
Kaki Selena bagaikan tak bertulang, lemas dan syok bergabung menghamtam pemikiran nya.
"Tidak! Tidak Putriku, anakku pasti selamat!" raung Selena.
"Benar pak, Nona muda kami pasti selamat kan?" tanya Hans.
"Sayangnya tidak pak, bu. Maafkan kami jika mengatakan hal ini tetapi kami menemukan seorang mayat wanita yang terkurung di kamar itu. Dan sayangnya anak yang di kandung nya juga ikut meninggal," ujar polisi tersebut.
"Ana---anak? Pak? Saya tidak salah dengarkan?" tanya William.
"Tidak pak, menurut dokter memang mayat wanita yang kami temukan di kamar 03 itu sedang mengandung," ujar polisi yang langsung membuat William ikut lemas.
Putri dan calon cucunya tewas dalam satu malam. Selena mengerang dan histeris mendengar jika Keisha telah di nyatakan meninggal dunia bersama dengan calon cucunya.
Tidak ada yang tahu ajal, bahkan ketika engkau ingin lari kemanapun ajal akan slalu menemukan mu. Selena pingsan saat itu juga William kembali di buat panik.
Sedangkan Elvano yang mendengar kabar itu turut terkejut padahal baru beberapa jam yang lalu dirinya berbicara dengan Keisha tentang ajakan menikah yang dirinya anggap candaan semata.
"Tidak! Tidak mungkin! Aaa---ku baru saja berbicara dengan nya beberapa jam yang lalu! Kau jangan berbohong Hans!" teriak Elvano tak terima. Melihat keadaan rumah sakit yang cukup parah terbakar. Dan juga Selena yang masih setengah sadar terus menangis memanggil nama Keisha.
"Kau harus menerima kenyataan nya El, Keisha meninggalkan kita semua dengan membawa anaknya juga," ujar William dengan tabah. Elvano segera menoleh pada William mengkerut kan dahinya seolah bertanya-tanya.
"Kakak mu itu sedang hamil dan Daddy yakin jika Aldrich pasti tidak tahu soal ini," ucap William.
"Ha---mil? Daddy bilang Keisha hamil?" William hanya mengangguk membuat Elvano yang lagi-lagi di beri kejutan ini makin merasa benci dan muak dengan Kakaknya sendiri.
•••
Pagi harinya.
Hari yang berat untuk semua keluarga Rodriguez setelah kepergian Keisha yang kini sedang berada di rumah Selena dan William. Selena terus menangis meratapi nasib yang menimpa Keisha.
"Bahkan putri ku ini belum bisa bahagia sepenuhnya. Tetapi malah Engkau bil secepatnya ini," lirih Selena yang memegang tangan dingin Keisha yang sebagian badannya hangus terbakar.
"Cucuku, cucuku yang malang. Bahkan dirinya belum lahir dan melihat dunia ini kau sudah di ambil kembali," gumam Selena yang tiada henti terus meracau. Sebagian kerabat hanya bisa meratapi dan terus menguatkan Selena.
Elvano hanya diam, dirinya begitu terpukul atas kepergian Keisha secara mendadak. Aldrich yang baru saja tiba setelah mendengarkan kabar kematian Keisha dari Hans.
"Cucu?!"
__ADS_1
Selena menoleh melihat Aldrich yang berdiri di belakangnya nampak terkejut mendengar ucapan Mamanya.
"Iyah cucuku! Apa kau mendengar nya?! Kau bahkan membuang istrimu yang tengah mengandung darah daging mu!" teriak Selena dengan mata memerah.
"Maksudnya Mama, dia sedang hamil anakku?" tanya Aldrich sekali lagi karena merasa tak percaya dengan apa yang dirinya dengar.
Selena kembali menatap Keisha dan enggan menjawab pertanyaan dari Aldrich. Dirinya muak dengan semuanya, benar-benar muak. Jika saja bisa, Selena akan gil4 di sini.
"B3debah! Pria si4lan!" Tanpa aba-aba Elvano langsung mengahajar Kakak nya itu kembali. Membuat Aldrich langsung jatuh ke lantai, dirinya tidak melawan membiarkan Elvano melepaskan kekesalan nya kepadanya. Seolah nyawanya meninggal badannya sebentar.
"Ke---isha?" panggil dengan nada bergetar.
Selena menoleh ke samping menemukan anaknya tengah menunduk dengan batu bergetar. Dia menangis, Aldrich menangis.
"Kini baru kau menyesal kan? Menyia-nyiakan wanita sabar sepertinya," tukas Selena yang membuat Aldrich semakin menyesal.
"Keisha!!" Aldrich menangis sejadi-jadinya. Kini hancur sudah dunianya. Dirinya kira saat Saqila pergi meninggalkan nya di situ dunia hancur tapi kini baru dirinya rasakan bagaimana kehilangan sebenar-benarnya. Kehilangan seseorang yang penting dalam hidupku dan kita terlambat menyadari hal itu.
Bod0h! Bod0h! Kata yang terus terlintas di benak Aldrich.
"Kenapa kakak datang?! Bukan kah kekasih kakak lebih penting dari pada istri kakak sendiri?! Ah aku lupa bukan istri tetapi mantan istri kakak!" cecar Elvano yang meraih kerah kemeja Aldrich membuat nya di paksa berdiri.
"Kau baru menyesal sekarang kan? Bangs4t!"
'Brukk!'
'Brukk!'
Berulang kali Elvano memberikan bogem mentah kepada Aldrich membuat William harus ikut tangan sebab mereka sudah menjadi tontonan orang-orang yang datang melayat.
"Hentikan Elvano!" William menarik Elvano menjauh dari sana sesaat sebelum dia membunuh Kakaknya sendiri.
"Lepaskan aku Dad! Aku akan membun*h bajing4n itu! Biarkan dia pergi ke neraka hari ini!" pekik Elvano membuat William kewalahan menahan anak bungsunya itu.
Aldrich menangis sejadi-jadinya, dengan wajah babak belur. Runtuh sudah citra tenang nan dingin di hadapan jenaz4h Keisha.
Tangannya bergetar menyentuh tangan Keisha yang menghitam. Perlahan dirinya mengangkat tangan Keisha mengecup nya dengan air mata yang turut membasahi tangan Keisha.
Isakan Aldrich terdengar begitu pilu dan keadaannya sekarang begitu menyedihkan. Elvano yang sedari tadi emosi itu kini meredah melihat Aldrich yang benar-benar terpukul.
__ADS_1
Elvano luluh dan turut kembali merasa bersalah, dirinya kini benar-benar melihat Aldrich tulus dengan penyesalan nya sekarang.
"Keisha!! Bangun, aku di sini Keisha! Aku di sini, aku berjanji tidak akan meninggalkan mu. Aku tidak akan menandatangani surat perceraian itu! Aku berjanji akan bersamamu! Ak---aku---"
"Kei? Bangun Kei, aku sekarang menyesal. Aku menyesal karena telah menyia-nyiakan mu Kei. Keisha ku mohon bangunlah Kei, bangunlah Keisha! Ku mohon sekali ini saja,"
"Waktunya jezan4h di mandikan."
"Tidak! Kalian tidak boleh mengambil istriku! Dia ini masih hidup! Kalian tidak kuberi izin untuk menyentuh nya!" teriak Aldrich yang langsung memeluk Keisha dengan erat seolah enggan melepaskan Keisha.
"Tuan, lepaskan nona tuan. Nona sudah tenang di sana," ujar Hans yang berusaha menenangkan Aldrich yang nampak begitu larut dalam kesedihan.
"Lepaskan Keisha Al, apa yang di katakan oleh Hans benar adanya. Dia sudah tenang di sana, penyesalan mu sekarang sudah tidak ada gunanya," lanjut Selena.
•••
Pemakaman berlangsung dengan hikmat, tak terhitung berapa kali Selena pingsan sesaat sebelum Keisha di makamkan Selena kembali pingsan.
Aldrich tak berhenti nya terus meracau meminta Keisha pulang. Tak ada yang bisa menenangkan Aldrich, menangis dar4h pun tidak akan membuat nyawa Keisha ada. Kini penyesalan tinggl penyesalan tak ada yang bisa dirinya perbuat.
Wanita yang dulu nya dia sebut rendahan kini wanita yang paling dirinya tangisi sekarang.
Berangsur-angsur pemakaman mulai sepi, orang-orang sedikit demi sedikit meninggalkan tempat mereka. Kini hanya tersisa William dan Aldrich serta Hans. Sedangkan Elvano memilih membawa Selena pergi dari pemakaman sebelum Mamanya kembali terguncang dan pingsan.
Aldrich tak henti-hentinya memeluk baru nisan Keisha, dengan kemeja yang sudah kotor dengan tanah pemakaman.
"Bagaimana rasanya Al? Rasanya kehilangan orang yang paling berharga dan terlambat kita sadari?" tanya William.
Aldrich mendongak sebentar menatap wajah William yang nampak begitu tenang kemudian kembali menunduk dalam.
"I'm so sorry Dad," lirih Aldrich.
"Apa gunanya meminta maaf Al? Kau tidak memiliki salah dengan Daddy, tetapi pada Keisha dan juga calon anakmu," ucap William yang kembali menancapkan luka pada hati Aldrich.
"Ya--- seharusnya aku meminta maaf pada Keisha dan juga calon anakku," gumam Aldrich.
"Tapi permintaan maaf mu saja tidak akan mengembalikan Keisha, kau terlambat Al. Sangat terlambat," balas William.
"Daddy kecewa padamu," lanjut William yang setelahnya itu langsung pergi dari sana meninggalkan Aldrich dan Hans.
__ADS_1
"Maaf---maafkan suami mu yang tidak berguna ini Keisha, maafkan ayah mu ini juga nak," lirih Aldrich.
...#bersambung...