Menantu Pilihan

Menantu Pilihan
*MP Episode 19


__ADS_3

Ucapan itu membuat Zaki merasa sedih. Dia pun langsung menggenggam lembut tangan Zery.


"Jangan sedih, Ze. Jodoh itu sudah di tetapkan oleh yang maha kuasa. Jadi, jika itu memang jodohmu, gak akan tertukar kok."


Zery tidak menjawab apa yang Zaki katakan. Saat ini, dia hanya fokus pada tangannya yang Zaki pegang. Ingin rasanya ia marah dan melepaskan secara langsung genggaman itu. Tapi, entah apa yang hatinya pikirkan, ia justru tidak bisa melakukan apa yang pikirannya pikir.


"Oh ya, Ze. Apa rencana kamu selanjutnya? Apa kamu akan mengusir pengkhianat itu dari toko mu secepatnya?" Zaki berucap setelah mereka diam beberapa saat.


"Aku ... mungkin akan melakukan hal itu. Tapi, tidak dalam waktu dekat. Karena setelah aku pikir ulang, ini belum saatnya ia pergi dari toko ku. Karena aku masih belum membalas apa yang ia lakukan padaku dengan balasan yang sangat setimpal."


"Maksud kamu bagaimana, Ze?"


"Aku ingin membalas perbuatan Lena dan Irvan dengan balasan yang sangat menyakitkan buat mereka berdua. Jika hanya aku usir dari toko saja, itu tidak akan buruk buat Lena. Karena aku yakin, Irvan pasti akan membantu kesayangannya itu mendapatkan pekerjaan lain."


"Karena itu, aku telah memutuskan untuk bertahan dan berpura-pura tidak tahu apa yang telah mereka lakukan di belakangku. Aku akan menyiksa mereka dengan caraku sendiri," ucap Zery lagi dengan tatapan tajam lurus ke depan.


Sungguh, amarah perempuan yang sedang tersakiti sangat mengerikan. Zaki melihat saja merasa takut. Apalagi jika dia yang ada di posisi Irvan. Mungkin, dia akan jungkir balik untuk minta maaf pada Zery.


Lagian, Zaki sungguh tidak habis pikir dengan pria yang bernama Irvan ini. Sudah bagus-bagus punya pacar yang cantik. Anak orang kaya, dan mandiri lagi. Eh, masih aja milih yang lebih buruk dari apa yang sudah ia punya.


Hal itu yang Zaki merasa tidak habis pikir. Jika seseorang mengharapkan yang lebih, mungkin akan mencari selingkuhan yang lebih baik dari pacar yang ia punya. Tapi, Irvan ini malah sebaliknya.

__ADS_1


'Dasar pria bodoh. Sudah punya pacar kek Zery masih bisa nyari yang di bawah Zery. Apa sih yang dia pikirkan. Jika aku jadi dia .... Tunggu! Apa yang baru saja aku pikirkan? Masa iya aku mikir yang nggak-nggak. Bukannya fokus sama masalah hidup sendiri. Eh, malah memikirkan kehidupan orang lain. Sadarlah, Zaki! Sadar. Kamu gak ada di posisinya saat ini jadi wajar kamu mikirnya kek gitu.'


Zaki malah sibuk dengan pikirannya sendiri sekarang. Hal itu membuat Zery langsung menatap Zaki dengan tatapan yang tak kalah tajam pula.


"Zak. Lagi mikir apa sih kamu sekarang?"


"Hah! Ngg-- nggak kok. Gak mikir apa-apa."


"Kalo nggak, kenapa diam barusan? Mana geleng-geleng kepala gak jelas lagi. Pasti ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan. Iya, kan? Jujur deh kamu ama aku."


Zaki langsung nyengir kuda. "He hehe. Itu ... aku mikir kamu yang kalo marah itu serem amat deh, Ze. Pacar juga karyawan kamu sedang dalam masalah besar sekarang."


"Ya ... selamat malam."


"Hm ... malam."


Zery langsung beranjak meninggalkan ruang keluarga. Sedangkan Zaki, ia masih diam di tempatnya. Dia lirik Zery yang semakin lama semakin menjauh darinya. Hingga pada akhirnya, tubuh langsing itu hilang di balik pintu kamar yang tertutup rapat.


"Sejujurnya, aku salut sama kamu, Ze. Kamu perempuan kuat. Gak terpuruk lama-lama kek perempuan patah hati biasanya. Setengah hari udah cukup buat kamu melepas rasa sakit. Itu sungguh luar biasa." Zaki berkata pada dirinya sendiri dengan suara pelan.


....

__ADS_1


Setelah makan bersama, Zaki dan Zery langsung berangkat ke tempat kerja masing-masing. Tentunya, dengan kendaraan masing-masing pula.


Beberapa saat mengendarai mobilnya, Zery pun tiba di toko bunga yang kemarin sempat menjadi saksi bisu dari perselingkuhan sang pacar juga orang kepercayaannya yang sudah ia anggap sebagai keluarga.


Ketika tiba di depan toko, Lena yang agak kaget langsung menyambut kedatangan Zery dengan senyum kecil yang terlihat cukup di paksakan. Ia pun berusaha seramah mungkin untuk menyambut ke datang Zery.


"Mbak Zery? Kapan pulang mbak? Bukannya mbak akan pulang dalam beberapa hari lagi?" Tanpa sadar, Lena malah menyinggung hal yang sama sekali tidak pernah Zery bicarakan dengannya.


Hal itu tentu langsung membuat Zery memberikan tatapan aneh ke arah Lena.


"Kamu ... tahu dari mana kalo aku akan pulang dalam beberapa hari?"


Sontak. Ucapan itu langsung mengubah raut wajah Lena. Ia pun mendadak merasa panik akibat ucapan Zery barusan.


"It-- itu ... sa-- saya ... tahu dari kak Irvan, Mbak. Kak Irvan sempat datang ke toko untuk mewakili mbak buat lihat toko. Dan, kek mantau kerjaan saya gitu deh."


Orang bersalah itu pasti akan selalu terlihat belangnya. Meskipun sudah berusaha terlihat biasa saja. Namun tetap, kesalahan membuat ia merasa panik secara tiba-tiba.


Zery pun tidak langsung menjawab apa yang Lena katakan. Ia hanya memberikan tatapan tajam ke arah Lena selama beberapa saat. Tatapan yang tentunya langsung membuat Lena ingin kabur. Hanya saja tidak bisa.


"M-- mbak ... Zery. Kok li-- hat saya seperti itu sih? Apa yang mbak pikirkan tentang saya, mbak?"

__ADS_1


__ADS_2