Menantu Pilihan

Menantu Pilihan
*MP Episode 24


__ADS_3

"Ya Tuhan, Zak. Angkat dong panggilannya. Ini keadaan sedang gawat Zaki." Zery bergumam sambil terus mencoba keberuntungan dengan menghubung ulang nomor Zaki.


Namun, usaha itu masih tetap sama. Karena Zaki tengah sibuk dengan dunia bahagianya bersama sang pacar.


Tapi pada kenyataanya, hanya Zaki yang bahagia. Sementara si pacar sepertinya tidak merasakan hal yang sama. Karena saat ini, Zaki sedang mengendarai mobil untuk mengantarkan si pacar pulang ke rumah.


Jika dilihat sekilas, Zaki tidak terlihat seperti pacar dari perempuan yang sedang duduk di sampingnya. Melainkan, lebih terlihat seperti seorang sopir yang akan selalu ada di saat jam pulang atau waktu pergi kerja.


"Siapa sih Ki yang sedang menghubungi kamu itu? Berisik banget deh. Jawab sekarang, supaya dia tidak merusak mood aku yang sedang lelah ini." Rika bicara dengan nada ketus. Seperti biasa, ia akan terlihat seperti majikan dari Zaki.


"Oh, itu ... temanku yang suka minta di traktir makanan. Jadi .... "


"Angkat! Ngomong sama dia apa yang ingin kamu bicarakan. Jangan bikin aku semakin kesal."


"Ba-- baiklah." Beginilah Zaki jika dengan Rika. Dia lebih merasa bebas saat bersama Zery. Ia akan bercanda, juga melakukan apa yang ingin ia lakukan dengan sesuka hati. Tidak seperti saat ini, menahan hati atas dasar cinta. Jadi budak cinta yang terlalu akut.


"Ha-- halo, Ze. Ada apa? Aku lagi di jalan bareng pacarku. Kamu ada perlu apa sampai menghubungi aku beberapa kali."


"Wah ... kamu enak banget pacaran sedangkan aku kelabakan di depan rumah. Mama dan papa ada di rumah kita saat ini. Aku gak tahu harus ngomong apa nantinya. Tolong deh selamatkan aku. Pulang segera sekarang juga. Tolong tunda dulu pacarannya."


"Ya Tuhan. Benarkah apa yang kamu katakan?"

__ADS_1


"Halo ... kapan aku pernah berbohong padamu, Mas Muzaki Hasbullah? Lagian, gak ada gunanya juga aku bohong."


"Iya deh iya. Aku percaya sama kamu. Ya udah, tunggu sebentar. Setelah antar pacarku pulang, aku akan langsung pulang ke rumah yah."


Rika yang acuh langsung menatap Zaki setelah obrolan Zaki dengan Zery usai. Karena barusan, Zaki bicara sedikit berbeda dari sebelumnya.


"Kamu ... bicara dengan siapa? Teman yang mana?"


"Oh ... it-- itu ... teman samping rumah. Dia bilang, ajak aku makan di rumahnya karena mamanya masak banyak." Zaki sontak berbohong dengan lancar pada sang pacar.


"Beneran?"


"Sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi. Aku juga tidak merasa tertarik dengan kehidupan sekitar kamu."


Zaki pun langsung terdiam. Ia merasa selalu diacuhkan setiap bicara dengan pacarnya. Entah hubungan pacaran yang seperti apa yang sedang ia jalani, tapi yang jelas, dia tetap ingin bertahan meskipun diperlakukan acuh oleh si pacar.


Sementara itu, Zery yang merasa sedikit lega langsung turun dari mobil. Eh, baru juga masuk rumah, ia langsung di sambut hangat oleh sang papa.


"Eh, anak papa udah pulang ternyata. Mana suami kamu? Kok gak terlihat," ucap papa Zery sambil celingak-celinguk memperhatikan sekeliling.


"Zaki masih belum pulang, Pah. Dia dan aku kan gak satu arah. Jadi, kami bawa mobil sendiri-sendiri. Tapi, aku udah menghubungi dia kok. Bentar lagi juga dia pulang."

__ADS_1


"Kamu itu manggil suami kok masih nama sih, Zer. Gak sopan banget tahu gak. Panggil dia dengan sebutan mas kek. Sayang kek, atau ... apa aja yang lebih enak di dengar."


"Hah? Eh, it-- itu ... iy-- iya, Pa. Nanti, Zery akan belajar merubahnya secara perlahan. Maklum, Zaki gak ngajarin sih."


"Jangan nunggu dia ngajarin kamu dong, Nak. Kamu sendiri yang harus belajar. Karena Zaki juga butuh proses buat jadi suami yang sempurna."


'Ya Tuhan .... Ini papa aku atau bukan sih? Dia bilang, Zaki butuh proses. Lah aku, apa nggak butuh proses untuk berubah? Dasar papa. Huh .... 'Zery hanya bisa mengeluh dalam hati.


"Oh iya, Pa. Papa datang sama siapa? Mama mana?"


"Sama mama kamu. Dia yang sangat ingin ngeliat rumah baru anaknya. Sudah sejak hari pertama kamu pindah malahan ingin ikut. Papa halangi. Papa bilang, biar kalian mandiri tanpa ada campur tangan orang tua. Dan hari ini, papa gak bisa halangi mama kamu lagi. Papa terpaksa bawa mama kamu datang ke sini untuk ngeliat keadaan kalian."


"Oo ... mamaku sayang. Mm ... di mana mama sekarang, Pa? Kok gak ada di sini bareng papa?"


"Mama kamu lagi di dapur. Lagi masak makanan kesukaan kalian tuh kek nya."


"Lho, kok mama baru datang langsung masak sih? Gak perlu masak lah. Kan udah ada bibi yang masakin makanan nanti."


"Tau sendirilah mama kamu itu, Zer. Mana mau dia duduk manis setelah lama gak ketemu sama anaknya. Pasti ia akan membuat makanan kesukaan kamu jika kalian pertama bertemu setelah sekian lama berjauhan."


Zery hanya bisa melepas napas kasar. Dia cukup paham siapa mamanya. Dan satu hal yang harus ia syukur kan saat ini. Beruntung Zaki sudah mencarikannya asisten rumah tangga beberapa hari yang lalu. Jika tidak, akan kacau lah keadaan rumahnya saat kedua orang tuanya pertama kali datang untuk melihat rumah baru mereka.

__ADS_1


__ADS_2