
“Istriku ramalan itu hari ini mulai terlihat arahnya,” ujar Hakim Agung Suleka yang bernama Giman kepada istrinya yang bernama Waljinah.
“Ada kabar apa dari Balai Pertemuan Istana pagi tadi suamiku, apakah ramalan yang kau maksud berhubungan dengan keyakinan kita,” tanya sang istri.
“Ramalan bahwa Raja kepulauan yang bertahta di pulau yang memiliki banyak gunung dan masih dihuni ribuan harimau diancam para pencerah yang membela penganut Sang Esa tadi telah terjadi. Dalam ramalan disebutkan bahwa akhirnya raja menangkapi orang yang beriman juga tadi telah diumumkan untuk penangkapan seluruh pengikut Sang Esa, penutupan kuil dan penyitaan kekayaan mereka. Maka peran kita dalam ramalan kemunculan para pencerah yang muncul 200 tahun sekali ini adalah menjadi pendukung utama mereka, sang para pencerah yang berasal dari Alamut,” bisik hakim agung dengan lirih kepada istrinya.
“Kalau begitu kebenaran ramalan yang pernah kita dengarkan adalah pasti suamiku, kita harus membalas budi Pendeta Agung Hulagu atas keselamatan nyawaku 2 tahun lalu, jadi apa rencanamu suamiku?” tanya Waljinah.
“Pengikut Sang Esa yang mendeklarasikan diri di kerajaan ini hanya berjumlah 124 orang, sedangkan yang berstatus sembunyi-sembunyi seperti kita berjumlah 41 orang dan 30 orang diantaranya berada di Angkatan Laut, namun angka itu belum termasuk anggota keluarga mereka, maka kita harus kumpulkan 165 orang dan keluarganya itu di Kuil Agung Kota Gunungmacan yang nanti akan kujadikan pusat penahanan sementara penyembah Sang Esa, setelah semua berkumpul nanti kita buat kekacauan dan berlayar ke arah selatan pegunungan. Bukankah dalam ramalan adalah para pencerah akan bangkit dari sebuah benteng di pegunungan yang dihuni harimau, tak salah lagi nanti kita akan mencarinya di hutan terlarang,” jawab Giman.
“Baik suami akan kuusahakan mendapat ratusan senjata, bagianmu adalah mengamankan orang yang menyembunyikan iman, serta mengamankan seluruh nyawa penyembah Sang Esa di pulau ini agar tidak ada yang terbunuh, semoga Sang Esa memberkati dan menyelamatkan kita, tapi mengapa harus berlayar. Apakah kita tidak melakukan semacam perjalanan suci ke gunung-gunung untuk menemukan benteng itu?” tanya Waljinah.
“Istriku, ketahuilah satu-satunya benteng yang ada dan dibangun sejak dahulu kala di wilayah pegunungan adalah Benteng Tanjungpagar yang berada di ujung selatan pulau, benteng itu memang sudah ratusan tahun ditinggalkan, namun tetap saja benteng di hutan terlarang yang penuh harimau itu satu-satunya benteng yang ada di kawasan sekitar pegunungan, bahkan mungkin bisa disebut 1 dari 4 benteng yang ada di pulau ini selain Istana, markas besar angkatan laut dan markas besar angkatan darat yang ada di kota ini, maka hanya ada benteng itu. Sekalian jangan lupa segera kontak Tuan Jumanji untuk menyediakan kapal terbesar untuk pelayaran orang-orang yang menyembunyikan iman, nanti kita buat kedok sebagai pelayaran wisata.” Giman mengarahkan Waljinah.
“Baiklah suamiku agar mempermudah semuanya, akan kukirim merpati pos ke semua kuil di negeri ini tentang kemunculan para pencerah dan agar tidak melawan jika mendapat halangan dan gangguan dari kerajaan, mereka harus bersabar menunggu waktunya tiba,” sebut Waljinah.
“Terima kasih istriku, aku juga akan membuat kebijakan menahan seluruh pengikut Sang Esa di Gunungmacan dan berkoordinasi dengan mereka yang sembunyi-sembunyi utamanya di Angkatan Laut agar kita bisa mendapat kapal tambahan untuk melayarkan orang beriman yang ditawan ke Tanjung Pagar, aku sangat yakin para pencerah yang mengaku dari Alamut sudah berada di wilayah itu hari ini,” tegas hakim agung Giman.
2 tahun yang lalu 85 orang dari Benua Kiri berlayar ke pulau Grand Papalepap, mereka dipimpin Pendeta Agung Hulagu yang diperintahkan gurunya Orang Suci Temujin yang telah mendapat mimpi bahwa para pencerah yang muncul 200 tahun sekali akan muncul di sebuah pulau yang memiliki banyak gunung dan dihuni harimau, pulau itu diperintah raja yang menguasai kepulauan di sekitarnya.
Saat ramalan itu mencapai tiba waktunya maka para pencerah akan diperlakukan tidak baik oleh raja dan membuat kekacauan di kerajaan, seluruh pengikut Sang Esa akan disiksa dan diambil harta bendanya.
Orang Suci Temujin langsung menduga ramalan itu akan terwujud di Pulau Grand Papalepap dalam beberap tahun setelahnya, sehingga dia mengirim 85 muridnya yang dipimipin Pendeta Agung Hulagu untuk menyebarkan keyakinan Sang Esa di Pulau Grand Papalepap yang diyakini sebagai lokasi kemunculan para pencerah.
__ADS_1
2 tahun lalu Waljinah yang tenggelam saat berwisata di Pantai Kota Gunungmacan mendapat pertolongan dari para penganut Sang Esa sehingga nyawanya terselamatkan
Para pencerah yang muncul setiap 200 tahun sekali akan membawa seluruh penduduk yang belum beriman menjadi penyembah Sang Esa dan akan menghadirkan sesuatu yang mengubah tatanan dunia.
Sebelumnya 2 abad yang lalu, para pencerah juga muncul dari sebuah akademi militer di sebuah kerajaan kecil bernama Gula Gula di Benua Kiri, dua orang diantara siswa akademi dari kalangan rakyat jelara mendapat bisikan ilahiah bahwa mereka ditunjuk menjadi pencerah dan bertugas menggulingkan kekuasaan raja kerajaan Gula Gula yang lalim. Raja akhirnya digulingkan para pencerah yang melakukan kudeta dan kemudian memecah kerajaan menjadi dua secara sepihak hingga mencakup wilayah-wilayah di kerajaan lain di benua kiri dan bahkan mereka membagi seluruh wilayah di benua kanan.
Kedua kerajaan itu adalah kerajaan Gula Gula Utara dan kerajaan Gula Gula Selatan yang berhasil membawa mayoritas penduduk dari benua kiri dan benua kanan mengimani Sang Esa dalam kurun waktu 50 tahun pemerintahan saja, kini 2 kerajaan itu masih exist dan berbagi wilayah di dua benua.
Para pencerah terkadang hadir karena bisikan ilahiah, maupun beberapa diketahui dari ramalan mimpi yang diterima orang suci di wilayah terdekat. Kini Hakim Agung Giman bertekad menjadi penyokong utama para pencerah membawa kepulauan Fantastica dalam sinar kasih Sang Esa.
Perintah Hakim Agung Suleka Tuan Giman,
Melaksanakan titah Paduka Yang Mulia Raja Siffredi yang berkuasa atas kerajaan Suleka di Kepulauan Papalepap.
Maka memerintahkan seluruh Residen, pimpinan militer dan kepala penjara di seluruh Pulau Grand Papalepap untuk menangkap secepatnya semua penyembah Sang Esa agar kemudian dilucuti semua harta dan asetnya, ditutup dan disita kuilnya dan ditawan untuk selanjutnya digiring menuju tahanan yang terpusat di bekas Kuil Agung penyembahan Sang Esa di kota Gunungmacan untuk diadili dan dilakukan tindakan pemeriksaan selanjutnya akibat kekacauan keamanan yang mereka timbulkan di Kerajaan Suleka.
Giman, Hakim Agung Suleka.
Giman dengan cepat mengambil langkah mengirim merpati pos ke semua kota di Pulau Grand Papalepap untuk menangkap dan mengumpulkan penyembah Sang Esa di kota Gunungmacan. Raja tidak menyadari siasat licik Giman dan malah memuji langkahnya yang bergerak cepat memerintahkan semua kota untuk meredam situasi dengan menangkapi para penyembah Sang Esa yang bahkan Angkatan Darat dan Angkatan Laut di hari itu belum mulai bergerak.
Keesokan hari tepatnya pada sore hari kabar dibajaknya kapal perang Si Kepiting Galak dan kapal niaga milik residen Sumberurip Lexington beredar dan diperbincangkan rakyat di ibukota. Hakim Agung dan Kepala Pelatihan Angkatan Laut bergegas ke Istana untuk bertemu raja. Sebelumnya di pagi hari Giman si Hakim Agung telah berada di Pulau Keket untuk bertemu Kepala Pelatihan Angkatan Laut.
Pagi Harinya…
__ADS_1
“Keling, apakah kau mendengar ramalan itu telah menemukan jalannya? tanya Giman kepada Laksamana Muda Andi Keling yang memimpin pusat pelatihan Angkatan Laut.
“Iya kurasa kejadian kemarin di istana adalah bagian dari ramalan itu, bagaimanapun kita harus bergerak meski kita tidak pernah menunjukkan keimanan kita, aku telah mendengar gerak cepatmu menangkapi penganut Sang Esa, tolong jelaskan apa maksudmu aku sempat geram mendengar kabar itu, tetapi aku tahu kau menyembunyikan sesuatu,” tanya Andi Keling.
“Dengan mengumpulkan mereka di Kota Gunungmacan maka akan mempermudah gerak kita untuk membawa mereka menemui Para Pencerah, pertanyaanku apakah ramalan ini beredar di kalangan militer maupun kerajaan?” Giman bertanya balik.
“Seluruh penganut Sang Esa tidak boleh menjelaskan cara ibadah maupun ramalan-ramalan dan berita khusus kepada orang yang belum beriman, jadi kurasa seluruh rencanamu aman. Jadi apa rencanamu menemuiku?” tanya sang Laksamana Muda.
“Kau tahu kan ada ratusan penyembah Sang Esa tersebar di seluruh kota di pulau ini, pun masih ada 41 orang yang beriman secara sembunyi-sembunyi belum lagi keluarga mereka. Termasuk engkau dan puluhan prajuritmu, kini saatnya tiba, kita semua akan berlayar di Tanjungpagar, kau harus mengerahkan 3 kapal milik Pusat Pelatihan dengan awak mereka seluruhnya dari penyembah Sang Esa maupun orang yang loyal kepadamu untuk mengangkut semua penyembah dari berbagai kota ke Gunungmacan, selanjutnya kita disana akan membuat kekacauan dan berpura-pura membajak kapal dan kita kemudian berlayar dengan tujuan akhir Tanjungpagar di selatan pulau,” ujar Giman.
“Kenapa harus ke Tanjungpagar Giman,” tanya Andi Keling.
“Tidakkah kau berpikir satu-satunya benteng di kawasan pegunungan adalah di Tanjungpagar? Bahkan itu adalah benteng satu-satunya di pulau selain yang ada di kota ini. Kita harus menemui raja segera sore ini untuk memintanya merestui rencana kita” ujar Giman.
“Lalu bagaimana nasib orang di luar angkatan laut dan keluarganya juga keluarga kita? tanya Andi Keling.
“Apakah kau lupa pemilik kapal terbesar di pulau ini yang pendatang dari Benua Kiri itu? Dia adalah penganut yang bersembunyi seperti halnya kita, nanti pada saatnya seluruh keluarga kita dan yang lain akan kita kirim dengan kapal besarnya yang mampu menampung 200 orang sekaligus dengan alasan pelayaran wisata,” Giman menyeringai.
“Luar biasa matang idemu Giman, mari segera menghadap Raja.” Jawab Andi Keling.
1 tahun lalu Andi Keling masih merupakan komandan kapal perang Geliat Gurita yang mendapat misi pelayaran persahabatan ke Kerajaan Nobuhara di Kepulauan Nogogi. Dalam pelayaran itu Geliat Gurita tenggelam di Samudera Alaves. Beruntung mereka diselamatkan kapal dagang milik Jumanji, seorang pedagang yang memiliki kapal terbesar di Suleka yang tadi disebut.
Kebetulan dalam pelayaran itu terdapat Pendeta Agung Hulagu yang rutin berkunjung ke Benua Kiri setiap hari kelahiran Orang Suci Temujin. 30 orang yang selamat akhirnya tersentuh oleh perbuatan baik yang ditunjukkan Pendeta Agung Hulagu di atas kapal selama pelayaran dan akhirnya turut mengimani Sang Esa sekembalinya mereka di Kerajaan Suleka, kini 30 an orang itu menjadi prajurit hingga pejabat teras di Markas Pelatihan Angkatan Laut di Pulau Keket.
__ADS_1
Menjelang petang Giman dan Andi Keling telah keluar gerbang barat istana dengan tersenyum lebar, mereka berhasil mendesak raja mengutus semua armada Markas Pelatihan Angkatan Laut untuk melakukan pengiriman tawanan ke Kota Gunungmacan dari berbagai kota melalui jalur laut. Hal ini dilakukan untuk menyelesaikan kekacauan dengan cepat.
Mereka menyebut Angkatan Laut sedang memiliki beban berat dalam mencari para pengacau Alamut. Melihat itu Andi Keling berdalih kepada raja jika tugas untuk mengamankan tawanan Sang Esa akan mengganggu kinerja Angkatan Laut sehingga Pusat Pelatihan Angkatan Laut bersedia membantu agar semua masalah dengan Alamut segera teratasi.