Menantu Pilihan

Menantu Pilihan
*MP Episode 33


__ADS_3

Setelah mandi dan berganti pakaian di dalam kamar mandi karena Zery menunggu di kamar, Zaki pun keluar dengan rambut yang masih basah. Entah mendapatkan bisikan dari mana, Zery reflek langsung mengambil handuk untuk mengeringkan rambut Zaki. Sementara Zaki, ia hanya terus menikmati setiap yang Zery lakukan tanpa bersuara satu patah katapun.


Usai mengeringkan rambut. Zery langsung mengambil segelas teh panas yang ada di atas nakas. Teh yang sebelumnya sudah bibi buatkan buat Zaki. Tentunya, atas perintah Zery.


"Minumlah supaya badan kamu terasa hangat, Zak."


Sama seperti sebelumnya. Zaki masih tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tapi, ia melakukan apa yang Zery katakan padanya. Ia ambil teh tersebut, lalu ia hirup perlahan dengan penuh perasaan.


Dan, dua teguk pun masuk ke dalam perut Zaki. Terasa cukup hangat untuk perutnya. Tapi sayang, tidak bisa menghangatkan hatinya yang sedang dingin.


"Ze, bisa aku berbaring di atas pangkuan mu? Aku mohon," ucap Zaki setelah sekian lama tidak bersuara. Tapi saat bersuara pula, ia terdengar sangat sedih.


Karena itu, Zery tidak bisa menolak permintaan Zaki. Ia pun membiarkan Zaki melakukan apa yang Zaki inginkan.


Awalnya, setelah Zaki berbaring di atas pangkuan Zery, suara canggung terasa sangat jelas. Zery yang merasa deg-degan pun tidak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya terasa membatu dan lidahnya juga kelu. Karena itu, keduanya hanya diam saja. Hingga tiba-tiba Zery merasakan pangkuannya basah akibat air. Saat itulah Zery sadar, kalau saat ini, Zaki sedang menangis di pangkuannya.


"Zak, ada apa? Kenapa kamu malah menangis?" Zery berucap dengan nada panik.

__ADS_1


"Hatiku hancur, Ze. Dan aku tidak kuat menahan rasa sakit akibat hancurnya hatiku saat ini. Karena itu ... aku menangis."


Penjelasan itu membuat Zery langsung bisa menebak kalo saat ini, Zaki sedang ada masalah dengan pacarnya. Tapi karena itu pula, Zery memilih untuk bungkam sekarang. Ia tidak ingin banyak bertanya yang pada akhirnya akan memperburuk suasana hati Zaki.


Suasana diam pun kembali tercipta dengan sendirinya. Hingga beberapa waktu berlalu, Zery menyadari jika Zaki sudah tidak menangis lagi karena sekarang, Zaki sudah tertidur. Tapi, beberapa saat kemudian Zery langsung di buat panik dengan suhu tubuh Zaki yang tiba-tiba naik drastis.


"Ya Tuhan, Zak. Tubuhmu panas sekali sekarang. Kamu demam, Zaki."


"Bik ... bibik! Cepat panggilkan dokter untuk datang ke rumah! Zaki demam, Bik!" Begitulah suara nyaring Zery terdengar yang langsung mengerakkan si bibi tanpa banyak bertanya lagi.


"Suami mbak gak papa kok. Dia hanya demam karena terlalu lama diguyur hujan secara langsung saja. Saya sudah memberikan ia obat penurun panas. Semoga saja suhu tubuhnya bisa normal besok pagi."


"Terima kasih banyak dokter."


"Sama-sama."


Dokter itupun meninggalkan rumah Zery. Sementara Zery langsung kembali ke kamar Zaki setelah mengantarkan dokter tersebut ke depan pintu utama rumah mereka.

__ADS_1


Zery terus menatap wajah Zaki yang kini sedang terlelap. Kemudian, dia belai rambut Zaki dengan lembut. Entah apa yang ia pikirkan sekarang, dia jadi begitu berani menyentuh Zaki yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan satu kali pun.


"Masalah apa yang sedang kamu hadapi, Zak? Sepertinya, itu sangat amat berat sampai kamu jadi hilang kendali dan terlihat begitu frustasi."


"Kamu yang ceria dan usil mendadak hilang lenyap. Berganti dengan pria yang penuh dengan kesedihan yang membuat aku merasa sedikit ketakutan."


"Aku tidak suka kamu yang seperti ini, Zaki. Aku lebih suka kamu yang usil seperti sebelumnya. Kamu suka menggoda. Kamu suka mengajak aku berdebat yang membuat suasana rumah ini jadi sibuk hanya karena perdebatan kita berdua."


"Tolong, jangan terlalu lama larut dalam kesedihan meskipun aku tahu itu sangat berat buat kamu. Yakinlah jika kamu tidak sendirian, Zaki. Ada aku yang akan terus berada di samping kamu. Meskipun hanya sebagai teman dan tidak akan lebih dari status itu."


Dan seperti itulah Zery bicara sendiri selama beberapa waktu. Hingga akhirnya, ia merasa lelah dan mengantuk. Zery pun memilih untuk berbaring di samping Zaki. Karena ia tidak mungkin meninggalkan Zaki dalam keadaan demam seperti ini.


....


Pagi hari menjelang dengan cepat. Zery yang tidur larut pun masih tetap terhanyut di alam bawah sadar meskipun pun pagi sudah menjelma. Sedangkan Zaki yang sudah mulai membaik pun langsung terbangun ketika sinar matahari menerangi bumi.


Tapi, saat ia mendapati Zery yang masih terbaring di sisinya dengan mata yang tertutup rapat, Zaki pun langsung membatalkan niatnya untuk bergerak. Karena hal langka itu sangat membuat hatinya merasa nyaman.

__ADS_1


__ADS_2