
Seketika, Laras langsung jadi pusat perhatian. Hal itu langsung membuat Laras dan dua teman ngobrolnya langsung memasang wajah canggung ke arah Zaki dan Zery.
"Ada apa, Ras? Apa yang barusan bikin kamu kaget?" Zery angkat bicara.
"Ah, itu ... biasa mbak. Laras ini suka ngomong dengan suara lantang meskipun gak ada yang bikin ia kaget." Seno yang angkat bicara dengan cepat.
Ucapan itu tidak bisa Laras sanggah. Ia malah hanya bisa nyengir gak enak. "Iya, mbak. Laras kan emang gitu. Tiba-tiba ngomong dengan nada tinggi kalo lagi ngomong." Lili pula membenarkan.
"Ah, he he he .... Iy-- iya, mbak. Maaf udah bikin mbak dan mas terganggu. Gak niat kok."
"Hm ... ya udah. Gak perlu minta maaf. Karena aku gak merasa terganggu kok." Zery berucap dengan nada santai.
"Iya. Kami gak merasa terganggu kok. Lagian, kami juga mau gerak nih." Zaki pun bicara sambil senyum manis di bibirnya.
"Ah, iya. Kita mau keluar makan siang. Kalian ada yang mau nitip gak? Mau aku belikan apa?"
Beginilah kepedulian Zery terhadap karyawannya. Jika ia keluar, pasti akan ditanyakan mau dibelikan apa. Sampai-sampai, membuat tiga karyawannya itu merasa tidak enak karena kebaikan yang selalu Zery berikan.
"Ng-- nggak usah, Mbak. Kita udah makan kok." Lili langsung berucap.
"Iya, mbak. Gak usah. Kita udah makan tadi. Laras masak sayur enak. Jadi, kita makan lebih cepat hari ini." Seno pun ikut menolak.
__ADS_1
"Kalian udah makan tadi? Kapan ya?" Zery berusaha mengingat kapan karyawannya menghilang dari pandangannya. Karena yang ia ingat, para karyawan itu masih ada di sekitar dia sejak tadi.
"It-- itu, mbak. Tadi lho, saat mbak fokus sama tanaman hias mbak itu. Kami masuk buat makan." Laras pun ikut menjelaskan.
"Beneran?"
"Iya, mbak." Ketiganya malah kompak sama-sama menjawab yang pada akhirnya membuat Zery tidak punya kesempatan untuk menyela.
Zery dan Zaki pun langsung meninggalkan toko bunga setelah berpamitan pada ketiga karyawannya. Di dalam mobil, Zaki malah tersenyum sendiri memikirkan apa yang baru saja terjadi.
"Kenapa kamu senyum?" Zery berucap sambil memperhatikan Zaki dengan tatapan tajam.
"Lucu? Apanya yang lucu?"
"Mereka. Karyawan kamu itu. Mereka sangat lucu. Bohong nya kompak banget. Tapi, gugupnya terlihat kuat sekali."
"Kamu tahu mereka kalo mereka barusan sedang bohong, Zak?"
"Iya. Aku tahu. Itu terlihat sekali dari tatapan mata mereka yang saling lihat satu sama lain. Kode itu sangat mudah untuk di pahami."
"Mm ... jangan bilang kalo kamu gak tahu soal ini, Ze. Kamu gak tahu mereka sedang berbohong?"
__ADS_1
"Aku tahu dong. Mereka emang sedang bohong."
Sementara itu, di toko pula, kedua perempuan langsung menyerang Seno karena rasa penasaran mereka akan kata-kata yang Seno ucapkan tadi. Mereka yang sangat ingin tahu menuntut Seno buat menjelaskan secara rinci akan kebenaran dari apa yang sudah Seno ucap.
"Waktu itu, aku gak sengaja lihat laptop mbak Zery. Aku lihat ada banyak foto pernikahan di dalam satu galeri yang dia beri nama, pernikahan."
"Yang bener kamu? Kamu lihat ada banyak foto? Itu ... asli atau cuma editan aja? Atau, jangan-jangan itu baru foto prewedding mereka aja, Sen."
"Nggak kok. Aku yakin kalo itu foto pernikahan beneran. Bukan editan, bukan juga prewedding. Karena di sana aku bisa melihat pelaminan. Kedua orang tua mereka berdua mungkin yang ada di kedua sisi ketika foto keluarga. Dan yang paling nyata itu, pernikahannya diadakan di rumah. Ada para tamu undangan. Yah, meskipun aku tidak melihat dengan jelas."
"Jadi ... mereka sudah menikah? Kapan sih? Mbak Zery kan gak ada libur selama kita bekerja." Lili ikut mikir keras sekarang.
"Ada kok. Tapi hanya satu hari aja. Tapi ... ketika ia libur pun, dia vidio call ama kita, kan?"
Laras pun berucap.
"Ah, untuk apa kita memikirkan soal ini? Yang penting, mbak Zery udah bahagia sekarang, kan? Dia punya pasangan yang cocok untuk dia. Aku ikut bahagia. Karena selama aku kenal dia. Dia adalah atasan yang paling baik yang pernah aku kenal." Seno dengan bangga memuji Zery.
Dan, pujian itupun di sambut dengan pujian yang sama pula oleh kedua teman ngobrolnya. Mereka juga merasakan hal yang sama. Zery memang bisa dibilang bos yang baik. Tanpa banyak perhitungan, juga tidak cerewet sedikitpun. Yang bisa membuat siapapun yang bekerja dengannya merasa sangat nyaman.
Karena Zery tidak pernah menganggap mereka bawahan. Melainkan, rekan yang harus bekerja sama. Ia tidak pernah memikirkan dirinya sebagai bos. Tapi, dia selalu memikirkan karyawannya adalah partner. Teman kerja yang setara dengan dia.
__ADS_1