
Beberapa hari pun berlalu dengan baik. Usaha Zery untuk memberi pelajaran pada kedua pengkhianat berjalan dengan sangat lancar. Sedangkan hubungannya dengan Zaki, seperti sebelumnya. Akan saling bertukar obrolan jika punya waktu untuk bicara.
Tapi, waktu untuk keduanya bicara sekarang semakin sedikit. Karena Zaki yang sibuk dengan pekerjaan, juga sibuk dengan pacar yang kini sudah ada di sisinya membuat hubungan antara Zery dan Zaki terbatas.
Zery sering merasa kesepian di rumah. Karena Zaki yang biasanya pulang cepat. Kini berubah pulang malam. Atau, jikapun Zaki pulang sore, dia pasti akan pergi lagi pada malam harinya. Bahkan, dia sering terlihat sangat kelelahan entah karena apa.
Zery merasa prihatin. Tapi, tidak bisa bicara banyak. Karena Zaki akan selalu mengatakan kalau dia sedang baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di cemaskan karena ia bahagia melakukan apa yang ia lakukan saat ini.
Sementara Zery pula, ia juga jadi tidak terlalu memikirkan kehidupan rumah. Karena terlalu sibuk dengan urusan toko dan rencana balas dendam yang sedang ia pikirkan untuk membuat kedua pasangan yang sudah mengkhianatinya menyesali apa yang sudah mereka perbuat.
Seperti saat ini, dia sudah mulai bergerak ke jalan yang lebih luar. Dia pun mengajak Irvan untuk bertemu karena ada hal yang ingin ia bahas.
"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku, Zer? Kayaknya, serius banget." Irvan berucap setelah ia duduk di kursi yang sudah Zery pesan di salah satu rumah makan.
"Sayang. Aku sebenarnya malu untuk bicara hal ini. Tapi ... aku gak punya tempat lain untuk aku ajak bicara lagi. Van, mau nggak bantuin aku?"
"Bantuin apa?"
__ADS_1
"Pinjamkan aku uang."
"Hah? Uang? Apa maksud kamu, Zer?" Seketika, Irvan langsung terlihat agak kaget akan apa yang Zery katakan.
Sementara Zery, ia terus memperlihatkan wajah sedih dan penuh harap. "Itu ... aku berniat untuk memperluas toko. Jadi, aku ingin pinjam tabungan kamu untuk modal sementara. Nah, jika aku udah punya untung, aku pasti akan balikin dana yang udah kamu pinjam."
"Hah? Gak salah kamu ngomong itu sama aku, Zer? Tabungan aku itu ... itu untuk ... untuk masa depan aku. Ah, maksudnya, untuk masa depan kita. Jika aku pinjamkan, bagaimana kalo kamu gak punya untung untuk mengembalikan uang aku kembali? Itu bisa ... bisa bahaya, Zery."
"Bahaya apanya, Van? Aku yakin kok kalo aku mampu buat balikin dana yang akan aku pinjam dari kamu. Dan, lagian, uang yang ada dalam tabungan kamu itu pun sebagiannya uang aku, kan? Dana dari toko yang aku sisihkan untuk buat kita nikah nanti."
"Ah, itu .... "
"Tapi, Ze .... "
"Tapi apa? Jangan bilang kalo kamu pakai untuk keperluan mu sendiri. Aku akan bisa marah besar, Irvan."
Irvan tidak bisa berkutik lagi. Tidak bisa berpikir hal lain selain mengalah, Irvan terpaksa menyetujui apa yang Zery katakan. Ia keluarkan kartu ATM dari dompetnya. Lalu, ia serahkan ke Zery dengan sangat berat hati.
__ADS_1
"Ini! Ingat untuk ganti yah. Karena ini adalah tabung masa depan."
Zery tersenyum manis. "Pasti, Irvan sayang."
'Pasti nggak akan aku ganti karena ini adalah bayaran untuk aku karena kamu udah bikin aku sakit hati. Dan, bayaran untuk aku yang selama ini sudah membiayai buaya yang tidak tahu terima kasih di toko ku. Karena dia adalah selingkuhan kamu, maka kamu yang harus mengganti semuanya,' kata Zery dalam sambil terus tersenyum lebar.
Usai dari pertemuan itu, Zery langsung menarik semua uang dari kartu ATM tersebut. Setidaknya, ada lebih dari tiga ratus juga di dalam kartu tersebut. Semuanya Zery keluarkan tanpa ada sisa.
Selanjutnya, uang yang sudah Zery tarik, langsung ia kirimkan ke rekening yang lain. Dengan begitu, transaksi akan aman. Irvan juga tidak akan terlalu curiga dengan Zery yang sudah berbohong.
Selesai satu urusan, kini Zery akan melanjutkan urusan kedua. Yaitu, mengurus Lena yang kini masih tinggal dengan nyaman di toko seperti tidak punya salah sebelumnya.
Siang harinya, dua perempuan datang ke toko dengan membawa map masing-masing. Zery langsung menyambut kedua perempuan itu dengan hangat. Hal itu langsung membuat rasa tidak nyaman di hati Lena.
Setelah kepergian dua perempuan tersebut, Lena langsung meninggalkan pekerjaannya yang sekarang cukup banyak. Dengan rasa penasaran, ia menghampiri Zery yang kini sedang tersenyum ramah melepas kepergian dua orang perempuan tadi.
"Mbak Zery, siapa kedua perempuan yang bicara dengan mbak barusan? Sepertinya, mereka bukan pelanggan."
__ADS_1
"Iya. Mereka memang bukan pelanggan, Lena. Tapi, mereka adalah calon karyawan toko ini."
"Ap-- apa, mbak? Mereka adalah karyawan? Tung-- tunggu deh. Mbak Zery ingin mencari karyawan lagi? Apa aku dengan mas Seno gak cukup sebagai karyawan di toko mbak ini?"