerobak dengan cara dibopong.
Para prajurit dari ibukota tidak bisa berbuat banyak karena mereka tidak pernah dilatih menghadapi terror semacam ini. Terlebih mereka mengkhawatirkan keselamatan raja dan putra mahkota yang kini tersandera.
Para tawanan juga nampak mulai mengacungkan senjata yang telah dipersiapkan kepada prajurit Angkatan Darat yang tersisa di kota dan 100 prajurit dari ibukota.
Mereka kemudian berbaris bersama pasukan Angkatan Laut yang dipimpin Senopati Tunggul Wulung menuju pelabuhan, sementara para prajurit dengan gerobak membawa tawanan dikawal pasukan Angkatan Laut yang lain menuju gedung Residen yang telah diamankan rekan mereka.
Disana mereka mengamankan keluarga Residen Pramono dan menguras harta dan sitaan mereka.
Selanjutnya gerobak mendatangi barak Legion dan segera mengamankan keluarga Tumenggung Antoni dan lanjut menuju pelabuhan setelah berkeliling menjarah harta kota.
Raja dan Pangeran Jordi yang melihat ini dari gerobak hanya menatap apa yang terjadi dengan geram tanpa suara karena mulut mereka tersumpal.
Tak lama seluruh penganut Sang Esa telah berada di pelabuhan, mereka segera menaiki Kapal Perang Belut Sengat dan ketiga kapal milik pusat pelatihan Angkatan Laut. Selain itu mereka juga akan berlayar dengan kapal niaga milik residen dan 6 kapal niaga lain milik para pedagang yang kebetulan sedang bersandar di Gunungmacan.
Tunggul Wulung memasukkan Jayadi yang terikat bersama Andi Keling, Giman, Pramono dan Antoni bersama istri dan anak-anak Pramono dan Antoni keatas kapal perang Belut Sengat.
Mereka kemudian segera berlayar meninggalkan kota Gunungmacan tanpa tersisa satu kapal pun yang bersandar dan meninggalkan Raja dan Pangeran Jordi terikat diatas gerobak kosong di pelabuhan.
Pasukan ibukota yang mengikuti para pemberontak ke pelabuhan dengan berjaga jarak akhirnya tiba seusai seluruh kapal melepas sauh dan mulai menyelamatkan Raja dan Putra Mahkota.
“Sialan kita telah dijebak anakku, Residen dan para komandan kota ini tega membodohi dan mengkhianati kita, bajingan,” ujar Raja.
“Segera tangkap seluruh pasukan kota ini yang tersisa sebelum kita semua terbantai,” perintah Pangeran Jordi.
Pasukan ibukota dengan cepat meringkus 150 prajurit Angkatan Darat tanpa perlawanan dan membawa mereka semua ke gedung Residen di pusat kota yang berbentuk rumah panggung dari kayu jati yang berbentuk memanjang. Raja dan Pangeran Jordi juga telah tiba di kota itu untuk menemui mereka.
“Lapor Panglima Pangeran Putra Mahkota Jordi, dari hasil interogasi prajurit yang semuanya dari Angkatan Darat ini diketahui fakta jika mereka tidak tahu rencana pemberontakan dari Pramono dan Antoni komandan mereka sendiri. Mereka pagi ini diperintah menjaga perbatasan kemungkinan untuk mengosongkan kota dan memudahkan aksi pemberontakan,” lapor seorang Senopati yang memimpin pasukan yang dibawa pangeran Jordi.
“Sedangkan seluruh prajurit angkatan laut dari pangkalan kota Gunungmacan maupun dari pusat pelatihan Angkatan Laut sudah tidak terlihat sama sekali, begitu juga keluarga Tumenggung Jayadi, Tumenggung Antoni, dan Residen Pramono semuanya tidak ditemukan,” lanjut Senopati itu.
__ADS_1
“Segera kirimkan merpati pos ke ibukota tangkap dan geledah keluarga Giman dan Andi Keling, kurasa mereka juga bagian dari persekongkolan dedengkot kota Gunungmacan ini. Jordi kirimkan juga merpati pos untuk membawa perintah bagi adikmu yang tidak berguna itu. Sudah tiga kali angkatan laut kecolongan, aku tidak mau tahu, ratusan pengkhianat itu harus ditangkap hidup atau mati di manapun mereka berlayar,” teriak raja Siffredi geram.
Karena mereka dan keluarganya turut dibawa berlayar Angkatan Laut, maka Tumenggung Antoni dan Residen Pramono turut menjadi buronan dan dianggap sebagai pengkhianat kerajaan. Sungguh malang sekali nasib mereka.