
Zery pun melanjutkan aktifitas berbersihkan diri seperti setiap harinya. Setelah itu, dia langsung membuka pintu kamar. Ketika pintu ia buka, selembar kertas kecil langsung terlihat di depan pintu tersebut. Zery pun dengan cepat mengambil kertas itu untuk ia baca.
*Aku pergi ke kantor duluan, Ze. Maaf gak bangunin kamu. Aku sengaja gak ganggu kamu pagi ini, supaya mood pagi mu berubah jadi baik. Oh ya, nasi goreng udah aku pesan. Mungkin di sangkut di gagang pintu oleh si kurir. Lihat aja sekarang. Jangan lupa sarapan yah.*
Begitulah isi dari pesan singkat yang Zaki tuliskan di atas kertas putih kecil yang Zery temui. Karena pesan singkat itu, Zery mendadak terdiam selama beberapa waktu.
'Bisa-bisanya dia memikirkan soal aku yang sarapan atau nggak. Dasar," ucap Zery sambil tersenyum.
Sejujurnya, perhatian itu sangat membahagiakan buat Zery. Yah, meskipun itu hanya sebuah perhatian kecil saja. Namun, itu sungguh luar biasa.
"Andai saja Irvan seperti itu. Mungkin aku akan sangat bahagia." Tanpa sadar, bibir Zery malah membandingkan dua pria yang sangat jauh berbeda sifat juga karakternya.
Namun, secepatnya ia sadar akan apa yang baru saja ia ucapkan. "Uh! Apa sih yang aku katakan? Irvan tentu saja tidak akan sama dengan Zaki. Karena Irvan itu tipe cowok yang dingin. Mana mungkin sama seperti Zaki yang sangat bar-bar. Gak jelas juga. Ih ... nggak deh nggak. Jangan sampai Irvan mirip Zaki. Amit-amit."
Yah, dua orang yang sangat jauh berbeda. Tidak akan pernah sama, juga tidak akan pernah bisa memberikan perasaan yang sama. Dari segala hal, tentu mereka sangat jauh berbeda.
Zery pun langsung meninggalkan rumah setelah melahap habis nasi goreng yang Zaki pesan untuknya. Entah kenapa, Zaki seperti sangat tahu apa yang dia inginkan. Nasi goreng yang Zaki pesan juga adalah nasi goreng kesukaannya.
__ADS_1
Nasi goreng dengan cabe hijau di lengkapi cumi dan udang, juga tidak pakai sayur. Semuanya begitu sesuai dengan apa yang Zery harapkan. Hal ini juga sangat tidak sama dengan Irvan pacarnya.
Irvan tidak pernah ingat kalo dia suka makan apa. Dan, Irvan juga tidak ingin tahu apa yang ia sukai juga apa yang tidak ia sukai. Malahan, Irvan selalu terlihat acuh dengan hal sepele tersebut.
Hal itulah yang membuat Zery terus memikirkan perbandingan antara Irvan dengan Zaki. Meskipun sejujurnya, ia tidak ingin membandingkan kedua pria yang sangat jelas jauh perbedaanya.
"Uh ... hah! Ayolah Zery, jangan bahas soal perbedaan antara Irvan dengan Muzaki. Ingat gak? Zaki itu punya pacar. Sedangkan Irvan itu, pacar kamu. Pacar masa depan kamu, paham?" Zery berkata pada dirinya sendiri ketika mobil yang ia kendarai tiba di depan toko bunga miliknya.
Ia berusaha keras untuk menyakinkan dirinya akan apa yang telah ia pikirkan. Kalo apa yang ia pikirkan saat ini itu adalah salah. Kesalahan besar yang tidak bisa ia lakukan.
"Irvan? Dia dari toko bunga? Apa dia nyariin aku yah? Tapikan, dia tahu kalo aku sedang libur."
Sedikit mulai kecurigaan terasa dalam benak Zery. Itu di sebabkan oleh omongan Zaki tadi malam soal pria tersebut. Di tambah, dia memang sudah mengatakan pada Irvan kalo dia akan pulang beberapa hari lagi.
Yah, meskipun hubungan mereka masih tidak baik seperti sebelumnya, tapi karena ucapan Zaki tadi malam, Zery langsung menghubungi Irvan setelah masuk ke kamar. Entah kenapa, saat berbalas chat, ia terpikir untuk berbohong pada Irvan dengan mengatakan jika ia akan pulang dalam beberapa hari lagi.
Namun, pagi ini ia malah melihat Irvan keluar dari tokonya. Tentu saja pikiran Zery langsung kumat gak karuan. Langsung terpikirkan hal yang tidak-tidak untuk beberapa saat.
__ADS_1
Zery terus berusaha memikirkan semua kemungkinan yang bisa membuat hatinya merasa tenang. "Huh ... tenanglah, Zery. Tenang. Kau punya toko bunga, bukan? Mungkin, Irvan datang untuk membeli bunga di toko mu."
"Tunggu! Untuk siapa bunga yang ia beli? Bukankah pacarnya hanya aku saja." Bukannya tenang, ia malah semakin memperburuk pikiran juga hatinya.
"Lagian, di mana bunga yang ia beli jikapun Irvan datang untuk membeli bunga."
"Dan .... "
Belum sempat kata-kata selanjutnya Zery selesaikan, ia langsung melihat seorang perempuan yang keluar dari toko tersebut. Perempuan yang tak asing lagi buat Zery. Bahkan, ia sangat kenal dengan baik perempuan itu. Dia adalah karyawan toko yang Zery percayai mengurus toko selama ini.
Tidak, hal itu masih belum membuat Zery terlalu kaget. Karena hal itu masih wajar. Tapi, detik berikutnya, apa yang karyawan toko dan pacarnya tunjukkan sukses membuat mata Zery menjadi panas.
Bagaimana tidak? Keduanya terlihat begitu mesra di depan toko. Hal yang sangat-sangat tidak pernah Zery bayangkan sebelumnya. Ditambah, sang pacar yang terlihat begitu berbeda saat memperlakukannya dengan memperlakukan karyawan tokonya. Jika ia diperlakukan dengan dingin, karyawan toko itu malah di perlakukan terbalik oleh sang pacar.
"I-- ini ... ini adalah mimpi, bukan? Aku salah lihat, kan sekarang? Dia bukan Irvan. Dia memang bukan Irvan. Karena Irvan .... "
Tapi pada kenyataannya, pria itu memang pacar Zery. Zery masih bisa mengenali pria itu dengan baik meskipun saat ini, matanya sedang buram akibat air mata yang jatuh akibat rasa sakit yang ada dalam hatinya saat ini.
__ADS_1