Menantu Pilihan

Menantu Pilihan
*MP Episode 12


__ADS_3

Beberapa saat waktu berlalu, akhirnya pesanan makanan pun tiba. Zaki mengambil makanan tersebut, sedangkan Zery menyiapkan peralatan. Sejauh ini, hampir semua pekerjaan mereka lakukan secara bersama-sama.


Zaki memang sedikit lebih tua dari Zery. Tapi kelakuannya, lebih bisa di sebut adik oleh Zery. Karena ia akan bersikap layaknya anak remaja ketika ia bersama dengan Zery.


Namun, sikap itu hilang saat Zaki bersama dengan orang lain. Seperti, kedua orang tuanya ataupun kedua orang tua Zery. Hal itu selalu menimbulkan pertanyaan dalam hati Zery. Tapi, Zery tidak ingin mengutarakan pertanyaan itu secara langsung kepada orangnya. Karena sejauh ini, sikap Zaki masih ia anggap wajar. Dan sikap itu cukup membuat ia merasa nyaman.


"Oh ya, Ze. Besok, aku udah mulai kerja nih? Kalo kamu gimana? Apa mau di rumah aja dulu besok?" Zaki berucap di sela-sela mengunyah makanan yang sedang ia makan.


"Besok? Mm ... kek nya, aku juga harus masuk kerja deh. Soalnya, udah lama toko aku ku tinggalkan. Gak tau deh apa yang terjadi dengan toko sekarang. Harap, baik-baik aja."


"Karyawan kamu gak ada menghubungi kamu, bukan? Maksudku, toko itu pasti baik-baik saja karena gak ada laporan dari bawahan kamu sebelumnya."


"Yah, semoga aja begitu. Takutnya, karyawan itu sengaja gak ingin menghubungi aku karena dia gak enak hati buat gangguin aku. Kan, aku bilang aku lagi libur kemarin. Gak ingin di ganggu karena aku mau nenangin pikiran."


"Ah, kalo gitu salah kamu dong. Jika ada masalah, dia gak menghubungi kamu, itu artinya bukan salah dia. Tapi .... "


"Kamu bisa ngomong baik-baik gak sih, Zak? Heran deh ya sama kamu. Baru juga ngobrol tenang, eh ... malah bikin ulah lagi. Bikin kesal lagi."

__ADS_1


Zaki pun kembali tersenyum lebar.


"Ya-ya. Maaf, aku salah. Habisnya, kamu itu bikin gemes jika sedang kesal. Karena itu, aku ingin sekali lihat kamu kesal setiap saat. Karena wajah mu itu .... Uw mmm .... "


Ucapan Zaki langsung tertahan karena Zery yang langsung menyuapi sendok dengan nasi yang berusi penuh ke dalam mulut Zaki. Karena itu, mulut Zaki tidak bisa mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Jangankan untuk berucap, untuk mengunyah aja ia kesulitan.


"Makan tuh! Pria kurang waras."


Setelah berucap kata-kat itu, Zery ingin langsung meninggalkan Zaki. Tapi, tangan Zaki dengan cepat menangkap tangan Zery sehingga keseimbangan dari tubuh Zery jadi terganggu. Akhirnya, Zery pun terjatuh di pangkuan Zaki.


"Ah ...! Zaki!"


Mereka terdiam dengan tubuh yang saling membeku selama beberapa saat. Hingga pada akhirnya, sebuah panggilan masuk ke ponsel Zaki yang membuat mereka langsung sadar akan apa yang sedang terjadi.


"Kamu ... kurang ajar banget sih, Zaki!" Zery langsung berteriak dengan suara tinggi sambil menghambur turun dari pangkuan Zaki.


Zaki yang sebelumnya merasakan perasaan yang sama, bahkan merasa begitu gugup langsung berusaha menyembunyikan apa yang ia rasakan. Setelah berhasil, ia baru bangun dari duduknya.

__ADS_1


"Ze ... mm ... maaf. Habisnya, kamu yang begitu usil padaku duluan. Main suap aja. Terus, udah gitu gak bertanggung jawab lagi. Pergi begitu aja meninggalkan aku sendirian. Yah, gak akan aku izinkan dong. Jadi ... itu ... bukan salah aku dong yah."


"Pintar aja kamu ngelesnya. Ngomong aja yang banyak. Ih ... ku getok juga punggungmu nanti, Zak."


"Nasib aku masih ingat status. Walau bagaimanapun, kamu .... "


Zery langsung menggantungkan kalimatnya. Iya, dia kesal pada Zaki. Ingin rasanya ia pukul Zaki dengan keras. Bukan punggung, tapi kepala agar otaknya bisa bener. Namun, ia masih sadar akan siapa dirinya. Meskipun pernikahan ini hanya sandiwara. Tetap saja, status Zaki adalah suami. Main tangan dengan suami akan sangat berdosa. Meskipun mulut tidak bisa ia rem. Tapi setidaknya, tangan tidak boleh lepas kendali.


Sementara itu, Zaki yang menantikan kelanjutan dari kata-kata Zery sepertinya sangat tidak sabar lagi. Ia pun menyipitkan satu mata dengan tatapan lurus ke arah Zery.


"Kamu ... apa, Ze?"


"Gak ada apa-apa. Tuh, siapa yang barusan nelpon kamu. Lihat gih! Mana tahu pacar kamu yang barusan menghubungimu."


Zaki pun langsung mengalihkan pandangan dari Zery ke ponsel yang masih tergeletak di atas meja. "Mungkin. Tapi, jangan naik dulu lah. Temani aku di sini sampai aku siap untuk meninggalkan dapur."


"Eh, macam-macam aja kamu yah. Kamu yang ingin pacaran lewat udara, aku yang jadi korbannya. Ogah banget aku." Zery berucap dengan kesal.

__ADS_1


Sungguh, entah kenapa ia merasa ada yang tidak nyaman dalam hatinya sekarang. Rasanya, ia ingin sekali meninggalkan Zaki sendirian ketika Zaki melirik ponselnya barusan.


__ADS_2