
Puk! Bantal itu mengenai wajah Zaki, yang sontak membuat Zaki langsung terbangun karena kaget. "Ya Tuhan. Salah aku apa sih? Ngomong ya ngomong aja. Gak perlu pakai acara lempar-lemparan segala. Untung aku gak punya riwayat sakit jantung. Jika tidak, uh ... bisa bahaya kamu."
"Lho, kok aku yang bahaya? Bukannya itu baik ya buat aku. Kamu kena serangan jantung. Terus ... mm .... "
"Mau ngomong apa? Mau ngedoain aku biar cepat pergi dari dunia ini? Terus, kamu bisa lepas dari pernikahan yang tidak kamu inginkan ini? Iya begitu?" Zaki yang paham apa yang ingin Zery katakan, langsung memotong ucapan Zery dengan cepat sebelum ucapan itu Zery selesaikan.
Bukannya bersalah, Zery malah tertawa dengan apa yang baru saja Zaki katakan. "Ha ha ha .... Eh, kok malah nyolot sih? Aku kan gak bilang gitu lho sama kamu. Itu ... kamu yang bilang ya."
"Aku itu sangat paham apa yang sedang kamu pikirkan, Nona jahat. Gak perlu kamu ngomong juga aku tahu apa yang ada dalam pikiran kamu."
"Ih ... yang benar saja kamu, pria kurang waras."
Dan, keduanya malah main pukul-pukulan di atas ranjang dengan bantal masing-masing. Sepertinya, adu mulut gak cukup bagi mereka berdua. Mereka malah main fisik.
Tapi, main fisik yang mereka lakukan tidak sama dengan yang terjadi pada orang yang sedang bertengkar pada umumnya. Karena mereka tidak melakukan dengan sepenuh tenaga. Mereka malah terlihat seperti pasangan romantis yang sedang bercanda di atas tempat tidur.
Tepat saat itulah, pintu terbuka dan pikiran orang yang ada di depan pintu malah memikirkan hal lain. Hal yang pada umumnya pasangan suami istri lakukan di malam pertama mereka menjadi pasangan suami istri.
Sementara mereka berdua, tidak bisa berkata apa-apa. Mereka seperti keras membatu ketika melihat orang tiba-tiba muncul dari balik pintu tersebut.
__ADS_1
"Ee ... ma-- mama. Kok ... ad-- ada di situ?" Zaki berucap dengan suara yang sangat gugup. Jujur, ia sedang sangat malu sekarang.
Sementara Zery, dia yang terlalu malu sampai tidak bisa berkata satu patah katapun. Sungguh, hal yang sama sekali tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia yang sedang bertengkar dengan Zaki, langsung di pergoki sang mama.
"Ah, itu ... maafkan mama. Ya ampun. Mama gak seharusnya masuk ke kamar kalian. Aduh, kalian sendiri yang salah. Kenapa gak kunci pintu dulu sih setelah masuk kamar tadinya. Kan, mama main terobos aja gara-gara pintu gak di kunci."
"Ma, itu .... "
"Ah, lanjutkan. Mama pergi dulu. Anggap mama gak pernah datang ke sini sekarang yah."
Si mama malah langsung berjalan dengan cepat meninggalkan kamar Zery.
Sementara Zery langsung menatap tajam ke arah Zaki. "Agh! Ya ampun, apa sih yang mama pikirkan?" Zery berucap dengan nada frustasi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Jangan banyak bicara. Cepat turun dari ranjang ku atau akan ada orang yang lain lagi yang akan berpikir yang tidak-tidak tentang kita."
"Lah, apa salahnya jika keluarga kita mikir yang macam-macam? Orang itu adalah hal yang paling wajar yang harus kita lakukan. Karena kan, kita udah nikah."
"Benar-benar kurang waras kamu yah. Turun sekarang juga!" Zery malah langsung berteriak.
__ADS_1
"Ah, ya ampun. Kapan kamu bisa gak galak lagi, nona jahat?"
"Bicara sekali lagi tanpa bergerak, akan aku buat kamu tidak bisa bernapas sekarang juga."
"Uh, sadisnya." Zaki malah semakin menantang.
Karena itu, Zery yang kesal langsung ingin memukul kembali Zaki dengan menggunakan guling. Namun, dengan cepat Zaki menghindar.
Keduanya pun kembali terlibat dalam pertengkaran yang penuh dengan candaan.
Yah, jika dilihat sekilas, mereka memang pasangan yang penuh dengan kebahagiaan. Pasangan romantis yang saling mencintai satu sama lain. Padahal kenyataannya tidak. Mereka hanya melakukan hal secara spontan saja.
.....
Lima hari setelah pernikahan mereka, Zaki membawa Zery pindah ke rumah yang sudah ia siapkan sebelum mereka menikah. Rumah itu sengaja ia beli atas nama Zery. Entah apa maksudnya, dia sendiri tidak mengerti. Tiba-tiba saja, saat ia melakukan transaksi, ia terpikir untuk mengatasnamakan Zery sebagai pemilik dari rumah itu. Jadilah Zery sebagai pemilik yang sah rumah dengan dua lantai tersebut.
"Bagaimana? Apa kau merasa nyaman dengan rumah ini?" Zaki berucap ketika keduanya tiba di halaman rumah yang terkesan sangat asri nan indah itu.
"Mm ... cukup bagus. Tapi, aku tidak tahu apa aku merasa nyaman atau tidak. Yang pasti, aku cukup suka dengan suasana rumah ini." Zery berucap dengan pandangan yang terus memperhatikan keadaan sekeliling.
__ADS_1
"Tapi jika ingin aku jujur, aku lebih suka rumah orang tuaku. Karena di sana, aku di besarkan. Dan, di sana ada banyak taman hias yang sudah aku tanam dengan susah payah. Kebun bunga ku juga ada di sana. Jadi ... aku lebih suka rumah orang tuaku dari pada tinggal satu rumah hanya berduaan saja dengan kamu."
"Ye .... Kau kan sudah tahu apa alasannya. Kita tidak bisa tinggal satu rumah dengan kedua orang tua kita. Karena itu akan sangat bahaya. Kerja sama kita akan terbongkar dalam waktu dekat. Itu akan sangat mengecewakan mereka nantinya."