
Keisha menangis di pojok kamarnya, memeluk erat kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sana. Sakit, sungguh sangat sakit bahkan rasanya Keisha ingin m4ti saja.
"Kenapa kau menangis bod0h? Kau ini siapa? Kau hanya istri di atas kertas nya saja, kau tak punya hak untuk menangisinya," lirih Keisha.
"Bukannya kau bahagia karena suami mu sudah menemukan kekasih nya kembali? Kau sudah berjanji kan untuk slalu ada untuknya. Berhenti mencintai nya Keisha! DIA SUDAH JADI MILIK ORANG LAIN DARI DULU," gumam Keisha.
"Tidak, aku tidak bisa seperti ini. Aku lelah, aku benar-benar ingin pulang sekarang. Tunggu, tunggu aku Ibu," ucap Keisha yang langsung berdiri.
Matanya sekarang bengkak serta rambut yang sudah acak-acakan. Keisha berjalan gontai menuju ranjang miliknya. Dengan putus asa Keisha meraih gunting di sana mengarahkan gunting itu ke tempat nadinya sekarang.
Dan....
Pintu terbuka menampilkan Aldrich yang nampak menatap Keisha dengan tatapan yang tak dapat di artikan. Gunting itu masih melayang dan hampir mengenai nadi Keisha, dengan langkah cepat Aldrich langsung merebut gunting itu dan membuang nya jauh-jauh dari sana.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Aldrich, napasnya memburu menatap Keisha dengan tatapan marah.
"Aku ingin pulang," jawab Keisha dengan lesu dan setelah itu dirinya mendongak menatap Aldrich dengan senyuman.
"PULANG APA, HAH?! PULANG APA?! KAU INGIN MENGAKHIRI HIDUPMU?! BEGITU? IYAH?!" bentak Aldrich.
"Lihat dirimu! DAN LIHAT AKU, AKU ADALAH SUAMI MU! DAN AKU TIDAK AKAN MENGIJINKAN MU PERGI JIKA BUKAN PERINTAH KU!" tekan Aldrich yang mencengkram erat dagu Keisha membuat Keisha tetap menatap wajah Aldrich yang nampak menyeramkan. Seolah-olah jika hidup dan mati Keisha berada di tangannya.
"Jangan coba-coba melakukan hal yang sia-sia, jika saja kau benar-benar melukai dirimu maka aku akan melakukan apapun untuk tetap membuatmu hidup, jadi jangan bertingkah konyol!" ucap Aldrich yang langsung melepaskan cengkraman nya dengan kasar.
"Ambil ini dan tanda tangani dan yah, ingat jika nanti kau akan tetap datang ke acara yang di buat oleh Mama. UNTUK TERAKHIR KALINYA," ungkap Aldrich yang menekan kalimat terakhirnya.
Aldrich menutup pintu kamar Keisha kembali membuat wanita itu kembali di landa hantaman sakit hati.
Dengan tangan bergetar Keisha membuka kertas tersebut yang nampak berada di dalam sebuah map plastik berwarna hijau.
Air matanya kembali turun, bagaikan di sambar petir di siang bolong. Rasanya tubuh Keisha sekarang m4ti rasa, kepalanya pusing dan oksigen rasanya mulai menipis. Sesak, dad4nya begitu sesak sekarang.
"Sur---surat cerai?" lirihnya tak percaya. Tangannya tak sanggup lagi memegang map itu sehingga menjatuhkan nya ke lantai begitu juga tubuhnya yang langsung ambruk.
Isakan tangis kembali terdengar, begitu pilu dan jika saja barang-barang yang ada di kamar Keisha memiliki nyawa mungkin mereka juga merasakan kesedihan wanita itu sekarang.
"Pada akhirnya orang lama akan slalu jadi pemenangnya," lirihnya.
•••
Setelah beberapa jam akhirnya Keisha telah memutuskan langkah apa yang harus dirinya ambil. Yah dia sudah tahu dan tekadnya sekarang sudah bulat.
"Aku akan bercerai," ucapnya dengan mantap. Mata bengkak itu kini telah tertutupi oleh bulu mata yang di pasangkan oleh sang MUA yang sengaja Aldrich sewa.
"Apakah anda mengatakan sesuatu nona?" tanya sang MUA.
__ADS_1
"Ah tidak--- aku hanya mengatakan jika make up nya sangat cantik," bohong Keisha dengan senyuman.
"Terima kasih nona, itu juga karena wajah anda yang sangat cantik. Tanpa make up saja sudah begitu cantik dan make up saya hanya menambahkan sedikit dari kesempurnaan anda," jelas sang MUA yang membuat Keisha lagi-lagi tersenyum.
"Emm, maafkan saya jika saya lancang nona. Tetapi apakah anda sudah menangis, saya perhatian mata Anda bengkak parah," tanyanya.
Keisha menghela napasnya dan kembali tersenyum menatap sang MUA dari pantulan cermin. "Iyah, tadi kucing kesayangan ku meninggal dan itu membuatku menangis dan inilah hasilnya, mataku bengkak parah,"
"Ah begitu, saya turut berduka nona. Sayang sekali tetapi semoga kucing anda bisa tenang di sana," ucapnya dengan tulus.
"Terima kasih doanya," balas Keisha.
Keisha kini telah selesai bersiap. Gaun berwarna mauve menghiasi tubuh putihnya dan punggung putih yang di biarkan terekspos menambah kesan menawan nan anggun Keisha.
"Anda sangat-sangat cantik nona, saya jamin tuan Aldrich akan pangling melihat anda," puji sang MUA.
"Terima kasih pujian mu, aku harap begitu. Setidaknya untuk terakhir kalinya," jawab Keisha.
Sang MUA kembali bertanya-tanya dengan ucapan Keisha tadi. "Maksudnya---"
"Apakah anda sudah siap nona?" tanya Hans yang baru saja tiba untuk menjemput Keisha.
"Ah--- tuan Hans, nona Keisha sudah siap tuan."
Di tengah-tengah saat mereka berjalan acapkali Hans mencuri-curi pandang dari Keisha memastikan jika dia baik-baik saja. Bukannya apa tetapi Hans sudah tahu semuanya, dia sudah tahu tentang kepulangan Saqila dan perbuatan Aldrich.
"Apakah anda baik-baik saja nona?" tanya Hans yang langsung menghentikan langkah Keisha.
Wanita itu tersenyum, tersenyum sangat tulus. "Aku baik-baik saja Hans, buktinya aku ada di depan mu,"
"Tetapi nona---"
"Sudahkah Hans, tapi di mana tuan? Aku kira kita akan berangkat bersama tetapi---"
"Maafkan saya nona, tetapi tuan akan sedikit lebih terlambat sehingga dia meminta saya untuk menjemput anda," ujar Hans yang lagi-lagi membuat Keisha kembali tersenyum dan Hans yang melihat itu rasanya benar-benar merasa bersalah.
"Ah begitu, baiklah ayo kita berangkat sekarang," ajak Keisha yang nampak bersemangat meninggalkan Hans di sana menuju luar mansion.
•••
Mereka pun sampai di tempat acara itu yang begitu tampak mewah di mana rumah megah Selena dan William di ubah menjadi tempat yang penuh dengan hiasan mewah.
"Wah! Apa ini betul rumah Mama?" gumam Keisha yang begitu takjub. Terlihat begitu sayangnya Selena dengan Aldrich yang dirinya tunjukkan dengan adanya acara mewah ini.
Tamu nampak sudah berdatangan dan 99% Keisha tidak tahu siapa mereka dan Keisha hanya yakin jika mereka semua pasti orang-orang berada.
__ADS_1
"Mari nona," Hans berjalan di depan Keisha membuka kan jalan untuknya masuk ke dalam rumah yang nampak hampir di tutupi tubuh manusia sangking banyaknya tamu malam ini.
Semua mata tertuju pada Keisha, nampaknya mereka sudah tahu siapa Keisha. Dari tatapan mereka saja bisa Keisha tebak karena sebagian besar dari mereka nampak tersenyum seolah menyapa sang nyonya Aldrich Rodriguez.
"Menantuku!" Suara wanita paruh baya memekik memanggil Keisha. Nampak Selena berjalan dengan tergesa-gesa ke arah Keisha yang tersenyum mengembang menatap sang mertua.
"Putriku sudah datang!" ucapnya yang langsung memeluk Keisha melepaskan rasa rindunya di sana.
"Mama, jangan berlari seperti itu lagi yah. Itu berbahaya Ma," nasehat Keisha yang membalas pelukan Selena.
"Aku terlalu bahagia melihat mu nak, bahkan rasanya sakit pinggang ku telah hilang setelah melihatmu," balas Selena.
"Mama, aku sangat merindukanmu Ma," lirih Keisha dengan nada bergetar.
"Miss too my princess, I miss you too." Selena merasakan kesedihan Keisha sekarang seolah nalurinya tahu apa yang di rasakan menantunya sekarang ini.
"Hey, jangan menangis! Malam ini bukan waktunya kalian menangis, ini malam yang bahagia!" sela William yang mengacaukan suasana keduanya membuat Selena langsung melepaskan pelukannya dari Keisha.
"Ah kau benar, ini bukan waktunya kita bersedih. Tetapi di mana Al, Kei?" tanya Selena yang baru saja menyadari jika tokoh utama malam ini masih belum datang.
"Kayanya dia akan sedikit terlambat Ma, jadi aku datang sendiri," jawab Keisha.
"Begitu rupanya, dasar! Anak itu, aku menyuruhnya datang bersamamu tetapi kenapa malah---" Ucapan Selena tak berlanjut saat melihat pemandangan mengerikan di depannya.
Semua orang berbisik, Keisha yang menyadari perubahan mimik wajah Selena langsung menoleh ke belakang.
"Bukan kah itu Saqila Aditama?"
"Kenapa dia datang kesini?"
"Apa-apaan ini? Bukankah Aldrich telah menikah? Lalu siapa perempuan itu?"
"Apakah itu kekasih nya?"
"Aku kira mereka sudah berpisah sejak lama?"
Bisikan orang-orang di sana terus menghujani keduanya yang berjalan bergandengan dengan acuh tanpa peduli sekitar.
Selena tiba-tiba saja menjadi lemas, tetapi dirinya masih tetap berdiri bak patung. Sedangkan William sudah nampak emosi dengan kelakuan anak sulungnya buktinya tangannya sudah mulai mengepal menatap nyalang keduanya yang berjalan menghampiri mereka.
"Mam, Dad. Aku---"
'Plakkk'
...#Bersambung...
__ADS_1