
"AW dududuh,,hhm"Rintih Marsya saat mencoba bangkit.
"Apa sesakit itu..padahal Aku sudah selembut mukin.!"Ucap Roy memperhatikan istriNya merintih sakit melangkah ke kamar mandi.
"Lembut,,Wah,apa kau amnesia tuan Roy!?"Dengus Marsya melihat SuamiNya yang hanya mengenakan handuk melingkar dipinggang dengan rambut yang masih basah setelah mandi.
"Baik laahh,,Kau mau ku angkat..?"tawar Roy sembari mendekat.
"Apa Kau tak lihat Aku sudah didepan pintu!?"Tukas Marsya sedikit kesal.
"Aku bisa lihat tapi Aku bisa menemani Mu masuk dan memasuki Mu didalam.."Ucap Roy menggoda Marsya dengan seyum nakal.
"BRAAK"suara bantingan pintu menutup kamar mandi dan segera Marsya mengunci dari dalam.
Marsya merendam tubuh Nya dengan busa dan nenambah beberapa tetes minyak pati bidara untuk merelaksasi kan tubuh dan pikiranNya sambil berendam di jacuzzi.
Mengingat sudah delapan hari mereka berada di resort milik Anggana dengan menempati sebuah vila mewah dengan master bedroom,kolam renang pribadi menghadap kelaut bisa langsung melihat pantai berpasir putih dan ombak yang dapat digunakan berselancar ditambah pulau yang masih menjaga kelestarian hutan dikelilingi laut .
Sayang sekali Roy hanya mengurung Marsya ibarat Burung dalam sangkar emas.
Aku harus memikirkan cara membujuk Roy atau memaksaNya(pikir Marsya)
Cukup lama Marsya berendam sambil memikirkan cara agar bisa berjalan² keluar.
Setelah Marsya selesai Marsya kemudian keluar melihat Roy sudah rapi dengan pakain casual kaos dan celana pendek hitam.
"Apa kau sedang mengagumi ketampanan Suami Mu ini..?"Ucap Roy sembari mendekati Marsya.
"Jujur Kau tampan tapi bisakah kau gunakan warna selain hitam karena Aku seperti dipemakaman saat bersama Mu rasaNya..!Gumam Marsya sembari duduk di meja rias.
"Kebetulan Aku hanya membawa pakaian warna hitam..Jadi Aku tidak bisa mengganti dengan lain."Elak Roy yang sembari mengambil hairdryerd ditangan Marsya dan membantu mengeringkan rambut Marsya yang masih basah.
"Alasan tidak masuk akal,Kau punya uang Tuan, tinggal bicara orang akan menyiapkan semua yang kau inginkan .!"Gumam Marsya melihat Roy dari cermin rias sedang berdiri dibelakangNya sambil mengeringkan RambutNya.
"Masalah Nya Aku tidak menginginkan warna lain.!"Sahut Roy.
__ADS_1
Percuma berdebat denganNya..(batin Marsya)
Melihat Marsya yang menjadi cemberut Roy mencoba membujuk Marsya.
"Siang ini kita makan diluar sekalian Kau bisa mencarikan pakaian untuk Ku."Ucap Roy mecium kepala Marsya.
Mendengar mereka akan keluar Wajah Marsya langsung berbinar dan segera mengambil pakaian dilemari bersiap².
Marsya mengambil sembarang pakaian karena pikirNya yang penting jangan sampai Roy berubah pikiran karena alasan menungguNya terlalu lama.
"Aku sudah siap..!"Kata Marsya sembari merapikan rambut Dengan jemariNya.
Sepatu kets putih dan denim dress selutut membut Marsya terlihat cantik dengan riasan tipis.
Saat Mereka asik berjalan, tiba² Seseorang menegur Marsya menghampiri mereka.
"Marsya..!"Suara wanita terdengar cukup keras menegur Marsya yang asik memilih² pakaian pria.
Marsya dan Roy yang mendengar mencari keberadaan siempun suara,teryata setelah Marsya melihat wanita yang menegurNya adalah Emely yang juga berliburan dipulau.
"Emely adikNya Mike."jawab Marsya dengan senyum.
Roy mendengar Nama mikeael langsung merangkul pinggang Marsya posesif,
Sementara Emely sudah berada di hadapan mereka berdua.
"Apa Pria ini yang menculik Mu dari kaka Ku!?"Tukas Emely memperhatikan Roy dari kaki ke kepala.
"Kaka Mu yang brengsek itu yang menculik Istri Ku.!!"Sahut Roy berang menatap kesal Emely.
"Jauh lebih baik Kaka Ku,Kenapa Kau mau menikah DenganNya?"Tukas Emely membuang muka melihat Roy dan menoleh ke Marsya.
"Lepasin, Kau terlalu berlebihan Dia itu Emely bukan Mike.!"Ucap Marsya pelan sambil mencoba melepaskan dekapann Roy.
Emely yang melihat Roy, juga tidak suka dengan Roy, Dia lebih memilih pergi setelah berpamitan.
__ADS_1
Setelah Emely pergi Roy membawa Marsya kembali Ke Vila, tak lama handphone milik Roy berbunyi dan setelah Roy mengangkat Teryata Yuna yang menghubungi.
Marsya yang mendengar Yuna menghubungi Roy menjadi kesal lalu menghampiri Roy yang sedang berdiri dibalkon.
Cukup lama Mereka berbicara ditelpon namun tak juga selesai akhirNya Marsya berdiri di hadapan Roy sambil meligkarkan tangan dileher Roy lalu mencium bibir Roy.
"Aku akan memberiMu nanti sayang, jadi tolong jangan ganggu karena ini penting.!"Ucap Roy mencoba melepas tangan Marsya.
"Penting.."Ucap marsya sambil sebelah tanganNya meraba dada bidang Roy.
"Hentikan Sayang.!"Ucap Roy melihat Marsya yang menggigit bibir bawah Nya yang tipis.
BukanNyaa Menghentikan Marsya semakin Menjadi.
"Apa kau yakin ingin Aku berhenti!"Ucap Marsya dengan tanganNya sudah meremas Lolipop Roy yang masih terhalang dengan kain.
Roy mencoba tetap tenang walaupun Dia sudah menegang akibat ulah Marsya.
Sementara Marsya memasukan tanganNya kedalam celana Roy dan memaikan Lolipop Milik Roy.
"Sayang punya Mu sudah keras..!"Goda Marsya menatap Roy Nakal.
Roy sadar betul Klo Marsya sedang me godaNya tapi telpon dari Yuna juga sangat penting sehingga Roy harus menahan GairahNya.
"Ahh,,Roy,,Kau begitu tegang"Ucap Marsya dengan suara agak keras agar Yuna mendengar.
Melihat Roy sudah Mulai tergoda Marsya kembali melumat bibir Roy sementara tanganNya tak berhenti memainKan Lolipop Milik Roy.
"Ahh,,Saayaanggg."Ucap Marsya memangil Roy sementara sebelah tangan Roy sudah mer**s dada Marsya.
Marsya dapat mendengar Suara Yuna yang sedang berbicara terhubung dihandphone.
Marsya menarik pelan tangan Roy ke ranjang lalu mendorong Tubuh Roy.
Marsya menaiki tubuh Roy yang sedang terbaring diranjang masih dengan telpon yang tersambung ke Yuna.
__ADS_1
"Biar kan Aku yang melaku kanNya dan Kau cukup menikmati ."Bisik Marsya ditelinga dan meniup pelan telinga Roy.