
Setelah penyambutan Pangeran Juki dari Faranina. Udin mengantar rombongan itu di pondok-pondok kayu yang 2 hari ini dikebut pembuatannya oleh 200 orang. Dalam 2 hari kerja saja sudah selesai dibangun lebih dari 40 pondok kayu baru yang dalam posisi denah pembangunan akan berada di sisi luar benteng utama dan mengelilingi benteng utama.
Tim pembangunan memang diminta menyelesaikan barak prajurit yang dalam sementara waktu menjadi hunian sementara warga. Sebelum kemudian membangun benteng pusat pemerintahan dan selanjutnya pemukiman masyarakat.
Juki kemudian bernegosiasi kepada Udin untuk bisa segera menambang emas yang dijanjikan.
“Tuan Udin, seluruh warga disini telah mendapat tugas kerja membangun Alamut. Budak dan prajurit yang datang dari Faranina ini sudah gatal untuk bekerja. Kami siap menambang bukit yang anda tunjukkan dari mata drone tadi,” nego Juki.
“Sedari kedatangan anda, sebetulnya saya sudah memikirkan hal itu. Namun sementara ini keputusan Alamut hanya bisa di finalisasi oleh Padishah. Beristirahatlah saja sore ini pangeran, besok kau akan mendapatkan kabar dan keputusan Padishah,” ujar Udin yang kemudian berpamitan meninggalkan Juki.
Juki dan 51 pengiringnya ditempatkan pada 4 pondok. Johnny bersama 7 mantan Prajurit Samiam tinggal di 1 pondok di sebelah pondok oanng-orang Faranina. Sedangkan 50 orang budak yang dibawa diikat di rimbunan cemara laut yang tersisa di samping muara.
Sekembalinya ke atas Rihlah Udin segera berdiskusi dengan Zayn.
“Zayn, apa rencana untuk orang-orang Faranina itu menurutmu, bisakah kita meminta mereka menambang emas” tanya Udin.
“Jadi begini Din, apa benar di bukit itu ada emas, kita belum pernah mensurveynya loh.. sebetulnya ini yang kutakutkan dari kebiasaan asal nyablakmu,” ujar Zayn khawatir.
“Kemungkinan besarnya begitu, jika melihat ada endapan butiran emas di lumpur muara. Maka kalau tidak dari longsoran tebing bukit di tepi sungai 15an km di utara kita ya berarti keluar bersama mata air di kaki gunung berapi tiga puluhan km di utara,” Udin menjawab.
"Lalu kalau gak ketemu gimana, mulutmu harimaumu loh Din, ujar Zayn.
"Percayalah padaku Zayn, jika ternyata gak ketemu di bukit yakinlah aku bisa membuat mereka percaya emas benar-benar ada di tempat lain, sekarang daripada kamu pusing hal yang gak perlu dipikir mari kita diskusikan pembagian emasnya saja. Masalah menemukan tambang serahkan padaku," ujar Udin percaya diri.
“Duh.. ente kadang-kadang, jadi apapun dimanapun itu memang pertama kita harus memastikan bagaimana proporsi konsesi. Menurutku pakai standard Indonesia saja lah ya…,” kata Zayn.
“Jadi entitas asing dalam hal ini maksimal memiliki saham 49 persen, 51 persennya harus merupakan entitas di Alamut. 51 persen ini bisa kita bagi dengan proporsi, unit kerja Faranina di Alamut 17 persen, Johnny 17 persen dan kita 17 persen. Itu setelah pajak dan bagi hasil” tambah Zayn.
“Jangan protes dulu jika Johnny mendapat bagian besar, biarkan dulu. Dia masih memiliki hutang 995.000 koin emas ke kita nanti kita ambil dulu dari hasil tambang jatahnya di awal. Kemudian sebelum pembagian dividen dan setelah dipotong pajak. Pemerintah Alamut masih memiliki hak 10 persen atas sisa hasil tambang setelah pajak dimana 1 persen untuk kesejahteraan pemerintah setempat di lokasi tambang, 2,5 persen untuk kota-kota lain, 2,5 persen untuk pemerintah provinsi dalam hal ini masyarakat kita di luar benteng inti dan 4 persen untuk pemerintah pusat yang nanti aka nada di dalam benteng inti. Jadi nanti pemerintahan akan mengutip pajak 25 persen hasil bersih tambang. Setelah kena pajak kita mendapat 10 persen untuk bagi hasil pemerintahan. Lalu setelahnya kita mendapat dividen 17 persen sebagai jatah saham pemerintah pusat. Jadi misal dalam sebulan kita menambang 1 ton emas sudah dikurangi ongkos kerja maka, kita mendapat pajak 250 kg, kemudian bagi hasil total untuk didistribusikan adalah 10 persen dari sisa 750 kg atau artinya 75 kg, sisa 675 kg dan dividen kita 17 persen adalah sekitar 114 kg lebih. Dengan pajak dan bagi hasil sudah hampir 50 persen kan nilainya.” Jawab Zayn.
__ADS_1
“Padishah ku ini memang cerdas, besok kita harus paksakan kesepakatan ini dengan Juki dan Johnny agar berhasil. Ngomong-ngomong bagaimana dengan hak pekerja? Mereka juga pasti dapat gaji kan,” tanya Udin.
“Gaji dan operasional tidak masuk perhitungan pajak dan sebelum pembagian setelah hasil tambang dipotong pajak. Kita akan gaji setiap pekerja level paling bawah dengan 3 koin emas setiap 2 purnama atau per bulan. Menurutku kita harus segera membuat kalender Alamut pada tahun baru nanti biar mudah. Lalu pekerja level menengah kita gaji 4 koin emas pada waktu yang sama dan pekerja level atas 5 koin emas, pimpinan, konsultan dan komisaris mendapat 6 koin emas. Kecil bagi para pejabat itu yang biasanya mudah sekali mendapat ribuan keping per bulan dari memanfaatkan posisinya, tapi nilai ini sudah sesuai dengan kehidupan rakyat jelata disini. Pembayaran diluar tunjangan makan yang nanti akan disediakan perusahaan melalui jasa yang dibayar kepada kita pemerintah atau swasta penyedia. Untuk konsultan dan komisaris mendapat tunjangan makan seharga 2 kali masyarakat atau 180 koin tembaga per bulan, senilai 1,8 koin emas,” jawab Zayn.
“Jadi kita akan menunjukkan ke Rakyat disparitas pendapatan kita tidak mencolok timpang seperti kerajaan, pejabat dan rakyatnya di Suleka. para konsultan nanti akan diisi kita berdua, dan komisaris bisa Johnny dan Juki. Para pekerja dan pimpinan terserah kata Juki yang menjadi investor” jawab Zayn.
“Lantas bagaimana para budak?” tanya Udin.
“Budak tidak digaji tunai dan hanya mendapat tunjangan makan hingga mereka mampu membayar kebebasan mereka. Gaji budak sama dengan orang merdeka dan disimpan untuk menebus kebebasannya. Untuk makan mereka mendapat tunjangan yang sama. Para budak akan bebas setelah membayar kebebasan seharga 1000 koin emas atau 25 tahun lebih bekerja, menurutku itu cukup adil. Bisa jadi mereka akan merdeka lebih cepat jika ada kemurahan Negara dan bonus dari perusahaan untuk menambah deposit tebusan mereka.” Tegas Zayn.
“Menarik besok pagi kita akan temui mereka membahas ini. Lantas bagaimana dengan harimau dan siapa diantara kita berdua yang akan mengawal pertambangan? Tanya Udin.
“Aku atur ibukota. Kamu, Johnny dan Juki beserta prajurit dan budaknya akan berangkat ke tambang membawa sebagian senjata kita. Juki membawa banyak merpati pos yang bisa kita gunakan untuk komunikasi. Seandainya tekonologi metalurgi bisa kita kembangkan, nanti kita bisa mendirikan beberapa tower pemancar untuk komunikasi smartphone di planet ini yang jumlahnya Cuma 2 biji. Dona, Doni, Anggi, Roni, Leman dan Tunggul Wulung akan kuminta mengawal perjalananmu berangkat dan mungkin kembali bersama beberapa pembesar. Dona dan Doni akan membawa pistol, kamu dan Anggi akan membawa AR 15 untuk pengamanan,” jawab Zayn.
“Baiklah kita lalui malam untuk tidur, usai ibadah pagi kita temui Juki and Friends. Sementara aku pergi menambang, Rihlah dan Alamut menjadi tanggung jawab mu sendirian dengan 2 shotgun dan 2 RPG. Selamat malam jangan lupa berdoa untuk mimpi yang indah,” ujar Udin.
Beberapa saat usai terbitnya matahari keesokan harinya.
“Baik, aku sepakat dengan cara kerja dan pembagian keuntungan. Perusahaanku disini akan dipimpin oleh Kipli, untuk kepala operasional akan dipimpin Tono dan beberapa orang dari kalangan prajurit yang memiliki kapasitas. Saham yang dimiliki entitas ku di Alamut kurasa akan berfaedah jika digunakan untuk pembiayaan perang penaklukkan Ferris Indah yang nanti disupplay persenjataan dan lainnya dari uang itu. Lantas tunggu apa lagi, bukankah kalian tadi bilang jarak menuju bukit sekitar 12 dupa perjalanan jalan kaki, mari kita mulai perjalanan kita,” ujar Juki bersemangat.
“Baiklah aku akan ke Rihlah dulu untuk mengambil beberapa hal penting,” ujar Udin yang kemudian berjalan menuju Rihlah ditemani Zayn.
“Apa saja hal penting yang akan kau bawa selain senjata Din,” tanya Zayn kepada Udin sesampainya di Rihlah saat membantunya bersiap.
“Senter, korek api, wok untuk mendulang emas, senjata, dan terpenting magnet yang kusimpan, hehe. Kita perlu memisahkan emas dari logam pengotor dengan magnet. Habis ini aku juga akan mengambil smartphone dari Rena untuk mendokumentasikan beberapa hal yang nanti ditemui,” jawab Udin.
“Yahh wok nya di bawa, gimana bisa aku bikin nasi goreng dan masak-masak besar nanti, terserah kau ajalah,” ujar Zayn.
Setelah selesai bersiap, 107 orang berangkat ke bukit yang kemudian diberi nama asal oleh Zayn sebagai bukit Timbuktu untuk menambang emas meninggalkan pemukiman di Alamut yang dalam beberapa waktu lamanya.
__ADS_1
Perjalanan benar-benar menghabiskan waktu 12 dupa atau 4 jam jalan kaki. Di kaki bukit diputuskan orang-orang akan menggelar tenda, sedangkan beberapa orang termasuk Udin memeriksa sisa muatan longsoran bukit di tepi sungai.
Udin mendulang material sisa longsoran bukit di tepi sungai pada aliran Sungai Tabuan Lasi dan terbukti bukit itu memiliki kandungan emas.
“Luar biasa tuan, bahkan dari 1 dulangan saja mendapat butiran emas sebanyak itu,” ujar Juki yang beberapa kali melihat proses penambangan emas di negerinya.
“Lalu bagaimana cara kita menghabiskan emas yang ada di bukit sebesar ini menurut anda,” tanya Juki.
“Pertama kita akan membuat kanal aliran ke sisi barat bukit yang untuk mempercepat aliran akan kita buatkan kincir air dari kayu yang dapat kalian buat dengan menggunakan petunjuk yang telah ke tulis, setelah melewati area dulangan nanti kita saring lagi di ujung agar maksiml. Kanal ini selain menjadi sumber air minum kita, juga sebagai sarana untuk mendulang emas. Aliran sungai di selatan kita juga agak menyerong ke barat, nah dari sudetan kanal, kita akan mengembalikan aliran ke alur utama sungai,” jawab Udin.
“Anda belum menjelaskan cara kerjanya Wazir Akbar,” Johnny giliran bertanya.
“Jadi kita akan membuat jadwal piket bekerja menambang 5 kali sepekan, bekerja hal lain utamanya perbaikan dan pembangunan 1 kali sepekan dan libur 1 kali sepekan. Untuk menghindari korupsi, pemukiman akan dibuat agak jauh dari lokasi pekerjaan. Setiap pekerja masuk dan keluar di cek fisiknya. Di hari libur mereka boleh mendulang mandiri di sungai namun dengan hasil wajib dilaporkan dan diserahkan kepada perusahaan untuk dicatat sebagai harta yang dimiliki. Tidak boleh orang membawa emas dengan bebas keluar bukit Timbuktu,” jawab Udin.
“Rincian pekerja 5/7 orang akan bekerja setiap harinya khusus menambang selain mandor, pimpinan dan konsultan yang tidak memiliki hari libur khusus dan bekerja cenderung administrative dan manajerial ketimbang teknis. Artinya ada 65 orang bekerja setiap hari, 13 orang mengerjakan hal lain dan 13 orang libur, 16 orang termasuk pengawal yang ku bawa dan kedua Pangeran disini beserta para pemimpin dan mandor tidak memiliki jam kerja khusus seperti 91 yang lain.” Udin menambahkan.
“Rincian kerjanya 13 orang bekerja membongkar bukit dari barat ke timur dimulai dari puncak, 13 orang lain membawa material bukit ke lokasi pendulangan, 13 orang akan bekerja mendulang emas di kanal, 13 orang akan bekerja mengolah emas, 13 orang yang lain menjadi pengaman lokasi sekaligus tim penolong jika ada sesuatu yang perlu dibantu,” jelas Udin.
“Target produksi melihat potensi emas disini, maka ku targetkan kita akan mendapatkan ukuran yang bisa membuat 112.000 keping emas dalam sehari. Dalam setahun kita sudah memperoleh emas senilai 41 kali kekayaan yang diklaim Johhny saat ini, dan mungkin bukit ini dengan tenaga sebanyak ini tak akan habis ditambang hingga masing-masing kita meninggal nanti jika menggunakan tenaga sebanyak ini saja. Berapa lama John kamu mengumpulkan emas sebanyak itu?” tanya Udin.
“Aku tak menyangka sebanyak itu yang bisa kita dapat setahun. Kekayaanku berasal dari modal yang diberikan ayah sebanyak 500.000 keping di usia ku yang ke 15 dan aku menggandakannya 2 kali lipat dalam 8 tahun. Artinya tiap tahun selama 8 tahun kekayaanku bertambah 67.500 keping dari perdagangan komoditas dan budak. Mendengar hasil tambang dari Tuan membuatku semakin yakin akan kejayaan Alamut," jawab Johnny.
“Cara kerja yang efektif, ayo tunggu apa lagi mari membuat kanal dan membuat alat untuk menyaring sisa air yang melewati dulangan,” kata Juki.
Seharian ini para pekerja diputuskan untuk segera mengerjakan kanal dan membuat kincir angin. Dalam pekerjaan ini Udin juga membawa gergaji mesin untuk menebang pohon lebih cepat. Para penambang batu di bukit yang dipimpin Andi Keling hanya bisa gigit jari gergajinya diambil Udin.
“Tuan lihatlah contoh tanah pada galian kanal yang hamba bawa, ini mengandung emas,” ujar Kipli membuat semua orang takjub termasuk Udin yang hanya menyembunyikan ekspresinya.
“Tetap kita akan menambang dengan istilah yang ku sebut open pit dari puncak, meskipun di area ini hingga kedalaman tanah masih mengandung emas. Makanya mengapa ku bilang sampai kita meninggal pun emas di Timbuktu ini tidak akan habis. Setelah air mengalir maka semua pekerja selain yang mendapat undian libur dan undian pekerjaan lain besok kita fokuskan untuk mendulang tanah galian dari kanal dulu,” ujar Udin dengan muka tenang.
__ADS_1
“Haum,” suara auman bersahut-sahutan dari arah barat bukit. “Tuan para budak yang beristirahat di tenda diserang harimau,” ujar Senopati Tono.