Menantu Pilihan

Menantu Pilihan
*MP Episode 11


__ADS_3

Selanjutnya, setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya, pekerjaan mereka selesai. Zery langsung turun ke bawah untuk mengambil air. Tenggorokannya yang kering membuat ia tidak bisa berdiam diri di dalam kamar lagi. Karena itu, mau tidak mau, ia harus keluar meskipun rasanya ia sangat lelah.


Ketika Zery tiba di dapur, ternyata dia sudah keduluan oleh Zaki. Zaki yang kini sudah berada di meja makan dengan sebotol air mineral di atasnya, membuat Zery langsung memilih untuk duduk di atas kursi yang ada di samping Zaki.


"Udah selesai, Ze?" Zaki bertanya tanpa melihat lawan bicaranya.


"Udah."


"Kalo kamu gimana? Udah siap juga?"


"Udah dari tadi. Aku juga udah lama di sini. Mm ... bentar lagi malam, Ze. Kita makan malam di mana yah? Kalo masak, gak akan keburu. Soalnya, aku udah sangat lapar ini."


"Pesan ajalah. Ya kali kita keluar berdua hanya untuk makan. Kan gak enak dilihat orang."


"Yaelah. Masih aja mikir tanggapan orang kamu ya. Udah lapar juga, masih bisa mikir yang lain selain perut."


"Hello ... lapar-lapar juga, Mas. Tapi jangan cuma mikir perut aja. Mikir juga tuh masalah yang akan kita timbulkan karena kita yang terburu-buru."


"Ah, serah kamu ajalah. Mau mikirnya kek mana."


"Mm ... ya udah. Aku pesan makan sekarang. Kamu mau makan apa?"


"Nasi goreng aja."

__ADS_1


"Lho, makan malam ini, nona. Bukan sarapan pagi. Emangnya kenyang hanya makan nasi goreng?"


"Yaelah, kamu itu kok jadi orang ribet banget, Muzaki .... Tadinya nanya aku mau makan apa. Ya aku jawab nasi goreng. Eh, bisa-bisanya salah menurut kamu. Kalo gitu, besok-besok gak usah nanya. Langsung pesan aja apa yang baik menurut kamu. Jadi gak ribet, bukan?"


Zery berucap dengan nada kesal sambil melirik tajam ke arah Zaki. Sementara Zaki, ia malah tersenyum karena sudah berhasil menciptakan wajah kesal dari Zery yang menurutnya, wajah itu sungguh menggemaskan.


"Ya ... aku kan cuma nyaranin aja, nona. Mm ... btw, panggilan mas yang tadi kamu panggil buat aku itu kek nya nyaman di dengar telinga. Bagaimana kalo kamu panggil aku dengan sebutan itu saja?"


"Ogah. Cepat pesan makanan! Jangan banyak bicara lagi. Apalagi, bicara hal yang tidak penting."


"Ah, baiklah. Kamu memang selalu di atas yah."


Zery tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi tatapan tajam yang ia berikan cukup membuat Zaki paham akan kekesalan yang Zery rasakan saat ini. Ia pun tidak ingin mengganggu Zery lagi. Dan, memilih untuk langsung fokus dengan gawai yang ia punya.


"Mm ... kamu aku pesankan ayam bumbu saja ya Ze. Mau gak?" Zaki kembali angkat bicara setelah beberapa saat fokus ke ponsel miliknya.


"Yah, jangan terserah. Nanti yang makan itukan kamu. Kalo aku main beli aja, terus kamu nya gak suka. Gimana?"


Seketika, Zery langsung menghentikan aktifitasnya dengan benda pipih yang sebelumnya sempat membuat perhatiannya teralihkan dari Zaki. Setelah terdiam sejenak, Zery langsung menoleh ke arah Zaki. Dengan tatapan tajam, ia tatap Zaki selama beberapa saat.


Zaki yang sadar akan tatapan itu langsung mengalihkan pandangannya dari gawai yang sebelumnya menjadi pusat perhatian Zaki.


"Ee ... kok kamu malah natap aku sih, Ze?"

__ADS_1


Zaki berucap dengan nada agak tidak nyaman.


"Aku heran aja sama kamu, Zak. Kok hidup kamu itu ribet amat yah. Jadi pria kok sangat amat ribet. Tinggal beli aja apa susahnya. Aku bisa makan apa aja kalo lapar. Termasuk, makan kamu juga."


Seketika, ucapan Zery langsung membuat Zaki tertawa. Sungguh, ia sangat merasa geli hati dengan kata-kata yang Zery ucapkan. Sementara Zery, ia malah mendengus kesal akibat ulah Zaki yang bukannya takut, eh malah bahagia.


"Kamu kok bikin kesal mulu sih, Zak?" Zery spontan berucap dengan nada tegas.


Seketika, Zaki yang tertawa langsung berhenti.


Mendadak, keseriusan Zery membuatnya merasa sedikit takut.


"Iy-- iya maaf. Aku kan cuma merasa lucu aja. Makanya tertawa."


"Lucu? Kamu pikir aku yang lapar ini lucu? Aku beneran bisa makan orang jika aku sudah sangat lapar, Muzaki."


"Iya, nona. Maaf. Aku pesan makanan sekarang. Nasi dengan ayam bumbu. Aku tahu itu makanan favorit kamu. Pasti akan habis kamu makan nanti."


"Tahu dari mana kamu itu makanan kesukaan aku?" Zery kembali menatap tajam Zaki yang kini telah sibuk kembali dengan gawai nya.


"Tahu dari mama kamu."


Zery tidak lagi menjawab apa yang Zaki katakan. Sebenarnya, ia merasa ada yang janggal dengan semua itu. Tapi, ia tidak ingin membahas lagi. Mungkin, sang mama sendiri yang mengatakan apa yang ia sukai agar Zaki bisa terlihat sangat istimewa di mata Zery. Karena itu, mama mengatakan apa yang ia sukai.

__ADS_1


Tapi ada yang tidak Zery ketahui. Bukan mama sendiri yang mengatakan prihal lauk kesukaan Zery pada Zaki. Melainkan, Zaki sendiri yang bertanya. Mencari tahu apa saja yang tidak Zery sukai, dan apa yang paling Zery sukai.


Entah kenapa Zaki melakukan hal. itu. Yang pasti, hatinya menginginkan Zery nyaman bersamanya. Karena itu, ia ingin selalu melakukan yang terbaik untuk Zery. Walau pada akhirnya, niat itu akan selalu berakhir dengan perdebatan.


__ADS_2