Menantu Pilihan

Menantu Pilihan
*MP Episode 36


__ADS_3

Beberapa minggu setelah hari Zery dicium Zaki, Zaki pun terlihat semakin terang-terangan memperlihatkan pada dunia kalau Zery adalah miliknya. Dia bahkan tak segan untuk datang ke toko bunga. Bahkan, dengan senang hati menganggu Zery yang sedang sibuk dengan tokonya.


Sementara Zery pula, ia tidak terlihat terganggu dengan sikap Zaki. Bahkan, ia merasa sangat menikmati setiap waktu yang sudah ia habiskan bersama Zaki baik di rumah, maupun di luar rumah.


Seperti sekarang, Zaki lagi-lagi datang setelah waktu makan siang kantor mereka tiba. Dia sengaja datang ke toko bunga untuk mengajak Zery makan siang bersama.


Sementara saat ini, Zery sedang sibuk merawat tanaman hias yang ia tanam dengan penuh kasih sayang beberapa waktu yang lalu. Dia yang tidak memperhatikan sekeliling membuat Zaki langsung datang untuk mengganggunya.


Dengan sigap, Zaki langsung menutup mata Zery dari belakang. Seketika, kegiatan Zery yang sedang menyiram tanaman dalam pot itupun langsung terhenti.


"Siapa sih? Usil banget. Gak lihat aku lagi fokus kerja ya?" ucap Zery dengan nada yang dia buat sekesal mungkin.


Sebenarnya, Zery sudah tahu kalau yang sedang mengusili nya itu adalah Zaki. Karena tidak ada yang berani melakukan hal itu selain dia. Mana ini di toko bunga lagi. Mana ada karyawan yang berani bersikap usil pada atasannya. Di tambah, Zery yang sudah sangat hafal bau tubuh Zaki. Wangi khas tubuh itu mana pernah ia lupakan.


Beberapa saat terdiam. Akhirnya Zery kembali berucap. "Zak, aku tahu itu kamu. Udah ah, jangan tutup mataku lagi."

__ADS_1


Seketika, Zaki langsung melepas tangannya dari mata yang ia tutup, karena orang yang ia usili sudah bisa menebak dengan benar siapa dia. "Ya ampun. Tahu aja kamu kalau ini aku ya, Ze."


"Ya taulah. Kamu itu gak akan ada duanya. Manusia paling usil, nakal, dan suka bikin ulah. Mana ada yang seperti kamu di sini. Tepatnya, di sekitar aku."


"Yah ... awalnya aku sangat bahagia mendengarkan kata kalau aku itu gak akan ada duanya. Lah kata-kata berikutnya itu lho, bikin aku sedih kembali." Zaki berucap dengan raut wajah kecewa.


"Bodo amat." Zery bicara sambil menddekatkan wajahnya ke Zaki. "Aku gak peduli tuh kamu sedih atau kecewa. Karena kamu pria nakal."


Begitulah hubungan Zery dengan Zaki sekarang. Sama-sama usil, juga sama-sama. nakal. Mereka menunjukkan hubungan mereka tidak dengan kata-kata. Melainkan, dengan perbuatan yang ingin saling melengkapi meskipun di tengah kesibukan aktifitas yang mereka jalani masing-masing.


Lili dan Laras yang melihat hal itu sering kali tersenyum. Bos mereka memang sangat berbeda dengan yang lainnya. Setiap bertemu, tidak pernah meninggalkan perdebatan. Tapi, hal itu malah terlihat romantis bagi mereka.


"Kamu benar, Ras. Mereka emang sangat lucu. Tiap bertemu, selalu saja berdebat. Tapi, saling melengkapi satu sama lain. Aku salut sama pasangan kek mereka ini. Gak lebay dalam menunjukkan hubungan."


"Eh, kalian berdua sedang ngomongin mbak Zery sama mas Zaki ya?" Seno yang baru datang, malah langsung ikut ngobrol.

__ADS_1


"Eh, datang-datang malah langsung nimbrung aja kamu, Sen." Lili langsung melirik ke arah Seno yang baru tiba dari mengantar pesanan.


"Ya aku juga ingin ikut ngobrol sama kalian. Karena kalian itu sepertinya sedang serius ... banget gitu saat ngobrolnya."


"Mm ... ya. Kami emang lagi ngomong soal mbak Zery dengan mas Zaki. Kamu aja yang main nanya padahal udah tahu siapa yang sedang kami bahas." Laras pula angkat bicara.


"Oo .... " Hanya itu yang terdengar dari mulut Seno. Karena sekarang, ia juga sibuk memperhatikan si bos nya ini.


Beberapa waktu kemudian. Seno tiba-tiba ingat sesuatu. "Eh, sebenarnya, kalian tahu gak sih? Mereka berdua itu adalah pasangan suami istri lho. Bukan pacaran lagi."


Lili dan Laras pun langsung kaget dengan apa yang Seno katakan. Karena sejujurnya, mereka masih menganggap Zery dengan Zaki itu pasangan kekasih yang baru berpacaran.


"Apa!? Yang benar saja kamu, Sen!" Karena terlalu kaget, Laras malah tidak bisa mengontrol ucapannya. Dia malah berucap dengan nada yang tinggi tanpa sadar akan apa resikonya.


Tentu saja ucapan itu mengagetkan semua yang ada di toko. Terutama, Zaki dan Zery yang sibuk dengan obrolan mereka.

__ADS_1


Seketika, Laras langsung jadi pusat perhatian. Hal itu langsung membuat Laras dan dua teman ngobrolnya langsung memasang wajah canggung ke arah Zaki dan Zery.


"Ada apa, Ras? Apa yang barusan bikin kamu kaget?" Zery angkat bicara.


__ADS_2