Menantu Pilihan

Menantu Pilihan
*MP Episode 38


__ADS_3

Zery dan Zaki kini sudah ada di restoran yang cukup ternama di kota ini. Zaki sengaja membawa Zery ke sini karena ia tahu, Zery paling suka masakan dari restoran tersebut. Karena itu, meskipun cukup jauh, dia pasti akan membawa mobilnya menuju restoran tersebut.


"Ke sini lagi?" Zery berucap sambil melirik sesaat wajah Zaki.


"Ya dong. Inikan restoran favorit kamu."


"Kan jauh, Zak."


"Ya aku gak akan mikir soal jauh jika itu untuk kamu."


"Dasar buaya. Bisa aja ngegombalnya ya."


"Aku bukan buaya. Cuman kadal doang kok."


Candaan itu langsung membuat Zery tersenyum lebar. Dia bahagia dengan pria yang sangat memahami dirinya. Meskipun awalnya terpaksa, tapi bertemu Zaki adalah hal terindah dalam hidupnya.


'Pantas mama dan papa pilih dia sebagai menantu pilihan. Ternyata, dia luar biasa sempurna buat aku yang tidak bisa mengerti diriku sendiri,' kata Zery dalam hati sambil terus tersenyum.


'Dan ternyata, apa yang Dinda katakan itu benar adanya. Pilihan orang tua adalah pilihan yang terbaik. Karena orang tua cukup tahu apa yang terbaik buat kita. Ridho orang tua adalah ridho yang maha kuasa. Jadi, tidak salah kalau mereka memilih karena itu, sudah mereka pertimbangkan dengan sangat baik.' Zery berucap lagi.


Makanan pun datang. Perhatian Zery pun langsung teralihkan dengan melihat menu makanan yang tersedia di atas meja. Sementara Zaki, dia malah sudah mau mencoba makanan yang ia pesan.

__ADS_1


"Kamu kelaparan ya, Zak? Langsung nyicip tanpa mikir lama-lama lagi."


"Ya ... aku emang kelaparan sih. Tapi gak banyak kok. Dikit doang. Karena yang banyak itu, hilang setelah lihat kamu." Lagi-lagi Zaki menjawab dengan godaan.


"Kalo gitu, aku malah udah kenyang langsung sekarang, Zak."


"Lho kok bisa?"


"Ya iyalah. Kenyang akibat gombalan mulut manis kamu itu. Lagian, aku heran deh ama kamu sekarang. Bisa-bisanya kamu berubah jadi pintar ngegombal orang."


"Aku cuma pintar gombal kamu aja kok Ze. Yang lain gak tuh."


"Dasar kamu."


Belum juga Zery merespon apa yang Zaki katakan. Sebuah panggilan dari suara yang cukup Zery kenal langsung mengalihkan perhatian mereka berdua.


"Zery. Kamu .... "


Sontak, Zery dan Zaki langsung menoleh ke arah pria yang kini berada di samping meja makan mereka. Pria itu sedang memakai seragam restoran tersebut. Dan saat ini, ia sedang bertugas mengantar makanan ke para pelanggan yang lain.


Kebetulan yang luar biasa. Pelanggan yang ia antar kan makanan itu berada di samping meja yang Zery dan Zaki tempati. Karyawan yang tak lain adalah Irvan itupun langsung tidak bisa menahan diri ketika melihat Zery yang sedang bahagia bersama pria lain.

__ADS_1


"Irvan." Zery berucap dengan nada cukup tegang sekarang. Ia pun memperhatikan Irvan dengan seksama.


"Zery. Siapa dia? Kenapa kamu bisa bersama pria di sini?"


"Apa urusan kamu aku mau sama siapa saja ke sini, hm? Kamu pikir, ini tempat pribadi kamu ya? Yang tidak bisa dimasuki oleh orang lain sesuka hati.” Zery berusaha agar tetap tenang menghadapi pria yang tidak tau malu ini.


"Bu-- bukan itu maksud aku."


"Lalu? Maksud kamu apa?"


Saat ini, Zaki masih bertahan dengan diamnya. Karena ia yakin, kalau Zery mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dengan cepat. Tanpa harus ia bantu tentunya.


"Zer ... aku ... minta maaf. Ternyata, Lena tidak sebaik yang aku pikirkan. Dia bukan berlian yang seperti aku bayangkan. Dia memang keras kepala. Dan, dia sudah membuat aku di buang dari kantor akibat ulahnya yang terlalu cemburu padaku."


Saat itulah, Zery baru paham kenapa Irvan ada di sini menjadi pelayan di rumah makan tersebut. Tapi, Zery masih tidak ingin menanggapi apa yang Irvan katakan. Begitu pula dengan Zaki yang sepertinya sedang berusaha menahan diri agar ia tidak memperlihatkan rasa tidak sukanya pada Irvan.


"Andai waktu bisa aku putar kembali, aku pasti tidak akan melepaskan kamu hanya demi dia, Zerina." Irvan kembali berucap dengan suara sedih penuh penyesalan.


Karena kata-kata itu, Zaki tidak bisa diam lagi. Kesabarannya pun langsung luntur. Ia pun bangun dari duduknya dengan cepat.


"Bro, jika waktu bisa kamu putar kembali, aku yakin akan satu hal. Dia pasti akan memilih untuk tidak mengenalimu sama sekali. Jadi, jangan berpikir terlalu jauh untuk memiliki apa yang sudah kamu sia-siakan."

__ADS_1


"Kamu siapa, hm? Jangan ikut campur dalam masalah aku dengan dia. Aku kan sedang bicara dengan dia. Bukan dengan kamu," ucap Irvan dengan nada kesal.


__ADS_2