Menantu Pilihan

Menantu Pilihan
*MP Episode 10


__ADS_3

"Ye .... Kau kan sudah tahu apa alasannya. Kita tidak bisa tinggal satu rumah dengan kedua orang tua kita. Karena itu akan sangat bahaya. Kerja sama kita akan terbongkar dalam waktu dekat. Itu akan sangat mengecewakan mereka nantinya."


"Sementara untuk kita yang tinggal berdua satu rumah. Ah, kamu tenang aja. Aku gak akan tertarik kok sama kamu. Karena dalam hati ini, tidak akan pernah bisa kamu masuki karena selamanya hanya akan ada pacarku seorang," kata Zaki lagi sambil tersenyum menyeringai.


Entah kenapa, kata-kata itu tiba-tiba membuat hati Zery merasa tidak nyaman. Dia ingin mengabaikan, tapi rasanya sedikit sulit.


"Dasar sialan. Kamu pikir aku sudi untuk masuk ke dalam hatimu? Ih, ogah. Gak akan pernah terlintas buat aku masuk ke dalam hatimu. Amit-amit deh," ucap Zery sambil melanjutkan langkah kakinya memasuki rumah. Ia tinggalkan Zaki sendirian di tempat Zaki berdiri sebelumnya.


"Ih, amit-amit kamu bilang. Jatuh cinta beneran, baru tahu kamu."


Sontak ucapan itu langsung membuat langkah Zery terhenti. Seketika, ia pun langsung menoleh ke belakang kembali. "Hah? Jatuh cinta? Sama kamu? Gak akan pernah."


"Lagian aku heran deh sama perempuan yang udah jatuh cinta sana kamu itu. Apa sih yang ia lihat dari kamu, Zak? Pria kurang waras aja bisa narik cewe untuk jatuh cinta. Benar-benar gak punya mata itu cewe ya."


"Wuih ... pedas banget tuh mulut yah. Aku sumpahin kamu jatuh cinta padaku, baru tau rasa kamu. Gadis bar-bar bermulut pedas."


"Ih ... amit-amit lah."


Dan, seperti inilah mereka berdua. Masih dengan karakter yang sama dengan sebelumnya. Masih mempertahan sifat masing-masing meskipun sudah berstatus istri dan suami.


Terkadang, mereka akan bisa sangat kompak satu sama lain. Tapi, terkadang juga bisa terlihat seperti musuh yang saling ingin menyakiti dan menjatuhkan satu sama lain.

__ADS_1


Terlepas dari itu semua, mereka masih tidak sadar jika mereka sudah mulai saling membutuhkan satu sama lain. Dalam perdebatan, tidak mereka sadari jika mereka selalu menumbuhkan buliran cinta yang mungkin akan menjadi penghalang terputusnya hubungan mereka kelak.


Tapi sepertinya, kesadaran itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Yang mungkin akan menghabiskan waktu yang sedang sama-sama mereka sepakati untuk bersama.


....


"Zer, rumah ini ada banyak kamar. Pilihan salah satu kamar untuk kamu tempati. Mau yang mana?" Zaki berucap ketika keduanya sudah sama-sama berada di dalam rumah.


Mereka baru masuk ke rumah setelah pertengkaran rumit yang menghabiskan cukup banyak waktu sebelumnya. Setelah itu pula, Zaki dan Zery malah berkeliling melihat halaman rumah. Baru kemudian masuk ke dalam.


"Mm ... kamar kamu yang mana?" Zery malah balik bertanya.


"Oh, kalo gitu, bagaimana jika aku pilih kamar yang ada di lantai bawah saja?"


"Lho, kenapa?"


"Karena kamu sudah memilih kamar yang ada di lantai atas, maka aku harus memilih kamar yang ada di lantai bawah. Dengan begitu .... "


"Tidak bisa. Kamu tidak bisa memilih kamar yang ada di lantai bawah. Karena jika mama dan papa datang, kita akan sulit untuk berakting. Jadi, kamu tinggal di kamar sebelah kamar aku saja. Bagaimana?"


"Lho, tadi katanya minta aku pilih kamar. Tau gitu, dari tadi aja kamu bilang kalo kamu ingin aku tinggal di sebelah kamarmu, Muzaki." Zery berucap dengan nada yang penuh dengan penekanan saat ia menyebut nama Zaki.

__ADS_1


Yang di bicarakan bukan malah takut, eh ... taunya malah tertawa lepas. "Ha ha ha. Masih mending aku minta kamu tinggal di kamar yang bersebelahan dengan kamarku, Zerina. Kalo aku minta kamu tinggal di satu kamar dengan aku, itu akan lebih gak nyaman lagi bukan?"


Ucapan itu langsung membuat Zery menatap tajam ke arah Zaki. "Iya kali kamu ingin kita tinggal di satu kamar, pria kurang waras. Tau gitu, gak perlu buang uang hanya untuk beli rumah ini. Tinggal aja di rumah mama papa. Kita juga satu kamar, bukan?"


"Iya deh iya. Aku kan hanya bercanda saja. Orang bercanda pun kamu ambil hati."


"Siapa yang ambil hati? Gak ada gunanya." Setelah berucap kata-kata itu, Zery langsung melangkah pergi.


Beginilah kucing dengan tikus setiap harinya. Tidak ada pembicaraan yang tidak bertemu dengan yang namanya perdebatan.


Tapi, tom and jerry ini juga punya sisi kebersamaannya. Itu terbukti dari Zaki yang langsung merebut koper milik Zery ketika Zery ingin membawa koper tersebut naik ke atas.


"Biar aku saja yang bawa. Kamu bukain kamar aja nanti."


"Gak perlu. Ini gak berat kok."


"Jangan bikin aku malu sebagai lelaki, Zery. Karena sebagai lelaki, aku masih punya kesadaran yang besar. Aku tidak akan membiarkan kamu membawa barang selagi aku masih ada."


Dan, begitulah. Zaki yang membawa barang-barang Zery naik ke lantai dua. Tapi, ia hanya mengantarkan sampai ke depan pintu saja.


Selanjutnya, setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya, pekerjaan mereka selesai. Zery langsung turun ke bawah untuk mengambil air. Tenggorokannya yang kering membuat ia tidak bisa berdiam diri di dalam kamar lagi. Karena itu, mau tidak mau, ia harus keluar meskipun rasanya ia sangat lelah.

__ADS_1


__ADS_2