
"Sudah aku katakan, Rik. Beri aku waktu satu tahun agar aku bisa mengubah pandangan kedua orang tuaku terhadap kamu. Tapi apa yang kamu lakukan, hah? Kamu malah membuat aku merasa kecewa seperti ini sekarang."
"Sudahlah, Zaki. Aku sudah bosan dengan kamu. Dengan kata-kata yang sudah kamu ucapkan. Kau tahu bukan? Aku adalah perempuan yang tidak suka menunggu. Jadi, ketika orang tua kamu menolak aku, maka aku tidak akan ingin menjadi menantu dari mereka lagi. Dan sebagai balasannya, aku akan menyakiti hati anak mereka seperti yang sudah aku lakukan padamu saat ini."
Zaki tidak lagi mampu menjawab dengan kata-kata. Senyum yang Rika berikan sungguh sangat menyakiti hatinya. Karena itu, ia tidak kuat untuk tetap bertatap muka dengan Rika. Zaki memilih untuk segera meninggalkan Rika sekarang juga.
Zaki mengendarai mobil melintasi jalan raya dengan kecepatan tinggi. Dia terus mengemudi tanpa arah dan tujuan. Hingga akhirnya, mobil itu membawa Zaki kembali ke rumah.
Zaki pun menghentikan mobilnya di depan jalan menuju rumah mereka. Sepertinya, ia masih belum berniat untuk masuk ke dalam rumah. Karena pikirannya yang kacau, ia ingin tetap sendirian sekarang.
Setiap ucapan Rika terus saja memutar dalam benak Zaki. Itu tak ubah sebuah rekaman yang terus diputar ulang. Mengisi benaknya meskipun ia tidak ingin mengingat hal yang menyakitkan hatinya saat ini.
Perlahan, hujan turun membasahi bumi. Deras, sederas air mata Zaki yang jatuh melintasi pipi. Sungguh, ia tak percaya jika kekasih yang sangat ia cintai malah hanya menjadikan ia sebagai bahan balas dendam saja. Hal itu sungguh sangat menyakitkan buat Zaki.
Ketika hujan terus turun dengan derasnya. Zaki pun memilih turun dari mobil. Entah kenapa, ia ingin sekali berada di bawah air hujan dan gelapnya malam agar kesedihan yang ia curahkan lewat tangisan tidak dilihat oleh siapapun.
__ADS_1
Beberapa waktu berlalu. Zaki masih saja setia menikmati titik-titik hujan yang menyentuh tubuhnya. Yah, dia terlihat sangat rapuh. Lebih rapuh dari seorang perempuan saat ia patah hati.
Sementara itu, Zery yang ada di rumah tiba-tiba merasa agak cemas dengan Zaki. "Duh, Zaki kok belum pulang juga yah. Apa dia nginap di rumah pacarnya malam ini?"
"Aish, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan pria itu? Karena Zaki pernah bilang, pacarnya tidak suka ia menginap. Karena itu, Zaki tidak pernah menginap di rumah pacarnya."
"Aduh ... kok aku yang malah pusing mikirin Zaki sih? Mana tau dia sedang bahagia dengan pacarnya. Inikan sedang hujan lebat. Gak mungkin dong pacarnya tega ngebiarin Zaki pulang dalam keadaan hujan. Itu sama aja dengan dia yang ingin ngebiarin Zaki dalam bahaya."
Begitulah Zery yang sibuk dengan pikirannya sendiri hingga ia pun mengambil kemungkinan yang ia anggap sangat benar bisa terjadi. Tapi, entah kenapa, ia ingin menutup dua gorden yang ada di jendela kamarnya.
"Ya, itu Zaki. Lagian, mana ada orang yang berani duduk di depan rumah orang. Apalagi saat hujan begini. Ya kali mereka gak punya kerjaan mau mandi hujan." Zery berkata sambil mengambil payung untuk keluar dari rumah.
"Ya Tuhan ... apa pria itu sudah benar-benar tidak waras sekarang? Masa iya dia lagi main hujan-hujanan. Gak ingat umur kali yah. Mana malam-malam begini lagi."
Zery terus ngomel sambil berjalan cepat menuju kursi taman depan rumahnya. Saat ia tiba di sana, ia pun langsung bisa melihat tatapan sayu dari mata Zery.
__ADS_1
"Zaki."
"Zerina."
"Kamu kenapa, Zak? Kok .... "
Belum juga selesai kata-kata yang ingin Zery ucapkan, Zaki malah langsung menghambur ke dalam pelukannya. Dengan isak tangis yang terdengar sangat keras, Zaki terus membenamkan wajah ke dalam pelukan Zery.
Zery terdiam. Ia tidak tahu hal berat apa yang baru saja Zaki alami. Tapi yang jelas, ia bisa merasakan kalau saat ini, Zaki sedang berada dalam kesedihan yang paling dalam.
Zery pun membiarkan Zaki memeluk tubuhnya dengan erat. Perlahan, payung yang ia pegang langsung terlepas. Dia pun membalas pelukan Zaki dengan pelukan yang erat pula.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya Zery berhasil membawa Zaki masuk ke dalam rumah. Ia minta Zaki mandi, dan Zaki melakukan apa yang Zery katakan. Saat ini, Zaki tak ubah seperti anak kecil yang penurut. Sangat-sangat penurut.
Setelah mandi dan berganti pakaian di dalam kamar mandi karena Zery menunggu di kamar, Zaki pun keluar dengan rambut yang masih basah. Entah mendapatkan bisikan dari mana, Zery reflek langsung mengambil handuk untuk mengeringkan rambut Zaki. Sementara Zaki, ia hanya terus menikmati setiap yang Zery lakukan tanpa bersuara satu patah katapun.
__ADS_1