Membangun Peradaban Di Planet Primitif

Membangun Peradaban Di Planet Primitif
14. Hanya Lihat ke Depan


__ADS_3

Mentari mulai malu-malu terbit di ufuk timur Samudera Alaves yang diselimuti awan tipis pagi 21 Agustus 2022. Hari ke 4 untuk dua pria antarbangsa yang terdampar di suatu planet di Galaksi Ursa Mayor dengan perahu penuh teknologi.


Udin dan Zayn telah selesai mandi dan terlihat oleh mereka aktivitas para gadis di Valhalla yang bersandar di utara mereka nampak sudah mulai menuruni kapal. Mau tak mau mereka berdua yang sedang mager di atas Rihlah bersiap turut menyusul ke daratan.


Pagi itu Udin sedang bermalas-malasan dengan memainkan Football Manager Handheld di smartphone yang ia bawa. Teknologi energi yang luar biasa di Rihlah membuatnya tak pernah khawatir kehabisan daya untuk gadgetnya, yang ia takutkan hanya fatigue material yang sewaktu-waktu pasti akan muncul dan membuat teknologi mereka satu persatu akan rusak tak terkecuali smartphone yang selalu menghibur dirinya, sedangkan Zayn sepagian menatap monitor layar utama Rihlah sambil menangis melihat video memori kebersaamaan dengan keluarga di kampung halamannya yang ia simpan dan puluhan potret kota tua era romawi dan pemukiman yang mereka huni di Palmyra yang mungkin kini sudah rata dengan tanah.


Zayn yang sudah melompat ke perairan dangkal menoleh ke belakang dimana Zayn menyusul dengan menenteng gitar menuruni Rihlah. “Untuk apa kau membawa gitar Din?” tanya Zayn.


“Kurasa mereka pasti akan bertanya-tanya dengan keributan BTS semalam dan ini adalah salah satu cara menjawabnya,” jawab Udin sambil tersenyum dengan mimik yang tak dapat diartikan Zayn yang melihatnya sambil mengernyitkan muka.


Mereka berdua berjalan dari perairan menuju pasir pantai muara yang berwarna kecoklatan bercampur dengan lumpur sedimen dari Sungai Tabuan Lasi, beberapa meter kemudian mereka mulai menapaki daratan menuju reruntuhan benteng. Pria dan wanita terlihat mulai menyantap makanan mereka yang sebelumnya mereka persiapkan sendiri seperti yang mereka instruksikan kemarin sebelum kembali ke Rihlah. Udin dan Zayn sendiri sudah sarapan dengan memasak mie instan di atas Rihlah.


“Sudah selesai makan semuanya?” tanya Udin yang menenteng gitar, sesuatu hal aneh yang terlihat bagi mereka.


“Sudah tuan-tuan, itu barang apa yang tuan Udin bawa? Apakah itu sejenis senjata?” tanya Johnny.


“Ahh bukan lah ini semacam alat musik petik biasa, namanya gitar,” jawab Udin.


“Jadi apakah alat ini yang mengeluarkan suara merdu semalam mengiringi suara indah tuan berdua?” tanya Johnny. “Tentu bukanlah jawab Udin, semalam itu alat musiknya banyak dan kompleks dan itu hanya rekaman dari alat musik yang dimainkan beberapa tahun silam oleh BTS, grup seniman musik terkemuka dari Korea Selatan, salah satu negeri nun jauh disana,” jawab Udin agak asal.


“Wah tak bisa kami bayangkan seberapa maju dan menyenangkannya negeri tuan-tuan, melihat dan mendengarnya saja aku yang berstatus seorang Pangeran dan Menteri Luar Negeri ini malah terasa seperti orang udik,” jawab Johhny.


“Ahh, jangan terlalu merendah John, jawab Udin, aku akan menyanyikan lagu dengan alat musik ini supaya hari kita lebih berwarna dan termotivasi, lagu ini berjudul Hanya Lihat ke Depan karya seniman asal negeri Jepang Yasushi Akimoto yang dia buat untuk dinyanyikan untuk beberapa grup penyanyi di seluruh benua Asia nun jauh disana.


Dengarkan ya lagu ini kunyanyikan dengan bahasa kalian agar mudah dimengerti!”


Intro: F G C


C G


Hanya lihat ke depan


F C


Karena jika menoleh


F Am Dm G


Air mata ini akan terlihat


Am G


Memandang jauh ke depan


F C


Dan membulatkan tekad


F Am G


Ayo melangkah ke sana...!


C G F G C G F G C


Oy! oy! oy! oy! oy! oy! yeahhh


C G


Bertemu dengan mu


F G


Dan selalu bersama


C G


Masa remaja kita


F G C


Yang penuh kenakalan


C G


Kita tahu bahwa


F G


Hal yang teramat penting


C G


'tuk kehidupan ini


F G C


Berada di masa depan


Am F G C


Walaupun sekarang menyenangkan


Am F G C


Tapi.. takkan berlanjut selamanya


G

__ADS_1


Dan t'rus lah kuat...!


C G


Hanya lihat ke depan


F C


'tuk terakhir kalinya


F Am Dm G


Biarkan ku tampil dengan keren


Am G


Walau aku masih takut


F C


Pada tempat yang baru


F Am G


Tidak ada kata mundur


F C F C


Jika berpaling ke jalan di belakang


F Am G


Hanya ada angin yang bertiup


C G Am G


WOW (WOW) WOW (WOW)


C G F G C


WOW (WOW) YES! WOW...


C G F G C G F G C


C G


Waktu ku jatuh cinta


F G


Kemudian patah hati


C G


F G C


Berdiri di ayunan


C G


Kata-kata yang kotor


F G


Semua ku teriakan


C G


Di saat itu pun kamu


F G C


Tetap menemani aku


Am F G C


Walau seberat apa pun


Am F G C


Kesini akan berlanjut selamanya


G


Ayo hadapilah...!


C G


Hanya lihat ke depan


F C


Saatnya berpisah


F Am Dm G


Percayalah pada hari esok

__ADS_1


Am G


Walaupun tiada dirimu


F C


Walaupun tiada aku


F Am G


Tetap bisa hidup sendiri


F C F C


Walau berjalan di jalur berbeda


F Am G


Langit yang luas menghubungkan kita


C G Am G


WOW (WOW) WOW (WOW)


C G F G C


WOW (WOW) YES! WOW...


C G


Saatnya 'tuk berangkat


F C


Ayo buanglah semua kenangan aaa~


[Solo]


C G F C


C G


Hanya lihat ke depan


F C


'tuk terakhir kalinya


F Am Dm G


Biarkan ku tampil dengan keren


Am G


Walau aku masih takut


F C


Pada tempat yang baru


F Am G


Tidak ada kata mundur


F C F C


Jika berpaling ke jalan di belakang


F Am G


Hanya ada angin yang bertiup


C G Am G


WOW (WOW) WOW (WOW)


C G Am G


WOW (WOW) WOW (WOW)


C G Am G


WOW (WOW) WOW (WOW)


C G F G C


WOW (WOW) YES! WOW...


Oy! oy! oy! oy! oy! oy!


C G Am G


C G F G C


“Prok prok prok” tepuk tangan dilakukan semua orang yang terharu dengan lagu yang dinyanyikan Udin, tapi tidak dengan Zayn yang menanggapi datar. “cihh dasar Wota,” Zayn berdesis.


“Aku sangat tersentuh tuan dengan lagu yang tuan Udin nyanyikan, meski aku tak terlalu mengerti maknanya, namun lagu ini penuh karakter, lagu ini kurasa mengajak kita senantiasa bersatu bersama untuk memikirkan masa depan daripada memikirkan apa yang sudah terjadi masa lalu dan masa kini, alat musik yang tuan mainkan juga luar biasa, di kerajaan kami alat musik hanya berbentuk tabuhan dan ini sesuatu yang benar-benar memanjakan telinga, kini diriku makin tidak menyesal menjadi budak tuan Udin,” Rena yang terharu mengomentari penampilan Udin yang mendengarkannya sambil menggaruk-garuk bagian kepalanya yang sebetulnya tidaklah gatal.

__ADS_1


“Komentar Rena tepat sekali tuan Udin, ngomong-ngomong dia adalah penyanyi berbakat, seandainya ayahnya tidak membuat masalah pasti dia telah menjadi penyanyi kerajaan,” jawab Johnny yang kemudian membuat Rena dan beberapa saudaranya tertunduk dan mengalirkan air mata mengingat kemalangan menimpa mereka.


“Sudahlah Johnny jangan berbicara yang membuat orang sedih, seperti lagu yang dinyanyikan Udin sekarang saatnya membicarakan masa depan,” Zayn menyela untuk menenangkan situasi.


__ADS_2