
"Seharusnya hanya aku yang mendapatkan semuanya! Kenapa kau kembali, hah?! Seharusnya kau m4ti saja!" pekik Tina yang membuat Aldrich langsung berdiri dari tempat nya dan menodongkan sebuah pist0l langsung di kepala Tina.
"Aku sudah mengatakan jika kau seharusnya menjaga mulutmu itu di depan istriku! Jika kau mengatakan demikian maka aku sekarang akan benar-benar akan melubangi kepalamu!" tegas Aldrich yang menarik pelatuk pist0l tersebut membuat tubuh Tina langsung gemetaran.
"Tidak! Ku mohon maafkan putri ku tuan!" sela Zafira yang langsung melindungi Tina.
"Ku mohon jangan sakiti putriku tuan! Dia---dia memang ceroboh dan tidak bisa menjaga mulutnya. Jadi untuk kali ini maafkan lah putri ku tuan," mohon Zafira yang mulai menangis kembali.
"Ck! Jika saja bukan ibu mu bukan mertuaku, maka aku tidak akan segan-segan membu*uhmu di sini!" balas Aldrich yang langsung menurunkan pist0l nya dan memasukkan nya kembali ke dalam saku jas nya.
"Ingat! Jangan pernah mengganggu orang-orang ku dan jika aku tahu maka bersiap-siap lah untuk m4ti!" final Aldrich yang menatap tajam keduanya.
"Ayo Keisha, kita pulang dari sini!" ajak Aldrich yang langsung menggenggam tangan Keisha keluar bersama dengan Aliza.
Keisha pergi dari sana bersama dengan Aldrich yang terus membawa nya pergi dari neraka itu. Tina terjatuh tak berdaya, rencana nya kini gagal. Gagal total untuk menguasai apa yang Ayahnya punya selama ini.
"Tidak!! Tidak, tidak mungkin ini terjadi!" teriak Tina frustasi.
"Hentikan Tina! Apakah kau sadar?! Kau baru saja lolos dari kematian mu! Mama tidak ingin membahayakan nyawamu, jadi hentikan ini!" ucap Zafira.
Namun Tina segera menggeleng dengan cepat. "Nggak Ma! Tina nggak mau berhenti sampai di sini, kalau Tina berhenti maka semua rencana yang Tina rancang selama ini gagal! Tina nggak bisa ngebiarin itu terjadi, nggak akan!"
"Apakah kau sudah tidak waras Tina! Dengarkan Mama! Aldrich bukan lawan yang sepadan untuk kau tantang bod0h!" pekik Zafira.
"Tina memang sudah tidak waras Ma! Dia itu hanya pria cacat yang dulunya wanita bahkan enggan mendekat padanya! Lihat saja, akan ku buat dia cacat kembali bahkan aku yang akan lebih dulu mengambil nyawanya!" ungkap Tina menyeringai.
"Dan aku tahu apa yang harus aku lakukan!"
•••
Sepanjang perjalanan saat Aldrich mengemudi Keisha hanya diam sembari terus menepuk-nepuk pundak Aliza berharap gadis kecil itu tertidur.
"Tinggal lah sementara di rumah ku, aku akan merahasiakan kedatangan mu dan setelahnya aku sendiri yang akan membawa pulang kembali ke Belanda," ucap Aldrich.
Keisha menghela napas kecil kemudian menatap Aldrich yang nampak fokus mengemudi. "Terima kasih," jawab Keisha dengan tulus. Bahkan nadanya terdengar kembali bergetar.
"Untuk apa berterimakasih? Aku melakukan semua ini karena tulus padamu Keisha, pada aku belum tahu kapan kau akan memaafkan aku," lirih Aldrich yang tersenyum kecil penuh harap.
"Mami, Liza lapal Mami," sela Aliza yang membuat fokus keduanya beralih pada putri kecil mereka.
"Sebentar lagi Liza, kita akan sampai. Dan Mami akan memberimu makan, okay?" Aliza langsung mengangguk mendengar penuturan dari Keisha sedangkan Aldrich hanya bisa tersenyum.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai di mansion Aldrich. Mata Keisha menyapu pemandangan Mansion yang sama sekali tidak berubah dari dulu.
Kenangan kembali berputar di mana dirinya kembali teringat beberapa hal indah yang pernah terjadi di Mansion tersebut.
"Wah, Mami apakah ini rumah paman baik?" tanya Aliza yang kagum dengan pemandangan Mansion yang pertama kali dirinya masuki.
"Iyah, apakah kau suka? Paman bisa memberinya untukmu!" jawab Aldrich yang membuat senyuman Aliza mengembang.
"Benarkah? Jika begitu berikan aku rumah ini sekarang juga paman!" balas Aliza antusias membuat Aldrich terkekeh geli dengan tingkah anaknya yang sangat menggemaskan.
"Liza? Paman hanya bercanda, kau benar-benar akan mengambil rumahnya? Jadi nanti paman tinggal di mana?" ucap Keisha.
"Liza bisa membelinya tumpangan sementala Mami, paman baik kan punya banyak uang," ujar Aliza enteng.
"Dasar anak nakal!" Keisha menepuk pelan bok0ng putrinya yang membuat Aliza tertawa.
Mereka pun masuk bersama-sama ke dalam rumah itu membuat Keisha lagi-lagi teringat akan kenangan di sana. Sampai sebuah suara membuat mereka teralih kan.
"Keisha?!" Suara yang tak asing menyapa telinga Keisha, Keisha menoleh ke samping nampak sudah di sana berdiri Selena yang tengah membawa sebuah makanan di dalam nampan.
'Prakk!'
"Ka---kau Ke---keisha kan?" tanya Selena tak percaya matanya benar-benar menunjukkan keterkejutan.
"Mama kenapa bisa di sini?" tanya Aldrich yang benar-benar tidak tahu jika Ibunya berasal di Mansion nya.
"Keisha! Kau benar-benar Keisha kan?! Keisha putri ku?!" Selena memeluk erat Keisha membuat genggaman tangan Aliza terlepas dari ibunya itu.
"Keisha, Keisha Mama---Mama sangat merindukan mu nak!" ucap Selena kini wanita paruh baya itu benar-benar tak percaya.
Setelah drama bertemu dengan orang yang telah di nyatakan meninggal setelah 3 tahun lalu akhirnya mereka duduk satu sama lain di ruang tengah.
"Jadi, semua ini sudah kau dan Hans rencana kan? Bagaimana bisa kau tidak memberitahu kan kepada Mama?" tanya Selena setelah Keisha menceritakan semuanya. Yang terjadi 3 tahun lalu bagaimana dirinya merencanakan semuanya bersama dengan Hans membuat Aldrich juga ikut mengerti dan tahu sekarang.
"Maafkan Keisha Ma, maafkan Keisha yang membuat Mama menderita selama ini," jawab Keisha.
"Tidak apa sayang, yang terpenting kau sudah kembali sekarang. Bahkan sekarang sudah memutuskan untuk hidup lebih panjang lagi," tutur Selena dengan senyuman hingga akhirnya wanita itu kembali fokus pada seorang anak perempuan yang nampak tak berhenti menatap nya.
"Dia---"
Keisha yang mengetahui Selena tengah kebingungan membuatnya melihat ke arah Aliza yang nampak terus menatap Selena.
__ADS_1
"Mami, dia sangat cantik!" puji Aliza yang membuat Selena terkekeh.
"Ternyata kau sudah memiliki putri yah, kenapa kau tidak membawa suamimu?" tanya Selena yang membuat Keisha terdiam kemudian menatap Aldrich yang nampak tersenyum kecil. Dirinya tahu jika bukan hanya sekedar tersenyum tetapi lelaki di dekatnya itu tengah menahan rasa sakitnya.
"Dia putri anak mu Ma," ungkap Keisha yang membuat Aldrich langsung menatap Keisha begitu pun dengan Selena yang mulut dan matanya hampir keluar.
"Anak ini---ini putri Aldrich?" tanya Selena tak percaya yang membuat Keisha segera mengangguk kecil.
"Jadi dia cu---cucuku? Cucuku Keisha?" tanya Selena yang kemudian kembali mendapatkan anggukan dari Keisha yang kali ini tersenyum sangat lebar. Ternyata Selena kembali mendapatkan kejutan untuk kedua kalinya.
"Liza sapalah, Dia nenekmu!" ucap Keisha yang membuat Aliza kembali menatap Selena.
"Halo nenek!" sapa Aliza dengan nada yang cukup menggemaskan.
Wanita itu sekarang kembali menangis bahkan di tengah tangisannya dia tertawa merasa lucu dengan dirinya yang sekarang sudah memiliki cucu.
"Halo cucuku," balas Selena.
"Nenek kenapa menangis? Mami kenapa Nenek menangis?" tanya Aliza.
"Karena nenekmu sedang sangat bahagia," jawab Keisha sekenanya.
"Paman, aku lapar!" ujar Aliza yang menatap Aldrich yang duduk di samping nya.
"Paman akan menyuruh pelayan menyiapkan makanan untukmu," balas Aldrich.
"Paman? Keisha kenapa Aliza memanggil Aldrich dengan sebutan Paman? Apakah dia tidak tahu jika dia adalah Ayahnya?" sela Selena.
"Begini---"
"Senyamannya saja Ma, aku tidak ingin memaksanya memanggil ku Ayah jika saja aku bahkan tidak terlibat dalam merawatnya selama ini," potong Aldrich dengan senyuman.
"Aliza panggil dia Papi, kau tidak ingin memanggilnya dengan sebutan Papi?" tanya Keisha yang membuat Aldrich terdiam. Kenapa wanita di samping nya ini tiba-tiba saja berubah.
"Apakah boleh Mami?" tanya Aliza. Segera Keisha mengangguk mantap karena sadar dirinya benar-benar egois. Dia hanya punya masalah dengan Aldrich tidak dengan Aliza yang sama sekali tidak mengerti apa-apa.
Gadis kecil itu hampir menangis sekarang dan kemudian menatap Aldrich yang hampir menangis.
"Papi!"
...#bersambung...
__ADS_1