Membangun Peradaban Di Planet Primitif

Membangun Peradaban Di Planet Primitif
24. Macan Raja di Laut


__ADS_3

Kota Gunungmacan, pagi hari 3 September 2022


Laksamana Muda Andi Keling pagi ini bersandar di Dermaga Kota Gunungmacan dengan membawa 3 kapal perang milik pusat pelatihan Angkatan Laut Suleka yang telah selesai melakukan misi penangkapan penganut Sang Esa dan patroli selama 7 hari.


Ketiga kapal ini mengangkut sekitar 68 penyembah Sang Esa dari wilayah pantai barat Pulau Grand Papalepap. Pengawak dari 3 kapal dalam armada ini berjumlah 85 prajurit, dimana 30 diantaranya adalah orang yang menyembah Sang Esa secara diam-diam. Sementara 55 sisanya adalah para prajurit yang memiliki hutang nyawa kepada Andi Keling dan penganut Sang Esa yang lain, sehingga secara sengaja mereka dipilih untuk misi pengamanan tawanan dan patroli laut.


Dalam pelayaran itu diam-diam armada yang dipimpin Andi Keling langsung, juga secara diam-diam telah mengangkut seluruh senjata yang seyogyanya dipersiapkan untuk melatih calon prajurit Angkatan Laut Kerajaan Suleka yang akan direkrut 2 bulan mendatang.


Selain itu mayoritas penyembah Sang Esa diluar para prajurit dari Kebon Gede dan keluarga Tuan Jumanji yang berjumlah 4 orang. Jumlah penganut Sang Esa yang menyembunyikan identitas dan tinggal di kota Gunungmacan dan berjumlah 7 orang pada awalnya dan kini bertambah hingga 14 orang.


Beberapa hari yang lalu mereka yang beriman secara diam-diam di Gunungmacan telah diperintahkan Waljinah, istri Hakim Agung Giman untuk menyiapkan senjata.


FYI 3 kapal yang dipimpin Andi Keling antara lain sebuah kapal perang besar yang bernama Hiu Buas dan 2 kapal berukuran sedang yang bernama Tinta Cumi dan Cangkang Kelemang.


Para pemimpin pemberontakan Gunungmacan pada sore harinya mengadakan pertemuan di Markas Pangkalan Angkatan Laut Gunungmacan, ternyata Komandan Pangkalan sendiri termasuk dari 6 orang yang baru saja secara diam-diam, menganut ajaran baru itu.


Mereka yang mengadakan pertemuan antara lain Hakim Agung Giman yang dalam skenario dijadwalkan akan melakukan persidangan pada 2 hari lagi. Selain itu tentu saja Andi Keling yang memimpin misi pelayaran, Kamto komandan kapal Hiu Buas, Parjo komandan kapal Tinta Cumi, Kentung yang merupakan komandan kapal Cangkang Kelemang serta Tumenggung Jayadi komandan pangkalan Angkatan Laut kota Gunungmacan.


“Selamat datang tuan Laksamana, Hakim Agung dan tuan-tuan semua di kota Gunungmacan, sore ini saya akan memimpin rencana penyelamatan orang-orang beriman menuju benteng Tanjungpagar yang telah dijanjikan tuhan dalam ramalan kedatangan Sang Pencerah,” Jayadi membuka rapat.


“Tidak perlu berlama-lama segera akan saya jabarkan rencana penyelamatan yang akan kita namakan Operasi Macan Raja di Laut,” tambah Jayadi.


“Jadi operasi yang mungkin bakal disebut sebagai pemberontakan oleh pihak kerajaan akan dimulai ketika Hakim Agung Giman membacakan hukuman kepada saudara-saudara seiman kita, setelah vonis dibacakan nanti wakil saya dalam kepemimpinan pangkalan ini Senapati Tunggul Wulung akan bergerak seolah menyandra Hakim Agung, tenang saja… dia juga seorang penganut dan sudah kita brifing secara terpisah. Tunggul Wulung nanti akan mulai menyerang membabi buta kepada unit Angkatan Darat dan sebelumnya akan membagikan senjata yang telah kita siapkan pada para lelaki beriman, sisa pasukan di pangkalan akan diskenariokan menyandra pasukan pelatihan Angkatan Laut, dan saya sendiri akan berpura-pura terikat dan diarak diatas sebuah tiang di atas gerobak oleh pasukan Tunggul Wulung yang menunjukkan seolah-olah penyembah Sang Esa sudah menyusup pada sebagian besar prajurit pangkalan dan melumpuhkan Angkatan Laut. Selanjutnya unit dari Tunggul Wulung bersama sebagian yang dibebaskan dalam kericuhan sidang akan membawa 20 gerobak kosong yang ditarik kuda untuk menguras gudang barang bukti Gunungmacan dimana harta saudara kita disini disita di tempat itu, selain itu disebelahnya adalah gudang milik Residen yang akan kita gunakan nanti sebagai logistik tambahan setibanya di Tanjungpagar nanti.” tambah Jayadi.


“Meski hanya 6 penganut Sang Esa di kalangan prajurit pangkalan, namun semua unit yang totalnya 120 prajurit termasuk saya siap bergabung berjuang atas nama perlawanan terhadap tirani raja Suleka. Jadi kita nanti setibanya di Tanjungpagar jika semua selamat akan memiliki 205 prajurit termasuk 85 prajurit dari Laksamana Muda Andi Keling. Selain itu 3 kapal di bawah pangkalan Gunungmacan juga akan kita gunakan berlayar dalam operasi ini (Belut Sengat/kapal perang besar, Bulu Babi dan Cacing Laut/kapal perang sedang),” Jayadi melanjutkan presentasi.

__ADS_1


“Selanjutnya saya dengar hari ini kapal milik Tuan Jumanji akan berlayar dari Kebon Gede mengangkut 200 orang yang merupakan keluarga Tuan Giman, keluarga para prajurit tuan dan Andi Keling dan pekerja tuan Jumanji, nanti kita akan berpura pura membajak kapal mereka setibanya mereka di perairan ini pada esok lusa dengan menarik kapal mereka seolah ditawan hingga nanti tiba di Tanjungpagar.” Jawab Jayadi.


“Kemungkinan terburuk jika kita tidak siap bakal dicegat Angkatan Laut di Kalikucing dan Sumberurip. Pangkalan Kalikucing memiliki 1 kapal besar dan 2 kapal kecil. Kemudian informasi terbaru Sumberurip. berjumlah sama namun baru saja kehilangan 1 kapal besar yang kami duga diambil alih para pencerah, maka untuk mengantisipasi hal itu pagi hari sebelum sore harinya dibacakan vonis hukuman oleh Tuan Giman, Pasukan saya yang dipimpin Roni dan Leman akan memimpin pelayaran Bulu Babi dan Cacing Laut pada sore hari sebelumnya dengan alasan patroli untuk bergerak ke Kalikucing agar bisa membakar habis 3 kapal perang disana yang pasti bersandar di malam hari. Kemudian secepatnya segera lanjut menuju Sumberurip untuk mengatasi sisanya. Setelah itu mereka akan berlayar lebih dahulu ke Tanjungpagar untuk membuka komunikasi dengan para pencerah dan mempersiapkan kedatangan rombongan besar kita,” pungkas Jayadi.


“Oh iya bagaimana tanggapan tuan-tuan semua,” Jayadi sedikit menambahkan.


“Sungguh sangat matang Tumenggung, kurasa tidak perlu tambahan rencana, tinggal kita laksanakan saja. Kesuksesan Operasi Macan Laut ada pada kematangan gerak prajurit pangkalanmu, aku akan berdoa setelah ini untuk mendoakan suksesnya rencana kita,” jawab Giman disertai anggukan yang lain termasuk Andi Keling.


FYI, SistemKepangkatan di Suleka:



Prajurit


Senopati


Laksamana Muda/Jenderal Kecil (AL/AD)


Laksamana Agung/Jenderal Besar (AL/AD)



Sementara itu di Alamut


Zayn dan Udin di hari yang sama sedang kebingungan mengingat Johnny seharusnya dijadwalkan kembali hari ini, namun tidak terlihat batang hidungnya hingga sore hari, bahkan Udin setiap beberapa jam menerbangkan drone ke laut lepas untuk mengamati kemungkinan datangnya Valhalla.

__ADS_1


“Tuan bagaimana ini, Pangeran Johnny belum juga kembali sedangkan persediaan pangan kita mulai menipis untuk bertahan di hutan ini dengan tambahan orang dan tawanan,” ujar Rena yang tiba-tiba muncul kedalam kabin Rihlah.


“Aku juga bingung Rena, aku sendiri sangat takut dengan kondisi tidak segera munculnya Johnny, semakin lama kita mengulur waktu kejelasan hal ini dapat berpotensi membuat 3 orang warga baru kita nanti mulai mengacau, tolong sementara kalian hembuskan kabar Pangeran akan datang selambatnya 5 hari kedepan baik ke adik-adikmu dan juga yang lain,” Zayn memberi Jawaban.


“Jika pada saatnya Johnny tidak datang mau tidak mau kita harus hidup mandiri membangun peradaban semampu kita di hutan ini. Oh iya bagaiman pekerjaan orang dari kapal Stockholm itu,” tanya Udin.


“Mereka telah menyelesaikan 3 bangunan pondok dan kurang 7 pondok kayu lagi tuan, sementara kami memilih tinggal di tenda dan mereka kami minta tinggal di pondok yang mereka bangun atau di tenda mereka, sebetulnya untuk apa pondok sebanyak itu tuan?” Rena bertanya.


“Pondok itu akan kita gunakan untuk barak prajurit kita nantinya, satu pondok akan menampung 1 regu prajurit berjumlah 12 orang, tentunya nanti kita akan menambah pondok-pondok lagi, aku yakin kita akan berkembang pesat,” jawab Udin.


“Semoga Johnny kembali dengan selamat, mendapat hasil baik dan tidak berkhianat,” gumam Zayn yang juga didengar Rena dan Udin yang mengatakan Amin dengan lirih.


Nun jauh di Faranina


Johnny yang baru saja tiba di pelabuhan utama Ibukota dan sedang menaiki kapal tiba-tiba bersin tiada henti “Hacchi, hacchi… sepertinya ada yang sedang membicarakanku haha,” ujarnya


“Apakah kau sakit Johnny?” tanya putra mahkota Faranina, Pangeran Juki yang juga sahabatnya.


Johnny bersahabat karib dengan Juki karena dia disekolahkan ayahnya di Faranina, sebetulnya karena dulu dia nakal sehingga dihukum sekolah di negeri asing.


“Tidak mengapa Juki, aku tak sabar untuk menunjukkan padamu sahabat baruku tuan Zayn dan tuan Udin yang akan membantumu menaklukkan Ferris Indah. Sebaiknya kita segera berangkat, sepertinya mereka lagi kangen denganku, hingga aku beberapa kali bersin haha,” jawab Johnny.


“Sebetulnya aku sedikit meragukan informasi darimu Johnny, namun mengingat persahabatan kita dan menghargai kejujuranmu serta kebaikanmu selama ini maka dengan berat hati aku putuskan hal yang mungkin saja suatu kebodohan, semoga saja tidak,” jawab Juki.


“Percayalah dengan omonganku Juki, aku tidak pernah membuatmu kecewa selama ini kan, sebaiknya segera kita angkat jangkar dan berlayar,” sahut Johnny.

__ADS_1


Terlambat 1 pekan dari jadwal, Johnny baru akan berangkat bersama Juki untuk berlayar ke Alamut dengan 3 kapal. Kapal Valhalla miliknya mengangkut 10 budak dan 3 prajurit pengawal dari Faranina bersama 7 pendayung Samiam dalam cerita kita sebelumnya.


Kapal kedua adalah 1 kapal niaga seukuran Stockholm yang dihibahkan Juki untuk mengangkut belanjaan Johnny sekaligus mengangkut hadiah dari Faranina untuk penguasa Alamut. Kapal ketiga adalah kapal perang yang akan membawa Putra Mahkota Juki bersama 35 pendayung, Johnny, 8 prajurit elit dan 40 budak untuk dibawa ke Alamut, diperkirakan 5 hingga 7 hari kedepan mereka akan tiba di Alamut.


__ADS_2