
"Zaki! Apa-apaan sih ini!? Apa yang kamu lakukan!?" Zery bicara dengan nada tinggi sambil merebut selimut yang ada di atas ranjang. Beruntung, jarak antara kamar mandi dengan ranjang tidak terlalu jauh. Jika tidak, entah bagaimana cara Zery untuk menutupi tubuhnya dari Zaki.
"Gila ya kamu, Zak! Main masuk kamar orang aja. Udah bener-bener gak waras ya!"
Zaki yang awalnya terdiam, pada akhirnya bisa berucap juga. Tentunya, setelah rasa gugup berhasil ia tangani. Karena bagaimana pun, dia juga seorang pria normal. Yang tentu akan merasa hal yang berbeda ketika melihat lawan jenisnya. Apalagi, lawan jenis itu sudah halal lagi. Gimana tidak rasa ingin langsung muncul dalam hati Zaki?
"Itu ... aku ... minta maaf, Ze. Aku hanya terlalu mengkhawatirkan kamu aja kok. Jadi ... ya reflek gak jelas." Zaki berucap sambil nyengir kuda. Tangannya pun ikut bertingkah tak karuan. Menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali.
"Lagian ... ini juga salah kamu sih. Aku udah panggil-panggil kamu beberapa kali, tapi kamu malah gak ngejawab satu kali pun. Ya aku jadi panik dong."
"Panik? Kenapa kamu bisa panik? Emang rumah kita kebakaran? Kemalingan? Atau ... apa?" Zery malah menunjukkan ekspresi yang menyebabkan Zaki merasa kesal.
"Ya ampun, Zerina Mukhti. Kamu itu baru aja habis patah hati. Gak keluar dari kamar sejak masuk tadi siang. Makan siang juga nggak, bukan? Ini udah sore. Ya wajar jika aku merasa cemas dengan keadaan kamu. Mana ketika aku panggil, kamu gak ngejawab satu kali pun."
"Jadi ... ih, kamu mikir apa sih?" Zery berucap sambil melempar bantal ke arah Zaki. "Kamu pikir aku perempuan bodoh yang gak punya pikiran apa?"
"Eh, udah bagus aku cemas padamu, nona. Kamu malah gak ada rasa terima kasih sama sekali padaku."
"Bodo amat. Emang aku perlu kamu cemaskan?"
__ADS_1
Yah ... inilah Zery yang tidak terlihat sedikit pun seperti perempuan yang baru saja patah hati. Ia lebih terlihat seperti perempuan galak sebelumnya. Hal itu membuat Zaki merasa sangat lega. Ia juga salut akan Zery yang bisa segera melupakan apa yang sudah ia rasakan.
"Mm ... Ze, kamu .... "
"Mau ngomong apa? Nanti aja. Biarkan aku selesai berpakaian terlebih dahulu baru kamu ajak ngomong. Dan ... ah, ya ampun Zaki ... itu pintu kamarku, harus segera kamu perbaiki nanti."
Zaki ingin tersenyum. Tapi ia tahan hatinya sekarang. Segera, ia meninggalkan Zery tanpa berucap satu patah kata pun terlebih dahulu.
Sementara Zery, setelah kepergian Zaki, ia pun langsung terdiam. Menatap pintu kamar yang ikut tertutup kembali meskipun kuncinya sudah tidak berfungsi seperti sebelumnya.
"Aku tahu apa yang kamu pikir, Zak." Zery berucap dengan suara pelan. "Kamu pasti cemas akan aku yang baru saja sakit hati, bukan? Dan sekarang, kamu pula pasti berpikir jika aku sudah bangkit dan melupakan rasa sakit yang aku rasakan."
Buliran bening pun jatuh melintasi pipi putih Zery. Dengan cepat, Zery menyeka buliran bening tersebut agar tidak terus mengalir. Dia berusaha untuk tetap terlihat kuat. Meskipun pada kenyataannya, dia sedang sangat rapuh saat ini.
...
Zaki lagi-lagi mengetuk pintu kamar Zery ketika senja baru berganti dengan malam. Ia ingin memanggil Zery untuk ia ajak makan malam. Karena sejak tadi siang, Zery tidak makan sesuap nasi pun.
"Ze, makan dulu yuk! Aku udah pesan makan buat kita."
__ADS_1
"Kamu makan duluan aja, Zak. Aku masih belum lapar sekarang."
"Ze ... jangan buat aku cemas. Kamu yang bicara seperti ini langsung mengubah pikiranku terhadap kamu lho. Aku berpikir, kalo kamu tadi sore itu .... "
"Ish! Apa sih kamu ini? Ngomong gak jelas," ucap Zery sambil memperlihatkan wajahnya di depan Zaki dari pintu yang langsung ia buka karena mendengar ucapan Zaki barusan.
Zaki langsung menyambut tatapan kesal Zery dengan senyum manis. "Nah, gitu dong. Ayo makan, Zery. Kalo gak makan aku makin berpikir yang nggak-nggak soal kamu lho."
"Kek anak kecil banget kamu, Zak. Padahal, tuaan kamu dua tahun dari aku, kan?"
"Peduli amat dengan umur. Yang penting, aku bisa bersikap sesuka hatiku saat sedang bersama dengan kamu."
Langkah Zery langsung terhenti karena ucapan Zaki barusan. "Maksud kamu, sikap seperti ini hanya saat bersama dengan aku? Bagaimana saat bersama pacarmu, Zak?"
Zaki ikut terdiam. Dia pun menoleh secara perlahan ke arah Zery yang kini sedang berada di belakangnya sejauh beberapa langkah.
"Aku ... dengan pacarku ... itu ... itu rahasia dong. Mana bisa aku katakan padamu. Ingin tahu aja kamu yah."
"Udah ah, ayo makan sekarang. Aku udah lapar banget nih. Jangan bikin maag aku kambuh ya. Soalnya, aku juga gak makan dari tadi siang," ucap Zaki dengan cepat berusaha mengalihkan perhatian Zery dari apa yang sedang mereka bahas sebelumnya.
__ADS_1