
"Arsen?" Mata Aliza membulat menyadari jika di depannya bukanlah Kenzo tetapi Arsenio yang tengah menatap nya dengan penuh tanda tanya.
"Kak Liza kenapa?" tanya Arsenio.
"Nggak, tadi kakak kira kamu---"
"Ada yang datang sebelum aku? Dia nggak nyakitin kakak kan?" tanya Arsenio.
Aliza menggeleng cepat. "Nggak kok, siapa juga yang berani nyakitin Kakak," jawab Aliza.
"Emang Iyah? Tapi kenapa aku nggak ketemu dia di jalan? Kakak nggak habis ngeliat hantukan?" tanya Arsenio yang membuat Aliza langsung melayangkan pukul pada bahu adiknya.
"Dasar! Nggak yah, kamu pikir kakak udah gila?! Ini juga kenapa belinya banyak banget," pekik Aliza yang melihat Arsenio memegang banyak kantong makanan.
"Yang satu ini bukan punya aku kak, tadi aku nemu ini di sini. Kakak habis mesen grab makanan yah?" tuduh Arsenio.
"Apaan! Nggak yah! Mana mungkin kakak pesen makanan kalau---" Astaga Aliza ingat itu kantong plastik yang di bawa Kenzo tadi.
Aliza merebut kasar kantong plastik yang berada di tangan kiri Arsenio itu lalu membawanya ke dalam apartemen nya dan membuangnya di tempat sampahnya.
"Kak! Lah kok di buang sih?! Emang beneran itu punya kakak? Siapa tahu orang nya salah ngirim!" ujar Arsenio yang ikut masuk ke dalam apartemen sang Kakak.
"Nggak usah banyak bacot deh di situ! Suka-suka Kakak dong, siapa suruh naruh di depan pintu," balas Aliza santai yang kemudian membuka kulkas miliknya mengambil air mineral dingin dari sana.
"Terserah kakak deh, capek tahu kalau ketemu kakak ngajak berantem mulu," keluh Arsenio.
•••
Kenzo mendinginkan pikirannya dengan menguyur sekujur tubuhnya dengan air dari shower kamar mandinya.
Pikirannya melayang memikirkan ucapan yang mungkin keterlaluan pada Aliza. Tak seharusnya dia membuat gadis itu semakin jauh padanya. Tak mungkin juga dia harus membuat gadis itu kembali memiliki harapan. Kenzo bimbang sekaligus bingung dengan keadaan yang dirinya ciptakan sekarang ini.
Rasanya pria itu ingin menghilang sebentar sebelum kembali lagi.
Sedang kan Arsenio tengah bersantai di sofa ruang tengah sembari menonton sebuah acara televisi yang tengah di siarkan.
Aliza mendekat setelah selesai membersihkan tumpukan cuci piringnya itu pun Arsenio yang mengeluh jika Kakaknya masih sama joroknya saat tinggal di Mansion.
"Nah gitu dong, lebih produktif lagi jadinya," nasehat Arsenio saat menyadari jika sang Kakak sudah berada di sisinya.
"Bacot lo bocah! Tau ape lo tentang produktif? Emang situ udah produktif juga? Nggak usah pake segela nasehat deh," balas Aliza yang membuat Arsenio cengingiran tak jelas.
"Ya kan kalau aku nggak bisa produktif sekalian kakak aja yang aku kasih tips. Setidaknya adikmu yang sangat tampan ini nuntun kakak ke jalan yang lebih lurus lagi," jawab Arsenio.
__ADS_1
"Apaan nuntun! Nuntut onta lo! Eh kalau lo ke sini jadi yang sama Mami di Mansion siapa?" tanya Aliza yang baru mengingat jika Arsenio di sini maka yang menemani sang ibu di sana siapa.
"Oh Mami, Mami lagi ada di rumah Kakek sama Nenek jadi sekalian pas nganter Mami aku ijin buat ke sini," jawab Arsenio.
"Baguslah, gw kira lo ninggalin Mami lagi sendirian. Awas aja yah kalau lo sampai tega ngelakuin itu! Gw potong tuh leher lo!" ancam Aliza.
"Bisa nggak sih kakak kalau bicara pake bahasa Indonesia yang baik dan benar! Kakak sekolah tinggi-tinggi tapi cara bicara masih kek bocah labil!" balas Arsenio yang sudah sangat jegah dengan cara bicara sang Kakak yang tidak begitu beraturan. Terkadang baik namun terkadang pula kata-kata pedas nan kotornya keluar dari mulutnya begitu saja.
"Terserah kakak dong! Udah sana pulang, kasian Mami nanti nungguin, di jalan juga pasti lama sampainya," ujar Aliza.
"Nggak ah, mau nginep di sini aja," balas Arsenio.
"Pulang nggak! Kalau kamu nggak angkat pantat sampai hitungan ke tiga maka Kakak bakalan---"
"Iyah yah! Nih udah, ah nggak asik banget sih jadi Kakak. Ya udah Arsen duluan." Arsenio berdiri namun langkahnya kembali terhenti saat kembali mengingat jika William sang Kakek sempat memberitahukannya beberapa hal.
"Eh Kakak, hampir aja aku lupa. Katanya sih besok malam kakek nenek bakalan ngadain makan malam keluarga, datengkan?" tanya Arsenio.
"Kakak bakal usahain, belum tentu atasan kakak mau ngasih izin cuman buat makan malam doang," jawab Arsenio.
"Harus dong, Kakak wajib dateng. Masa iya kumpul keluarga tadi nggak di sempetin, sempetin dong. Kek orang gila kerja aja," balas Arsenio yang langsung mendapatkan cubitan pada perutnya.
"Bocah mana tahu dunia kerja! Udah sana pulang!" usir Aliza yang membuat Arsenio hanya mengerucutkan bibirnya dan berjalan keluar dari sana.
Aliza mengekori sang adik hingga ke depan pintu apartemen nya. "Hati-hati di jalan, jangan ngebut," ucap Aliza sembari memberikan kecupan manis di pipi sang adik.
Aliza menatap kepergian sang adik dari sana melihat bagaimana sang adik telah dewasa sekarang.
•••
Hari pertemuan kelurga, di malam selanjutnya.
Hari ini Kenzo kembali ke kediaman sang Ayah setelah kemarin Raisa memberitahukan kepadanya.
Kenzo hanya bisa diam saat memasuki rumah megah itu di saat tatapan para pelayan tertuju padanya yang melihat kedatangan tuan muda mereka kembali.
"Tuan, anda sudah di tunggu oleh tuan besar dan nyonya di ruang makan." Ucapan salah satu pelayan membuat Kenzo memutar arahnya ke arah ruang makan yang berjarak beberapa meter dari ruang tengah.
Langkah besar Kenzo masuk ke dalam ruang makan, di sana Kenzo melihat Raisa bersama dengan kedua orang tuanya tengah menatapnya dengan tatapan bahagia sedangkan Rita sang ibu tiri juga Daniel menatapnya dengan tatapan datar.
"Eh Kak! Ayo duduk," ajak sang adik tiri yang nampak menyambut antusias kedatangan Kenzo.
Kenzo menyipitkan matanya menatap tak suka ke arah pria yang hampir seumuran dengannya itu hanya saja mereka berbeda beberapa bulan saja.
__ADS_1
"Jangan sok peduli dengan ku Rainer," balas Kenzo yang memilih tempat yang jauh dari Rainer karena Kenzo tahu jika adiknya itu sangatlah licik. Rainer teman yang menyukai Aliza itu adalah adik dari Kenzo.
"Kenzo! Kamu ini kenapa? Adikmu sudah berlaku baik padamu tapi kamu malah bersikap seperti tadi!" ucap Daniel.
"Karena dia hanya---"
"Maafkan Kakak Ayah, mungkin perasaan nya sedang tidak baik sekarang sehingga dia bersikap seperti itu padaku," potong Rainer yang tersenyum sinis ke arah sang Kakak.
"Tetapi---"
"Sudah, sudah. Kalian ini jika bertemu slalu saja bertengkar sekali-kali akur lah apalagi kita sedang bersama dengan calon besan kita," lerai Rita yang tentu saja itu hanya sandiwara yang sejujurnya dia suka saat Daniel dan Kenzo beradu mulut seperti tadi.
Karena semakin mereka sering bertengkar maka semakin renggang pula hubungan mereka.
"Tidak apa Rita mungkin saja mereka tengah saling merindukan, maka dari itu mereka sering sekali bertengkar," ujar Tania ibu dari Raisa.
"Hahaha benar, aku juga seperti itu dengan Raisa jika tengah merindukannya. Bukan begitu sayang?" kata Joseph Ayah dari Raisa. Sedangkan Raisa nampak mengangguk membenarkan ucapan Joseph padanya.
"Ayo semua kita mulai saja makan malamnya." Makan malam di mulai dengan senyap tak ada lontaran kata yang keluar seiring dengan bunyi nyaring yang senada dengan ketukan sendok dan garpu.
Beberapa menit setelahnya saat makanan penutup di sajikan Daniel mulai kembali angkat bicara.
"Berhubung makan malam sudah hampir selesai maka di sini juga kami juga akan mengutarakan niatnya untuk mempercepat pernikahan Kenzo dengan Raisa." Perkataan itu langsung menghentikan kegiatan Kenzo beralih menatap fokus pada Daniel yang nampak tak berekspresi apapun.
"Kami setuju dengan apa yang kamu katakan Daniel, karena semakin cepat maka semakin baik pula. Kalau ibadah tidak boleh di tunda-tunda jadi kami setuju-tuju saja," balas Joseph.
"Bagaimana Raisa?" tanya Tania.
"Tentu saja aku setuju Ma, aku ingin cepat-cepat bisa terikat dengan Kenzo," jawab Raisa.
"Kalau kamu sendiri Kenzo? Itu tidak akan menganggu waktu bekerja mu, Mama janji!" kata Rita.
"Terserah saja," balas Kenzo yang acuh. Baginya ini hidupnya benar-benar sudah tidak berarti lagi.
"Bagus kalau begitu kita tentukan tanggal pernikahan nya sekarang," jelas Daniel.
Sedangkan di sisi lain nampak juga Aliza bersama dengan keluarga besar nya sudah selesai menyantap hidangan penutup. Hingga William buka suara.
"Bagaimana kriteria pria idaman mu Aliza?" tanya William yang membuat Aliza langsung menatap sang Kakek.
"Emm kenapa kakek menanyakan hal itu? Aliza tidak punya tipe idaman yang terpenting dia bertanggungjawab," jawab Aliza.
"Baguslah jika begitu, jodoh yang Kakek pilihkan untukmu sangat pas dengan apa yang kamu inginkan," ujar William yang membuat Aliza langsung membulatkan bola matanya.
__ADS_1
"Apa?!"
...#bersambung...