Menantu Pilihan

Menantu Pilihan
*MP Episode 13


__ADS_3

Sungguh, entah kenapa ia merasa ada yang tidak nyaman dalam hatinya sekarang. Rasanya, ia ingin sekali meninggalkan Zaki sendirian ketika Zaki melirik ponselnya barusan.


"Ye ... cuman minta di temani doang. Gak juga lama, Ze. Bentar aja."


"Mm ... lagian, gak juga pacaran tuh. Nelpon aja juga belum, Ze."


"Tau ah. Serah kamu aja. Peduli apa aku sama kamu. Gak ada sangkut pautnya. Gak ada urusan." Kembali ingin meninggalkan Zaki setelah ucapan ia selesaikan, Zery kembali mendapat penahanan dari Zaki.


Kali ini, tidak menahan dengan kontak tangan. Melainkan hanya dengan kata-kata saja.


"Tunggu, Ze! Sebenarnya, aku belum selesai ngomong. Karena itu, jangan pergi dulu."


"Apalagi?" Zery kembali berucap dengan nada kesal.


"Besok, pacarku pulang dari luar negeri. Aku juga sudah mulai ngantor seperti sebelumnya. Karena itu, kita gak akan punya banyak waktu lagi buat ngobrol kek malam ini. Karena itu, temani aku ngobrol dulu yah. Baru masuk ke kamar."


Zery terdiam selama beberapa waktu. Entah kenapa, ia merasa agak kasihan pada Zaki. Dia pun memilih untuk tetap bersama Zaki saat ini. Yah, meskipun sebenarnya, ada rasa kesal dalam hati Zery, tapi rasa kasihan lebih kuat sekarang.


Zery pun langsung menarik kursi untuk kembali duduk ke tempat sebelumnya.


"Mm ... Zak, kamu udah ngomong ke pacar kamu soal masalah kita sekarang? Maksudku, pacar kamu tahu tentang kerja sama yang sedang kita jalani ini?"

__ADS_1


"Nggak. Pacarku belum tahu. Aku berniat ingin mengatakannya. Tapi, tidak sekarang. Mungkin secara perlahan, setelah ia kembali beberapa lama di tanah air."


"Oh. Begitu?"


"Yah. Mm ... kamu sendiri gimana? Apa kamu sudah mengatakan masalah kita pada pacarmu?"


Zery langsung memberikan anggukan pelan.


"Tidak. Sama seperti kamu, aku juga belum mengatakan apapun pada pacarku."


"Kenapa? Pacar kamu juga sedang tidak ada di tanah air ya, Ze?"


"Nggak lah. Pacarku ada. Hanya saja ... hubungan kami sedang tidak baik-baik saja sekarang. Tepatnya, kami sedang berselisih paham karena dia yang menolak aku ajak ke temu mama papa waktu itu. Hingga detik ini, kami masih belum baikan."


"Zery dengar ya, jika cowok itu serius suka sama ceweknya, maka ia rela melakukan apa saja. Jangankan datang ke rumah si cewe, Zer. Di kejar anjing puluhan meter saat datang aja rela dia."


"Lah, apa hubungannya di kejar anjing sama cowok yang serius? Ada-ada aja kamu, Zak."


Zery berucap sambil menggelengkan kepalanya. Ia juga menatap Zaki dengan tatapan cemoohan.


"Yaelah, Zery. Aku ngomong itu serius lho. Cowok yang serius, gak akan nolak kalo kamu ajak ketemu papa mama mu. Malahan, mereka yang akan maksa buat di ketemuin dengan kedua orang tua kamu. Gitu."

__ADS_1


"Dan, satu lagi, Zery. Jika ia masih sayang sama kamu, dia gak akan bisa berselisih paham sama kamu terlalu lama. Jangankan berhari-hari kek kamu ini. Satu hari aja dia udah berusaha buat bujukin kamu supaya gak marah lagi sama dia."


"Jangan bego jadi perempuan. Dia gak nyari kamu, mungkin sekarang udah punya perempuan lain yang bisa bikin dia nyaman. Karena itu, dia gak peduliin kamu lagi."


"Zaki ...!" Zery langsung berteriak dengan suara lantang di kuping Zaki. Sontak, Zaki pun langsung menutup telinga akibat teriakan keras barusan.


"Ya Tuhan. Ampuni hamba mu ini. Sakit kali kupingku, Ze."


"Nasib hanya kuping mu yang sakit sekarang. Lain kali, jika kamu bicara sembarangan lagi, akan ku buat tubuhmu yang sakit. Dasar pria gak punya pikiran. Emang bener-bener pria kurang waras kamu ternyata."


Selesai bicara dengan nada kesal, Zery langsung beranjak meninggalkan Zaki. Zaki yang sadar akan kemarahan Zery, kali ini tidak menghentikan Zery lagi. Ia biarkan Zery pergi meninggalkannya begitu saja. Karena mungkin, itu adalah hal yang terbaik untuk Zery saat ini.


"Maaf, Ze. Aku hanya ingin kamu sadar akan satu hal. Jikapun kita menikah hanya karena terpaksa, tapi tetap saja, aku tidak ingin kamu terluka oleh seorang pria yang tidak mencintai kamu. Karena itu, aku berusaha membuat kamu sadar akan keadaan saat ini. Semoga kamu paham dengan maksud dari apa yang sudah aku katakan."


Zaki berucap dengan suara pelan pada dirinya sendiri setelah kepergian Zery meninggalkan dirinya. Setelah itu pula, Zaki melakukan hal yang sama. Meninggalkan dapur dengan cepat.


...


Pagi harinya, Zery bangun sedikit kesiangan. Itu semua akibat tadi malam ia tidak bisa tidur karena terus terpikirkan ucapan Zaki.


"Dasar Zaki kurang ajar. Bisa-bisanya dia merusak mood baikku saat tinggal di rumah baru. Uh ... pria kurang waras yang benar-benar bikin kesal."

__ADS_1


Zery pun melanjutkan aktifitas berbersihkan diri seperti setiap harinya. Setelah itu, dia langsung membuka pintu kamar. Ketika pintu ia buka, selembar kertas kecil langsung terlihat di depan pintu tersebut. Zery pun dengan cepat mengambil kertas itu untuk ia baca.


__ADS_2