
Yah, pria itu sedang marah saat ini. Bukan cemas. Zery cukup paham akan apa yang sedang pria itu pikirkan. Jika ia cemas, atau peduli dengan pacarnya, maka nada bicara itu akan jauh berbeda. Raut wajah juga akan menunjukkan hal yang sama. Bukan seperti saat ini. Raut panik dan cemas.
Zery pun terus menatap lekat wajah Irvan yang ada di hadapannya. 'Kenapa aku bisa dengan bodohnya jatuh cinta pada pria seperti ini? Sungguh, hal yang tidak seharusnya pernah terjadi.' Zery berkata dalam hati menyesali akan apa yang salah selama ini.
'Ah ... sudahlah, Ze. Kau sudah tahu siapa dia dan bagaimana sifatnya, bukan? Jadi, tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting itu lagi. Karena penyesalan memang akan selalu ada di belakang. Maka sekarang, tugas kamu adalah memperbaiki kesalahan yang sudah pernah kamu perbuat.'
Karena pikiran itulah, semangat untuk menghukum Irvan kembali membara. Zery pun langsung memasang wajah sedih untuk ia perlihatkan ke pada Irvan.
"Kamu ... kok kek nya marah sama aku, Van? Aku itu gak ngasi tau kamu pulang karena aku pingin bikin kejutan untuk kamu. Tapi ... kenapa kamu malah marah seperti ini?"
Sontak, ucapan itu langsung membuat Irvan mengubah raut wajahnya. Ia pun seketika melepas napas dengan pelan. Tapi, masih bisa Zery dengar dengusan pelan itu.
"Ze ... aku ... gak marah sama kamu kok. Aku hanya ... hanya cemas aja. Ya, aku cemas. Aku itu peduli sama kamu. Kamu pulangnya kapan, gak ngasi tau aku. Jika kamu bilang padaku, kan aku yang akan jemput kamu pulangnya."
"Karena kamu pulang gak kasi tau aku, aku jadi ngerasa kalo kamu itu gak anggap aku ada lagi buat kamu. Karena itu, tadi aku langsung kesal saat ngeliat kamu."
__ADS_1
'Pintar banget kamu, Van. Bisa aja kamu cari alasan. Yakin kamu punya waktu buat jemput aku kalo aku ngomong ke kamu? Aku gak yakin akan hal itu. Karena sejak dulu, kamu tidak akan pernah punya waktu ketika aku butuhkan.' Zery lagi-lagi berucap dalam hati.
Ingin rasanya ia lepas semua yang membengkak di hati Tapi, jika ia lepaskan sekarang. Maka tidak akan seru lagi ke depannya. Rencananya untuk membalas perbuatan dua manusia yang tidak punya malu ini pun akan gagal. Jika ia turut kata hatinya yang sedang marah.
"Sayang ... tunggu! Tadi kamu panggil sayang itu untuk siapa, Van?" Zery langsung membuat Irvan jadi salah tingkah dengan pertanyaan barusan.
Sungguh, bukan hanya Irvan saja yang panik. Tapi Lena juga merasakan hal yang sama. Dia langsung memberikan tatapan tajam ke arah Irvan agar Irvan tahu bagaimana caranya untuk berbohong. Dan berharap supaya jangan sampai Irvan lepas kendali sekarang.
"Ah, mbak. Saya permisi dulu. Ada yang belum saya kerjakan. Permisi," ucap Lena sengaja untuk mengalihkan perhatian Zery dari apa yang ia tanyakan barusan.
"Mm ... Van. Kok malah diam? Jawab aku! Kamu panggil sayang pada siapa tadi? Kamu gak tahu aku pulang. Tapi kamu malah panggil sayang ketika masuk ke toko ku. Di sini ... gak ada orang selain .... "
"Jangan mikir yang nggak-nggak, Zery. Aku punya GPS yang bisa melacak di mana kamu, bukan? Jadi, aku sengaja ingin ngerjain kamu. Aku sengaja bikin kamu bingung tadi."
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Ya aku tahu kamu ada di toko bunga pagi ini. Karena itu aku datang. Aku panggil sayang itu buat kamu lho. Masa iya panggil sayang buat orang lain? Ya nggaklah. Sayang aku cuma kamu saja satu untuk selama-lamanya. Jadi, ini hanya prank doang."
Setelah ucapan itu selesai Irvan ucapkan. Irvan pun langsung memeluk Zery. Itu ia lakukan hanya untuk membuat Zery yakin dan percaya dengan apa yang sudah ia jelaskan.
"Aku kangen kamu, Sayang. Maafkan aku yang udah buat hubungan kita jadi retak." Irvan berucap sambil membelai lembut rambut Zery.
Apa yang Irvan lakukan sungguh membuat Zery merasa jijik. Ingin sekali ia dorong tubuh Irvan sampai jatuh ke lantai sangking kesalnya dia sekarang. Tapi, kembali lagi. Itu tidak mungkin karena misinya untuk membuat sang pacar menyesal selama-lamanya.
"Aku juga kangen kamu, Van. Kamu cukup banyak berubah ya sekarang. Baru juga gak ketemu beberapa hari, udah kayak bukan kamu aja. Karena biasanya, kamu itu agak dingin. Lah yang sekarang, kamu tiba-tiba menjadi sangat hangat. Sungguh, aku semakin sayang padamu, Van."
"Aku akan berusaha memperbaiki hubungan kita, Zer. Karena itu, sebisa mungkin, aku merubah sikapku padamu. Jangan kaget, aku sudah berusaha keras sekarang."
'Dasar perempuan bodoh. Baru aja aku ucapkan beberapa kata aja udah bikin ia meleleh. Kalo gitu, kamu akan selalu jadi bahas permainan untuk aku sampai aku merasa sangat bosan kamu tidak bisa aky gunakan lagi. Karena sekarang, aku sudah cukup bosan. Tapi, belum bisa membuang kamu karena aku masih butuh kamu.' Irvan berucap dalam hati.
Seperti itulah mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan, tetap menunjukkan pelukan mesra yang membuat Lena merasa sangat kesal. Walau bagaimanapun, dia adalah perempuan. Yang punya rasa cemburu ketika orang yang ia cintai sedang bermesraan dengan orang lain.
__ADS_1