
"Kau tahu, Zery. Aku sudah lama tidak suka padamu. Kau sungguh tidak seperti perempuan yang aku dambakan. Kamu tidak tahu bagaimana caranya romantis. Kau tidak tahu bagaimana caranya membahagiakan pasanganmu. Kau tidak tahu bagaimana membuat pasanganmu betah dengan sikap manis dan manja layaknya seorang wanita pada umumnya. Yang kau tau hanya mengejar mimpimu sekuat mungkin tanpa memikirkan kebahagiaan pasanganmu."
Ucapan itu membuat Zery langsung menatap tajam ke arah Irvan. Tapi ternyata, bukan hanya itu saja yang ingin ia ucapkan. Karena Irvan pun dengan cepat melanjutkan kembali apa yang ingin ia katakan.
"Aku sungguh tidak kuat berpacaran dengan mu yang tidak punya rasa romantis. Karena itu, aku mencoba berhubungan dengannya. Dan, aku dapatkan kebahagiaan yang selama ini aku cari yang tidak aku temui dari kamu. Jadi, kamu tidak bisa menyalahkan aku ataupun dia. Karena semua ini adalah salah kamu."
"Ap-- apa? Semua ini salah aku? Kau yang berselingkuh dengan dia? Kau malah menyalahkan aku, Irvan?"
"Ya. Memang kamu yang salah. Lagian, jika bukan karena dia, aku juga sudah lama meninggalkan kamu. Karena aku sudah lama tidak merasa betah bersama dengan kamu."
"Asal kau tahu, aku bertahan hingga saat ini juga karena dia. Dia yang tidak ingin kamu membuat orang tuanya sedih. Karena itu, dia juga tetap bertahan bekerja di toko bunga kamu yang kecil ini."
"Zerina. Dia itu adalah permata. Dia bisa bekerja dengan baik di tempat lain. Dan aku juga bisa memberikan ia tempat tinggal yang layak dari pada kamar kecil yang ada di toko usang mu ini."
"Oh, dia adalah permata? Dia bisa bekerja dengan layak di tempat lain karena dia adalah permata? Lalu, kamu juga bisa memberikan ia tempat tinggal yang layak untuk ia tinggal. Ah! Ya sudah. Bawa dia pergi sekarang juga dari toko usang ini. Karena toko usang ini tidak bisa menampung permata kerikil yang tidak berarti seperti dia."
__ADS_1
"Zerina! Kamu .... "
"Lili, keluarkan semua barang milik permata krikil desa ini dari kamar kalian. Bereskan semuanya. Jangan ada satupun yang tertinggal." Zery berucap lantang.
"Mbak! Tolong jangan usir aku, mbak. Bunda akan sedih jika tahu mbak mengusir aku dari sini."
"Lena. Jangan takut akan kesedihan orang tua kamu. Karena aku yang akan membantu kamu menjelaskan semuanya pada orang tua kamu. Aku yakin, orang tua kamu pasti akan mengerti dan mendukung kamu sepenuhnya. Lagian, sudah seharusnya kamu pergi dari sini. Tempat ini tidak layak untuk kamu, Lena." Irvan bicara dengan nada lembut yang penuh dengan kasih sayang.
Sayangnya, ucapan itu bukan membuat Zery cemburu. Tapi malah membuat Zery merasa enek seperti ingin mengeluarkan semua isi perutnya.
Belum sempat Zery angkat bicara, Lili dan Laras pun datang dengan membawa koper kecil. Koper itu dulunya Zery yang membelikan untuk Lena. Tanpa ada potongan gaji sedikitpun.
"Ah, Lili. Ini koper bukan miliknya. Tapi milik aku," ucap Zery dengan nada tenang.
"Apa? Mbak Zery kok bisa setega ini sama aku, mbak. Koper ini sudah mbak berikan padaku. Jadi .... "
__ADS_1
"Oh iya, aku tahu kalau aku sudah memberikan koper ini. Jadi, bawalah pergi. Aku tidak akan keberatan. Bukankah ini hanya sebuah koper kecil saja. Karena aku yang berbaik hati ini, bukan hanya bisa memberikan kamu koper, tapi juga memberikan kamu pacarku yang sudah tidak aku butuhkan lagi. Karena hal yang tidak aku perlukan, maka ambillah dariku."
"Zery, kamu!" Irvan langsung naik tensi lagi.
Tapi Zery tidak ingin menangapi hal itu lagi sekarang. Ia sudah bosan. Sangat-sangat bosan. Karena itu ia secepatnya kedua manusia yang tidak tahu malu itu pergi dari hadapannya secepat mungkin.
"Silahkan pergi dari sini sekarang juga. Jangan buat aku hilang kendali dengan memanggil pihak keamanan untuk mengusir kalian dari sini ya."
"Kami akan pergi! Karena kami juga tidak sudi ada di sini lebih lama lagi." Irvan berucap sambil menggandeng tangan Lena.
"Tapi .... " Sepertinya, Lena enggan untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Ayo pergi, Lena. Yakinlah jika aku bisa memberikan kamu tempat yang lebih baik dari toko bunga usang ini."
"Ba-- baiklah. Aku percaya dengan kak Irvan sepenuhnya. Karena selama ini, kak Irvan adalah orang yang paling mengerti aku." Kini sepertinya, Lena benar-benar sudah yakin dengan Irvan.
__ADS_1
"Untuk mbak Zery. Semoga mbak tidak akan menyesal karena telah mengusir aku. Dan semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi, mbak."
Selesai berucap kata-kata tersebut yang disertai dengan semua keyakinan, Lena pun beranjak pergi. Sementara itu, Zery tidak memberikan satu patah kata buat menjawab apa yang Lena katakan. Karena ia tidak ingin adu mulut lagi. Yang ia inginkan hanya menghilangnya dua manusia yang sudah membuat hatinya terlalu kecewa secepat mungkin dari hadapannya.