
"Mau ke mana sih sebenarnya, Zak? Gak percaya aku kalo kamu hanya ajak aku makan malam. Karena biasanya juga kita makan malam di rumah kan setiap malamnya?"
"Ya ... itu makan malam biasa, Zery. Kali ini, kita akan makan malam yang luar biasa. Berbeda dari sebelumnya."
"Luar biasa?"
"Iya. luar biasa."
Zery kini tidak lagi menjawab. Ia lirik Zaki yang kini ada di sampingnya. Yang sedang fokus dengan jalan yang mereka lalui, tapi sempat menyunggingkan bibir untuk tersenyum.
Beberapa saat kemudian, mobil tiba di restoran yang sudah Zaki booking. Restoran itu terlihat cukup sepi karena tidak ada yang datang.
Sepinya restoran cukup membuat Zery merasa bingung. Yah, karena biasanya, yang namanya restoran itu selalu ramai, bukan? Jadi, ketika sebuah restoran sepi tanpa pengunjung, maka akan timbul kesan aneh dengan sendirinya.
"Ini ... apa yang terjadi?" Zery berucap sambil melihat sekeliling.
"Jangan perduli kan sekeliling kita, Ze. Karena di sini, hanya akan ada kamu dan aku, juga beberapa pelayan yang gak akan gangguin kita."
"Tapi ini aneh, Zak."
"Kan aku sudah bilang, kalau malam ini adalah malam spesial bagi kita. Terutama, buat aku yang ... ah, ayo makan sekarang. Nanti keburu makannya dingin, Zerina Mukhti."
__ADS_1
Tanpa menanggapi apa yang Zaki katakan dengan ucapan, Zery pun memulai makan malamnya meski dengan rasa yang masih kebingungan.
Usai menikmati makan malam dengan tenang. Zaki pun mengatakan jika ia ingin ke kamar mandi sebentar. Zery pun mengiyakan saja apa yang Zaki ucap.
Beberapa saat setelah kepergian Zaki, seorang pelayan datang menjemput Zery. "Maaf mbak. Bisa ikut saya sebentar?"
"Ikut ke mana? Saya lagi nunggu seseorang soalnya." Zery berucap dengan nada polos tanpa sedikitpun rasa curiga.
"Ke suatu tempat yang mungkin akan sangat mbak sukai. Ayo!"
"Ah, iy-- iya. Baiklah." Terlintas dalam benak Zery untuk menolak. Tapi, ia langsung terpikir apa yang Zaki katakan. Kalau malam ini adalah malam spesial buat mereka. Jadi, mungkin saja ini bagian dari rencana Zaki. Karena itu, ia memilih ikut.
Zery pun berjalan dengan gugup di belakang pelayan tersebut. Ternyata, mereka menuju pintu belakang restoran yang ketika pintu itu terbuka, langsung Zery bisa menikmati sejuk dan nyamannya udara di taman yang kini penerangannya hanya menggunakan lilin saja.
"Seseorang sedang menunggu mbak di sana. Silahkan," ucap pelayan itu dengan penuh kelembutan.
Tanpa mengucap satu patah kata terlebih dahulu pada si pelayan, Zery langsung saja menyelonong masuk ke dalam. Namun, sampai di dalam taman tersebut, ia tidak menemukan siapapun. Hanya dia sendirian di sini. Hal tersebut membuat Zery tidak bisa menikmati pemandangan taman dengan baik.
'Siapa sih yang sedang menunggu aku? Kok gak ada orang sama sekali? Ah, apa mungkin Zaki ya? Tapi .... "
Belum juga kata-kata hati itu selesai Zery ucap, tiba-tiba saja, Zaki muncul dari balik pot besar tanaman hias. Dengan seikat buket bunga mawar yang berwarna merah menyala, Zaki berjalan mendekati Zery.
__ADS_1
"Zaki."
"Zery, malam ini adalah malam yang paling spesial buat kita. Aku ingin bilang sebuah rahasia padamu. Apakah kamu ingin mendengarnya, tuan putri?" Zaki berucap sambil menyerahkan buket bunga yang ia bawa.
Sebenarnya, Zery merasa agak canggung dengan apa yang sedang terjadi. Ingin rasanya ia merusak suasana dengan menjawab ucapan Zaki seperti sebelumnya. Tapi sepertinya, itu tidak bisa ia lakukan sekarang. Karena itu akan sangat merusak keadaan.
"Rahasia apa? Katakan saja secepatnya."
"Rahasia, kalo aku suka kamu sejak kita bersama. Zerina, aku mencintai kamu. Maukah kamu menjadi istriku satu selamanya?"
"Aku ... tunggu deh. Bukannya aku memang sudah menjadi istri kamu sekarang?"
"Iya. Tapi aku belum memiliki kamu seutuhnya, Zery. Aku masih belum mengungkapkan perasaanku sekarang padamu. Zery, aku sadar, dengan selalu bersama, aku semakin takut untuk kehilangan kamu. Jadi, berjanjilah untuk bersama dengan aku selamanya ya."
"Tapi .... "
"Zer. Tapi apa?" Mendadak, Zaki merasa sangat gugup sekarang. Ia takut jika perasaanya langsung Zery tolak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.
"Aku .... " Lagi-lagi, Zery menggantungkan kalimatnya yang membuat Zaki semakin merasa cemas.
"Aku ... apa, Zer? Katakan saja dengan jujur apa yang kamu rasakan. Karena aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Dan ... aku siap untuk kecewa setelah mengatakan semua yang ada dalam hatiku."
__ADS_1
Ucapan itu terdengar cukup sedih. Zery yang mendengar itu, bukan merasa kasihan dan ikut merasakan apa yang Zaki rasakan. Eh, malah merasa lucu dengan apa yang Zaki tunjukkan.