
Zaki terdiam. Tangannya pun langsung ringan ia gerakkan untuk menyeka air mata yang jatuh di pipi Zery.
"Jangan menangis lagi jika kamu ingin bicara dengan aku. Karena pria seperti itu, tidak pantas untuk kamu tangisi."
"Jawab pertanyaan ku, Zak!"
"Baiklah. Aku akan jawab."
"Ingat ketika pertama kali kita bertemu? Kamu marah padaku saat aku menjatuhkan tanamanmu yang cantik itu, bukan? Itu ... memang tidak aku sengaja, Ze. Tanaman itu tersangkut di lengan kemejaku karena aku sedang sibuk memperhatikan sepasang anak manusia yang sedang memadu kasih di pojokan luar toko mu."
"Ap-- apa!? Mereka ... mereka memadu kasih?"
Zaki mengangguk pelan. "Ya. Mereka sedang bercumbu. Tapi, saat kekacauan itu terdengar, si pria langsung menjauh. Sedangkan si wanitanya pula, seolah tidak ada yang terjadi, langsung menghampiri kita yang sedang adu mulut."
"Awalnya, aku acuh dengan apa yang sudah aku lihat. Tapi ketika aku melihat bingkai foto yang terpajang di dinding toko mu, aku menjadi kasihan pada perempuan yang sudah di selingkuhi saat itu. Yang tak lain adalah kamu, Ze. Karena itu, aku ingin bicara. Tapi sayangnya, tidak bisa. Kamu yang galak, tidak memberikan aku izin untuk berucap."
"Selanjutnya, saat papa memberikan selembar foto, aku juga ingin menolak secara langsung perjodohan ini. Tapi, saat melihat itu kamu, aku jadi mempertimbangkan hal lain. Menantu pilihan papa, adalah perempuan galak yang sudah memarahi aku yang sebelumnya ingin membantu dia menguak kebenaran. Karena itu, aku pikir tidak ada salahnya jika aku melakukan apa yang papa inginkan."
Mata Zery terus menatap lekat wajah Zaki.
__ADS_1
"Jadi, karena itu kamu bersedia menikah dengan aku, Zak? Karena kamu kasihan padaku yang bernasib malang? Yang sudah dikhianati oleh pacarnya sendiri. Berselingkuh dengan orang kepercayaannya. Karena itu kamu ingin bersama dengan aku?"
"Ya ... awalnya begitu, Ze. Tapi .... "
"Aku tidak butuh rasa kasihan, Zaki! Jangan pernah kasihani aku jika kamu ingin berteman denganku. Kamu mengerti?" Zery berkata dengan nada tinggi karena dia terlalu kesal dengan apa yang sudah Zaki katakan barusan.
Dia pun langsung bangun dari duduknya setelah selesai berucap. Zery ingin langsung meninggalkan Zaki sekarang juga.
Tapi, Zaki tidak akan membiarkan niat itu Zery lulus kan. Dengan sigap, Zaki menahan langkah Zery dengan memegang tangannya. Tapi untuk kali ini, Zery tidak jatuh lagi. Dia hanya langsung terdiam setelah tangannya Zaki pegang.
"Tunggu dulu. Jangan pergi sekarang. Aku masih ingin menjelaskan sesuatu padamu, Ze."
"Tapi Ze .... "
"Jika pun aku terluka. Aku juga tidak akan terlalu terluka, Zaki. Kamu tidak perlu cemas. Karena tidak ada hubungan antara kita selain hubungan kerja sama, bukan? Aku memang kesal padamu, karena kamu bekerja sama atas dasar kasihan padaku. Tapi, itu juga sebenarnya tidak penting. Karena orang yang bekerja sama, tidak perlu memikirkan alasan dari partner kerja samanya. Yang penting saling menguntungkan."
Setelah ucapan itu Zery ucap, Zery kembali melanjutkan langkahnya. Perlahan, tangannya yang Zaki genggam terlepas. Dan Zery pun langsung melangkah bebas meninggalkan ruang tamu.
...
__ADS_1
Setelah Zery masuk ke kamar usai perdebatan tadi siang, Zery masih belum menunjukkan batang hidungnya. Pintu kamarnya pun terus tertutup rapat. Hal itu langsung membuat Zaki merasa khawatir. Pemikiran buruk pun tiba-tiba muncul dalam benaknya.
"Ya Tuhan. Dia kan sedang patah hati. Kenapa aku bisa lupa akan hal itu." Zaki berkata sambil bergegas turun dari ranjangnya.
Yah, beberapa saat yang lalu, dia baru saja datang dari kamar Zery. Ketika melihat pintu kamar Zery yang masih tertutup, Zaki pun tidak mengganggunya lagi. Dia pikir, kalau akan lebih baik untuk Zery sendirian terlebih dahulu malam ini. Supaya pikirannya bisa lebih tenang.
Namun, pemikiran yang tidak-tidak mendadak muncul. Karena itu, dia merasa sangat cemas sekarang. Dengan langkah besar yang lebih mirip berlari, Zaki mendatangi kamar Zery.
"Ze, apa kamu baik-baik aja? Buka pintunya dong Ze! Atau, tolong lah keluar dulu. Ini udah sore soalnya. Gak baik jika kamu terus-terusan ngurung diri ke gini." Zaki berucap sambil mengetuk pintu kamar Zery.
Namun, setelah ucapan yang panjang lebar ia ucapkan. Satu patah kata jawaban pun tidak ia dapatkan. Tentu saja itu membuat rasa panik mendadak muncul.
"Zery! Kamu dengar aku, kan Ze? Buka pintunya. Jangan bikin aku cemas Zery."
Sama seperti sebelumnya. Zaki masih tidak mendapat jawaban dari ucapan yang dia ucapkan. Karena itu, dia langsung memilih untuk mendobrak pintu kamar Zery dengan keras.
Semua tenaga ia kerahkan untuk mendobrak pintu tersebut. Hingga pada akhirnya, ia berhasil membuka pintu itu.
Ketika pintu berhasil ia buka, matanya langsung membulat karena melihat Zery yang baru keluar dari kamar mandi. Sontak, keduanya pun langsung bertingkah serba salah menurut cara mereka masing-masing.
__ADS_1
"Zaki! Apa-apaan sih ini!? Apa yang kamu lakukan!?" Zery bicara dengan nada tinggi sambil merebut selimut yang ada di atas ranjang. Beruntung, jarak antara kamar mandi dengan ranjang tidak terlalu jauh. Jika tidak, entah bagaimana cara Zery untuk menutupi tubuhnya dari Zaki.