Menantu Pilihan

Menantu Pilihan
*MP Episode 34


__ADS_3

Tapi, saat ia mendapati Zery yang masih terbaring di sisinya dengan mata yang tertutup rapat, Zaki pun langsung membatalkan niatnya untuk bergerak. Karena hal langka itu sangat membuat hatinya merasa nyaman.


Tapi, tangannya yang nakal tidak bisa ia ajak kerja sama. Bisa-bisanya tangan itu bergerak, lalu menyentuh pipi Zery yang masih terlelap dengan indah.


"Kau manis sekali, tuan putri." Dan Zaki malah berucap kata-kata itu sambil menyentuh pipi Zery.


Hal tersebut sontak langsung membuat Zery terbangun dari tidurnya. Ia pun sadar kalau ia bangun telah dari biasanya, langsung menghambur dari atas kasur dengan cepat.


"A-- aku harus ke kamar dulu. Eh, ke-- ke kamar mandi maksudku. Jika ada yang kamu inginkan, tunggu aku kembali. Eh, bukan. Minta bibi yang melakukannya," ucap Zery sangat gugup.


Sebenarnya, entah karena ia bangun kesiangan atau karena ia terlalu gugup setelah sadar ia kalau dia sedang di perhatikan dari jarak dekat. Yang jelas, Zery sedang sangat ingin menghilang secepatnya dari pandangan Zaki saat ini.


Tapi Zaki yang sudah pulih dari demamnya pun kembali jadi Zaki yang usil seperti permintaan Zery tadi malam. Dia dengan cepat menahan tangan Zery agar tidak pergi. Dan, dengan nakalnya pula, Zaki langsung menarik tangan Zery sehingga Zery kehilangan keseimbangan hingga membuat Zery kembali jatuh ke dalam pelukan hangat Zaki.


"Zaki ...! Sialan banget sih. Lepaskan aku." Begitulah teriakan Zery dengan sedang berusaha keras melawan hatinya sendiri.


Sementara Zaki, ia tidak sedikitpun mendengarkan apa yang Zery katakan. Ia malah tetap memeluk tubuh Zery dengan erat.

__ADS_1


Keduanya sebenarnya sama-sama menikmati apa yang sedang terjadi. Tapi, rasa malu yang masih sangat besar membuat mereka tidak bertahan lama. Apalagi Zery yang masih belum sanggup terus berada dalam pelukan Zaki. Ia pun berusaha terus untuk melepaskan diri hingga ia berhasil.


"Dasar kurang ajat! Aku sudah berbaik hati merawat kamu yang demam akibat terlalu lama bermain hujan-hujanan. Sekarang, inikah balasan kamu terhadap kebaikanku?" Zery pun berusaha memperlihatkan kalau ia sedang malah dan kesal saat ini. Meskipun sebenarnya, hati Zery tidak merasakan hal yang sama dengan apa yang ia tunjukkan saat ini. Karena hati Zery malah merasa sangat bahagia akan apa yang sudah ia lakukan untuk Zaki.


"Hei ... kamu masih belum merawat aku sampai sembuh total. Karena itu, kenapa kamu buru-buru meminta balasan, Nona? Aku masih belum sembuh ini. Harusnya, kamu tetap ada di sini untuk merawat aku."


"Banyak omong. Aku sudah merawat kamu dengan baik semalaman. Sedangkan sekarang, kamu sudah sembuh. Kamu bisa merawat dirimu sendiri."


"Lagian aneh, main hujan-hujanan di malam hari. Kamu kira, kamu masih anak-anak ya? Dasar pria tua yang tidak sadarkan diri." Zery malah ngomel sekarang.


"Apa senyum-senyum. Kamu pikir aku sedang bercanda sekarang?" Zery semakin di buat kesal ketika melihat senyum yang Zaki berikan saat ia ngomel barusan.


"Yah ... aku tahu kamu tidak bercanda. Karena itu, aku tersenyum. Jika kamu bercanda, maka aku tentu akan tertawa."


"Dasar pria kurang waras. Suka-suka hati mu sajalah," ucap Zery semakin dibuat kesal lagi dan lagi.


Zery pun tidak ingin terap bertahan di kamar ini. Karena semakin lama ia bertahan, maka semakin panjang pula perdebatan yang akan terjadi di antara dirinya dengan Zaki.

__ADS_1


Namun, Zaki yang melihat Zery beranjak pun tidak kehabisan akal untuk mengganggu Zery.


"Ingat Zery! Aku gak akan melakukan apapun sebelum kamu datang kembali ke kamar ini. Karena itu, cepat kembali yah."


"Tidak akan." Zery berucap dengan suara yang penuh dengan penekan.


Tapi, kata-kata itu hanya sebatas kata-kata saja. Karena Zery yang merasa tidak sampai hati langsung kembali ke kamar Zaki setelah ia berbersih dan berdandan rapi.


Dengan semangkuk bubur dan segelas susu, Zery kembali memasuki kamar Zaki. Tentu saja kedatangan Zery sudah Zaki nantikan sejak tadi. Ia pun begitu bahagia menyambut Zery kembali.


"Kamu kembali juga akhirnya. Ternyata, kamu masih sangat peduli padaku ya, Ze." Zaki berkata dengan nada bahagia dan penuh dengan godaan.


"Jangan banyak omong. Aku datang hanya karena bibi sedang sibuk saja. Jika bibi tidak sibuk dengan pekerjaannya, tentu dia yang akan mengurus kamu sekarang."


"Ah, begitu ya." Lagi, ucapan itu tidak Zaki tanggapi dengan serius. Ia malah semakin menggoda Zery lagi dan lagi.


Tapi seperti biasa, mereka akan berbaikan atau bahkan semakin memperbesar perdebatan di saat mereka bersama. Namun, keduanya pun terlihat semakin akrab saja sekarang.

__ADS_1


__ADS_2