
“Dari mata drone, posisi kita sekarang di atas orang-orang Tuan Jumanji yang akan membuat tungku yang tadi ditanyakan Tunggul Wulung. Dengan tungku kita akan membuat besi dari apa yang kau sebut pasir hitam. Lalu di lobang-lobang itu sebetulnya orang-orang kita akan membuat garam, tapi sayang sekali jika pasir hitam itu tidak dimanfaatkan, maka kita keruk habis dulu pasir hitam dari titik-titik kolam garam kita, jangan bertanya ya nanti saja. Sekarang kita terbang menyeberangi muara dan berada di atas kapal-kapal. Di tengah itu ada 2 kapal terbesar milik tuan Jumanji. Diujung utara yang terlihat dari mata drone ini nampak sebuah bukit yang ada sisinya di samping sungai Tabuan Lasi pernah longsor. Titik itu adalah alasan Pangeran Juki kemari, aku mohon untuk tidak ada yang memberi tanggapan dulu. Sekarang kita di atas para pengrajin membuat perkakas kuningan. Kemudian geser ke selatan sedikit, lihatlah dermaga sederhana yang telah kami bangun. Kita geser lagi ke orang-orang yang sedang membangun pondok-pondok dibawah hakim agung Giman.” Udin kemudian menyalakan mikrofon.
“Bertha, Indra, Gunadi dan Hakim Giman lambaikan tangan kalian ke atas sini,” teriak Udin.
Mereka berempat kecuali Giman yang pernah melihat hal ini di istana heran atas benda terbang yang mengeluarkan suara Wazir Akbar namun tetap kompak melambaikan tangan.
“Nah kita ke utara untuk melihat orang-orang membuka lahan pertanian. Lalu kita akan ke bukit melihat orang menambang batu untuk membuat benteng. Benteng yang lama telah kami hancurkan dan batuannya kami jadikan dermaga. Ok pertunjukan selesai dan aku akan mengarahkan kembali drone ke atas untuk selanjutnya membuatkan santap sore untuk kalian semua. Kalian bisa keluar untuk melihat bagaimana drone yang kukendalikan dari sini terbang dan mendarat kembali ke Rihlah di atas geladak,” jelas Udin yang disambut antusiasme orang-orang keluar kapal.
“Dari sekian kejutan ajaib yang kau lihat Juki sebutkan kepada tuan Zayn disini akan berapa lama kau tinggal,” tanya Johnny ke sahabatnya itu.
“Padishah Zayn, hamba dan pengiring mohon izin 2 purnama bertamu di Alamut. Raja Faranina mengizinkan hamba keluar negeri selama 4 purnama,” jelas Juki yang dijawab Zayn dengan anggukan kepala.
Tak lama drone kembali dan Zayn membawanya masuk ke dalam. Lalu semua orang kecuali Udin yang memasak mengobrol tentang banyak hal di sofa atas sebelum 20 menit kemudian Udin berteriak dari dalan kabin, “Santap sore siap, siapa yang akan membantuku membawanya,” yang segera disambut Tunggul Wulung dan Tono untuk membantu.
Tunggul Wulung dan Tono beberapa saat kemudian naik ke atas geladak membawa nampan lengkap dengan makanan, alat makan dari piring keramik, garpu dan sendok di susul Udin yang membawa sebotol minuman bersoda ukuran 2 liter dan setoples kerupuk.
Udin memasakkan menu Mie Goreng Sosis dan Kerupuk Udang yang simpel dan mudah di masak. Ini adalah ketiga kalinya Udin memasakkan Mie Goreng di planet ini, pertama beberapa hari setelah bertemu Johnny, kedua ketika berlayar bersama para wanita menjalankan misi ke ibukota dan ketiga saat ini.
“Mana nasinya tuan?” tanya Pangeran Juki. “Makanan ini penuh karbohidrat Pangeran, intinya mengandung zat yang sama seperti nasi. Anda pasti kenyang,” jawab Udin.
“Tanpa nasi mana kenyang, tapi makanan aneh ini sungguh menggoda, aromanya saja sungguh menggugah. Apa nama makanan ini,” Juki bertanya.
__ADS_1
“Ini mie goreng dan yang lonjong ini adalah sosis, di dalam wadah transparan itu kerupuk” Johnny membantu jawab.
Zayn menyodorkan Smartphone ke Udin sambil sedikit mendengus.
“Duh mengapa kau ajak mereka makan di Rihlah, 3 kali makan mie goreng di planet ini kamu menghabiskan 1 kardus Indomie, jangan pernah ajak orang makan dengan logistik Rihlah lagi ya,” Udin hanya garuk-garuk kepalanya yang tak gatal ketika membaca text di smartphone Zayn.
“Silakan disantap,” ujar Zayn “Jika porsinya masih kurang, nanti kita akan melanjutkan makan malam dengan menu dapur umum,” tambahnya.
Suguhan makan di atas Rihlah sungguh memberi kesan mendalam tentang kejutan rasa yang dialami lidah orang-orang yang berkunjung di atas Rihlah.
“Cukup mengenyangkan, tapi jujur saja aku masih kurang dan ingin menambah makanan yang lezat ini. Apakah dapur umum Alamut menyajikan mie goreng?” Juki bertanya.
“Mohon maaf menu makanan di dapur umum sama seperti makanan-makanan yang anda santap di kepulauan pangeran, sayang sekali jumlah makanan dari negeri kami terbatas, karena kami hanya berlayar ke negeri yang jauh dengan kapal kecil,” Udin menjelaskan.
“Tentu saja aku akan mengajarkannya bagi semua orang di Alamut. Hanya saja banyak sekali bahan baku untuk membuat makanan seperti negeri kami yang tidak tumbuh di kepulauan ini. Contohnya pada mie goreng yang kalian santap, bahan utamanya gandum yang di kepulauan ini tidak tumbuh. Selain itu masih banyak bahan baku pendukung yang juga tidak tumbuh di kepulauan. Maka mari bersatu padu wujudkan cita-cita Alamut dan melakukan pelayaran untuk berpetualang ke Negeri yang jauh dan mendapatkan banyak hal baru diluar sana untuk membangun peradaban,” ujar Udin.
Kemudian Zayn turut berbicara dengan orang-orang di atas geladak Rihlah, “Ngomong-ngomong kami di Alamut sudah menunjukkan kapal kebanggaan kami dan apa saja yang kami bangun melalui mata drone yang terbang di udara, jadi Johnny apa yang kau dan pangeran bawa dari Faranina.”
“Din kamu belum membagikan sodanya segeralah dibagi kita semua sudah selesai makan biarkan Johnny berbicara sambil kita semua menikmati soda,” tukas Zayn yang kemudian ditanggapi Udin dengan membagikan soda dalam 9 gelas plastik dan membagikannya.
“Jadi kami datang dari Faranina dengan Valhalla dan 2 kapal tambahan. Kapal perang besar punya putera mahkota dan kapal niaga itu dihibahkan sebagai hadiah kepada Alamut dari Juki untuk mengangkut belanjaan kita dari uang yang hamba punya dan tuan berikan. Selain itu Juki memberi hadiah untuk memenuhi muatan Valhalla dan kapal niaga yang diberikan kepada kita lengkap kapal dan muatannya, tak hanya itu dia juga memberikan kita 50 budak yang dihadiahkan untuk membantu pembangunan Alamut,” ujar Johnny.
__ADS_1
“Gheeek,” sendawa Juki usai meminum seteguk soda memotong ucapan Johnny.
Sebetulnya orang-orang lain disini menahan sensasi aneh dari minuman soda di mulut mereka namun tidak berani untuk kelepasan sendawa seperti Putra Mahkota Faranina itu.
“Lanjutkan saja John, maaf mengganggu. Sensasi minuman asing yang lezat dan disebut soda ini membuatku tidak tahan untuk sendawa,” ucap Juki.
“Aku lanjutkan ya, Jadi pangeran juga membawa 51 orang prajurit untuk mengawal kita berlayar ke Alamut dan nanti akan pulang ke Faranina bersama dengan kapal perang,” lanjut Johnny.
“Terima kasih atas nama Alamut kami ucapkan kepada rakyat dan keluarga raja bangsa Faranina dan putera mahkota Pangeran Juki atas hadiah yang diberikan kepada kami. Selanjutnya bagaimana kalau kita berlayar ke muara dan membiarkan sekoci menjemput kita untuk turun ke daratan,” Zayn mengkode untuk semua menuju daratan yang disetujui mereka semua.
“Panggilan kepada Anna dan Rena (3x),” diminta kalian segera ke titik kedatangan tamu di muara kumpulkan bersamamu orang yang lagi tidak pada posisi bekerja, beserta budak dan prajurit yang baru tiba dari Faranina. Mari menyambut Putera Mahkota Faranina dengan upacara penyambutan. Rena, putar lagu Bangsaku Alamut Raya di Smartphoneku dan hubungkan dengan pengeras suara yang kami siapkan di daratan. Kami akan segera ke darat dengan sekoci,” Udin memberi perintah.
“Tuan Udin, rupanya kini anda bermesraan dengan Rena, batu komunikasi anda sampai dibawakan kepada gadis itu,” sindir Johnny ketika berpindah ke sekoci.
“Ah gak ada apa-apa John, alat itu kupinjamkan kepada Rena untuk beberapa urusan jika aku tidak ada di darat,” ujar Udin yang tak mampu menyembunyikan ekspresi bila ia memiliki rasa terhadap Rena.
“Apa yang dilakukan Rena dengan Smartphone mu sehari-hari Din?” tanya Zayn.
“Dia suka selfie-selfie dan memberi editan aneh fotonya dengan filter-filter dan emoticon, terkadang dia merekam aktivitas masyarakat dan memutar beberapa lagu yang kadang ia tanya arti dari lagu itu apa. Cuma gitu aja sih,” jawab Udin.
9 orang telah berada di sekoci menuju daratan. Ketika area kedatangan terlihat, Rena segera memutar lagu Bangsaku Alamut Raya (Ceddin Deden) dengan volume penuh yang menggelegar dan meresap ke sanubari orang-orang yang mendengarnya.
__ADS_1
Hentakan suara penuh semangat berpadu dengan instrument Mehter (unit musik militer Ottoman) yang diputar dengan volume penuh membuat warga Alamut yakin akan kebesaran bangsa baru mereka dan juga meyakinkan Juki tidak salah dirinya memberi hadiah dan memiliki niat untuk bekerja sama dengan bangsa baru ini.