Menantu Pilihan

Menantu Pilihan
*MP Episode 25


__ADS_3

Zery hanya bisa melepas napas kasar. Dia cukup paham siapa mamanya. Dan satu hal yang harus ia syukur kan saat ini. Beruntung Zaki sudah mencarikannya asisten rumah tangga beberapa hari yang lalu. Jika tidak, akan kacau lah keadaan rumahnya saat kedua orang tuanya pertama kali datang untuk melihat rumah baru mereka.


....


Beberapa waktu berlalu. Akhirnya, Zaki tiba juga di rumah. Zery yang sempat cemas, langsung menjadi lega setelah mendengar suara Zaki yang bicara dengan kedua orang tuanya di bawah.


"Heh ... untung aja dia bisa lebih cepat dari yang aku bayangkan. Jika tidak, akan semakin mencemaskan hatiku yang sedang gugup sekarang." Zery bicara pada dirinya sendiri.


Sekarang, Zery bisa bernapas dengan tenang. Dia pun bisa berbaring dengan nyaman di atas ranjangnya sekarang. "Huh ... baru bisa istirahat dengan nyaman." Zery berkata lagi sambil tersenyum.


Namun, beberapa saat kemudian, baru juga ia ingin menikmati waktu istirahatnya, pintu kamar langsung terbuka dengan memunculkan Zaki dari balik pintu kamar tersebut. Zery yang kaget ingin berteriak. Tapi Zaki dengan cepat menghampiri, lalu menutup mulut Zery dengan tangannya.


"Sst! Jangan berisik, Zery. Ini aku," ucap Zaki dengan suara pelan.


"Aku tahu ini kamu. Kenapa kamu malah masuk ke kamarku, hah? Gak bisa apa kamu biarkan aku istirahat sebentar? Kamu gak tahu apa? Aku baru aja bisa bernapas dengan baik setelah mendengar suara kamu."


"Eh, kenapa dengan suara aku? Kamu beneran sangat merindukan aku ya?" Zaki malah menggoda Zery yang sedang bicara dengan wajah serius.


Godaan itu langsung membuat Zery reflek memukul Zaki dengan bantal yang ada di dekat. Zaki pun langsung mengeluh sambil berusaha menghindari pukulan Zery.


"Aduh ... ampun-ampun. Jangan pukuli lagi, nona. Aku kan hanya bercanda sama kamu. Gitu aja gak boleh," kata Zaki dengan wajah sedih.


"Emang gak boleh. Aku udah sibuk menahan gugup sejak tadi, kamu enakan pacaran. Sekarang, kamu malah goda aku. Gak punya perasaan banget kamu yah."

__ADS_1


"Ya ... aku kan udah lama gak bercandaan sama kamu, Nona manis."


Seketika, wajah Zery langsung merona akibat panggilan itu. Tapi, secepat mungkin Zery menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan saat ini.


"Mau aku pukuli lagi kamu?" Zery berucap sambil mengangkat bantal. Siap untuk menyerang Zaki kembali.


"Ah ... ampun-ampun. Jangan pukuli aku lagi. Aku minta maaf, oke."


"Maaf-maaf. Ngapain kamu masuk ke kamar aku, hah!"


"Aku ... haruskah aku masuk ke kamarku sekarang, Zery? Mama dan papamu ada di bawah. Jika aku masuk ke kamar yang berbeda dengan kamu, maka mereka akan mencurigai kita dengan cepat."


Zery pun langsung terdiam. Benaknya langsung membenarkan apa yang Zaki katakan barusan. Alasan mereka tinggal di kamar yang bersebelahan juga agar bisa lebih mudah bersama jika kedua orang tua mereka datang ke rumah.


"Ya bagaimana lagi? Tinggal di satu kamar yang sama selama kedua orang tua kamu ada di rumah kita."


"Ya Tuhan .... Heh .... Lalu ... kamar siapa yang akan kita pakai?" Zery bertanya dengan nada pasrah.


"Kamar aku aja." Zaki berucap mantap.


"Gak ah. Kamar aku ajalah. Kamu kan udah ada di kamarku sekarang. Jadi, kita tinggal di kamar aku aja."


"Heh! Sudah aku duga kalo itu jawaban kamu. Mm ... dasar cewek. Udah niatnya mau, tapi masih juga nanya. Ya ampun, ribet banget."

__ADS_1


"Hei! Ngomong apa kamu barusan hah?"


"Mm ... gak ada. Gak ada apa-apa. Anu ... bisa tolongin aku gak?"


"Tolongin apa?" Zery berucap dengan nada ketus.


"Tolongin ambil handuk, plus pakaian aku. Aku ingin mandi di kamar ini. Terus .... "


"Eh, kok malah mau mandi di kamar aku segala sih? Gak bisa mandi di kamar kamu aja? Nanti, kalo udah .... " Zery tidak lagi bisa melanjutkan ucapannya. Karena kata itu sedikit membuatnya merasa tidak nyaman.


Hal itu langsung membuat Zaki tersenyum kecil. Perasaan usil pun langsung muncul dalam hatinya. "Udah apa, hayo?"


"Udah ... ya udah waktunya tidur, baru masuk ke kamar aku. Tapi ingat, tidurnya tidak satu ranjang. Kamu tidur di bawah. Aku tidur di atas kasur. Paham?" Zery berucap dengan nada yang penuh penekanan.


"Ya ampun. Kek nya takut banget kamu sama aku ya, Ze. Udah aku katakan sebelumnya. Kamu gak perlu takut sama aku. Aku gak akan ngapa-ngapain kamu kok."


"Ih ... udah-udah. Jangan ajak aku berdebat terus. Di bawah ada mama sama papa. Kita harus segera turun supaya mereka gak mikir hal yang tidak-tidak tentang kita."


"Mikir hal yang tidak-tidak? Mm ... maksud kamu seperti .... " Zaki sengaja tidak mendengarkan apa yang Zery katakan. Ia tetap menggoda Zery dengan nakal.


"Zaki!"


Zery pun tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi. Langsung saja dia berteriak dengan suara tinggi yang membuat Zaki langsung menutup mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2