Mendadak Menikahi Pria Cacat

Mendadak Menikahi Pria Cacat
Part_04|°Murka Aldrich°|


__ADS_3

Pagi datang sama seperti sebelumnya Keisha pagi-pagi sudah mengerjakan pekerjaan rumah seperti apa yang di perintah Aldrich padanya.


"Nona apakah sarapan untuk Tuan sudah siap?" tanya Hans yang menghampiri Keisha yang tengah berada di dapur.


"Eh..., sedikit lagi...,"


"Hans nona, panggil saya Hans. Maaf saya lupa memperkenalkan diri saya kepada Anda," ujar Hans cepat kemudian menunduk hormat memperlihatkan betapa dirinya menghormati Keisha sebagai istri dari Aldrich.


"Emm, sedikit lagi Hans. Mungkin sekitaran 15 menit lagi," jawab Keisha dengan senyuman manisnya.


Hans tak berkedip selama beberapa detik, hingga tangan mungil Keisha melayang-layang di depan wajahnya.


"Hans? Kau baik-baik saja kan?" tanya Keisha yang membuat Hans langsung menggeleng kan kepalanya dengan cepat.


'Apa yang aku pikirkan?! Bisa bisanya aku terpesona pada istri tuan ku! Sadar Hans jika tuan tahu mungkin kau akan di lempar ke kandang singa!' batin Hans.


"Saya baik-baik saja nona, baiklah saya akan menyusul tuan muda ke atas. Saya permisi nona," ucap Hans segera dan pergi dari sana.


Keisha hanya diam, enggan untuk berbicara dan kembali melanjutkan kegiatan memasak nya hingga waktu berlalu 15 menit kemudian. Dan betul jika semuanya sudah siap saat ini juga tinggal menunggu sang suami turun saja.


Keisha nampak diam di depan meja makan, sejenak dirinya berdoa agar masakan yang di masak olehnya cocok dengan selera Aldrich. Dia tahu jika suaminya itu sangat tempramen.


Hingga suara pintu terbuka dengan paksa membuat Keisha terkejut bukan main.


'Brakkk!'


"Astaga!" Keisha memegang dadanya yang terasa jantungnya hampir melompat keluar karena terkejut.


"Keisha! Dimana kamu anak durhaka?!" teriak seseorang yang tentunya Keisha hapal dengan suara itu. Itu Ayah nya!


Buru-buru Keisha keluar dengan langkah tertatih-tatih dengan muncul dari ruang makan melihat Ricard dengan wajah memerah sedang menatap dirinya dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


"Ada apa Ay...,"


'Plakkk!' belum juga ucapan Keisha sampai Ricard sudah berlari menampar dirinya. Membuat darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


"Anak kurang ajar!" Ricard tidak tinggal diam dia langsung menarik rambut Keisha dengan kuat hingga wajah gadis itu terpaksa mendongak menatap sang Ayah yang terlihat sangat ingin membunuhnya sekarang.


"Apa yang kau katakan pada suamimu sehingga dia membatalkan semua kontrak kerjanya dengan perusahaan ku, hah?!" tanya Ricard dengan emosi meluap-luap.


"A---apa Ayah? Kei---Keisha tidak mengerti Ayah?" tanya Keisha yang air matanya sudah turun membasahi kedua pipinya. Remasan kuat di rambutnya serta rasa pedih pada pipinya membuat dirinya tak lagi menahan air mata itu.


"Jangan pura-pura tidak tahu Keisha?! Apa kau lupa, siapa yang memberi mu kehidupan hingga kau sebesar ini, hah?! Siapa?! Aku si*lan!" bentak Ricard yang langsung mendorong putrinya itu hingga Keisha tersungkur ke lantai.


Keisha mendongak menatap Ayahnya yang nampaknya hanya menganggap dirinya sebagai sampah.


"Kenapa ribut sekali di luar?" tanya Aldrich yang hendak keluar dari kamar bersama dengan Hans.


"Saya kurang tahu tuan," jawab Hans seadanya.


Mereka keluar, satu yang harus kalian tahu. Sejenak Aldrich terpaku menatap Keisha yang nampak hampir kehilangan kesadaran nya. Mata tajam nya beralih pada Ricard yang berniat menendang perut Keisha.


"APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Aldrich membuat fokus Ricard beralih padanya.


"BERANI..., BERANINYA KAU MASUK KERUMAH KU TANPA SEIZIN DARIKU!"


Aldrich murka. Bukan murka karena Keisha yang di siksa melainkan murka akibat Ricard yang menerobos masuk ke dalam rumahnya ini. Bahkan orang tua nya saja Aldrich larang datang ke sini bagaimana, bagaimana bisa orang asing datang dengan entengnya dan melakukan penyiksaan kepada wanitanya. Tidak, ralat maksud nya pelayannya.


"Al..., Aldrich?" gumam Ricard seketika amarahnya meluap dan menghilang di gantikan dengan rasa takut yang amat mendalam.


"Tuan tenanglah, anda harus tetap menjaga emosi anda tuan. Ingat kata dokter tuan," peringat Hans.


"Aaaa! Nona muda!" Sakina berteriak histeris, wanita paruh baya itu baru saja datang setelah membeli bahan-bahan dapur yang habis.

__ADS_1


Mata Aldrich kembali menangkap Keisha yang sudah kehilangan kesadaran nya. Aldrich tahu ke apa Ricard begitu marah pada putrinya.


"Kau datang ke sini dengan suka rela Ricard Thomson, maka saya tidak akan membiarkan keluar dengan anggota badan yang utuh setelah apa yang kau lakukan pada putri mu," ujar Aldrich.


"Kau sudah menjual putri mu padaku jadi otomatis kau sudah tidak berhak menyakiti dia lagi!" seru Aldrich kembali. Kali ini pria itu langsung berdiri dari kursi roda nya. Berjalan dengan kaki gemetaran, Aldrich berusaha untuk tetap seimbang.


'Brukk!'


Bogem mentah mengenai wajah keriput Ricard hingga membuat pria paruh baya itu tersungkur ke lantai dengan hidung yang sudah mengeluarkan darah segar.


Ricard masih terpaku melihat Aldrich yang berjalan begitu tegap. Bagaimana bisa? Bukannya pria ini cacat?


"Apa sangking ketakutan kau tiba-tiba saja menjadi bisu? Hah?!" Kali ini Aldrich menarik paksa kerah baju Ricard membuatnya langsung tersentak berdiri di hadapan Aldrich.


"Entah berapa nyawamu sehingga berani menginjakkan kaki kotormu di rumah ku ini!" Kali ini Aldrich melayangkan kembali pukulan pada perut Ricard.


Hans yang melihat kegilaan Aldrich langsung berlari untuk segera melerai sang tuan yang mulai kehilangan kontrol.


"Tuan! Berhenti tuan! Kendalikan diri anda!" ucap Hans yang segera menahan tubuh Aldrich sebelum pria itu kembali memukul Ricard.


"Dimana kalian semua?! Pengawal!" teriak Hans cepat, buru-buru pengawal yang berada di luar masuk dengan tergesa-gesa mendengar teriakan Hans.


"Bawa dia keluar dari sini, dan seret ke kantor polisi! Jangan biarkan dia keluar walau dengan jaminan!" perintah Hans yang membuat para pengawal tersebut segera menyeret Ricard keluar.


Napas Aldrich memburuh begitu kakinya yang sudah tidak kuat berdiri lama langsung terperosok ke lantai.


"Tuan! Tuan Al! Anda baik-baik saja?" tanya Hans. Aldrich berusaha mengatur napasnya dan menggeleng pelan.


"Aku tidak apa-apa, bawa gadis itu dan panggil dokter kemari," perintah Aldrich yang segera di angguki oleh Hans.


"Kau dan aku belum selesai Ricard, akan ku pastikan memotong tangan mu itu. Tangan yang slalu menyiksa Keisha," ujar Aldrich penuh dendam. Hanya dia lah yang berhak menyiksa dan menyakiti Keisha. Orang lain tidak di izin kan untuk itu.

__ADS_1


...#Bersambung...


__ADS_2