
Zery pun tidak langsung menjawab apa yang Lena katakan. Ia hanya memberikan tatapan tajam ke arah Lena selama beberapa saat. Tatapan yang tentunya langsung membuat Lena ingin kabur. Hanya saja tidak bisa.
"M-- mbak ... Zery. Kok li-- hat saya seperti itu sih? Apa yang mbak pikirkan tentang saya, mbak?"
"Gak ada mikir apa-apa, Len. Cuman, aku kok merasa ada yang tidak beres ini dengan kamu. Kenapa tiba-tiba kamu terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Kamu terlihat sangat gugup sekarang. Dosa apa ... gitu yang udah kamu perbuat padaku. Dan, sedang berusaha kamu tutupi dari aki saat ini."
Ucapan itu sukses membuat mata Lena membulat lebar. Karena kata-kata itu membuat ia berpikir kalo Zery mungkin sudah tahu tentang hubungannya dengan Irvan. Hal itulah yang membuat ia merasa sedang sangat ketakutan.
"Ap-- apa? Mbak bicara apa sih? Aku ... gak bikin kesalahan apapun, mbak. Jangan nuduh aku gitu dong."
Pembelaan itu langsung membuat Zery tersenyum manis. Tentunya, senyum itu hanya sebuah senyum palsu saja.
"Hei! Kenapa kamu jadi semakin panik, Lena? Aku hanya bercanda kok. Kenapa kamu jadi begitu serius menanggapi candaan yang aku buat," ucap Zery sambil menyentuh bahu Lena dengan pelan.
'Hah? Apa-apaan sih perempuan ini? Udah bikin aku hampir jantungan setengah mati. Dia seenaknya bilang kalo ini hanya candaan. Apa sih yang ada dalam pikiran perempuan ini?' Lena berucap dalam hati sambil mendengus pelan.
__ADS_1
Ada dua rasa yang bisa ia rasakan saat ini. Pertama, dia jadi sangat lega akan apa yang baru saja ia dengar. Sedangkan yang kedua, ucapan Zery barusan malah membuat ia merasa kesal dan semakin merasa benci akan Zery. Dia pun semakin berpikir kalo apa yang sudah ia lakukan itu adalah pilihan yang benar.
'Lagian, aku tidak salah, kan? Jatuh cinta itu adalah hal yang wajar. Dan juga, kami saling mencintai. Aku berhak mendapat apa yang aku inginkan. Karena, kak Irvan juga sudah memilih aku untuk ia jadikan perempuan spesialnya.' Itulah yang Lena pikirkan dalan hati ketika rasa bersalah tiba-tiba muncul.
Sementara itu, Zery juga berucap dalam hati. 'Nikmati masa bahagia kamu, Lena. Kamu adalah manusia yang tidak punya perasaan. Tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih. Sudah aku bawa kamu dari desa sampai ke kota. Aku sediakan semua yang kamu butuhkan. Aku berikan kamu segalanya. Bukan hanya untuk untuk kamu saja. Bahkan, untuk keluargamu juga aku sediakan. Tapi ini balasan yang kamu berikan. Kau tusuk aku dari belakang. Sungguh, aku tak ubah seperti sudah menyelamatkan anj- ing yang terjepit. Sudah aku bantu lepaskan. Eh, malah aku yang kena gigit.'
'Nah, karena itu tidak salah untuk aku memberikan kamu sedikit pelajar berharga agar kamu bisa sadar siapa diri kamu yang sesungguhnya. Agar kamu tahu, bagaimana caranya berterima kasih pada orang yang susah berjasa dalam hidupmu.'
"Mm ... mbak Zery ini bisa aja bikin aku kaget, mbak. Aku itu sudah mbak buat kaget dengan kepulangan mbak yang mendadak. Eh, sekarang malah kamu bikin kaget dengan candaan mu yang bikin aku hampir kena serangan jantung."
Ucapan yang penuh dengan sindiran itu langsung bisa mengubah raut wajah Lena kembali. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan ucapan Zery barusan.
"Mbak Zery kok malah ngomong gitu sih, mbak? Bikin ... aku ngerasa .... "
"Ngerasa bersalah?"
__ADS_1
"Eh, ng-- nggak kok. Bukan itu yang ingin aku katakan. Maksudku .... "
"Sayang." Panggilan dengan nada lembut yang tiba-tiba terdengar di pintu masuk toko membuat perhatian keduanya langsung teralihkan. Ucapan Lena juga langsung tertahankan seketika akibat panggilan tersebut.
Sementara Zery, ia pun langsung memasang wajah kaget. Tentunya, itu hanya sandiwara saja. Karena Zery sudah sangat kenal suara itu. Siapa lagi pemiliknya kalo bukan si pacar yang tidak tahu malu ini?
"Sayang?" Zery berucap dengan wajah pura-pura bingung.
Sementara itu, pria yang ada di depan pintu pun langsung memasang wajah panik saat melihat ada Zery di dalam toko tersebut.
"Sa ... Zery. Kapan pulang? Kok kamu bisa ada di toko ini sekarang?"
"Hei! Ini toko aku, Van. Kamu lupa? Kalo aku adalah pemilik dari toko bunga ini, Irvan Hardy? Jadi, wajar dong kalo aku ada di sini."
"Bukan itu maksud aku. Kapan kamu pulang? Kenapa kamu pulang gak ngasi tahu aku, Zerina?" Pertanyaan dengan suara tinggi itu terlihat seperti Irvan yang sedang marah.
__ADS_1
Yah, pria itu sedang marah saat ini. Bukan cemas. Zery cukup paham akan apa yang sedang pria itu pikirkan. Jika ia cemas, atau peduli dengan pacarnya, maka nada bicara itu akan jauh berbeda. Raut wajah juga akan menunjukkan hal yang sama. Bukan seperti saat ini. Raut panik dan cemas.