Membangun Peradaban Di Planet Primitif

Membangun Peradaban Di Planet Primitif
34. Mantel Bulu


__ADS_3

Mendengar teriakan dari para budak yang mendirikan perkemahan pekerja, Udin segera memerintahkan seluruh orang siaga dan mendatangi lokasi serangan. 3 ekor harimau nampak menyerang beberapa budak. Udin dengan presisi membidik harimau-harimau itu.


“Dor.. dor.. dor..” 3 letusan keluar dari laras AR 15 dan menumbangkan keluarga harimau.


Harimau adalah makhluk yang penyendiri. Jantan melakukan penguasaan kawasan dan melindungi betina-betina yang ada di dalam territorinya. Sedangkan betina hidup dengan anak-anaknya hingga remaja ketika mereka bisa mulai berburu sendiri dan memiliki teritori sendiri, utamanya harimau jantan.


Harimau Fantastica tersisa dalam hutan di bagian tengah dan selatan pulau Grand Papalepap dan jarang sekali berinteraksi dengan manusia. Serangan ini tentunya membuat banyak orang shock.


“Tuan kami memilih pekerjaan yang lebih berat asal jangan bekerja menambang di area menakutkan ini,” ujar seorang budak protes.


“Tidak ada pilihan bagi kalian para budak. Menentang tuan Udin dan Zayn sebagai pemilik baru kalian artinya mati,” Pangeran Juki menambah runyam suasana.


“Tenanglah tidak akan ada yang mati disini. Kita akan berbagi hidup dengan harimau. Alamut hanya membangun di wilayah yang kita perlukan. Harimau di seantero Fantastica hanya sedikit dan hanya hidup di pulau ini. Ini adalah kebanggaan bagi kita. Disini peran kita adalah menjaga populasi mereka dengan meminimalisir kontak dengan mereka. Artinya, kurangi aktivitas lain selain di lokasi tambang dan kita akan membuat perkubuan yang membatasi lokasi tambang dengan bebatuan yang tidak termanfaatkan dari penggalian. Kalian lihat kan senjataku tadi, kedepan kalian akan dijaga penjaga yang memiliki kemampuan,” ujar Udin menenangkan.


“Hanya disini kalian bisa hidup sejahtera menjadi kaya dan merdeka dari status budak. Jangan dilihat dari gaji yang 3 keping emas per dua purnama setara rata-rata gaji normal orang di Suleka, tapi lihatlah mekanisme bonus dan nantinya bagi hasil sejumlah 1 persen produksi di potong pajak menjadi hak warga pertambangan. Bekerjalah mari memanen kekayaan untuk membangun Alamut,” pidato Udin sedikit menenangkan.


“Akan kita apakan jasad 3 harimau ini tuan, dan apakah ada kemungkinan serangan berikutnya,” tanya Kipli kepada Udin.


“Harimau adalah makhluk pendendam. Pejantan dari harimau besar yang betina ini, ibu dan ayahnya jika masih ada, saudara yang menyusui bersama jika masih ada. Dan anak-anak yang pernah dilahirkannya kemungkinan akan membalas dendam. Maka sebab itu sementara kuota libur 1/7 jumlah pegawai harian akan ku hapus sementara dengan jadwal pembuatan benteng melingkari perbukitan dan kanal hingga selesai. Sementara kita akan bentengi perkemahan dan perumahan yang dibangun, lanjut ke beberapa area lain selanjutnya,” jawab Udin.


“Tapi tenang saja, kupastikan penjaga di sini nanti cukup mumpuni untuk melindungi kalian, jangan remehkan mereka dari umurnya. Perkenalkan Dona dan Doni si kembar yang akan menjaga kalian di sini. Untuk 3 harimau itu, kuliti mereka, awetkan kepalanya dan simpan dagingnya. Kulit dan kepala nanti akan dibawa ke Alamut, dagingnya untuk konsumsi kalian yang mengkonsumsinya,” ujar Udin.


“Apakah mereka berdua bisa diandalkan tuan,” ujar Juki menunjukkan keraguannya.


“Doni keluarkan pistolmu dan bidik benda yang akan kuletakkan, siapkan dirimu,” Udin memerintahkan Doni bersiap dan dirina menaruh sebuah besi pendulangan yang dibawa seorang prajurit Faranina sekitar 15 meter dari jarak Doni berdiri.


“Kenai besi itu di bagian atasnya saja, jangan di bagian tengah yang membuat benda itu berlubang dan tidak berguna lagi,” ujar Udin.


Dalam satu hembusan nafas tembakan pistol Sig P938 dari Doni mengenai sasaran. “Dor… klontang.”


Belum selesai orang disana terkaget, Udin kembali bicara. Dona sekarang patahkan ranting kecil di atas besi itu terguling dengan satu tembakan.


“Dor… krak,” Dona menembak tepat sejauh 16 meter dengan target sebuah ranting pohon.


“Jadi bagaimana Juki.” Udin menyeringai. “Ba Baik Baik prajurit dan para budak pasti akan aman, aku percaya,” ujar Juki.


Usai serangan harimau, seluruh pekerja dan prajurit kembali melanjutkan penggalian kanal yang dirancang sepanjang 42 meter ketika perkemahan selesai didirikan.


Keesokan harinya 10 September 2022


Pekerjaan membuat parit masih terus berlangsung pada jalur berbelok untuk menembus sisi sungai. Jika kemarin pembuatan parit berlangsung mudah, hari ini meskipun jarak kembalinya aliran ke sungai hanya sisa 9 meter saja menjadi sangat lama karena ketika menggali mereka menemukan batuan padat. Selain itu sebagian pekerja yang lain membuat kincir dari kayu yang ketika dibutuhkan dapat mempercepat aliran sungai ke kanal.


Batuan yang ditemukan sepanjang penggalian parit kemudian disusun dengan potongan rapi dan saling mengunci seperti batu candi dengan tinggi tembok batu setinggi 2 meter dan lebar 80 cm. Pekerjaan persiapan tambang baru selesai keesokan harinya pada 11 September 2022.


11 September 2022, air pertama kali dialirkan ke kanal dengan debit yang diatur oleh pintu air. Kanal ini memiliki kedalaman 50 cm, lebar 100 cm secara umum, namun melebar di area pendulangan dimana 13 orang dapat berbaris sejajar berhadapan dengan datangnya aliran air. Titik terlebar dari area pendulangan adalah 15 meter. Setelah kolam pendulangan di titik menyempitnya aliran air diselipkan 1 saringan aliran menggunakan kayu dan anyaman bambu bersusun dengan berbagai diameter kerenggangan untuk menyaring aliran air. Di bagian bawah saringan diletakkan kain untuk saringan partikel yang paling kecil. Di tengah aliran kanal menuju sungai juga ditaruh sebuah saringan lagi dan terakhir di titik bertemunya kembali kanal dengan sungai diberikan 1 saringan emas lagi.


Saringan ini akan diperiksa dan dibersihkan 3 kali sehari ketika mulai memasuki jam kerja, saat jam istirahat dan akhir jam kerja. Saringan digunakan untuk menyaring emas dari aliran kanal yang lolos dari pendulangan.


Hari pertama menambang emas pada 11 September 2022 mereka hanya mendulang tanah dari galian kanal yang mereka gali dengan jumlah 13 pendulang. Sementara yang lain mulai melakukan pengerjaan di atas bukit untuk menyiapkan material yang akan didulang besok serta membawanya ke bawah serta mengumpulkan tebangan kayu dan batuan untuk material pertahanan dan keamanan pekerja dari harimau.


“Awas yang dibawah, minggir,” teriak Johnny yang memimpin pekerja di atas bukit ketika galian mereka di atas membuat sebuah batu besar di dekat puncak bukit akhirnya longsor menggelinding kebawah.

__ADS_1


Para pendulang berlarian menyelamatkan diri, dan Udin memerintahkan menutup pintu air yang memasuki kanal.


“Tono tutup pintu air, selamatkan diri ke tempat aman,” teriak Udin.


Dalam hitungan detik batu besar mencapai kanal dan beruntungnya melompati area kanal tanpa merusaknya dan mengenai seorang pun.


Udin mendatangi batu itu dan melihat bentuknya yang merupakan batu andesit yang baru saja tertancap lonjong setinggi 3 meter dari tanah.


“Hmm menarik, Adakah ahli pahat batu disini,” teriak Udin kepada orang-orang di lokasi,”


“Saya tuan,” seorang prajurit Faranina mendatanginya.


“Tolong buatkan prasasti,” pinta Udin. “Apa itu prasasti tuan,” tanya prajurit itu.


“Prasasti adalah surat yang dipajang di publik dalam suatu media yang bisa dilihat siapa saja. Tulislah kalimatku di batu itu dan aku akan minta Juki mengizinkanmu melakukannya. Juki apakah boleh,” tanya Udin.


“Silakan Wazir Akbar, namun apa kata-kata yang akan kau tatah di batu itu? Tanya Juki.


Sejarah tercipta 11 September tahun 0


Setelah kesepakatan Putera Mahkota Faranina Pangeran Juki telah bersepakat dengan Imperium Alamut 3 hari sebelumnya.


Akhirnya ambang Emas di Bukit Timbuktu dibuka untuk kemakmuran Faranina dan Alamut.


Oleh para pekerja yang menantang ganasnya harimau.


Tumenggung Kipli dari Faranina menjadi pemimpin pertama di pertambangan.


Wazir Akbar Alamut juga memerintahkan penggalian kanal dan beberapa aturan.


2. Dilarang berburu dan menangkap hewan liar di seluruh Alamut kecuali untuk kepentingan penjinakkan dan budidaya atas izin pemerintah.


3. Kecurangan dalam segala hal termasuk pekerjaan di tambang akan mendapat hukumannya dari Faranina maupun Alamut.


4. Faranina boleh menegakkan hukum mereka di area pertambangan yang mereka buka di Timbuktu kepada pekerja dan budak selama tidak bertentangan dengan hukum Alamut.


Semoga tuhan memberikan kejayaan kepada Alamut dan menghancurkan musuh negeri.


Dan menjaga persaudaraan Alamut dengan Faranina


Minggu, 11 September 2022


Wazir Akbar Imperium Alamut


Zahiruddin Muhammad.


“Penanda sejarah dan persahabatan yang luar biasa, segera tulis itu prajurit,” perintah Juki.


“Apakah anda bisa mengulanginya tuan Wazir Akbar untuk hamba tatah di batu yang tadi menggelinding,” tanya prajurit itu.


“Dona apa kau menulis apa yang tadi kuucapkan,” tanya Udin. Udin memang memerintahkan Dona untuk mencatat hal penting yang terjadi dalam perjalanan ini termasuk hal-hal penting yang diucapkan Udin dan beberapa orang.

__ADS_1


“Tentu saja tuan, aku menulisnya dalam aksara Fantastica juga aksara Alamut” jawab Dona.


“Kereenn. Good Job,” puji Udin. “Prajurit salin yang dona tuliskan masing-masing pada 2 sisi terlebar batu,” perintah Udin yang lalu segera dilaksanakan prajurit Faranina itu.


Di sore hari sesuai dugaan harimau pejantan yang kehilangan salah satu betina dan 2 anaknya di teritorinya mengamuk dan mencoba melompati tembok batu yang sudah terlihat mulai mengelilingi perkemahan.


“Dona atau Doni, mana saja yang terdekat segera tembak.” Perintah Udin.


Dona segera melepaskan tembakan dari jarak 10 meter. “Dor..” seekor harimau jantan tumbang dan masih menggeliat kesakitan. Tunggul Wulung menyelesaikannya dengan pedang.


Pekerjaan hari pertama pun selesai dengan hasil dibawah target. Hanya dihasilkan 68 kg emas yang didapat atau setara 68.000 koin emas. Padahal Udin menargetkan 13 kg emas per jam atau 104 kg setiap harinya. Namun hari pertama pertambangan tidak berjalan lancar karena ada insiden longsoran batu besar maupun serangan harimau.


“Apakah kau sudah selesai mengerjakan batu prasasti, prajurit,” tanya Udin yang sedang melakukan minum teh dan makan sore melingkar di sekitar perapian api unggun yang akan dinyalakan di malam hari.


“Sudah tuan,” jawab prajurit itu. “oh iya siapa namamu,” tanya Udin.


“Nama saya Urip tuan,” jelas prajurit itu.


“Urip itu juru tulis nya Kipli,” sebut pangeran Juki.


“Kalau begitu kenapa tidak kita jadikan dia sebagai kepala pencatat di tambang?” tanya Udin kepada Juki.


“Bisa sih, ide bagus,” ujar Juki. “Tuan sebaiknya kita mulai organisasi tim pekerja agar aku juga bisa menentukan sisanya yang akan mengawalku pulang. Kipli, Tono kalian tinggal disini ya. Kemarin kan sudah diputuskan kalian akan memimpin tambang,” tambah Juki.


Akhirnya dari 51 prajurit dan 50 budak dibagi susunan sebagai berikut. 7 tim pekerja dengan rotasi pekerjaan dan hari libur, masing-masing berjumlah 13 orang, 7 mandor pengawas dan teknis serta 3 pimpinan yakni Kipli, Tono dan Urip.


Total 101 orang Faranina yang dibawa akan bekerja di tambang seluruhnya yang akhirnya membuat Juki pusing. “Lantas siapa yang akan mengawalku kembali tuan Udin.”


“Tenanglah Alamut memiliki banyak pelaut untuk mengawal anda kembali ke Faranina. Jika anda ingin memanggil orang disini untuk kembali ke Faranina anda dapat mengganti mereka dengan yang lain,” jawab Udin.


“Kalau itu pasti akan kuganti dalam 1 tahun sekali tuan, mereka akan terlalu kaya dan tidak adil bagi yang lain jika terlalu lama kerja disini,” ujar Juki.


“Kok bisa tuan, bukankah gaji kami di sini standard-standard saja?” tanya Kipli.


“Sekarang target harian tambang minimal setara 13.000 keping emas. Dipotong gaji lalu pajak untuk Alamut masih bisa memberikan keuntungan 1 persen bagi pengelola kewilayahan pertambangan dan warganya. Bisa jadi itu lebih dari 100 keping emas per hari dan seorang bisa mendapat senilai 1 keping emas atau paling buruk senilai 5 keping perak per hari. Artinya kalian bisa mendapat uang lebih dari 300 keping emas per tahun di luar dari gaji dan prosentase bonus produksi.” ujar Juki yang kalkulator di otaknya mulai aktif.


“Biarlah 1 tahun sekali pekerja ini diganti orang lain dari Faranina atau ditambah lagi jumlahnya. Kecuali budak milik Alamut yang akan bekerja hingga mereka mampu memerdekakan diri mereka. Namun jika aku boleh meminta izin bolehkah setelah para budak merdeka, Faranina mengelola penuh pekerja di tambang?” tanya Juki.


“Nanti akan kubicarakan dulu dengan Zayn pastinya seperti apa. Atau kita bicarakan bertiga besok. Bisakah besok yang tidak terlibat penambangan untuk meninggalkan lokasi? Dari pihakku si kembar cilik Dona Doni akan kutinggalkan dengan senjatanya esok, anda dan Johnny juga akan kembali ke Alamut,” pinta Udin.


“Setuju tuan pusing otakku melihat harimau dan mendengar aumannya setiap hari,” jawab Johnny.


“Tapi John, apakah kamu tidak ingin mendengar gemerincing emas lebih lama,” tanya Juki.


“Ayolah Juki,” ujar Johnny. “Iya..iya aku hanya bercanda. Oh iya tuan Udin, aku penasaran apa itu maksud dengan Minggu, September,” tanya Juki.


“Jadi Minggu adalah nama salah satu hari dan September adalah nama bulan. Kebetulan aku dan Zayn menghitung lama 1 tahun matahari di sini sama dengan di negeri kami, jadi kenapa tidak untuk digunakan di Alamut. Untuk kalender bulan yang dibagi menjadi 26 purnama akan tetap digunakan untuk kepentingan ritual dan adat masyarakat,” jawab Udin. “ohh begitu,” ujar Juki.


Hari mulai malam dan api unggun telah dinyalakan. Keesokan harinya 12 September tahun 2022 (tahun 0 Alamut) Udin kembali ke Alamut bersama Johnny, Juki, Anggi dan Tunggul Wulung.


Sebelum meninggalkan Timbuktu Udin secara khusus memberi pesan kepada Dona dan Doni.

__ADS_1


"Kembar.. latihlah kemampuan olah fisik, beladiri dan pedang kalian. Peluru yang kalian bawa seluruhnya hanya sisa 11 tembakan. Hematlah dan gunakan jika benar-benar mendesak saja. Jangan cengeng paman-paman disini semuanya orang baik. Maaf membuat kalian dewasa lebih dini," pesan Udin kepada Dona dan Doni yang menangisi kepergiannya kembali ke Alamut meninggalkan mereka berdua di bukit Timbuktu.


Sementara itu di saat mereka perjalanan kembali ke Alamut, suatu hal besar sedang terjadi di sana


__ADS_2