Menantu Pilihan

Menantu Pilihan
*MP Episode 18


__ADS_3

"Udah ah, ayo makan sekarang. Aku udah lapar banget nih. Jangan bikin maag aku kambuh ya. Soalnya, aku juga gak makan dari tadi siang," ucap Zaki dengan cepat berusaha mengalihkan perhatian Zery dari apa yang sedang mereka bahas sebelumnya.


Ternyata, pengalihan perhatian itu langsung berhasil. Zery pun langsung melupakan soal pembahasan sebelumnya karena mendengar ucapan Zaki yang mengatakan kalai ia pun belum makan dari tadi siang. Karena itu, Zery langsung melupakan apa yang mereka bahas sebelumnya. Yang menurut Zery, itu juga tidak terlalu penting buat dia.


Makan malam berlangsung dengan tenang. Mereka menghabiskan makan malam masing-masing dengan lahap seperti sebelumnya tidak pernah terjadi apapun di antara salah satu dari mereka.


Setelah makan malam usai, Zaki mengajak Zery untuk ngobrol di ruang keluarga sambil menonton televisi. Zery menerima ajakan itu dengan senang hati. Karena dekat dengan Zaki membuat hati Zery jauh lebih tenang dari pada ia sendirian di dalam kamar.


"Kamu kok bisa tiba-tiba masuk ke kamar aku sih tadi sore, Zak? Mana masuknya dengan cara gak elegan lagi." Zery memulai obrolan di antara keduanya setelah beberapa saat terdiam.


"Elegan? Yang benar aja kamu, Ze. Mana sempat aku mikir cara elegan masuk ke kamar kamu yang pada saat itu sudah bikin aku cemas setengah mati." Zaki berkata dengan raut wajah yang penuh dengan kejujuran.

__ADS_1


"Cemas setengah mati? Maksud kamu apa?"


"Kamu itu baru aja patah hati pada siang harinya. Terus, ngurung diri di kamar sampai sore. Itu bikin aku langsung berpikir yang nggak-nggak. Terus, aku hampiri deh kamar kamu untuk memastikan kalo kamu baik-baik aja. Eh, udah aku panggil beberapa kali, kamu nya gak nyaut satu kali pun. Gimana gak bikin aku langsung panik coba?"


"Eh, perasaan udah aku jelaskan deh tadi di kamar kamu ya, Ze. Kok kamu malah nanya balik sih sekarang?" Zaki berucap dengan wajah yang langsung ingin tersenyum karena sebelumnya, ia menjelaskan kata-kata itu dengan penuh perasaan.


"Iya sih. Kamu udah jelaskan tadi. Tapi, aku merasa penasaran lagi aja. Mm ... aku gak jawab panggilan kamu kan karena aku sedang mandi. Mana dengar aku kalo kamu panggil aku sebelumnya. Tapi ... makasih banyak yah, kamu udah begitu perhatian padaku, Zak."


Sontak, ucapan Zery yang awalnya penuh dengan perasaan tidak enak itu langsung tertahankan akibat sentuhan lembut tangan Zaki yang tiba-tiba langsung menyentuh bahunya. "Santai aja, Zery. Rika gak jadi pulang kok hari ini. Karena itu, aku gak pergi jemput dia. Jadi, gak ada hubungannya dengan kamu. Oleh karena itu, bicaranya gak perlu dengan perasaan yah."


Untuk sesaat, Zery merasa tidak bisa bergerak akibat penjelasan Zaki barusan. Sungguh, ia merasa begitu malu karena berpikir hal yang sama sekali tidak masuk akal seperti barusan. Berpikir kalo Zaki lebih mementingkan dirinya dibandingkan pacar yang begitu Zaki cintai. Karena itu, ia sangat malu saat ini.

__ADS_1


"O-- oh. Aku pikir ... mm ... maksudku, mungkin dia sudah pulang dan kamu pergi gak bilang-bilang padaku tadi siang. Karena itu, anu ... ah, jadi namanya Rika yah? Seperti apa sih dia. Tiba-tiba, aku jadi merasa penasaran." Zery berusaha memperbaiki suasana yang canggung akibat kesalahpahaman yang ia ciptakan.


"Dia ... sama seperti perempuan pada umumnya. Hanya saja, dia agak dingin dan tidak suka banyak bicara. Dia lebih terlihat dewasa dan selalu serius. Jika bersamanya, tidak akan ada yang namanya candaan. Karena dia tidak suka bercanda. Tapi, aku suka padanya. Aku cinta dia. Karena itu, aku berusaha mempertahankan dia sampai pada akhirnya, kita bisa bersama. Akan aku ubah pandangan mama dan papa tentang dia kelak."


Ucapan itu mendadak membuat hati Zery merasa tidak nyaman. Ada beberapa rasa yang kini mengganggu perasaannya. Meskipun Zery berusaha menghilangkan rasa itu, tapi tetap saja, rasa itu tidak ingin pergi dari hatinya.


Rasa kesal, sedih, kecewa, juga sakit hati. Semuanya seakan berkumpul jadi satu dalam hati Zery saat ini. Tapi, ingin marah juga ia sadar akan siapa dirinya. Terpaksa, ia harus berusaha keras melawan perasaan itu dengan sekuat tenaga.


"Oh ... ternyata, kamu begitu mencintai dia dengan sepenuh hati, Zak. Mm ... dia adalah perempuan yang sangat beruntung karena telah menemukan kamu yang ternyata adalah seorang pria yang bisa mencintai dengan sepenuh hati. Tidak seperti aku yang malang. Yang tidak bisa mendapatkan cinta sepenuhnya dari orang yang aku cintai. Malahan, aku malah dikhianati dengan orang terdekat yang sudah aku percaya sepenuhnya."


Ucapan itu membuat Zaki merasa sedih. Dia pun langsung menggenggam lembut tangan Zery.

__ADS_1


"Jangan sedih, Ze. Jodoh itu sudah di tetapkan oleh yang maha kuasa. Jadi, jika itu memang jodohmu, gak akan tertukar kok."


__ADS_2