Membangun Peradaban Di Planet Primitif

Membangun Peradaban Di Planet Primitif
28. Tenggelamnya Kapal Laksamana


__ADS_3

Hingga menjelang siang hari Hari 6 September 2022 orang-orang di Alamut masih menunggu belasan kapal yang berlayar dari Gunungmacan.


Waktu terus berjalan, kini jarum jam yang tergantung di pintu masuk tenda yang ditempati 10 bersaudara sudah menunjukkan pukul 10.00


Cuaca mendung dan kilatan petir di tengah samudera yang nampak di kejauhan terlihat dari bagian selatan pulau yang membuat orang yang di darat waswas. Begitu pula Zayn dan Udin yang sejak semalaman berada di Rihlah mulai memikirkan hal-hal buruk.


Bagi yang bertanya-tanya mengapa Zayn dan Udin lebih suka menghabiskan waktu di Rihlah saat beristirahat adalah toilet jawabannya. Tidak ada toilet senyaman di Rihlah yang dapat mereka gunakan, hehe..


“Din lihatlah awan hitam dengan petir di tengah Samudera di selatan kita itu, aku jadi berpikir akan keselamatan Johnny yang belum ada kapal hingga beberapa hari. Apalagi menurutku kapal ala Viking yang digunakan masyarakat disini memang cocok untuk manuver diantara pulau-pulau dan berlayar di perairan dangkal, tapi bagaimana jika melaut di samudera lepas yang ganas seperti itu, kurasa agak gak nyaman” Zayn berbicara dengan Udin sambil menyesap teh hangat.


“Itu juga yang kupikirkan Zayn, sampai mengapa aku merancang galangan kecil di samping pintu gerbang Alamut ke arah muara, kita memang butuh kapal yang lebih ocean going dengan teknologi paling sederhana yang bisa diakses masyarakat disini dengan bahan yang mudah. Sebentar.. bentar Zayn, dari pandangan drone di horizon sudah nampak armada belasan kapal menuju kemari, kemungkinan itu armada dari Gunungmacan,” jawab Udin yang mengendalikan drone di samping Zayn yang baru saja duduk di sebelahnya dengan secangkir teh.


“Baik kita akan berlayar sebentar ke muara dan turun ke daratan kita beri instruksi untuk penyambutan mereka. Jarak 12-18 km dari Alamut akan ditempuh armada itu kira-kira dalam waktu 1-2 jam lagi. Mari kita persiapkan penyambutan,” tegas Zayn.


Mereka berdua tidak lama berada di daratan. Di daratan mereka hanya berkomunikasi dengan Rena dan Anna yang akan melakukan pengaturan lebih lanjut kepada yang lain.


Rencananya ada sebagian yang akan berbaris menyambut rombongan dengan berdiri melambaikan tangan di atas Stockholm dan Ragnarok yang berlabuh di bagian barat muara.


Di muara telah berkibar bendera Alamut dan dibawahnya ratusan orang bersiap menyambut kedatangan belasan kapal dengan iringan lagu dan instrumen Bangsaku Alamut Raya (Ceddin Deden versi editan Udin).


Zayn dan Udin tetap memposisikan diri di atas Rihlah untuk mengarahkan rombongan kapal dari Gunungmacan agar bisa memasuki muara.


Setelah memberikan instruksi singkat, Rihlah kembali berlayar ke lautan lepas untuk menyambut armada yang tiba. Ternyata di tengah laut kapal yang berlayar tidak berjumlah 15 kapal seperti yang diceritakan Roni dan Leman, tapi 16 kapal.


Yang paling mencolok adalah 2 buah kapal besar berdesign catamaran yang didayung di dua bagian hull yang menyusun struktur catamaran.


“Zayn, itu kan seperti model Galley dari Yunani kuno kalau gak salah namanya Terrakonteres, ada dua jenis galley seperti itu yang catamaran maupun single hull,” ucap Udin takjub.


“Mungkinkah itu kapal yang disebut punya Jumanji yang mampu menampung 200 orang Din,” Zayn yang melongo berkomentar.

__ADS_1


“99 persen begitu menurutku Zayn. Cuma dalam pengamatanku 2 kapal besar itu panjangnya sekitar 90 meter, draftnya ke bawah permukaan laut bisa-bisa lebih dari 2 meter semoga bisa dilabuhkan di sisi terdalam muara, apalagi dengan lebar atau beamyang mencapai 15 meter itu, sungguh memakan tempat. Kedepan kita benar-benar harus mengkonsep pelabuhan samudra. Dermaga kita saja sekarang hanya mampu menampung kapal dengan draft 3 meteran saja. Sebelum ini kapal paling besar yang ada di sini semacam Ragnarok dan kapal yang dibawa Roni meski panjangnya 39 meter tetap saja draft dari permukaan laut hingga lunasnya saat muatan penuhnya tidak sampai 1 meter karena ukurannya yang ramping. Kedepan kita akan bikin kapal aneh-aneh yang perlu pelabuhan besar. Nanti kita mulai dengan kapal layar tiang tinggi.” Udin berpendapat.


Kapal dalam rombongan Gunungmacan dalam pantauan terdiri dari 2 kapal jenis Terrakonteres, 2 kapal perang ukuran A, 2 kapal perang ukuran B, 6 kapal niaga ukuran B dan 4 kapal niaga ukuran A.


Ukuran panjang kapal-kapal yang ada di Kepulauan Fantastica, khususnya di Kerajaan Suleka secara umum sesuai informasi yang didapat dari Roni bisa digambarkan sebagai berikut:


Kapal penumpang ukuran B tipe Viking Karve: 9 meter (contoh: Valhalla)


Kapal penumpang ukuran A tipe Viking Karve: 14 meter


Kapal perang ukuran B tipe Viking Longship: 27 meter (contoh: Bulu Babu dan Cacing Laut)


Kapal perang ukuran A tipe Viking Longship: 39 meter (contoh: Ragnarok)


Kapal niaga ukuran B tipeViking Knaar: 16 meter (contoh: Stockholm)


Kapal niaga ukuran A tipeViking Knaar: 24 meter.


Rihlah mendekati rombongan kapal dan kemudian dengan isyarat dan peringatan yang disampaikan melalui pengeras suara menyampaikan arahan untuk memasuki muara.


Bagian dalam muara yang sudah berbentuk kerucut sempit akan masuk kapal perang ukuran B yang memiliki draft paling rendah, selanjutnya bagian terdalam dan terlenar muara di tengah-tengah langsung diisi 2 kapal tipe Terrakonteres kemudian di kiri dan kanan terrakonteres akan dimasukkan kapal perang ukuran A dan di samping kiri kanan kapal perang ukuran A akan dimasukkan kapal niaga ukuran B di depan dan ukuran A dibelakang di sisi muara yang lebih dalam.


Kapal niaga yang mampu memuat banyak muatan memiliki draft paling dalam, namun masih dibawah terrakonteres.


“Mohon perhatian, kami dari kapal SS Rihlah milik Imperium Alamut, kami akan memandu masing-masing kapal menuju tempat berlabuhnya. Pertama-tama mohon kapal perang ukuran B mengikuti kami ke bagian dalam muara,” Udin memandu melalui pengeras suara dengan Zayn memandu jalannya kapal ke muara.


Dengan segera senopati Parjo dan Kentung mengarahkan Tinta Cumi dan Cangkang Kelemang masuk kedalam muara.


Kemudian satu persatu kapal memasuki muara setelah 2 Terrakonteres yang diikuti kapal perang ukutan A termasuk kapal yang dinaiki Laksamana Muda Andi Keling kemudian terakhir diikuti kapal niaga ukuran B dan kemudian A.

__ADS_1


Namun nahas terjadi saat sebuah kapal niaga ukuran B yang akan parkir di urutan terakhir agak terseret arus ke sisi timur muara, ketika hendak memasuki pintu muara kapal tersebut kapal niaga ukuran A terakhir yang hendak berlabuh di muara bergesekan dengan sebuah batu karang besar sehingga terjadi kebocoran di bagian bawah lunas depan.


Di atas kapal perangnya Andi Keling shock ketika melihat kapal niaga itu mulai kemasukan air dan sedikit demi sedikit tenggelam.


“Ohhh tidak jangan tenggelam Akal Bulus,… kapalku… huhu,” tangis Andi Keling pecah melihat kapal niaga besar itu mulai tenggelam dimana 20 orang yang menumpanginya menceburkan diri kelaut untuk menyelamatkan diri.


Udin kemudian memutar volume pengeras suara berukuran penuh untuk memberi komando kepada prajurit yang menyambut kedatangan armada Gunungmacan dari atas Stockholm dan Ragnarok untuk segera melepas sauh dan membantu penyelamatan orang dan muatan kapal niaga itu.


“Peran penyelamatan kapal, peran penyelamatan kapal… Dimohon yang pagi ini bertugas di atas di atas Stockholm dan Ragnarok di dermaga untuk bergerak menyelamatkan kapal niaga yang karam di sisi timur ujung muara,” Udin mengulang-ulang komando yang segera disambut awak yang bertugas dengan cekatan.


Rihlah kemudian menyelamatkan 7 orang dari lautan, bersama 2 kapal yang diperintahkan melakukan kegiatan penyelamatan.


Sedangkan 15 kapal dari armada yang baru saja berlabuh di muara tidak diperkenankan melakukan operasi penyelamatan dengan kembali ke pintu muara karena akan membuat penataan kapal menjadi susah lagi.


“Kenapa tuan laksamana begitu sedih, lihatlah seluruh penumpang kapal berhasil diselamatkan,” ujar Hakim Agung Giman menunjuk arah pintu muara di selatan.


“Tahukah anda tuan Giman, 20 tahun yang lalu ketika aku baru lulus dari Pusat Pelatihan Angkatan Laut, tugasku selama dua tahun pertama adalah menjadi prajurit pengawal kapal niaga Akal Bulus yang tenggelam tadi, mungkin sudah takdirnya kapal tua itu tenggelam dengan mudah untuk beristirahat setelah tugas perdagangan yang panjang,” ujar Andi Keling terisak.


“Tunggul Wulung apa muatan yang dibawa Akal Bulus,” tanya Giman kepada pria yang berdiri di sebelah Andi Keling yang masih terisak.


“Jadi kapal niaga besar seperti akal bulus harusnya hanya membawa 6 awak tuan untuk muatan yang maksimal, namun kami membawa 20 orang keseluruhan sehingga mengurangi kapasitas muatan. Muatan Akal Bulus adalah harta benda Gedung Residen utamanya dari jenis arca batu, sedangkan muatan lain dari gedung itu turut dimuat 3 kapal ukuran A yang lain tuan Giman,” Senopati Tunggul Wulung menjelaskan.


“Aaa… Apa arca arca Dewata Agung tenggelam… ohhh Dewata jangan murkai kami yang ditawan manusia-manusia durhaka ini. Lihatlah Dewata tidak sudi melihat kelakuan kalian dan kalian akan segera mendapat azab,” tunjuk Residen Pramono ke orang-orang di sekitarnya.


“Hentikan takhayulmu Pramono, sebentar lagi Alamut di hadapan kita ini akan mendominasi seluruh kepulauan aku yakin itu,” Tumenggung Jayadi menimpali.


Pukul 14.00 semua orang telah diturunkan di Alamut, sedangkan muatan terakhir dari keseluruhan kapal baru selesai diturunkan pukul 17.30


Dalam penurunan orang dan muatan ke tepi muara dari bagian muara yang dalam merupakan peranan Rihlah dan beberapa sekoci kecil sungguh terasa. Karena kapal yang berlabuh disekitar lumpur yang tebal maupun yang berada di tengah muara tidak bisa menurunkan langsung orang dan muatannya.

__ADS_1


Setiap 1 kapal Terrakonteres memiliki 4 sekoci kecil sehingga bersama Rihlah yang berukuran panjang 13,5 meter ada 8 sekoci kecil dengan panjang 8 meter yang dengan lincah dapat meliuk liuk diantara kapal yang berlabuh bertindak menurunkan orang dan muatan dari beberapa kapal yang memerlukan bantuan.


__ADS_2