
"Ap-- apa, mbak? Mereka adalah karyawan? Tung-- tunggu deh. Mbak Zery ingin mencari karyawan lagi? Apa aku dengan mas Seno gak cukup sebagai karyawan di toko mbak ini?"
"Toko ini nggak terlalu besar, Mbak. Aku sama mas Seno aja udah cukup. Lagian, selama ini, juga kami berdua yang sudah mengurus toko ini dengan baik."
Lena benar-benar menyampaikan apa yang ada dalam hatinya dengan lantang. Tanpa ada rasa tidak enak sedikitpun, ia secara terang-terangan memprotes Zery yang jelas-jelas adalah pemilik dari toko itu. Zery pun tentu lebih tahu dari dia. Hal itu sama sekali tidak ia pikirkan sedikitpun.
Zery yang kesal pun langsung menyunggingkan bibir untuk memperlihatkan senyum pada Lena. "Kamu bicara apa sih, Len? Mereka itu aku terima karena ada keahlian."
"Mak-- maksud, mbak apa?"
"Yah, mereka adalah dua anak lulusan terbaik di perguruan tinggi kota ini. Yang satunya lulusan terbaik pertanian. Sedangkan yang satunya lagi adalah lulusan terbaik di komunitas merangkai seibu kota. Mereka adalah dua orang yang sangat luar biasa."
Pujian itu cukup menggores hati Lena. Dia merasa kalo dia adalah orang rendah yang tidak bisa apa-apa saat Zery begitu meninggikan nama dan keahlian dari dua orang yang baru saja Zery temui.
"Itu ... mbak Zery .... "
"Ah, iya Len. Satu lagi. Hampir saja aku lupa bilang. Mereka berdua juga akan tinggal di toko ini. Jadi, kamu akan berbagi tempat dengan dua anak itu yah."
"Hah? Ap-- apa mbak? Mereka juga akan tinggal di sini? Ta-- tapi .... "
__ADS_1
"Aku hanya kasihan pada mereka, Len. Karena mereka itu sama seperti kamu, gak punya tempat tinggal lain selain toko aku ini. Karena itu ... aku terpaksa menerima mereka untuk tinggal di sini."
"Tapi mbak .... "
"Ah, maafkan aku jika membuat kamu merasa tidak nyaman. Tapi, aku benar-benar tidak punya pilihan, Lena. Aku harap kamu memahami kondisi yang sedang kita alami yah." Zery berucap sambil menyentuh lembut bahu Lena.
Tidak bisa berkata-kata lagi, Lena hanya bisa terdiam dengan perasaan yang sangat kesal. Sayangnya, tidak bisa ia lepaskan rasa kesal itu sekarang.
'Dasar kurang ajar mbak Zery ini. Dia ingin terima orang buat tinggal di sini? Dia pikir, toko bunganya ini sebesar apa? Kecil begini. Mau nambah orang. Bikin aku makin gak suka dia aja sekarang.' Lena berkata dalam hati.
...
"Mbak, apa mereka benar-benar tidak bisa mbak Zery tempatkan di tempat lain. Kamar ini cukup pengap jika harus di huni tiga orang, mbak."
"Nggak kok, mbak Lena. Kamar ini cukup luas. Muat untuk kita bertiga," ucap salah satu dari kedua gadis yang datang. Yang bernama Lili.
"Iya, mbak. Apa yang Lili katakan itu benar banget. Kamar ini bagi kami sudah sangat luas. Karena sebelumnya, asrama sekolah juga tidak lebih besar dari ini, mbak. Mana penghuninya lebih ramai dari kita bertiga lagi." Satu temannya pula menjawab. Yang tak lain bernama Laras.
"Nah, kamu dengar apa yang mereka katakan, bukan? Kamar itu cukup luas. Cukup untuk kalian bertiga. Jadi, kenapa harus aku tempatkan mereka di tempat lain jika di sini masih bisa, Lena?"
__ADS_1
"Iya tapi .... "
"Udahlah. Jangan bahas hal yang tidak penting lagi, Len. Aku sudah capek. Mau pulang karena sekarang sudah sore."
"Oh ya, Lili, Laras, jika ada hal yang ingin kalian tanyakan, atau sampaikan padaku, bisa sampaikan lewat chat via WA saja yah. Tapi, jika ada yang kalian butuhkan, minta Lena aja yang siapkan. Karena dia sudah lama di sini. Jadi, dia sangat tahu apa yang ada di tempat ini yah."
"Iya, mbak. Siap." Keduanya berucap serentak dengan penuh semangat.
Sementara Lena, ia hanya diam menahan perasaan dengan menggenggam erat tangannya. Sungguh, ingin sekali ia marah pada Zery. Tapi sayang, dia keburu sadar siapa dirinya saat ini. Tidak mungkin membantah atau melawan Zery yang jelas-jelas adalah pemilik dari toko bunga ini secara terang-terangan. Karena jika hal itu tetap ia lakukan. Maka itu sama aja dengan dia yang sudah bosan berkerja di toko bunga tersebut.
....
Zery tiba di rumah setelah beberapa saat mengendarai mobil. Ketika ia melihat ke sekeliling rumah, ia cukup di kejutkan dengan sebuah mobil yang sedang terparkir di samping rumahnya.
Mobil yang sangat tidak asing lagi buat Zery. Yang sangat mendebarkan ketika mobil itu mampir ke rumahnya. Siapa lagi pemilik dari mobil tersebut jika bukan papanya.
Secepat kilat dia langsung menghubungi Zaki. Ia berharap, Zaki langsung menjawab panggilannya. Namun, harapan itu tidak terwujud. Karena saat ini, Zaki sedang bersama dengan pacarnya.
"Ya Tuhan, Zak. Angkat dong panggilannya. Ini keadaan sedang gawat Zaki." Zery bergumam sambil terus mencoba keberuntungan dengan menghubung ulang nomor Zaki.
__ADS_1
Namun, usaha itu masih tetap sama. Karena Zaki tengah sibuk dengan dunia bahagianya bersama sang pacar.