Membangun Peradaban Di Planet Primitif

Membangun Peradaban Di Planet Primitif
22. Serah Terima


__ADS_3

Sementara itu di Alamut


Pukul 08.00 hari Sabtu, 27 Agustus 2022, 8 orang yang terborgol kakinya melingkar di pohon cemara laut tersadar dari tidurnya. Mereka adalah 5 prajurit yang malam itu piket jaga di atas kapal Si Kepiting Galak, sedangkan 3 yang lain adalah awak kapal niaga Residen Lexington.


“Dimana ini, tolong... tolong… bebaskan kami,” teriakan 8 orang yang akhirnya membuat semua penghuni Alamut yang juga beristirahat setelah letih semalam juga terbangun.


“Din, nampaknya orang-orang yang kau bawa semalam sudah terbangun, mau diapakan mereka?” tanya Zayn kepada Udin yang juga baru membuka mata di sebelahnya.


“Tawarkan menyerah dan mengabdi kepada Alamut atau memilih jadi tawanan perang, sisanya tolong kau urus, aku sungguh masih mengantuk Zayn tolong biarkan aku melanjutkan tidur,” Udin memohon.


Zayn mengajak Anna, Rani dan Gina menghampiri 8 orang yang tak hentinya berteriak setelah terbangun.


“Selamat pagi bapak-bapak ada yang bisa kami bantu?” tanya Zayn kepada 8 orang yang masih kebingungan.


“Tuan, nyonya tolong kami, semalam kami diserang di pelabuhan dan dibuat tidak sadar, tiba-tiba kami terbangun di tengah hutan begini,” ujar salah satu awak Si Kepiting Galak.


“Mohon maaf atas ketidaknyamanan bapak-bapak berdelapan, sebetulnya baru saja Suleka berperang dengan Alamut dan keberadaan anda semua disini adalah sebagai tawanan perang,” ucap Zayn ringan.


“Hahh, aa apa maksudmu,” tanya salah seorang awak kapal niaga disertai gumaman yang lain.


“Imperium Alamut menawarkan kepada bapak-bapak sekalian, takluk dan mengabdi kepada Alamut dan menjadi rakyat disini sekaligus mengawaki kapal kalian yang semula atau ingin tetap menjadi tawanan perang,” ucap Zayn.


“Cih kesetiaanku hanya kepada tanah air Suleka, tawan saja kami,” ujar salah satu awak Si Kepiting Galak. “Iya hidup mati kami demi Suleka,” kompak awak yang lain.


“Baiklah kami tidak bisa memaksa, konsekuensinya adalah kalian akan tetap terikat dengan borgol di pohon cemara laut ini hingga ada putusan hukum, pertukaran tawanan ataupun kalian dibebaskan Suleka yang sepertinya itu mustahil terjadi. Tapi tenanglah kami membiarkan tangan kalian tidak terikat dan tidak membiarkan kalian kelaparan.


“Tuan bagaimana jika kami memilih takluk?” tanya seorang awak kapal niaga.


“Maka kalian akan mengabdi dan bekerja untuk kejayaan Alamut dan mengawaki kapal kalian kembali dibawah panji Alamut untuk menundukkan segala penguasa tiran di dunia,” Zayn menjawab dengan berapi-api.


“Baiklah tuan dengan senang hati kami memilih takluk, bosan rasanya ditindas Residen Lexington dan mengalami kesewenang-wenangan di Suleka,” ujar awak kapal niaga serempak.


“Terimakasih, keputusan bijak pelaut, tunggu beberapa waktu, pejabat yang menangkap kalian akan membawa kunci borgol dan membebaskan kalian, selamat bergabung. Sebelum itu kami akan memberi ramah tamah untuk kalian semua.” Jawab Zayn.


“Anna, tolong tanyakan kepada Doni apa pesananku tadi ketika pagi sudah seleseai? Rani dan Anggi kalian bantu Dona, Brian dan Octa menyiapkan sarapan bagi warga baru dan tawanan kita, aku akan melanjutkan dengan mereka sendiri,” perintah Zayn.


“Baik tuan Padishah,” jawab mereka kompak.


“Jadi namamu Padishah?” tanya seorang prajurit yang ditawan.


“Oh iya aku belum mengenalkan diri namaku Zaynall Abideen, asalku dari kota Palmyra di Negeri Syria, kalian tentu tidak tahu tempat yang jauh itu. Padishah adalah gelar untuk ku yang artinya kepala Negara. Jangan kaget menekuk wajah begitu, aku baru saja mendirikan Alamut di hutan terlarang ini bersama sahabatku Zahiruddin Muhammad dari Subang, Indonesia. Status Alamut hari ini adalah berperang dengan Suleka, karena rajamu menghina kami di Istana sehingga terpaksa kami buat kekacauan disana dan menghancurkan sedikit bagian istana juga membantai puluhan prajurit, dan juga kami membajak 2 kapal di Sumberurip untuk rampasan perang pertama kami, yang kalian tidak beruntung turut tertawan” jawab Zayn.


“Berapa jumlah kalian hingga berani menantang negeriku?” tanya seorang prajurit yang paling senior.


“Kalau aku sama Udin sih berdua aja kita, Cuma kita mendapat tambahan dukungan 10 orang mantan keluarga pejabat kerajaan Suleka yang 3 diantaranya sudah kau lihat tadi mereka yang barusan bersamaku, 7 prajurit dari Samiam dan bahkan kami memiliki dukungan seorang pangeran putra raja Suleka,” jawab Zayn.


“Mustahil jumlah kalian sedikit, kok bisa? Dan siapa maksudmu pangeran penghianat itu,” tanya prajurit itu lagi.


“Nanti akan kau lihat sendiri ketika ia kembali ke tempat ini, kau terlalu banyak bertanya untuk ukuran seorang tawanan, jangan buat mood kami buruk dengan kalian.” Jawab Zayn agak mengintimidasi yang membuat mereka terdiam.


“Sarapan datang,” Rani kembali bersama saudara-saudarinya. “Udin, Rena, Anggi dan Dian apa sudah bangun, kalau belum tugasmu selanjutnya membangunkan mereka Rani,” teriak Zayn.


“Mereka sudah bangun tuan, Wazir Akbar bilang untuk menyampaikan kepada anda bahwa setelah sarapan kita akan adakan upacara serah terima kapal dan pengambilan sumpah warga negara baru. Wazir Akbar juga meminta kak Anna dan Doni ditemani kak Rena mengambil sesuatu dari Rihlah untuk upacara ini,” lanjut Rani.


“Apakah pekerjaan yang kuminta pada Doni sudah selesai,” tanya Zayn lagi. “Sudah padisha, nanti ia bawa setelah dari Rihlah.” Jawab Rani lagi.


“Kenapa makanannya berbeda?” protes awak Si Kepiting Galak.


“Jangan lancang kau tawanan, makanan untuk calon warga Negara dan warga Negara berbeda dengan tawanan macam kalian, bersyukurlah kalian tidak kami bunuh dan masih mendapat makan yang layak,” ucap Zayn geram.


Menu sarapan pagi ini adalah daging buaya asap tanpa bumbu untuk para tawanan dan semur daging buaya asap ditambah telur buaya orak arik untuk yang lain termasuk awak kapal niaga yang berkenan takluk.


Sedangkan untuk Udin dan Zayn adalah MRE US Army yang sudah dijelaskan pada episode sebelumnya.


“Hei kenapa kalian memulai sarapan tanpa kami,” Udin datang dan menyela kegiatan makan.


Sempat terhenti, tetapi tidak ada yang menanggapi pertanyaan Udin, semua kembali melanjutkan sarapan yang membuat Udin kemudian melengos dan duduk di sebelah Zayn ikut menyantap sarapan yang sudah disiapkan untuknya.


“Tuan, apakah acara upacara bisa dimulai, kami sudah selesai menyiapkan.” Jawab Rena kepada Zayn dan Udin yang berbincang ringan tentang pelayaran Rihlah sebelumnya.


“Baik Rena, mulailah, seperti yang kuinstruksikan tadi dan sesuai yang ku minta untuk ajarkan ke adik-adikmu,” jawab Udin.


Upacara kenegaraan Imperium Alamut, Sabtu 27 Agustus 2022 segera dimulai.


Hadirin segera berdiri di tempat yang disediakan.

__ADS_1


Rena membuka upacara, Zayn yang bingung hanya bisa mengikuti jalannya acara sesuai arahan Udin.


Pemimpin upacara menyiapkan pasukan dan memberi laporan.


Doni yang berusia 5 tahun berjalan tegap ke tengah barisan dihadapan Zayn dan Udin yang berjumlah 2 saf.


Squad, Attention (Pasukan, siap grak)


Half Right, Dress (Lencang kanan graak)


Eyes Front, Open Arm (Tegak Grak)


At Ease (Istirahat ditempat grak)


Doni memberi aba aba dalam bahasa Inggris sesuai yang diajarkan Zayn dan Udin hari-hari sebelumnya.


Doni kemudian mengambil 2 langkah kecil kedepan.


Lapor upacara kenegaraan Imperium Alamut segera dimulai, agenda serah terima kapal dan peresmian, penunjukkan pejabat, serta pengambilan sumpah kewarganegaraan.


Lanjutkan, ujar Zayn


Lanjutkan, Doni mundur 2 langkah ke titik semula.


Mendengarkan lagu kebangsaan Alamut disertai pembentangan bendera (Rena melanjutkan upacara, dan Zayn mengernyit apa maksudnya dan kemudian menahan tawa.)


Rena memutar lagu dari smartphone Udin dengan volume tinggi rupanya lagu kebangsaan Alamut adalah lagu We Will Rock You yang telah dimodifikasi Udin liriknya dengan bahasa Fantastica dan ia nyanyikan dengan rekaman suara. Sedangkan bendera yang digunakan adalah bendera Palestina yang sebelumnya dipasang di sisi tempat tidur dalam kabin Rihlah.


Alamut negeri hebat dan kuat


Berani berdiri atas semua negeri


Tuhan restui selama kita baik


Kalahkan raja tiran dan bangsa durhaka


Jaya selalu Alamut


Jaya selalu Alamut


Putera puteri negeri Alamut


Tuhan restui tindakan kalian


Bungkam semua kaum pembenci


Jaya selalu Alamut


Jaya selalu Alamut


Selalu lahir generasi Alamut


Yang pemberani dan inovatif


Tuhan ilhamkan kita pengetahuan


Ciptakan bahagia untuk dunia


Jaya selalu Alamut


Jaya selalu Alamut


Arahan Padishah Alamut


Belum ada arahan lanjutkan, Zayn menimpali.


Serah terima pampasan perang dari kepala misi diplomatik Wazir Akbar Zahiruddin Muhammad kepada Padishah Zaynall Abideen.


Udin menyerahkan 2 pataka kapal sebelumnya berbentuk patung pelindung di lunas kapal secara simbolis.


Peresmian bergabungnya 2 kapal ke dalam kepemilikan Alamut.


Doni menyerahkan 2 plakat pesanan Zayn dengan gerakan tegas.


Mulai saat ini Alamut mengoperasikan kapal perang yang kami resmikan dengan nama Ragnarok dan kapal angkut dengan nama Stockholm.

__ADS_1


Peresmian jabatan dan pejabat


Zayn kemudian membuka lipatan kertas yang tadi diberikan Udin kemudian membacanya.


Dengan ini kami resmikan jabatan dan pejabatnya:


Menteri Sekretaris Negara: Rena


Menteri Dalam Negeri: Anna


Kepala Pengawal Padishah: Doni


Staf khusus Padishah: Dona


Kepala Pengawal Wazir Akbar: Anggi


Staf khusus Wazir Akbar: Dian


Menteri Pendidikan: Rani


Dirjen Pendidikan Dasar: Gina


Dirjen Pendidikan Usia Dini: Brian


Staf Khusus Pendidikan Usia Dini: Octa


Dengan penyematan jabatan ini sekaligus menandakan penghapusan status budak bagi kalian.


Hal ini disambut penuh isak haru oleh mereka.


Pengambilan sumpah kewarganegaraan dan pelepasan tawanan, padishah menghampiri tawanan.


Perkenalkan nama kalian, (seru Zayn)


Hamba Bertha, Hamba Indra, Hamba Gunadi (Para awak kapal niaga memperkenalkan diri)


Apakah kalian bertiga bersedia menjadi warga Negara Alamut, berkontribusi membawa kemajuan kepada Negara dan dilepaskan dari status tawanan perang?


Bersedia tuanku (ujar mereka ber 3 kompak)


Apa kepercayaan kalian? (Zayn bertanya)


Dewata Agung tuanku. Jawab mereka kompak.


Tirukan sumpah yang akan dibacakan Menteri Rena.


Demi Dewa Gogon dan Dewa Dewi pelindung Fantastica.


Kami bersumpah, atas nama kehidupan dan nasib baik kami di masa mendatang.


Bersedia melepas ikatan kami dari Kerajaan Suleka dan bergabung menjadi warga Negara Imperium Alamut.


Kami akan berkontribusi memberikan sumbangsih memajukan Alamut dengan keringat dan darah kami.


Jika kami melanggar sumpah, maka kami dengan senang hati menyambut Dewa Yama mendatangkan ajal kepada kami, dan nasib buruk selalu menghantui sisa umur kami.


Jayalah Alamut.


Pelepasan tawanan oleh Wazir Akbar


Udin melepas borgol mereka bertiga dan segera menyalaminya.


Upacara selesai, pemimpin upacara membubarkan barisan.


Squad, Attention (Pasukan, siap grak)


Salute Up (Hormat grak)


Doni mengambil 2 langkah kedepan


Lapor upacara kenegaraan Imperium Alamut telah selesai


Bubarkan


Squad, Attention (Pasukan, siap grak)

__ADS_1


Eyes Front, Open Arm (Tegak Grak)


open rank march (bubar barisan jalan)


__ADS_2